Perjodohan

633 Words
"Apa? Ma, aku dijodohin sama Rayan? Enggak salah?" Kinara membelalak, suaranya naik satu oktav. "Aku nggak salah dengar, kan, Ma?" Suasana ruang tamu yang tenang mendadak tegang. Bu Sarah tetap terlihat tenang, jemarinya melingkar di gagang cangkir porselen. Ia menyeruput teh manisnya perlahan sebelum menjawab dengan suara datar namun tegas. "Iya. Karena Mama sudah janji sama mamanya Rayan untuk menikahkan kalian jika waktunya sudah pas. Dan sekarang, adalah saat yang tepat," ucap Bu Sarah tanpa keraguan sedikit pun. "Tapi, Ma! Gimana sama Revan? Aku sudah pacaran sama dia setahun, Mama! Ikh!" Kinara berteriak frustrasi, tangannya mengepal di sisi tubuh. Bu Sarah meletakkan cangkirnya ke tatakan dengan denting yang pelan namun terasa mengancam. "Baru pacaran, kan? Belum melakukan yang aneh-aneh. Lagipula, kalau kamu berani menolak, kamu akan tahu sendiri akibatnya." "Apa? Apa akibatnya, Ma?" tantang Kinara dengan napas memburu. "Keluarga Rayan akan mencabut seluruh saham mereka di perusahaan Papa. Kamu tahu dampaknya? Kita akan jatuh miskin, Kinara," ucap Bu Sarah dingin, menatap lurus ke mata putrinya. "Akh! Mama mah gitu, ngancem melulu! Enggak! Pokoknya aku nggak mau nikah sama si Rayan! Titik!" teriak Kinara pecah. Ia berbalik, berlari menaiki tangga, dan membanting pintu kamarnya hingga dentumannya menggema ke seluruh rumah. Bu Sarah hanya menggeleng-gelengkan kepala, lalu kembali menyesap tehnya seolah badai baru saja tidak terjadi. Kinara mondar-mandir seperti macan betina di dalam kandang. Wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. "Duh, gimana ini? Masa gue harus nikah sama si monyet itu sih?" gerutunya kesal. Ia menyambar ponsel di atas meja rias, jemarinya bergerak cepat mengirim pesan ke semua temannya. Namun, menit berlalu dan tak ada satu pun balasan yang muncul. "Sialan! Pada ke mana sih?" Ia melempar ponselnya ke bantal, lalu mengempaskan tubuhnya ke kasur dengan perasaan hancur. Di sisi lain kota, sebuah mobil sport meraung membelah sunyi malam. Rayan baru saja pulang dari arena balap liar, keringat masih membasahi pelipisnya. Saat melangkah masuk ke rumah, langkahnya terhenti. Di sofa ruang tengah, kedua orang tuanya sudah duduk menunggu dengan formasi lengkap. "Tumben belum pada tidur," ucap Rayan datar, berusaha melewati mereka. "Assalamualaikum dulu, Yan, kalau masuk rumah," tegur Bu Farida lembut namun berwibawa. Rayan menghentikan langkahnya, menghela napas panjang. "Oh, iya. Assalamualaikum." "Duduk," perintah Wisnu, ayahnya, dengan suara berat yang tak bisa dibantah. Rayan menelan ludah. Firasatnya memburuk. Ia tahu jika sang Papa sudah memasang wajah seperti itu, ada sesuatu yang sangat serius. "Ada apa, Pah?" tanya Rayan setelah duduk di hadapan mereka. "Kamu harus menikah dengan Kinara," ucap Wisnu lugas tanpa basa-basi. "Apa?! Kinara?!" Rayan terlonjak, matanya hampir keluar dari kelopak. "What? Papa bercanda, kan?" "Iya, Kinara. Kenapa?" tanya Wisnu tenang. "Pah, nggak salah? Kenapa harus si cewek kunyuk itu?" cecar Rayan. "Memang dari dulu kamu sudah dijodohkan sama dia, Rayan," timpal Bu Farida. "Ini amanah." "Kok nggak pada ngomong sih? Rayan udah punya pacar, Ma! Aku bahkan mau lamar dia bulan depan!" suara Rayan meninggi, tak terima masa depannya disetir begitu saja. "Tidak bisa. Kamu harus tetap nikah sama Kinara. Titik. Tanggal dan bulannya sudah kami tentukan," tegas Bu Farida, menutup ruang diskusi. Rayan terdiam, rahangnya mengeras. "Ma, nggak bisa gitu, dong! Mama tahu sendiri aku sama Kinara itu kayak apa kalau ketemu..." Rayan menggantung kalimatnya. Ia menghela napas frustrasi. Ia tahu, berdebat dengan kedua orang tuanya hanya akan membuang energi. "Akh, sudahlah percuma debat," Tanpa pamit, ia berdiri dan melangkah lebar menuju kamarnya dengan emosi yang menggebu-gebu. Di dalam kamar, Rayan tak bisa tenang. Ia mondar-mandir, meninju angin berkali-kali. "Gimana ini? Gue harus ketemu si kunyuk itu!" gumamnya dengan nada mengancam. Ia meraih ponsel di atas nakas, hendak mencari nomor Kinara untuk melampiaskan kekesalannya. Namun, ibu jarinya berhenti di atas layar. Gengsinya terlalu tinggi untuk memulai percakapan lebih dulu. Dengan geraman rendah, ia membanting ponselnya kembali ke nakas. Malam itu, Rayan terpaksa memejamkan mata dengan hati yang membara oleh amarah. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD