Keesokan harinya, atmosfer di ruang kelas terasa luar biasa panas, meski pendingin ruangan bekerja maksimal. Dua insan yang saling membenci itu bertemu di titik yang sama. Rayan menatap tajam ke arah Kinara, seolah ingin melubangi kepala gadis itu, sementara Kinara hanya mendelik sinis, membuang muka dengan seleret kebencian yang nyata.
Jam perkuliahan dimulai. Selama dua jam, mereka berakting seolah fokus pada materi yang dijelaskan dosen, meski pikiran masing-masing sedang menyusun rencana perang.
Begitu dosen melangkah keluar, Kinara sudah tidak sanggup lagi membendung amarahnya. Ia berdiri dengan kasar, hendak melabrak Rayan. Namun, Rayan bergerak lebih gesit. Tanpa sepatah kata, ia menyambar pergelangan tangan Kinara dan menyeretnya keluar dari ruangan.
"Lepasin! Sakit, bego!" teriak Kinara saat mereka berada di lorong kampus yang cukup sepi.
Rayan menghentikan langkahnya dan melepaskan cengkramannya dengan kasar. "Lo bilang apa ke orang tua lo, hah?!" bentak Rayan, suaranya tertahan namun penuh intimidasi.
"Berisik lo, anjing! Pelan dikit suaranya, gue malu dilihat orang!" balas Kinara dengan nada yang tak kalah tajam, meski suaranya ia rendahkan. Ia mengusap pergelangan tangannya yang memerah, meninggalkan bekas jari-jari Rayan yang kuat.
"Lo yang kegatelan minta dijodohin sama gue, kan?" tuduh Rayan dengan senyum miring yang meremehkan.
"Idih, najis! Mimpi apa gue semalam sampai harus dengar fitnah murahan lo itu!" Kinara bergidik ngeri, wajahnya menunjukkan ekspresi jijik yang murni.
Keduanya terdiam sejenak, deru napas emosi saling berkejaran.
"Terus gimana sekarang? Gue nggak mau nikah sama lo! Gimana nasib pacar gue?" tanya Rayan frustrasi, ia mengacak rambutnya kasar.
"Ya sama! Gue juga kagak mau! Gimana sama Revan?" balas Kinara, suaranya mulai bergetar karena panik.
Rayan terdiam, otaknya berputar mencari celah. Tatapannya mendingin. "Oke, dengerin gue. Pokoknya lo jangan balik ke rumah. Titik. Walaupun orang tua lo nelpon sampai ratusan kali, jangan pulang."
"Ya sudah, lo juga!" tantang Kinara.
"Deal," jawab Rayan singkat.
Tanpa basa-basi lagi, Kinara berbalik dan pergi begitu saja. Ia tidak sudi berlama-lama menghirup udara yang sama dengan laki-laki yang ia anggap sebagai musuh bebuyutannya itu.
Malam harinya, Kinara terduduk lesu di teras kosannya. Matanya menatap kosong ke arah jalanan, sementara pikirannya benang kusut.
"Kenapa lo? Muka ditekuk mulu kayak baju belum disetrika," tegur Raisa, sahabat karibnya, yang baru saja datang membawa camilan.
"Masa gue mau dijodohin sama Rayan, Sa... Amit-amit, ih!" Kinara mengetuk-ngetuk kepalanya ke meja, seolah ingin membuang kenyataan pahit itu.
"Apa?! Lo sama Rayan? What?! Lo itu musuh bebuyutan dari zaman embrio, kan? Oh my God!" Raisa menjerit histeris, hampir menjatuhkan ponselnya.
"Makanya, Sa! Aduh, tolongin gue... gimana ini kalau sampai beneran terjadi?" Kinara merengek, matanya mulai berkaca-kaca karena takut.
"Terus tadi si Rayan ngomong apa pas di kampus?" tanya Raisa setelah berhasil menenangkan diri.
"Dia bilang gue jangan pulang dulu. Suruh diem di sini walaupun nanti libur semester," cerita Kinara lesu.
"Ya sudah, nurut aja buat sementara. Terus si Revan gimana, Ra?" tanya Raisa lagi, suaranya melembut.
"Iya, itu dia, Sa... Gue bingung. Revan itu baik banget sama gue. Dia nggak pantas disakitin kayak gini," ujar Kinara sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa sangat bersalah.
"Ya sudah, lo santai dulu. Tarik napas. Kita cari jalan keluarnya pelan-pelan," hibur Raisa sambil merangkul bahu sahabatnya.
Kinara hanya mengangguk lemah. Ia kembali menatap jalanan yang semakin gelap dan sunyi, seolah-olah kegelapan itu sedang menggambarkan masa depannya yang kian tak menentu.
Keesokan harinya, matahari bersinar terik, namun hati Kinara masih dibayangi mendung. Meski begitu, ia berusaha sekuat tenaga bersikap normal saat bertemu dengan kekasihnya, Revan. Ia tidak ingin Revan mencium bau-bau masalah yang sedang menghimpitnya.
"Lagi apa, Sayang?" tanya Revan dengan suara lembut yang selalu berhasil menenangkan Kinara. Mereka bertemu di kantin kampus yang sedang ramai.
Kinara menoleh, menyunggingkan senyum manis yang dipaksakan. "Ini, baru mau jajan tapi bingung banget mau makan apa," ucapnya manja.
Revan mendekat, menatap deretan menu di papan tulis kantin dengan saksama. Tangannya terulur menunjuk salah satu pilihan. "Nih, nasi katsu kayaknya enak. Kamu lagi butuh energi, kan?"
"Boleh deh," jawab Kinara singkat, masih dengan senyum yang sama.
Suasana makan siang itu terasa hangat bagi Revan, namun penuh sesak bagi Kinara. Setiap kali menatap wajah tulus Revan, rasa bersalah itu kembali menghujam jantungnya. Revan terlalu baik untuk dikhianati oleh takdir perjodohan konyol ini.
"Ke kosanku yuk habis ini," ajak Revan santai di sela-sela suapannya.
Kinara sempat tertegun sesaat. "Ada siapa di sana?"
"Nggak ada siapa-siapa, sih. Tapi tenang, aman kok. Aku nggak akan macam-macam, janji," ucap Revan sambil mengangkat dua jarinya, membentuk tanda peace.
Kinara menatap mata Revan yang bening, mencari sedikit saja niat buruk di sana, namun yang ia temukan hanyalah kasih sayang. "Bener nih?" goda Kinara sambil tersenyum manis, mencoba mencairkan kecemasannya sendiri.
"Iya, asli! Sumpah deh," balas Revan sambil terkekeh geli melihat ekspresi curiga pacarnya.
Mereka pun tertawa bersama, sejenak melupakan dunia luar yang sedang kacau. Setelah makanan habis, mereka beranjak dari kantin. Namun, sebelum pergi ke kosan, mereka harus kembali ke ruang kampus masing-masing untuk menyelesaikan jam kuliah terakhir.
Di balik punggung Revan yang menjauh, senyum Kinara perlahan luntur. Ia tahu, kebahagiaan ini terasa seperti waktu pinjaman yang bisa habis kapan saja.
Bersambung...