BAB 8

1163 Words
Luna Shawn datang mengenakan kemeja putih dan celana jeans warna kelabu. Dia mengerutkan kening ketika melihatku berjalan menghampirinya. “Kau mau pergi ke Stadion Wembley?” Sebelah alisku terangkat. “Stadion Wembley?” sahutku tidak mengerti. “Lihat penampilan kasualmu, Luna. Hanya kau satu-satunya wnaita yang berani tampil sekasual itu saat aku berniat memperkenalkanmu pada orang tuaku.” “Lalu?” kataku dengan tatapan menantang. Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas. “Tentu saja aku menyukainya. Kau tidak perlu mempermak dirimu sampai berubah menjadi Kylie Jenner. Ya, walaupun harus aku akui bibir Kylie lebih seksi dari bibirmu. Tapi, kau jauh lebih menarik darinya.” Dia nyengir. “Selamat bersenang-senang.” ujar Kathleen muncul dari arah dapur. Aku menggeleng sebal. “Aku tidak bersenang-senang.”         “Apa kau gugup, Luna?” Kathleen mencondongkan wajahnya beberapa senti pada wajahku. “Tidak.” Kataku datar. “Dia gugup kalau tidur satu ranjang denganku.” Celetuk Shawn yang menuai tatapan  menukik tajam dariku. “Wuahaha...” Kathleen tertawa terbahak hingga kedua tangannya memegangi perut kecilnya. Mungkin isi perutnya akan keluar. “Tidak ada yang lucu, Kath.” Seruku menyenggol lengannya. “Aku suka Shawn mengatakan itu.” katanya setelah tawanya reda. Shawn menyeringai senang seperti pria dewasa yang baru saja berhasil mengajak seorang wanita arogan berkencan. Seringai Shawn benar-benar terlihat mneyebalkan. Dia seperti vampir nakal yang selalu merasa hebat dan dapat menaklukan banyak wanita. Shawn Robbins. Bos berotak kosong. “Ayo kita pergi.” Aku melangkah mendahului Shawn. Aku mendengar Shawn bergumam dengan bahasa Prancis. Jelas aku tidak mengerti arti gumamannya. *** Terlalu mewah dan megah jika aku menyebutnya sebagai rumah. Rumah ini mirip istana yang dibangun di abad 21. Gerbang tinggi menjulang yang nyaris mencakar langit gelap. Para pria berbadan tegap dan tinggi membuka gerbang, mempersilakan mobil Shawn masuk. Di depan rumah mereka berjejer seakan-akan rumah itu isinya emas tak terhitung yang perlu dilindungi. Ada sekitar 4 pria berpakaian serba hitam. “Jangan takut, orangtuaku bukan harimau kok.” Shawn tertawa kecil. Di mematikan mesin mobil saat di parkiran halaman rumah. “Ayo, keluar!” aku mengangguk. Kenapa jantungku sekarang bekerja ekstra? Padahal sebelum sampai di rumah Shawn detak jantungku tidak serumit ini. Kenapa aku gugup bertemu orang tua Shawn? Dan saat itu juga aku menemukan jawabannya. Aku tidak mencintai Shawn dan pernikahan kita didasarkan pada dendam. Aku takut orang tua Shawn tahu kalau aku tidak mencintai Shawn. Mereka akan mengira aku hanya mencintai harta Shawn. “Luna Smith?” seorang wanita paruh baya menyapaku hangat ketika aku memasuki rumah. Dia tampak cantik dan elegan dengan dress hitam yang aku yakini buatan desainer ternama—tersenyum ramah. Biasanya orang kelas atas itu sombong dan angkuh. “Iya,” sahutku tanpa daya. Dia memelukku dan mencium kedua pipiku. “Ayo masuk.” Ajaknya. Aku melirik ke arah Shawn dan ajaib Shawn hilang bak ditelan bumi. Di mana mantan bosku itu? Menghilang seenaknya saja. “Kuharap Shawn benar-benar melabuhkan hatinya padamu.” Katanya seraya berjalan. “Dia berniat menikah dengan Carrie, tapi...” Dia menghela napas dalam. Berhenti dan menatapku lekat. “Aku melihat Carrie berciuman dengan seorang pria dan aku langsung mengadukannya pada Shawn. Carrie lalu mengklarifikasi bahwa pria itu adalah pria yang dijodohkan dengannya.” Devon. Itu kekasihku, Mrs. Robbins. “Ah, sudahlah. Tidak perlu membahas Carrie lagi. Bagaimana kau sudah tahu konsep pernikahanmu? Kalau kau belum memutuskan biar aku yang mengambil alih.” Dia tersenyum tulus. “Terima kasih, Mrs—“ “Mom. Panggil aku Mom. Kau calon menantuku dan kau berhak memanggilku seperti Shawn memanggilku; Mom.” Aku mengangguk setuju. “Mom.” Kami berdua tersenyum.  Mrs. Robbins bercerita mengenai Shawn kecil yang hiperaktif dan membuat paman dan tantenya lebih memilih menghindari Shawn daripada harus mengurusi anak itu. Shawn pernah berkelahi di usia 14 tahun karena memperebutkan seorang gadis yang selalu bingung. Gadis itu cantik tapi dia selalu bingung. Termasuk memilih antara Shawn dan remaja satunya yang nyaris menikam Shawn dengan pisau. “Aku rasa gadis yang selalu bingung itu cocok dengan remaja yang membawa pisau.” Komentarku. Mrs. Robbins terbahak. “Ya, karena yang cocok dengan Shawn itu kau.” Katanya, lalu tanpa sadar kedua sudut bibirku tertarik ke atas membentuk kurva senyuman. Di meja makan sudah tersedia banyak sekali makanan. Bubble & Squek, Pie, Roast Meats, fish and chips, muffin, black pudding, Custard tart, bangers and masih dan lain-lainnya. Apakah mereka berpikir porsi makanku banyak? “Nah, itu ayah Shawn. Panggil dia Dad.” Seru Mrs. Robbins ketika pria dengan kepala botak dan perut buncit muncul. Dia tersenyum lebar padaku. Mungkin saat muda dia tidak jauh berbeda dengan Shawn. Maksudku, bukan hanya soal fisik tapi juga keberengsekannya karena daun jatuh tak jauh dari pohon. “Luna, ayo duduk dan menikmati setiap hidangan yang sengaja kami sajikan untuk menantu kesayangan kami.” Katanya seraya duduk. Senyum lebarnya terus mengembang. “Terima kasih.” Balasku basa-basi. Menantu kesayangan kami adalah basa-basi paling buruk karena—dia bahkan baru pertama kali bertemu denganku dan sengaja membuat aku merasa menjadi wanita yang beruntung dinikahi Shawn dan disayangi calon mertua. “Di mana Shawn?” tanya Mr. Robbins menatapku. “Emmm... Shawn...” aku berpikir jawaban apa yang harus aku keluarkan karena tadi Shawn menghilang secara ajaib. “Mungkin dia masih di kamarnya. Tadi Shawan—“ “Halo, aku datang.” Shawn duduk dengan wajah berbinar cerah. Setelah selesai makan, Mrs. Robbins mengajakku duduk di ruang santai keluarga. Aku menatap Shawn dan menggerak-gerakan mata agar Shawn mengajakku pulang sekarang. Tapi Shawn hanya mengangkat bahu. Dia sama sekali tidak mengerti bahasa isayarat yang aku gunakan. Atau dia berpura-pura tak memahaminya. Shawn, ajak aku pulang, t***l. Gerutuku dalam hati. Jadi... mau tidak mau aku mengekor Mrs. Robbins. Dengan perasaan kesal. Aku tidak terlalu suka berbaur dengan orang yang baru kukenal, meskipun Mrs. Robbins wanita yang ramah dan menyenangkan. Tapi, untuk aku... kenyamanan itu butuh waktu yang tidak hanya diukur dengan menit ataupun jam. “Duduklah di sini,” ujar Mrs. Robbins menepuk-nepuk sofa cream di sebelahnya. Aku menurut dan langsung duduk tanpa banyak tanya. Meskipun di bagian luar rumah ini terlihat mewah, megah dan sangar tapi ketika menelusuri ke dalam rumah, rumah keluarga Robbins malah terlihat nyaman meskipun kesan mewah masih tersisa. Lebih... lembut. “Aku ingin bertanya beberapa hal padamu.” Dia berkata dengan wajah dan nada serius hingga aku merasa ketakutan sendiri. “Soal apa, Mom?” tanyaku dengan wajah serileks mungkin untuk menghindari kecurigaan calon mertuaku itu. “Berjanjilah untuk tidak mengatakan ini pada Shawn.” Janji? “Aku tidak mengerti.” Kataku yang memang tidak paham. Apa yang ingin ditanyakannya? “Kau hanya berpura-pura tidak mengerti, Luna Smith.” Mrs. Robbins tersenyum miring. Senyum aneh dan ganjil. Sama sekali berbeda dengan saat dia menyambutku. “Apa kau benar-benar mencintai Shawn dan apa Shawn benar-benar mencintaimu? Bagaimana pernikahan ini begitu mendadak sedang aku tak pernah mengenalmu. Dari mana asalmu gadis muda?” Aku menelan ludah. Keramahan Mrs. Robbins hanya kebohongan belaka. Pertanyaannya tajam dan menyudutkan seakan aku adalah alien jahat yang memiliki sihir untuk menjerat putra kesayangannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD