"Kenapa?!”
Steve yang melihat Seyna meringis sejak tadi mendekati istrinya. Ini sudah dua minggu sejak mereka meninggalkan para bayi untuk menemukan Karina.
“Kantong asi ini rasanya mau pecah Mas,”
Steve yang sudah paham langsung menghisap, mengenyot kuat seperti bayi. Dia mencoba mengeluarkan ASI Seyna yang menumpuk.
Seyna mengangkat dagu suaminya, “Jangan di telan,”
“Aku tahu! Kau tak boleh aku menghisap dan menelannya sejak dulu. Bagaimana bisa aku lupa dalam sehari.”
“Ya, karena ini satu-satunya milik anak Mas. Seluruh tubuh saya milik Mas kecuali ASI ini.”
“Aku paham Seyna, aku tak akan mencuri dari mereka.
Steve kembali menghisap, pisang keras miliknya pun kembali menegang karena gairah yang bergejolak. Seyna mendesah, dia menggeliat saat Steve secara bergantian menghisap ujungnya.
“Saya basah Mas,”
Steve mengangguk, perlahan dia merebahkan Seyna di sofa. Dengan cepat Steve membuka celana yang ia gunakan dan mengarahkan pada Seyna. “Apa ini enak?!”
“Ogh!”
Seyna yang merasa terdorong memejamkan mata. Mereka berdua masih sangat muda! Jiwa muda dan gairah dengan mudah berpacu. Steve yang bergerak sangat pelan membuat Seyna merasa sangat nyaman.
“Kau sangat suka meraba tubuhku saat kita melakukan seks,”
Seyna tersenyum, “Saya hanya mencoba menikmati setiap gerakan anda. Saya juga melihat otot lengan anda semakin kokoh dan keras Mas.”
“Jangan membahas hal itu, kita lebih baik fokus pada bagian bawah perutmu. Bukankah ini sedikit menyakitkan saat aku memasukkan semunya tanpa sisa?!”
Seyna menggeleng, “Walaupun ukuran Mas melebihi standar, tapi ibarat sepatu cinderella! Milik anda sangat pas saat bergerak di dalam milik saya Mas.”
Stev terkekeh geli, dia suka sekali saat Seyna berkiasan seperti ini! “Jadi maksud perkataanmu kita memang di takdirkan bersama?!”
“Benar sekali Tuan.”
Steve tak tahan melihat istrinya yang manis sekali, dengan cepat dia meremas kedua lengan Seyna dan menghentakkan pisang keras miliknya hingga dia terpekik.
“Apa ini nikmat.”
“Oh My God!”
Seyna berkeringat, dia sedikit menunduk saat pisang Steve masuk dengan sangat sempurna, dia bergerak cepat seperti rol-rol coster. Seyna melayang di salam gairah yang berpacu hingga dadanya naik turun dan gemetar.
“Seyna, apa kau ingin aku mengurai kecepatannya?!”
“Tidak Tuan, jangan lakukan hal itu, saya terlalu menikmati semuanya! Biarkan tetap seperti ini!” pinta Seyna pada Steve.
Siapa yang tak ingin dalam posisi seperti ini?! Steve pun sangat suka! Tapi jujur saja ujung miliknya sangat gatal dan ingin bergerak lebih cepat.
“Seyna, aku akan menghisap lagi! Apa boleh?!”
“Tentu saja Mas, kantong ASI ini rasanya ingin meledak. Lakukan saja sesuka hati Mas.”
Demi menjaga kestabilitasan energi dalam bercocok tanam, akhirnya Steve mengambil dua pekerjaan. Dia menguras kantong ASI sembari mengolah bagian bawah Seyna.
“Oh,”
Kali ini Steve yang mengerang, dia ingin menyembur saat ini juga. s****a nakalnya sudah siap meluncur dalam dekapan hangat ruang bawah Seyna.
“Apa Mas mau keluar?!” Seyna mengerutkan keningnya, “jangan Mas,” dia memohon saat Steve tak memberikan respon. Pria tersebut sudah hanyut dalam balutan seks yang luar biasa.
“Akh,”
“Mas,” Seyna mendorong tapi dia tak bisa bertahan saat dengan cepat pisang keras milik Steve bergetar, berdenyut dengan keras.
“Maafkan aku Seyna, aku rela kau pukul setelah ini! CROT,” Dengan sejuta kenikmatan Steve menumpahkan Spermanya yang sudah tertahan sejak dua minggu ini.
“Apa aku harus marah?!”
“Pukul aku sayang! Pukul,” Steve memberikan dadanya pada Seyna.
“Hadoh, tak ada gunanya saya berkelahi dengan anda!” jawab Seyna malas jika suaminya mulai berdrama seperti ini.
Steve ikut berdiri saat melihat istrinya sudah mulai beranjak. “Kita akan mengulangi lagi ketika ada kesempatan.”
“Kita harus berangkat pagi ini! Menyusul Tuan Dika dan kak Sia. Jadi jangan pernah berpikir untuk mengulangi saat kita berada dalam keadaan genting.”
“Wah, wajahmu datar sekali Seyna. Kau tak terlihat seperti istri yang baru mendapatkan kenikmatan oleh suaminya.”
“Bukannya Mas yang mendapatkan kenikmatan?! saya mendapatkan kenikmatan kalau Mas menunggu sebentar lagui.”
Steve terdiam, Seyna masuk ke kamar mandi dan lagi-lagi Steve termangu.
Mendengar kabar dua jam yang lalu membuat Steve dan Seyna akan segera merapat pada Dika, Sia dan Elbarack. Mereka akn menuju jalu 12-13 untuk berpencar mencari Karina.
Entah apa yang ada di pikiran Karina saat mengambil totem milik keluarganya. Dia tak membaca sejarah jika itu hanya bisa di gunakan oleh keluarga sedarah. Benar-benar gila!
“Seyna apa kau tak berniat melakukan Video call dengan anak-anak?!”
“Tidak Mas, saya takut menjadi rindu. Mas saja ya,”
“Ah apa lagi aku!” Steve menolak dengan cepat.
Bagaimana pun Steve adalah bapak rumah tangga. Dia yang paling banyak menghabiskan waktu dengan tiga bayi kembar tersebut. Bagaimana bisa dia melihat wajah mereka saat sedang berjauhan seperti ini.
“Mas, jangan menangis.”
“Aku tidak menangis!” jawab Steve sembari menyeka air matanya.
“Saya tahu anda merindukan mereka!”
“Tentu saja, bagaimana bisa aku mengelak.” Seyna dan Steve saling jawab di antara ruangan.
Ponsel berbunyi,
“Halo paman, ada apa?!”
“Percepatan waktunya, kami menunggu kalian sekarang.”
Steve mengkerut, “Apa ini sangat penting!”
“Apa ada yang lebih penting dari nyawa saudaramu?!”
“ASTAGA!”
Steve mematikan panggilan tersebut dan segera bergabung dengan Seyna.
“Ada apa Mas?! jangan cemberut begitu! Bukankah Mas baru saja selesai melakukan seks yang gila?!”
“Jangan menggodaku Seyna! Mereka meminta kita untuk datang sekarang. Si Anjing Karina memang tak tahu malu! Bisa-bisanya dia membuat berantakan kehidupan orang lain.”
“Sudahlah, jika terjadi apa-apa padanya Mas juga yang akan turut sedih. Jadi sudahlah merasa kesal dengannya. Saya yakin Onty Karina tak akan seperti ini jika jiwanya tidak terganggu! Dia pasti sedang kacau!” jawab Seyna tertunduk.
“Aku pikir jiwanya terganggu itu sama dengan dia sudah gila!”
“Tidak, mana mungkin saya menghina Onty Karina!” Seyna bersandar pada bahu suaminya.