Sesampainya di kosan, suasana berubah mencekam sekaligus panas. Revan langsung merengkuh tubuh Kinara dan melumat bibirnya dengan dalam. Ciuman itu penuh dengan rasa frustrasi dan ketakutan akan kehilangan. Kinara, yang juga merasa hancur, membalas ciuman itu dengan tuntutan yang sama besarnya. Revan mulai menjajahi leher jenjang Kinara, memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Kinara mengerang antara nikmat dan gelisah. Tangan Revan mulai bermain di area sensitif Kinara, membuat gadis itu gemetar hebat. Hasrat yang meluap membuat Revan kehilangan kendali; ia hendak membuka paksa celana Kinara. "Van, jangan!" Kinara menahan tangan Revan dengan sisa kesadarannya. "Aku mau, Sayang... Tolong," rintih Revan penuh nafsu. "Jangan, Van... please," mohon Kinara dengan suara parau. "Kamu saya

