Senyuman Misterius Kevin

820 Words
Anne terbangun. Ini masih pagi sekali. Tapi, ia harus bergegas membersihkan diri. Tidak lupa membersihkan tempat tidur. Spreinya terkena darah selepas percintaannya semalam. Usai membereskan segalanya, Anne menemui asisten rumah tangga mereka yang baru. Menyiapkan sarapan untuk seisi rumah. Tidak banyak yang bisa dilakukan Anne di dapur. Pelayan itu memintanya duduk saja, sesuai pesan Kevin dan Bryan. Anne duduk, ia merasa bosan. Mungkin, setelah ini, ia harus mengelilingi rumah besar ini untuk mencari kegiatan. Bryan muncul, dengan wajah lelah. Ia tersenyum tipis sembaru menarik kursi."Pagi, Ann." "Pagi, Bee. Kau mau minum apa?" Anne bangkit. "Air putih saja,"katanya dengan suara serak. "Sepertnya kau sedang tidak fit?" Anne menatap Bryan serius. Pria itu mengangguk, menghela napas berat. Kemudian meneguk air yang disodorkan Anne."Ya begitulah. Tapi, sebentar saja sudah sembuh." Anne mengangguk, lantas, ia kembali duduk."Apa pekerjaan kalian cukup berat? Aku bisa membantu." "Membantu apa, An?" "A-apa saja. Aku akan berusaha sebaik mungkin." Anne meremas ujung dress yang ia kenakan. Tiba-tiba saja ia merasa tidak percaya diri karena ucapan Bryan. Yang dikatakan pria itu ada benarnya. Memangnya apa yang bisa ia lakukan dk kantor sebesar itu. Bisa-bisa, ia hanya akan membuat kekacauan. Bryan kembali tersenyum. Ia mengusap punggung tangan Anne dengan lembut."Istirahat sajalah di rumah, Ann." "Bagaimana aku bisa terus begini. Aku juga ingin beraktivitas, Bee." Bryan berdehem."Besok, aku akan pergi ke luar kota. Untuk waktu yang cukup lama. Seminggu...bisa saja lebih." Anne mengangguk-angguk."Baiklah. Apa Kevin juga pergi?" "Tidak. Dia akan di sini bersamamu." Bryan tersenyum penuh arti. Ia sudah merencanakan ini. Membuat Kevin dan Anne berduaan. Lalu, keduanya akan melakukan hubungan intim. Dengan begitu, ia dengan mudah bisa bercinta dengan Anne. Mendengar akan berduaan saja dengan Kevin, jantung Anne berdebar kencang. Ia masih bisa merasakan denyutan miliknya ketika Kevin memasukinya."Apa tidak masalah, jika kami hanya berdua?" "Tentu saja tidak. Hubungan kalian tidak begitu dekat bukan. Sikap Kevin selalu dingin padamu. Semoga saja setelah ini, kalian akan dekat." Bryan masih berpikir kalau Kevin belum menyentuh Anne. Dan Kevin pun tidak pernah berniat memberi tahu adiknya itu. Biar waktu yang menjawab semuanya. "Baiklah, Bee. Tapi, apa kau tidak butuh teman di perjalanan? Aku bisa menemanimu. Aku bisa jadi asistemu, Bee." Anne menawarkan diri. Hal itu, dikarenakan ia masihs aja tidak enak, tiba-tiba menjadi Ratu di rumah ini. "Jangan!"tolak Bryan cepat."Maksudku...lain kali saja. Jangan perjalanan kali ini. Rasanya agak sulit." Bryan terkekeh. "Baiklah. Semoga perjalananmu menyenangkan, Bee." Anne mengalah. Bryan mengangguk. Keduanya makan pagi dengan hening. Lalu, suara derap langkah menghampiri mereka. Kevin datang dengan pakaian berantakan. Anne mematung beberapa detik, sampai akhirnya ia sadar. Ia membantu Kevin duduk. "Kau baik-baik saja?"tanya Anne khawatir. Kevin mengangguk."Ya. Tolong beri aku teh lemon lagi." Anne mengangguk kuat."Baik,tunggulah sebentar." Bryan menatap Kevin yang sudah lemas tak berdaya."Istirahatlah. Aku akan menyelesaikannya. Kau cukup memantau dari rumah." "Ah, sudahlah itu hal biasa." Kevin tidak memiliki keinginan membahas urusan kantor di rumah. "Kau belum menembusnya, Vin?"tanya Bryan spontan. Kevin terperangah, sempat tidak tahu apa yang dimaksud adiknya itu."Apa?" "Kau belum meniduri Anne?" Bryan mengecilkan volume suaranya. "Entahlah." Bryan mendecak sebal."Susah sekali, sih, hanya menidurinya saja." "Aku tidak sekurang ajar itu, Bry." Kevin tidak mau mengatakan apa yang sudah ia lakukan pada Anne sekarang. Otaknya sudah terlalu lelah. "Ayolah. Kau pasti bisa melakukannya untukku." Bryan memaksa. Ia tahu, kakaknya tidak lernah menolak. Apa pun, keinginan Bryan, Kevin akan menurutinya. "Oke. Lalu apa rencanamu?"balas Kevin. "Besok aku akan pergi selama satu Minggu. Kau bisa gunakan waktu itu untuk berduaan. Rayulah dja dengan caramu. Bagaimana caranya, kalian harus melakukannya. Bersikaplah yang manis pada Anne. Jangan membuat dia takut." Bryan menepuk pundak Kevin. Kevin tidak menjawab. Ia melihat bayangan Anne menuju ke arahnya. Wanita itu membawa teh lemon hangat, yang kemudian langsung ia minum. "Ann, bagaimana kalau hari ini kita pergi jalan-jalan,"ajak Bryan. "Bukankah kau harus bekerja?"tanya Anne sembari melihat ke arah Kevin yang diam saja. Tentu ia merasa tidak enak. Kevin bekerja keras sampai pagi, tapi, ia dan Bryan justru pergi bersenang-senang. "Tidak apa-apa. Kalian pergilah bersenang-senang,"sahut Kevin. Pria itu memberikan tatapan tajam yang penuh arti pada Anne. Wajah Anne merona seketika. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya, agar tidak terlihat oleh Bryan."A-apa kau akan kembali bekerja, Kevin?" "Tidak. Aku harus istirahat." Kevin memasang wajah dinginnya. Tapi, begitulah Kevin. Terkadang ekspresinya mudah sekali berubah. Bryan beralih menatap Anne."Nah, sudah jelas,kan? Mari kita pergi. Aku akan pergi cukup lama besok." "Ba-baiklah." Anne mengangguk pelan. Sembari menghabiskan sarapan, pikirannya terus melayang pada percintaan panas di atas ranjang. Ia sudah berusaha meredam pikirannya, tapi, rasanya sulit sekali. Kemudian, ia berpikir, mungkinkah setelah Bryan pergi, ia dan Kevin akan melakukannya lagi. "Ann!"panggil Bryan menyadarkan lamunan wanita itu. "Ah, iya..." "Ayo bersiap-siap." Anne mengangguk, piring di hadapannya sudah kosong. Ia beranjak ke kamar, menyiapkan diri untuk pergi kencan dengan Bryan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD