Malam itu, dentuman musik EDM memenuhi ruangan club yang remang-remang. Rayan duduk di sudut VIP, meneguk segelas minuman keras bersama dua sahabatnya, Rendi dan David. Botol-botol kosong mulai memenuhi meja.
"Lo kenapa, sih? Tumben banget ngajak minum sampai begini?" tanya Rendi heran melihat gelagat Rayan yang tampak sangat tertekan.
"Dah, jangan nanya! Pusing gue!" sentak Rayan kesal, lalu kembali meneguk minumannya hingga tandas. Pikirannya masih dipenuhi bayang-bayang wajah orang tuanya dan sosok Kinara yang sangat ia benci.
Tak lama kemudian, Nayra—kekasih Rayan—datang menghampiri. Dengan manja, ia langsung duduk di pangkuan Rayan, melingkarkan lengan di leher pria itu.
"Kamu mabuk ya, Sayang?" tanya Nayra lembut, jarinya mengusap rahang Rayan yang kokoh.
"Belum kok. Aku masih sadar," gumam Rayan serak. Tangannya bergerak posesif, melingkar erat di pinggang ramping Nayra.
Tanpa memedulikan tatapan teman-temannya atau keramaian di sekitar, Nayra langsung mencium bibir Rayan. Rayan, yang sedang dalam pengaruh alkohol dan emosi yang meluap, membalas ciuman itu dengan sangat agresif. Ada rasa frustrasi yang ia tumpahkan dalam tautan itu.
"Kita ke apartemenku," bisik Rayan tepat di telinga Nayra dengan napas memburu.
"Oke," jawab Nayra dengan senyum menggoda. Tanpa berpamitan pada Rendi dan David, keduanya segera beranjak pergi, meninggalkan kebisingan club menuju keheningan yang intim.
Begitu pintu apartemen tertutup, suasana langsung memanas. Rayan dan Nayra b******u dengan sangat agresif, seolah-olah dunia akan berakhir esok hari. Nayra mendongakkan kepalanya, memberi akses saat Rayan mulai berpindah mencium lehernya dengan liar.
Rayan menjelajahi setiap inci leher Nayra, meninggalkan jejak basah dan tanda kemerahan di sana. Hasratnya memuncak hingga ia mulai melucuti pakaian Nayra. Saat Rayan menyesap area sensitif di d**a Nayra, gadis itu mendesah rendah dan menjambak rambut Rayan, tenggelam dalam gairah yang membara.
Namun, tepat saat keadaan hampir melampaui batas, Rayan tiba-tiba mematung. Ia menahan tubuh Nayra, menjauhkan dirinya sejenak meski napasnya masih tak beraturan.
"Kenapa, Yan?" tanya Nayra bingung dengan tatapan sayu.
Rayan memejamkan mata erat, mencoba menjernihkan logikanya yang hampir lumpuh. "Aku... aku nggak bisa. Kita belum nikah. Aku takut kamu hamil," ucap Rayan parau. Sebejat apa pun Rayan di luar, ia masih memiliki batas yang tak ingin ia langgar dengan wanita yang ia cintai.
"Kita akan nikah, kan, Yan? Kamu bakal lamar aku bulan depan, kan?" tanya Nayra meyakinkan, menatap mata Rayan dalam-dalam.
Rayan terdiam seribu bahasa. Lidahnya terasa kelu. Ia sangat takut jika keputusan orang tuanya untuk menjodohkannya dengan Kinara adalah harga mati yang tak bisa diubah.
"Nanti, ya... Sekarang aku lagi fokus mikirin ujian dulu," kilas Rayan, mencari alasan paling aman agar tidak menyakiti perasaan Nayra malam itu.
"Oke kalau itu mau kamu," ucap Nayra sambil perlahan membetulkan pakaiannya kembali.
Rayan mengembuskan napas lega yang berat. Meski gairahnya belum sepenuhnya padam, ia memilih untuk merapikan diri dan mengantarkan Nayra pulang, membiarkan rahasia perjodohan itu tetap terkunci rapat di dalam kepalanya yang berdenyut nyeri.
Hari berikutnya terasa lebih berat bagi Kinara. Ruang kelas yang biasanya riuh kini terasa seperti penjara. Setiap kali pandangannya tak sengaja bertabrakan dengan Rayan, kilatan kebencian selalu terpancar di sana. Kinara benar-benar muak.
"Ya Tuhan... kebayang gue harus satu atap sama cowok psikopat itu," gumam Kinara dalam hati. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut kencang, mencoba mengusir bayangan masa depan yang suram.
"Kenapa lo? Muka lo pucat banget, Ra," tanya Robi, sahabatnya, yang sejak tadi memperhatikan kegelisahan Kinara.
"Pusing gue, Bi. Benar-benar mau pecah rasanya," sahut Kinara lemah.
Robi menyodorkan sebotol minuman dingin. "Nih, minum dulu biar fresh."
Kinara meraihnya dan meneguknya cepat. Ia mencoba mengatur napas agar dadanya tidak terasa sesak. Namun, saat ia melirik ponselnya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ada ratusan panggilan tak terjawab dari orang tuanya. Puluhan pesan singkat beruntun masuk tanpa henti:
"Pulang! Kamu harus fitting baju hari ini!"
"Pulang, Kinara! Atur undangan sekarang!"
"Pilih gedung mana? Jangan buat Mama malu!"
"Berapa tamu yang mau diundang? Balas!"
Kinara tidak membalas satu pun. Tubuhnya merosot, ia memilih menyembunyikan wajahnya di atas meja, mencoba menghilang dari kenyataan.
Tiba-tiba, sebuah bayangan gelap menutupi cahayanya. Rayan berdiri di samping kursinya, lalu membungkuk sedikit untuk berbisik tajam tepat di telinga Kinara.
"Pulang kuliah, temui gue. Ada yang harus kita bahas," ucap Rayan dingin.
Kinara tidak bangkit, suaranya teredam meja. "Jangan debat deh, Yan. Gue lagi lemas banget..."
"Harus. Wajib. Jangan berani-berani lo mangkir," tekan Rayan tanpa perasaan.
Kinara tidak menjawab lagi. Wajahnya semakin pucat karena nyeri haid yang mulai menyerang perutnya. Rasa sakit yang melilit membuat energinya terkuras habis.
"Woi, Yan! Awas, jangan ganggu Kinara dulu!" tegur Robi sambil menghalangi langkah Rayan.
Rayan menatap Robi dengan senyum keki yang meremehkan. "Kenapa dia? Habis energi gara-gara mikirin pernikahan?" sindirnya sebelum berlalu pergi.
Robi mengabaikan Rayan dan segera menyentuh bahu Kinara dengan cemas. "Ra, lo nggak apa-apa? Mana yang sakit?"
"Mau pulang, Bi... perut gue sakit banget," rengek Kinara sambil memegangi perut bawahnya. Keringat dingin mulai tampak di dahinya.
"Ayo, gue anterin sekarang," ucap Robi sigap. Ia membantu Kinara berdiri, melingkarkan tangan gadis itu di bahunya agar bisa menopang tubuhnya yang limbung. Mereka berjalan perlahan menuju parkiran.
"Ke rumah aja, Bi. Di kosan nggak ada siapa-siapa, Raisa lagi pulang kampung. Nggak ada yang bakal rawat gue kalau gue pingsan," bisik Kinara lemah.
"Oke, oke, siap. Pegangan, Ra," sahut Robi. Ia membantu Kinara masuk ke dalam mobil, lalu segera melajukan kendaraannya dengan kencang membelah jalanan kota menuju kediaman orang tua Kinara.
Bersambung...