Usiaku baru 14 tahun ketika aku melihat Mom membawa seorang pria masuk ke kamarnya saat Dad pergi ke luar negeri karena tugas dari kantor. Mom melihatku tapi dia tampak tak peduli. Aku yang sedang belajar tak bisa lagi fokus dan memusatkan pikiran pada bilangan-bilangan. Mom pernah memperkenalkannya pada Dad bahwa pria berkumis tipis seperti ikan lele itu adalah sepupu jauh Mom. Yang artinya dia adalah saudaraku juga. Tapi... tentu saja aku tidak begitu percaya. Aku tahu siapa saja yang menjadi saudaraku dan siapa saja yang bukan saudaraku.
Lalu... entah apa yang Dad temukan di dalam kamar Mom, entah itu celana dalam pria itu yang tertinggal atau apa aku tidak tahu, Dad marah besar. Pertengkaran hebat terjadi di antara keduanya. Mereka saling menyumpah serapah tanpa mempedulikan aku yang ketakutan dan meringkuk di bawah ranjang. Aku memeluk lututku dan merasakan rasa asin setiap kali air mata jatuh mengenai bibirku.
***
Aku mencengkeram tepi meja dengan tangan sedikit bergetar. Membuka mata dan mencoba melupakan kenangan kelam yang selama ini membututiku tanpa mengenal waktu. Dan sampai usiaku menginjak dewasa aku tak pernah berani menjalin hubungan dengan siapa pun. Lalu Devon hadir dengan segala warna yang mengubah warna gelap yang menyelimutiku menjadi warna pelangi. Dia hadir dengan keramahan dan meyakinkanku bahwa hubungan ini akan selalu sempurna tanpa pengkhianatan apa pun. Dia datang menarik tubuhku dari rasa takut akan sebuah hubungan. Devonlah yang pertama hingga perjodohan itu datang dan Devon memilih hartanya dibandingkan aku. Dia berjanji akan menceraikan Carrie dan kembali padaku. Dia berjanji akan tetap menjalin hubungan denganku. Tapi, aku merasa lebih jahat jika setuju dengan janji-janji Devon. Aku mencoba melepas luka dengan menyetujui pernikahan dengan pria berengsek macam Shawn.
Aku menempelkan kop telepon antara telinga kanan dan bahu. Kedua tanganku fokus bermain keyboard dan mataku fokus menatap layar monitor.
“Halo...” suara ceria dari seseorang yang—kurasa dia Amanda. Adik tiriku yang paling bungsu. Usianya mungkin sekitar 9 tahun.
“Halo, ada Mommy?” kataku menggunakan bahasa Indonesia. Walaupun aku tahu Amanda juga pasti bisa menggunakan bahasa Inggris dengan lancar.
“Mamah?”
“Iya, Ma-mah.” Kataku sedikit kikuk.
“Mamah!!” teriaknya memekakan telingaku. “Ada telepon untuk Mamah!!”
Amanda sepertinya punya bakat menjadi aktris yang doyan teriak-teriak. Atau mungkin kalau dia punya minat di politik, Amanda bisa ikut demo sebagai orator dalam demo di depan gedung pemerintah. Orasinya pasti sampai ke telinga pemerintah meskipun pemerintah itu bersembunyi di ruang bawah tanah sekalipun.
[Ya, sayang, ada apa?]
[Ada yang menelpon Mamah.]
[Siapa?]
[Tidak tahu.]
“Halo, siapa ini?” tanya Mom. Aku selalu ingat nomor rumah Mom. Karena Cuma nomor itu yang dijadikan peganganku untuk menghubungi Mom.
“Ini, Luna, Mom.”
“Luna...” Mom berkata seakan ada ledakan kecil di dadanya.
“Iya, Mom. Emm—“
[Kak Luna?] aku mendengar suara Amanda.
“Lunaku. Mom merindukanmu, sayang. Bagaimana kabarmu?”
“Baik, Mom. Eumm—Mom apakah baik-baik saja di sana?”
“Ya, kau tahu Mom selalu baik-baik saja. Kapan kau ke Indonesia, kau tahu, kau punya tiga adik yang semuanya cantik dan manis. Mereka tentu ingin mengenal kakaknya. bagaimana kabar Dad?”
Aku merasa tubuhku lunglai seketika. Mom belum tahu kabar terakhir Dad karena terakhir kali dia mengabariku dua tahun lalu. Setelah itu aku membiarkannya bahagia tanpa mengganggunya. Aku hanya serpihan kecil masa lalunya bersama Dad. Dia pasti sudah bahagia hidup dengan lelaki yang dulu menjadi selingkuhannya. Tiga anak yang semuanya berjenis kelamin wanita dan tinggal di negeri yang terkenal akan keindahannya, jelas membuat kebahagiaan Mom sempurna tanpa aku. Maksudku, tinggal bersama keluarga tiri yang jelas-jelas kau tahu ayah tirimu pernah berselingkuh dengan ibumu ketika ibumu masih berstatus istri ayah kandungmu itu adalah hal yang sulit dan rumit.
“Dad sudah meninggal setahun yang lalu.”
“Hah? Meninggal?”
“Ya, Mom.”
“Dan kau tidak mengabariku?”
“Dad memintaku untuk tidak mengabari Mom.” Dustaku. Aku sengaja tidak ingin mengabarimu karena aku belum bisa melenyapkan rasa sakit hati Dad dan rasa sakit hatiku terhadapmu, Mom. Aku belum bisa dan mungkin tidak akan bisa.
“Oh,” gumamnya dengan nada kecewa.
“Mom, aku ingin memberitahumu kalau seminggu lagi aku akan menikah.” Kalimat itu meluncur begitu saja seakan ingin cepat-cepat mengakhiri perbincangan ini.
“Menikah? Seminggu lagi? Wow! Berapa usiamu, Luna?”
“Dua puluh lima tahun.” Jawabku tanpa mengerti maksud dari pertanyaan Mom. Sebenarnya pertanyaan Mom sangat menyingung hatiku. Dia tidak tahu berapa umurku. Dia lupa tahun berapa dia melahirkan putrinya yang bernama Luna ini. Miris...
“O... ya, kau sudah dewasa dan kau pasti sangat cantik. Siapa calon suamimu itu? Apakah dia milyarder? Seorang aktor film-film komedi romantis?”
Aku takut ketika Mom tahu kalau aku menikah dengan presdir yang tak lain adalah bosku sendiri, dia akan meleleh seperti plastik yang terkena api.
“Shawn Robbins. Dia... pemilik perusahaan tempat aku bekerja.”
“Wow! Hebat!”
“Mom, aku ada urusan nanti kalau urusanku beres aku telepon lagi.”
“Sayang, jangan lupa Mom akan ke London dengan ayah dan adik-adikmu. Beritahu Mom alamat rumahmu.”
Sesuatu yang tidak aku inginkan terjadi. Mom akan ke London?
“Besok Mom akan ke London.”
“Tidak, Mom. Maksudku Mom ke London nanti saja saat pesta pernikahanku. Tiket pesawat Jakarta-London tidak murah, Mom.”
“Kau melarang Mom ke London?” ujarnya dengan nada kecewa.
“Bukan-bukan begitu, Mom. Aku di sini sibuk mengurusi pernikahan—“
“Mom bisa membantumu mengurusi pernikahanmu. Di sana tidak ada siapa-siapa selain keluarga ayahmu yang pelit itu.”
“Kita bisa bicarakan nanti. Dah, Mom.” Aku mematikan telepon buru-buru dan secara sepihak. Dadaku naik turun tak keruan. Mom berhasil membuat kepalaku pusing mendadak.
Aku tidak siap menerima kedatangan Mom, suaminya dan anak-anaknya di rumahku. Aku merasa seperti seorang pengkhianat jika mengizinkan mereka tinggal di rumahku walaupun hanya untuk beberapa hari. Aku tidak mau mnegkhianati Dad. Aku menyayangi Dad melebihi rasa sayangku pada Mom.
Ponselku berdering.
Luna, Mom dan Dad ingin bertemu denganmu nanti malam. Aku akan menjemputmu jam tujuh malam, okay.
***