Surat Pra Nikah

1261 Words
Kinara meletakkan pena dengan helaan napas panjang. Di atas meja belajar, sebuah kertas putih kini penuh dengan sepuluh poin yang ia susun dengan sisa-sisa harga dirinya. Sumpah Pernikahan / Surat Perjanjian Pra-Nikah: 1.Tanpa Sentuhan Fisik: Tidak ada sentuhan fisik sebelum cinta benar-benar hadir. (Catatan: Pegangan tangan karena kejeblos got tidak dihitung). 2.Nafkah Wajib: Uang saku bulanan Rp10.000.000, wajib tepat waktu. Lewat satu hari, denda traktir makan sepuasnya. 3.Wajib Izin: Jika ingin keluar atau bepergian lama, wajib izin. Bukan karena posesif, tapi karena sopan santun. 4.Setia: Dilarang keras memiliki pasangan lain, walaupun pernikahan ini awalnya tanpa cinta. Harga diri tetap nomor satu. 5.Anti Kekerasan: Tidak ada kekerasan dalam bentuk apa pun. Termasuk dilarang membanting pintu keras-keras seperti di sinetron azab. 6.Ibadah Bersama: Salat berjamaah minimal sekali sehari. Supaya kalau sedang ribut, masih ada yang mengingatkan pada Tuhan. 7.Kewajiban Merawat: Jika salah satu sakit, yang lain wajib merawat. Termasuk begadang dan memijat tanpa keluhan. 8.Jaga Nama Baik: Dilarang mabuk atau melakukan hal memalukan yang merusak reputasi pasangan. 9.Batas Pergaulan: Waktu bermain dengan teman dibatasi sewajarnya. Ingat status sudah menikah, bukan anak kos. 10.Profesionalitas: Di depan orang tua dan teman, wajib bersikap layaknya pasangan yang saling menghormati. Akting boleh, tapi jangan berlebihan. Rayan membaca poin demi poin dengan mata membelalak. Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang nyata. "Sumpah, ini banyak banget!" gumamnya tak percaya. "Gue juga punya hak buat nulis," cetus Rayan tak mau kalah. Ia merebut pena dari tangan Kinara dan duduk di kursi meja belajar dengan gaya angkuh. Ia mulai menggoreskan syarat versinya sendiri: 1.Jangan Atur Gue: Kebebasan gue tetap nomor satu. 2.Privasi: Kita tinggal di apartemen gue, tapi pisah kamar. 3.Hobi: Gue suka balap motor, jangan pernah dilarang. 4.Kejujuran: Kalau lo jatuh cinta duluan sama gue, lo harus jujur. Jangan munafik. 5.Etika: Lo harus cium tangan gue kalau izin mau pergi, baik di rumah maupun di kampus. Kinara membaca tulisan Rayan yang berantakan itu. Bibirnya mengerucut sebal, terutama membaca poin terakhir. "Cium tangan? Serasa gue punya bapak baru," batinnya kesal. Namun, demi formalitas, ia mengangguk pendek. "Oke, deal," ucap Kinara dingin. Rayan berdiri, merapikan jaketnya yang sedikit kusut. "Ya sudah, yuk turun. Takutnya mereka di bawah mikir kita lagi ngapa-ngapain di kamar," ucapnya dengan nada sedikit menyindir. "Hmm," gumam Kinara malas. Keduanya melangkah turun menuju ruang tamu. Suasana di bawah jauh lebih ceria dibandingkan ketegangan di atas. Mereka duduk di antara kedua orang tua mereka yang tampak sangat puas dengan pertemuan ini. "Nah, kalau sudah sepakat, besok kalian berangkat fitting baju ya. Mumpung kampus lagi libur," ucap Bu Sarah dengan senyum sumringah yang lebar. Kinara hanya mengangguk pelan. Pandangannya kosong, menatap karpet di bawah kakinya. Pikirannya melayang membayangkan dirinya mengenakan gaun putih untuk pria yang bahkan tidak ia inginkan. Di sisi lain, Rayan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tampak bingung dan tertekan, namun tak memiliki celah untuk membantah perintah Wisnu yang duduk tegap di sampingnya. Baginya, pernikahan ini adalah jeratan yang tak bisa ia hindari jika ingin asetnya kembali. Setelah semua detail disepakati, keluarga Wisnu pun pamit. "Kami pulang dulu, ya. Sampai bertemu besok di butik," ucap Farida dengan nada yang mulai ramah, seolah-olah drama di depan klub malam kemarin tidak pernah terjadi. Mobil mewah itu pun meluncur pergi, meninggalkan Kinara yang berdiri mematung di ambang pintu, menatap masa depannya yang kini tinggal menghitung hari. Keesokan harinya, aroma wangi butik pengantin yang elegan menyambut mereka. Di dalam ruang ganti, Kinara menatap pantulan dirinya di cermin besar. Gaun putih berbahan brokat itu melekat indah di tubuhnya, namun hatinya terasa kosong. Dengan malas, ia berlenggak-lenggok, mencoba melihat setiap sisi gaun itu. "Harusnya aku bahagia kalau gaun ini kupakai untuk pernikahanku dengan Revan," bisiknya dalam hati dengan pedih. "Bagus yang itu, Ra," ucap Farida tenang sambil menyesap teh hangatnya. "Iya, sangat cocok untukmu. Iya kan, Yan?" sahut Bu Sarah mencari persetujuan. Rayan, yang sejak tadi terpaku pada ponselnya karena jenuh, menoleh sekilas. "Iya, bagus," ucapnya singkat tanpa antusiasme. "Ya sudah. Yang ini saja," cetus Kinara ketus kepada pelayan butik. Sang pelayan hanya bisa mengerutkan kening, merasa heran melihat sepasang calon pengantin yang tampak begitu dingin satu sama lain. Usai dari butik, mereka melanjutkan perjalanan ke sebuah mal mewah untuk membeli seserahan. Farida berjalan berdampingan dengan Kinara, mencoba mencairkan suasana. "Baju yang seperti apa seleramu, Kinara?" tanya Farida lembut. "Yang lengan panjang saja, Tante," jawab Kinara sambil menunjuk deretan kaos berkelas. Farida tersenyum kecil. "Loh, kok panggil Tante sih? Panggil Mama saja ya, kan sebentar lagi jadi anak Mama." Kinara memaksakan sebuah senyum tipis. "Iya... Ma." Sementara itu, Rayan menunggu di luar toko dengan wajah yang ditekuk. Ia bersandar di pilar, benar-benar merasa berada di tempat yang salah. Tiba-tiba, dari arah berlawanan, Nayra lewat bersama para sahabatnya. "Eh, eh, itu kan si Rayan!" bisik Ratih, sahabat Nayra, sambil menyenggol lengan temannya. "Biarin aja lah," sahut Nayra dingin, meski matanya tak bisa lepas dari sosok Rayan. "Tapi kita kan mau ke toko itu, Nay," timpal Siska. "Ck, ngapain sih dia di depan toko itu!" gerutu Nayra yang langkahnya kini semakin mendekati lokasi Rayan. Namun, Rayan tetap fokus pada ponselnya, tidak menyadari kehadiran wanita yang sedang terluka hatinya itu. Nayra mendelik tajam, hatinya panas melihat Rayan menunggu di depan toko pakaian wanita. Ia langsung melangkah masuk ke dalam. Di sana, ia melihat Kinara sedang memilih pakaian dalam. Kinara memegang sebuah tanktop tipis dan baju tidur transparan dengan ekspresi geli. "Masa aku harus pakai beginian sih?" gumamnya dalam hati. "Puas lo rebut Rayan dari gue?" suara dingin Nayra tepat di belakang telinga Kinara membuat gadis itu terlonjak. "Lo ngagetin, anjir!" teriak Kinara terkesiap, dadanya berdegup kencang karena kaget. "Lo pura-pura kan benci sama dia?" tuduh Nayra dengan mata berkaca-kaca penuh amarah. "Kagak! Serius gue nggak suka sama dia. Kenapa?" balas Kinara, mencoba tetap tenang. "Lantas kenapa lo mau dijodohin sama dia, hah?!" teriak Nayra histeris. Farida dan Bu Sarah yang sedang asyik memilih baju di sudut lain seketika menoleh kaget. "Gue nggak bisa nolak karena undangan sudah disebar!" balas Kinara membela diri. "Lo tahu gue mau nikah sama dia! Kenapa lo ambil dia? Dasar cewek gatel!" PLAAAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Kinara hingga wajahnya terlempar ke samping. Pipi Kinara seketika memanas dan memerah. Ia terdiam sejenak, lalu perlahan menoleh menatap Nayra dengan tatapan yang sangat tajam. "Kalau gue bisa memilih, gue juga nggak mau sama laki-laki b******k itu!" seru Kinara. Tanpa peringatan, ia mengepalkan tangannya. BUGGG! Kinara membalas dengan sebuah bogem mentah tepat di hidung Nayra. Nayra terjengkang ke belakang, tak menyangka Kinara akan melawan sekeras itu. Dalam sekejap, toko itu berubah menjadi ring tinju. Keduanya saling pukul, jambak-jambakan, hingga berguling di lantai. Bu Sarah dan Farida berlari melerai, dibantu oleh beberapa pelayan toko yang panik. Rayan yang mendengar keributan langsung memasukkan ponselnya ke kantong jaket dan berlari masuk. Ia terperangah melihat dua wanita dalam hidupnya saling serang. Rayan segera menarik tubuh Nayra untuk memisahkan mereka. "Ini apaan sih?!" bentaknya bingung. "Bilang sama pacar lo, kita dijodohin! Bukan gue yang rebut dia, b******k!" teriak Kinara dengan napas memburu dan rambut acak-acakan. "Lagian lo tahu dia pacar gue, kenapa lo mau, Anjing!" teriak Nayra tak mau kalah. "Udah, malu ada Mama!" bisik Rayan berusaha menenangkan Nayra. Nayra menatap Rayan dengan jijik. "Dasar anak mami lo!" umpatnya sambil mendorong d**a Rayan kuat-kuat. Ia kemudian berbalik dan pergi dengan rambut yang berantakan dan wajah yang lebam terkena pukulan Kinara. "Kamu nggak apa-apa, Nara?" tanya Farida cemas. "Pipi aku panas, Ma," keluh Kinara sambil memegangi pipinya yang bengkak. Rayan mendelik tajam. Dalam hatinya ia bergumam, "Dih, si Nayra yang lebam-lebam sampai berdarah, dia yang merasa tersakiti." Tanpa pamit, Rayan langsung berlari mengejar Nayra. "Eh! Mau kemana anak itu!" seru Farida kesal. bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD