Enggan Berpisah

1037 Words
Farida dan Bu Sarah meminta maaf kepada pihak toko atas keributan yang terjadi. Setelah membayar belanjaan, mereka pergi ke sebuah restoran untuk menenangkan diri sambil menunggu Rayan kembali. Sementara itu, Rayan berhasil menyusul Nayra di basement parkir. "Nay, tunggu!" teriaknya. "Diam kamu! Jangan kejar aku!" balas Nayra sambil terisak. "Aku merasa bersalah sama kamu, Nay. Maafkan aku," ucap Rayan pelan, mencoba meraih tangan Nayra. Air mata Nayra tumpah membasahi pipinya yang luka. Ia tak sanggup lagi menahan rasa sakit dikhianati oleh situasi ini. "Jangan tinggalin aku, Rayan... aku sangat cinta kamu," isaknya akhirnya, runtuh dalam pelukan Rayan. Rayan memeluknya dengan sangat erat. "Aku nggak punya pilihan, Nay. Aku bingung. Aku obatin luka kamu ya?" bisik Rayan di telinga Nayra. Nayra hanya bisa mengangguk pasrah. Sore itu, Rayan membawa motor Nayra menuju apartemennya untuk merawat luka gadis itu. Di restoran, Farida mulai kehilangan kesabaran. Hari semakin sore, namun Rayan tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati. "Kinara, kamu bisa bawa mobil?" tanya Farida dengan wajah lelah dan malu. "Bisa, Ma," jawab Kinara singkat. "Tolong bawa mobilnya ya, Rayan nggak aktif ditelepon. Biar Mama dan Tante Sarah ikut kamu," ucap Farida pasrah. Kinara mengangguk. Dengan pipi yang masih terasa berdenyut, ia menyetir mobil Rayan menembus kemacetan sore, sementara hatinya semakin yakin bahwa pernikahan ini hanyalah awal dari bencana yang lebih besar. *** Sementara itu di dalam apartemen yang remang, Rayan sedang telaten mengobati luka lebam di wajah Nayra. Suasana terasa begitu berat, hanya ada suara napas mereka yang saling beradu. "Yan, apa kamu tega ninggalin aku?" tanya Nayra lirih, menatap Rayan dengan mata yang sembab dan penuh harap. Rayan terdiam sejenak. Jemarinya berhenti bergerak di pipi Nayra. Pikirannya berkecamuk antara kewajiban perjodohan yang mencekik dan perasaannya pada gadis di depannya. "Aku belum kerja, Nay. Aku nggak bisa berbuat apa-apa. Kuliahku masih butuh biaya besar, dan kalau aku menolak perjodohan ini, aku bakal diusir. Aku nggak punya harta apa pun. Apa kamu mau hidup susah sama aku?" tanya Rayan dengan nada putus asa. Mendengar kata 'susah', binar di mata Nayra meredup. Sebenarnya, sebagian besar cintanya pada Rayan tumbuh karena kemewahan yang laki-laki itu miliki. Ia terdiam, membayangkan hidup tanpa fasilitas dari Rayan. "Hmm, gimana?" desak Rayan. "A-aku nggak mau kalau harus hidup susah, Yan. Tapi... kamu masih mau kan biayain kosan aku? Maksudku, kita jangan putus, Rayan!" ucap Nayra setengah memohon. "Apa?" Rayan terhenyak. Sontak ia teringat pada poin nomor empat dalam perjanjian yang dibuat Kinara semalam: Dilarang keras memiliki pasangan lain. "Gimana, Rayan? Aku nggak mau jauh dari kamu!" Nayra langsung menghambur ke pelukan Rayan, mendekapnya dengan sangat erat seolah tak ingin melepaskannya pada Kinara. Rayan menghela napas panjang, lalu perlahan mengusap punggung Nayra. "Ah, masa bodoh. Kinara nggak bakal tahu soal ini," batinnya mencoba mencari pembenaran. "Iya, oke," bisiknya. Nayra mendongak, menatap Rayan dengan tatapan menggoda. Ia kemudian berpindah duduk di pangkuan Rayan, mengalungkan tangannya di leher laki-laki itu. Tanpa aba-aba, Nayra mendaratkan ciuman lembut yang penuh gairah di bibir Rayan. Rayan, yang sedang dalam kondisi emosional yang tidak stabil, akhirnya terpancing. Tangannya yang semula berada di pinggang Nayra mulai bergerak liar menjamah bagian tubuh lainnya. Kecupan demi kecupan yang diberikan Rayan membuat Nayra mendesah kecil di sela tautan mereka. "Aku mau, Yan... sekarang," bisik Nayra tepat di telinga Rayan dengan suara serak. Seketika, sebuah alarm di kepala Rayan berbunyi. Ia tersadar dari kabut gairah itu. Dengan sedikit paksaan, ia melepaskan pagutan mereka dan berdiri menjauh. "Nggak... aku nggak bisa!" "Kenapa sih kamu, Yan? Aku rela loh, walau kita nggak jadi nikah!" seru Nayra kesal, merasa ditolak di saat ia sudah memberikan segalanya. Rayan mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menjernihkan pikiran. "Aku mau nikah, Nayra. Dan aku nggak mungkin melakukan hal sejauh itu di luar pernikahan. Itu zina!" "Memangnya ciuman tadi bukan zina?!" bentak Nayra sambil berdiri, menatap Rayan dengan amarah yang meluap. Rayan terdiam, tak mampu membantah kebenaran ucapan itu. "Jangan-jangan kamu sudah mulai cinta sama Kinara? Makanya kamu terima gitu aja perjodohan ini? Terus drama kalian berantem melulu itu cuma akting, kan?!" tuduh Nayra semakin menjadi-jadi. "Nayra, please..." Rayan menahan emosinya agar tidak meledak. "Aku benci dia, Yan! Aku benci dia dari dulu, dan sekarang kamu malah mau nikahin dia? b******k!" "CUKUP!" bentak Rayan keras hingga suaranya menggema di ruangan itu. "Pergi sebelum aku hilang kendali!" Napasnya naik turun menahan amarah yang memuncak. "Aku nggak mau pergi! Aku mau tinggal di sini sama kamu!" tantang Nayra. "Nggak bisa, Nayra! Aku akan tinggal di sini sama Kinara setelah kami menikah nanti!" balas Rayan pahit. Nayra kembali menangis histeris. "Kamu gila, Yan! Kamu hina-hina dia, kamu ledek dia, kalian berantem terus, tapi ujungnya apa? Kamu tetap nikahin dia! Kamu nggak menghargai perasaan aku sedikit pun! Kamu anggap aku apa, Rayan? Mana janji kamu mau nikahin aku?!" Rayan hanya bisa terdiam membisu, membiarkan isak tangis Nayra memenuhi ruangan. "Pulang, Nay," perintah Rayan dingin. "Nggak!" "Jangan paksa aku berbuat dosa lebih jauh lagi," ucap Rayan dengan nada memperingatkan. "Aku cinta kamu, Rayan... tolong katakan kamu juga cinta aku," rintih Nayra sambil memegangi ujung jaket Rayan. "Iya, aku cinta kamu," jawab Rayan dengan nada datar, nyaris tanpa rasa. "Aku mau di sini. Aku mau serahkan segalanya sama kamu, Rayan. Aku rela lakuin apa saja asal kamu bahagia," tawar Nayra lagi, mencoba memikat Rayan dengan sisa keberaniannya. Rayan menatap Nayra dengan iba sekaligus kecewa. "Aku bukan laki-laki seperti itu, Nayra. Jaga kesucian kamu. Kamu bakal menyesal nanti kalau ternyata kamu menikah bukan denganku." "Tapi aku mau kamu!" tangis Nayra semakin pecah. "Ya sudah, tadi kan aku kasih pilihan. Oke, aku kabur dari rumah, aku lepaskan semua kemewahan ini, dan aku nggak punya apa-apa. Apa kamu tetap mau sama aku?" tanya Rayan skakmat. Nayra terdiam, tangisnya mereda seketika. Ia tidak bisa menjawab 'iya' untuk hidup miskin. "Jawaban kamu tetap 'nggak', kan? Kamu tetap ingin bersamaku hanya karena statusku, walau aku sudah jadi milik orang lain," ucap Rayan dengan senyum sinis. Nayra menghentikan isaknya, menyadari posisinya yang terjepit. "Tapi janji ya... jangan putusin aku walau kamu sudah nikah nanti?" "Iya," jawab Rayan singkat. "Makasih, Rayan. Tapi malam ini aku tetap nggak mau pulang. Aku mau tidur sama kamu... temani aku," ucap Nayra manja, kembali merapat ke tubuh Rayan. Rayan hanya bisa pasrah. Ia merangkul bahu Nayra, mencoba menenangkan badai di dalam hatinya sendiri. "Ya sudah." Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD