Chapter 2. Aku Punya Caraku

814 Words
“Kau yakin Lis laporan yang kita terima benar? Bagaimana jika wanita ini tidak benar-benar dikuntit orang seperti ucapannya?” ujar Allie, menatap seorang wanita yang sedang berjalan melewati lorong menuju sebuah apartemen. Tangannya menggenggam gelas plastik coklat hangat. Mata hijau Allie mencari-cari bayangan di belakang wanita itu. “Dan bagaimana jika iya? Wanita ini bernama Wendy Bridge, seorang wanita Asia berusia 18 tahun yang berkuliah jauh dari orang tuanya. How the hell she’s not scared?” jawab Lisa ketus sambil mengunyah donat. Lisa Kley adalah seorang wanita paruh baya berusia 38 tahun yang sudah lama bekerja di bagian kepolisian, bersama Allie. Allie tersenyum, setelah mengenalnya selama 3 tahun ini Ia tahu seniornya sangat sensitif jika mengenai seorang wanita muda, karena Lisa sudah memiliki seorang putri berusia 5 tahun. Menggerakan tubuhnya Alli membenarkan posisi spion mobil, Wendy berjalan melewati mobil Allie. Mereka tidak menggunakan mobil dinas untuk mengelabuhi stalker. “Sial, Lisa. Apa menurutmu pria dengan sweeter hijau itu yang mengikuti Wendy? Pria itu terlihat kaya.” Gumam Allie pelan. Matanya mengikuti seorang pria yang berjalan sekitar 8 meter di belakang Wendy. Allie melihatnya melalui spion mobil. “Kita akan lihat nanti Allie, pastikan kau tidak terlalu mencurigakan. Kaca mobilmu tidak begitu gelap.” Gerutu Lisa. Allie terkekeh kecil, mengangguk. Kakaknya, Charles mengancam akan membawa mobilnya ke tempat rongsokan jika Alli menggelapkan jendela mobilnya. My lovely big brother. Pria itu melirik mobil Allie dan tak sengaja bertatap mata dengan Allie. Terlihat matanya panik dan dengan segera pria itu berbalik arah dan berlari. “b******k! Ayo,Lis” dengan kasar Allie membuka pintu mobilnya dan berlari, membuang gelas plastik itu ke jalan. Pria itu berlari memasuki sebuah lorong yang mengarah pada jalan besar. Allie mengumpat lagi dalam hati. Ia tak sempat memperhatikan wajah pria itu karena kakaknya. Sial kau, Charlie! Kaki Allie terus berlari tanpa mengurus Lisa, sampai ia keluar dari lorong dan mendapati dirinya di jalan besar. Allie terengah mencoba mengembalikan nafasnya. Ia melirik kanan dan kiri di tengah sekerumuan banyak orang. Tidak ada yang menggunakan sweater hijau ataupun berlari. “Allie!” panggil Lisa. Allie menoleh ke belakang dan menggelengkan kepalanya. Terlihat Lisa mengumpat kecil. “Kita kehilangan Mr. X!”  ****** Allie menutup pintu apartementnya dengan kasar. Ia menghela nafas dan merebahkan diri di atas sofa hijau kebanggaannya. Sofa lapis beludru berbentuk L yang ia tabung selama 4 bulan untuk membelinya. Kesal kembali menyelimuti Allie mengingat targetnya lepas hanya dalam hitungan detik. Andaikan tadi ia tidak melamunkan Charlie, dan memalingkan muka dari spion. “Ahhhh!!!!” teriak Allie frustasi. Ia mengambil handphonenya di saku blaser hitam yang dikenaka malam itu. Rambut pixie coklatnya ia tarik kebelakang. “Oh, akhirnya kau sadar kau punya saudara All” ujar suara maskulin langsung mengangkat setelah dering pertama. Allie mendengus. “Ini semua karena kau Charlie!” ketus Allie. “Apa maksudmu? Aku tidak memakan donat di kulkasmu yang kuambil diam-diam tadi pagi saat mengecek rumahmu—” Allie terkesiap. Ia terlonjak mengecek donat gula kesukaannya yang Ia simpan untuk malam ini.  “Kau—” “Lupakan soal itu, kau dimana semalam?” tanya Charles dengan nada berat.  “Apa kau pikir aku akan memberitahumu setelah kau memakan donat Delli’s milikku? Entahlah aku bisa saja bermalam dengan Peter Petigrew.” Ujarku kesal. Tidak ada suara yang menjawab. Sepertinya Charlie termakan umpan, Allie sedikit merasa puas. Ia tertawa kecil. “Siapa itu. Peter? Dimana dia bekerja?”  “Huh, aneh, harusnya kau kenal dengannya Charlie..” ujar Allie dengan nada menyanyi. “Berhenti memanggilku Charlie, All. Aku serius.” Allie diam membiarkan kakaknya bergeming marah. “Aku kenal Peter. Tapi tidak mungkin! Jangan bilang Peter tetanggamu yang berusia 45 tahun bujangan dan masih tinggal dengan ibunya?” dan Allie tidak bisa lagi menahan tawanya. Wanita itu tertawa terbahak-bahak, sampai meneteskan airmata. “Ap- Kau mengerjaiku ya All!!! Sialan.” Ujar Charles mendengar adiknya tertawa terbahak-bahak.  “Oh, ayplah. Kau duluan yang memakan donatku. Sekarang kita impas Char- Lie.” Seringai Allie sambil berbicara dengan Charles. Charles mendesah. “Baiklah, kurasa aku pantas mendapatkan itu. Kau bersama Lisa semalam?” lanjut pertanyaan Charles. Allie mendengus. Sekali keras kepala tetap keras kepala, gerutu Allie. “Nathalie Sue, jawab pertanyaanku sekarang atau akan aku katakan pada ibu, kau kesepian!”  “Oh ayolah. Semalam aku dan Lisa tugas di lapangan. Kami mengawasi rumah seorang pelapor.” Allie menjelaskan semua kejadian malam itu pada Charles. Ia dan Lisa yang gagal malam itu memutuskan untuk menghabiskan malam itu di rumah Lisa. Minum sampai mereka tertidur di bagasi yang sudah Lisa ubah menjadi minibar. Kali ini giliran Charles yang tertawa sampai meneteskan airmata. Keluarga Sue adalah keluarga kepolisian sejak kakek mereka. Garry Sue menjadi Komisaris Jendral Kepolisian. Ayah mereka, Kepala Kepolisian Negara, Martin Sue. Dan Charles Sue kakak Allie yang sekarang menjabat sebagai Deputi Negara Bagian. Dan akhirnya Allie yang menjadi polisi wanita menentang keinginan seluruh pria di keluarganya yang menginginkan Allie menjadi suster, dokter atau model. Allie memutar bola matanya mengingat kejadian itu. “Yap, jadi sebab itu aku marah padamu Charlie. Kau merusak semuanya.” “Hei, apa maksudmu.. aku tid—“ucapan Charles terputus dan terdengar suara maskulin samar dari seberang. “Oh, sial. Tunggu All, kita lanjutkan kapan-kapan. Aku ada urusan.” Tanpa menunggu jawaban dari Allie, Charles menutup teleponnya. Huh, tipikal pria.  Allie memutuskan untuk istirahat lebih cepat malam ini. Dengan sedikit senyum karena obrolannya dengan Charles walau hanya sebentar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD