Kinara melangkah gontai melewati ambang pintu rumahnya. Tangannya tak lepas mencengkeram perut yang terasa seperti diremas-remas hebat. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi pelipis.
"Akhirnya kamu pulang juga," sambut Bu Sarah dingin tepat di depan pintu.
"Aku sakit, Ma. Lagi haid..." gumam Kinara lirih. Ia tak sanggup lagi berdiri lama. Dengan sisa tenaga yang ada, ia merangkak menuju kamarnya dan langsung mengempaskan tubuh ke kasur, meringis menahan nyeri yang luar biasa.
Melihat kondisi putrinya, naluri seorang ibu tetap muncul. Bu Sarah mengambil air hangat dan mulai mengompres perut Kinara. "Kenapa? Kamu stres ya mikirin ini?" tanya Bu Sarah.
"Jangan bahas itu dulu, Ma... Otakku pusing," rintih Kinara dengan mata terpejam rapat.
"Pernikahan ini tetap harus diadakan, Kinara. Jangan bikin keluarga kita malu," tegas Bu Sarah, tak memedulikan kondisi mental putrinya.
Kinara tak sanggup lagi membalas. Rasa sakit dan tekanan batin yang bertubi-tubi membuatnya kehilangan kesadaran. Ia jatuh tertidur—atau mungkin pingsan karena kelelahan—tepat saat ibunya masih terus mengoceh. Bu Sarah mendengus pelan, menempelkan koyo pereda nyeri di perut Kinara, lalu beranjak pergi meninggalkan kamar yang sunyi itu.
Di sisi lain, Rayan sedang didera kecemasan yang ia selubungi dengan amarah. Begitu mendengar kabar Kinara pulang karena sakit, ia memukul meja kantin dengan keras.
"b******k anak itu! Dia pasti sengaja pulang supaya gue nggak bisa nemuin dia!" gerutu Rayan dengan napas memburu. "Nggak akan gue biarin! Nikah aja lo sendiri, gue nggak akan datang!"
Malam itu, hujan mulai turun membasahi bumi. Revan, yang sangat mengkhawatirkan kondisi Kinara, nekat mendatangi rumah kekasihnya.
"Assalamualaikum," ucap Revan saat masuk.
"Waalaikumsalam," sahut Bagas, ayah Kinara, dengan wajah sedingin es.
Revan menyalami Bagas dan Bu Sarah dengan sopan, mencoba bersikap tegar meski hatinya gentar. "Ada apa?" tanya Bagas tegas.
"Kinara sakit ya, Pak?" tanya Revan hati-hati.
"Iya. Kamu sudah tahu, kan, kalau Kinara akan segera menikah?" Bagas menatap Revan rendah. Revan hanya terdiam, tenggorokannya terasa tersumbat.
"Kinara akan menikah sebentar lagi, Van. Jadi, maaf... jangan temui dia lagi," timpal Bu Sarah tanpa perasaan.
"Tapi Pak, Bu... rencana saya mau melamar Kinara setelah semester ini berakhir," ucap Revan sambil menunduk dalam, mencoba memperjuangkan cintanya.
"Kamu belum kerja, Revan! Mau dikasih makan apa anak saya?" cibir Bagas.
"Maaf Pak, bukannya Rayan juga belum kerja?" balas Revan memberanikan diri.
BRAAAAK!
Bagas menggebrak meja hingga vas bunga di atasnya bergetar. "Dia kaya! Dia akan mewarisi perusahaan papanya! Perjodohan ini sudah lama dan kami akan sangat malu jika batal!" bentak Bagas dengan mata melotot.
Revan tertegun. Sakit hati itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia sadar, posisinya sangat lemah. Ayahnya hanyalah seorang karyawan di perusahaan milik ayah Kinara.
"Dengar, Revan. Pulang sekarang, putuskan Kinara atau..." Bagas menggantung kalimatnya, memberikan tatapan yang mematikan. "Atau ayah kamu akan saya keluarkan dari pekerjaannya besok pagi."
Deg.
Dunia Revan seolah runtuh. Ia membayangkan wajah adik-adiknya yang masih kecil. Bagaimana nasib keluarganya jika sang ayah kehilangan satu-satunya sumber penghasilan?
"Tapi Pak, izinkan saya ketemu Kinara malam ini saja," mohon Revan dengan suara serak.
"Nggak bisa. Dia sedang istirahat. Pulang!" usir Bu Sarah.
Revan menatap ke arah tangga, membayangkan Kinara yang sedang terbaring di kamarnya. Hatinya hancur berkeping-keping. "Kalau begitu, saya pamit, Pak... Bu..." ucap Revan sambil mencium tangan mereka dengan getir.
Revan melajukan motornya menembus hujan deras yang kini mengguyur kota. Ia tak peduli pada dingin yang menusuk tulang. Air matanya jatuh, bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya.
"Maafin aku, Ra... maafin aku..." Revan menangis sejadi-jadinya. d**a terasa sesak seolah dihimpit batu besar. Ia memukul-mukul dadanya sendiri, mencoba meredakan rasa sakit yang tak tertahankan.
"Haaaaaaaaaaaaah!" teriak Revan sekuat tenaga ke arah langit gelap, suaranya tenggelam di antara gemuruh petir yang bersahutan dari kejauhan. Cintanya baru saja dipaksa mati oleh kenyataan.
Tengah malam, Kinara terbangun dalam sunyi. Kamarnya terasa hampa, meski nyeri di perutnya sudah mulai mereda. Tenggorokannya terasa kering, memaksa ia melangkah dengan kaki telanjang menuju dapur. Setelah meneguk segelas air dingin, ia kembali ke kamar dan menyambar ponselnya.
Cahaya layar ponsel menerangi wajahnya yang sembap. Pesan pertama datang dari si pembuat onar, Rayan.
"b******k lo, kenapa pulang hah?!"
"Awas aja kalo lo jadiin pernikahan ini, lo bakal nikah sendirian! Rasain lo!"
Kinara mengembuskan napas panjang, jarinya bergerak lincah membalas dengan nada yang tak kalah sinis.
"Gue sakit makanya pulang. Ya sudah, kalau lo nggak mau datang terserah! Gue juga rencana mau kabur dari sini!"
Tak ada jawaban lagi. Sunyi. Mungkin laki-laki itu sudah terlelap di balik amarahnya.
Kinara kemudian beralih membuka pesan dari Revan. Awalnya, senyum tipis terukir di bibirnya, namun senyum itu perlahan luntur, digantikan oleh tatapan kosong saat ia membaca kata demi kata yang terangkai di sana.
"Assalamualaikum, Kinara sayang... Tadi aku ke rumah kamu, mau lihat kamu tapi kamu lagi bobo. 🥰"
"Ra... maaf banget ya, kayaknya aku nggak bisa perjuangin kamu. Aku nggak bisa, Ra. Jika kita kabur, Papa kamu akan pecat ayah aku, dan itu hal yang paling aku takutkan. Aku takut Ayah nggak kerja, adik-adik aku masih kecil, dan aku sendiri belum kerja. Jadi maaf ya, Ra..."
Air mata Kinara luruh seketika, jatuh membasahi layar ponselnya. Ia tak menyangka tembok yang ia bangun bersama Revan akan runtuh semudah itu. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol telepon.
"Halo..." suara Revan terdengar di ujung sana, sengau dan berat, sisa dari tangisan yang panjang.
"Van! Apa-apaan yang kamu tulis di pesan itu?!" tuntut Kinara, suaranya serak menahan isak.
"Maafkan aku, Ra... maaf," suara Revan pecah. "Ujian sebentar lagi, dan aku nggak berdaya kalau harus berhadapan sama Papa kamu. Uang yang Ayah keluarkan untuk kuliahku sangat besar, aku nggak mau gagal dan membuat mereka hancur. Aku sayang kamu, tapi mungkin Rayan adalah pilihan terbaik bagi orang tuamu. Maaf banget, Sayang..."
"Van, kamu jahat!" rengek Kinara, hatinya terasa seperti diremas. Ia merasa dikhianati oleh keadaan dan oleh laki-laki yang ia anggap sebagai pelindung.
"Iya, aku jahat... Maaf..." bisik Revan putus asa.
Kinara tak sanggup lagi mendengar suara itu. Tanpa pamit, ia mematikan sambungan telepon dan membanting ponselnya ke atas kasur dengan kasar.
"b******k!" teriaknya pecah ke arah bantal. Ia merasa dunianya benar-benar runtuh malam itu. Satu-satunya alasan ia bertahan kini telah menyerah, membiarkannya tenggelam sendirian dalam rencana perjodohan gila ini.
Bersambung...