BAB 6

1016 Words
Luna “Mau kopi?” aku terkesiap. Anna sudah di depanku secara ajaib. Kenapa akhir-akhir ini orang-orang muncul secara ajaib? “Boleh.” Kataku lalu tiba-tiba aku menyadari ada yang beda dari Anna. “Kau memakai celak hitam?” aku menatapnya dengan mata menyipit. “Hahaha,” Anna terkekeh. “Aku ingin tampil beda, jadi aku kasih saja celak gelap di bawah mataku. Aku terinspirasi dengan riasan wanita timur tengah.” Anna kembali terkekeh.             “Kopinya,” kataku mengingatkan.                     “Oh iya, hampir saja aku lupa kalau tujuanku ke sini untuk menawari manajer kopi. Biasa kan, tanpa gula.”             “Betul.” aku melempar senyum tipis pada Anna. “Anna,” aku memanggilnya ketika dia berbalik.             “Ya,” sahutnya. “Begini,” aku merasa kikuk. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Sungguh sekarang mungkin di mata Anne aku adalah jelmaan simpanse. “Soal kemarin, jangan berprasangka buruk... emmm... maksudku... itu tidak seperti yang kaulihat...” Hening. “Hahaha...” aku mendengar tawa Anna yang menggelegar hingga aku menciut ketakutan. “Setelah aku melihat adegan panas itu...” apa dia bilang? Adegan panas? “Big Boss memberitahu kami kalau Anda adalah calon istrinya sebulan lagi.” “Apa?!” pekikku. Anna langsung melesat pergi tanpa jejak. Sebulan lagi? Menikah? Dengan Shawn? Ya ampun, aku telah menyetujui pernikahan konyol itu. Aku menyetujui karena emosi sesaat. Bagaimana ini... semua penduduk Robbins Coorporate pasti sudah tahu dari mulut bos sintingnya. Seketika Aku teringat Dad. Dad sudah meninggal setahun lalu. Kalau dia masih hidup, dia tidak akan pernah menyetujui pernikahanku dengan Shawn yang sudah membumi dengan julukan sebagai pria berengsek yang hobinya meniduri para wanita dari yang paling murah hingga yang paling mahal. Dan Mom... Aku menekan nomor ponsel Mom. Aku tidak merindukannya, tapi dia berhak tahu kalau aku akan menikah dengan Shawn. Mom dan Dad adalah pribadi yang berbeda. Mom tentu saja akan sangat mneyetujui pernikahan ini tanpa mau tahu apa itu arti berengsek yang sesungguhnya. Ponselku berdering. Shawn. Aku mematikan telepon kantor dan memilih mengangkat ponsel. “Ya,” sahutku. “Luna, kita seminggu lagi ya menikah.” Katanya tanpa nada dan tanpa jeda. “Hah?!” aku mengatakan ‘hah’ nyaring, saking terkejutnya dengan pernyataan konyol Shawn. “Iya, seminggu lagi. Aku tidak bisa menunggu terlalu lama. Ini memang bukan pernikahan kontrak tapi kau sudah menyetujui pernikahan ini dengan tanda tangan formal di atas materai. Kau tahu berapa ganti rugi pembatalan pernikahan sesuai yang tertera di surat itu, kan? Dan ya, aku sibuk sekali jadi kumohon kau mengatur segalanya mulai dari gedung, konsep pernikahan dan segala t***k bengeknya. Aku tahu kau pasti bisa dan ahli dalam masalah seperti ini. Kathleen pasti bisa membantumu...” “Shawn,” aku memotong perkataannya yang panjang, lebar dan luas. Lebih luas dari negeri ini. “Kau sinting!” Hening. “Perjanjiannya itu bukan seminggu. Bagaimana dengan pekerjaanku? Cuti menikah itu tidak mudah Shawn harus dari beberapa minggu sebelumnya.” “Hei, kau tidak sadar kalau calon suamimu itu pemilik perusahaan di mana tempat kau bekerja? Tidak perlu cuti, kau bahkan dipecat secara hormat. Aku sudah memecatmu. Kau jangan takut masalah keuangan, aku sudah menjamin kehidupanmu.” Aku menghela napas dalam. Mencoba menetralisir segala amukan emosi yang bergejolak. “Okay, sekarang pikirkan konsep pernikahan kita. Kau mau konsep ala dongeng? Kau putri dan aku pangeran.” Shawn tertawa renyah. “Pernikahan sederhana. Aku hanya punya konsep pernikahan sederhana. Di belakang rumah dan dihadiri keluarga dan teman dekat saja. Hanya itu.” Shawn terdiam. Aku mendengar helaan napasnya. “Jangan, itu terlalu sederhana. Kau menikah denganku, pernikahan kita harus mewah dan meriah.” “Kau ingin pernikahan kita mewah dan meriah hanya untuk membuat Carrie mneyesal karena telah memilih Devon?” aku tahu ini terdengar sarkasme. Shawn mendengus. “Okay, kita akan membicarakan ini lagi di rumahmu nanti malam.” Membicarakan masalah pernikahan saat waktunya hanya tinggal 7 hari lagi? Shawn bos yang t***l. Bagaimana bisa membicarakan konsep pernikahan mendadak seperti ini? “Uhu... kopi datang.” Suara Anna memecah kekesalanku. “Kopi tanpa gula,” Katanya seraya meletakkan kopi di atas meja, aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Anna pergi meninggalkan senyum genit yang selalu terpancar di wajahnya. Aku menyesap kopi perlahan. “Siapa?” tanya Shawn. “Anna.” “Anna yang melihat posisi woman on top-mu?” Seketika aku merasa darahku berkumpul di kepala. Apa dia tidak pernah bersekolah sehingga kalimat yang meluncur dari kedua daun bibirnya meskipun terdengar tidak etis tapi begitu ringan diucapkannya. “Jangan bahas itu, kau yang salah. Kau yang menarikku hingga aku jatuh dengan posisi yang tidak tepat dan memalukan seperti itu.” kekesalanku berkecamuk membentuk sebuah granat yang siap dilemparkan pada wajah pria menjengkelkan itu. Shawn terkekeh. “Tapi kau suka kan?” dia bertanya dengan nada yang—sangat- sangat menjijikan. “Tidak. Tentu saja tidak. Aku bukan wanita yang kautemui di bar.” “Ah, cemburu...” Aku tahu berbicara dengannya sama saja dengan meladeninya dan menganggap bahwa aku menyukainya. “Hei, beritahu orangtuamu ya. Aku tidak mau pernikahanku tidak dihadiri orang tua dari mempelai wanita. Aku ingin pesta pernikahan yang sangat sempurna. Penuh dengan kebahagiaan.” “Penuh dengan kepalsuan, Shawn.” Dia kembali terkekeh. “Ya, itu. Penuh dengan drama.” “Kau penulis skenarionya.” Kataku dengan nada sinis. “Aku penulis sekaligus aktornya utamanya.” Aku mendecakkan lidah miris lalu tanpa basa-basi aku mematikan ponsel. Dan sekarang pikiranku terfokus pada orangtua. Dad, mungkin aku bisa menghubungi keluarga Dad. Tapi... aku tidak ingin berurusan dengan keluarga Dad. Paman dan bibi pasti mengira kalau aku hamil. Pernikahan ini terlalu mendadak bagi mereka. Toh, aku tidak terlalu akrab dengan mereka. Mom... dia sudah memiliki keluarga baru. Adik-adik tiriku dan ayah tiri. Apakah Mom masih ingat kalau dia masih memiliki putri yang dilepaskannya tanpa mau bersusah payah mempertahankan aku ketika Dad memintaku pergi bersamanya? Tapi... dia berhak tahu kalau aku akan menikah. Dia berhak tahu karena dia ibuku. Sejelek apa pun perangainya dulu, dia adalah ibuku. Seorang wanita yang melahirkanku. Aku tidak perlu memintanya datang, aku hanya memberitahu bahwa aku akan menikah. Ya, hanya itu. Tidak perlu berharap dan meminta kedatangannya. ***    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD