Usai jam kuliah berakhir, Revan membonceng Kinara menuju kosannya. Deru mesin motor Vario itu membelah jalanan, seirama dengan detak jantung Kinara yang kian tak menentu. Sesampainya di sana, mereka masuk ke kamar kos yang tidak terlalu luas. Udara terasa sedikit pengap, khas kamar mahasiswa yang padat dengan barang.
"Maaf ya, berantakan banget," ucap Revan canggung sambil terburu-buru memunguti pakaian yang berserakan di lantai.
"Enggak apa-apa, aku bantu beresin ya," jawab Kinara pelan. Ia mulai merapikan tumpukan buku di meja, lalu beralih merapikan seprai yang kusut hingga kembali kencang dan rapi.
Setelah selesai, mereka berdua duduk bersisian. Pintu kamar sengaja dibiarkan terbuka lebar agar tak menimbulkan fitnah dari tetangga kosan. Namun, keheningan justru terasa mencekam.
"Kamu kenapa, Sayang? Kok dari tadi diam saja? Biasanya kamu bawel," tanya Revan lembut, memecah kesunyian.
Kinara menunduk dalam. Jemarinya memainkan ujung baju, ia tak sanggup lagi memikul beban rahasia itu sendirian. Kegelisahannya sudah mencapai titik jenuh.
"Van..."
"Ya? Ada apa, Sayang?" Revan menatapnya dengan pandangan tulus yang justru membuat hati Kinara semakin perih.
"Van, kalau... kalau seandainya aku dijodohkan, gimana?"
Seketika, ekspresi Revan berubah drastis. Matanya melotot kaget, seolah baru saja tersambar petir di siang bolong. "Apa? Apa kamu bilang tadi?"
"Kemarin saat aku pulang, tiba-tiba Mama bilang aku sudah dijodohkan dari dulu, Van. Dan... dan bulan depan aku harus menikah," ucap Kinara dengan suara bergetar.
"Kamu menolak, kan, Ra?!" Revan mencengkeram bahu Kinara, menuntut jawaban.
"Aku nolak, Van! Aku sudah teriak, tapi aku takut. Mama dan Papa bakal melakukan segala cara agar aku mau nikah sama dia," isak Kinara.
"Dia? Siapa laki-laki itu?" suara Revan mulai meninggi, dipenuhi emosi yang tertahan.
"Rayan, Van..."
"Apa?! Rayan?!" Revan tertawa getir, tawa yang penuh dengan luka. "Nggak salah? Si Rayan?"
Kinara hanya mampu menggeleng lemah. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata.
Revan terdiam lama, rahangnya mengeras. Ia menatap ke arah luar pintu dengan pandangan kosong. "Ya, wajar sih kalau orang tua kamu milih dia. Rayan kaya, keluarganya terpandang. Sedangkan aku? Aku nggak punya apa-apa, Ra," ucap Revan pahit.
Kinara langsung menoleh cepat, hatinya sakit mendengar ucapan itu. "Van, nggak gitu! Aku nggak lihat harta, Van! Aku cinta sama kamu, Revan! Aku sayang kamu!" Isakan Kinara pecah, air matanya luruh membasahi pipi.
Melihat kekasihnya hancur, Revan merasa dunianya runtuh. "Tapi seandainya itu benar-benar terjadi... kamu mau kabur sama aku, Ra?"
Kinara menatap Revan melalui kabut air mata. Tanpa ragu, ia mengangguk. "Aku mau, Van. Bawa aku pergi jauh dari sini..."
"Tapi kuliah kita gimana, Sayang?" Revan bertanya dengan suara parau, bingung terjepit antara masa depan dan cinta.
"Kenapa sih orang tua aku harus kasih pilihan yang rumit begini!" tangis Kinara meledak, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tak tega melihat kekasihnya tersiksa, Revan langsung menarik Kinara ke dalam pelukannya. Ia mendekap gadis itu dengan sangat erat, seolah tak ingin membiarkannya lepas.
"Aku akan buktikan, Ra. Aku akan perjuangkan kamu. Aku nggak akan biarkan dia ambil kamu dari aku," bisik Revan sambil mengecup puncak kepala Kinara dengan penuh perasaan.
Kinara hanya bisa mengangguk dalam pelukan itu, mencoba mencari rasa aman yang kini terasa sangat mahal baginya.
Keheningan menyelimuti kamar kos itu seiring dengan kaki Revan yang perlahan mendorong pintu hingga tertutup rapat. Dunia luar seolah menghilang, menyisakan mereka berdua dalam ruang sempit yang penuh emosi. Revan menatap lekat mata Kinara yang masih basah, lalu jemarinya terangkat pelan memegang dagu gadis itu.
Tanpa kata, Revan mencondongkan wajahnya dan meraup lembut bibir merah ceri milik Kinara.
Kinara terkesiap sesaat, namun kemudian ia membalas ciuman itu dengan seleret perasaan takut kehilangan. Ciuman mereka semakin dalam dan menuntut, seolah setiap pagutan adalah kalimat tanpa suara yang berteriak; aku sayang kamu, kamu milikku, jangan pergi.
Tangan Revan bergerak menyusup ke helai rambut Kinara, membelainya dengan penuh perasaan di sela-sela tautan bibir mereka. Ia menyesap bibir atas dan bawah Kinara secara bergantian, memberikan sensasi yang membuat Kinara merasa dunianya berputar hingga ia mulai kesulitan bernapas.
Sadar akan napas Kinara yang semakin pendek, Revan perlahan melepaskan ciumannya. Ia menjauhkan wajahnya hanya beberapa sentimeter, membiarkan dahi mereka saling bersentuhan.
Kinara menatap Revan dengan d**a naik-turun dan napas tersengal. "Aku... aku sayang banget sama kamu, Van," bisiknya parau.
"Aku juga, Ra. Sangat sayang," balas Revan dengan suara berat yang tulus. Ia langsung menarik Kinara kembali ke dalam pelukannya, mendekapnya seolah sanggup menyembunyikan gadis itu dari seluruh dunia.
"Aku akan perjuangkan kamu, Sayang. Apapun caranya," janji Revan sekali lagi, diakhiri dengan kecupan lama di kening Kinara. Kinara hanya bisa mengangguk pasrah dalam dekapan hangat itu, mencoba meyakini bahwa cinta mereka cukup kuat untuk melawan perjodohan ini.
Waktu berputar begitu cepat. Menjelang malam, Revan mengantarkan Kinara pulang menggunakan motornya. Angin malam yang dingin tak terasa karena kehangatan pembicaraan mereka selama di perjalanan. Motor berhenti tepat di depan gerbang kosan Kinara.
Kinara turun dari motor, lalu melepaskan helmnya. Ia menatap Revan dengan binar mata yang kini jauh lebih tenang. "Makasih ya buat hari ini," ucap Kinara sambil tersenyum tulus.
Revan membalas senyuman itu, senyum yang selalu menjadi favorit Kinara. "Sama-sama. Istirahat ya, jangan terlalu banyak pikiran." Ia mengangguk kecil, memastikan Kinara masuk ke dalam gerbang sebelum akhirnya memutar balik motornya dan melesat pergi meninggalkan kegelapan malam.
Bersambung...