Sebelum Tragedi
"Leah."
Suara ayahku terdengar riang memanggilku. Dengan cepat aku meletakkan sisir dan keluar dari kamar. Biasanya beliau membawakan kami makanan sepulang dari kantor.
Aku lihat adikku sudah duduk manis di depan meja makan tetapi belum boleh menyentuh makanan yang tersaji di atas piring sebelum aku ikut berkumpul.
"Kau lama sekali, aku sudah tidak sabaran--" gerutunya sembari menjelingku geram. Ayah dan ibu hanya tersenyum memperhatikan kami yang selalu tidak akur tetapi saling menyayangi.
"Ya, sekarang aku sudah duduk mari kita makan," ucapku riang dan tangannya langsung menyambar sepotong kue tart yang tersusun aneka buah yang dipotong kecil di atasnya.
Setelah dia, kami satu per satu mengambilnya, kecuali Ayah. Aku melihatnya dan dia tersenyum janggal, ada sesuatu yang tak biasa di wajahnya sore ini.
"Ada apa Yah?"
"Selesaikan dulu makanmu nanti kita bicara, Ayah mandi dulu."
Dia beranjak dari kursi lalu berjalan menuju kamar sedangkan ibuku menggedikkan kedua bahunya ketika aku melempar tatapan padanya.
Langit telah menggelap, sunyi mulai terasa. Tidak ada lagi keributan lalu lalang kendaraan yang biasanya melewati jalan di depan rumah kami.
Adikku sibuk berkutat mengerjakan tugas sekolahnya sedangkan ibu berada di dapur untuk menyiapkan makan malam. Ayah keluar kamar dan mengajakku ke ruang santai untuk bicara. Awalnya beliau menanyakan apa yang ingin aku lakukan setelah tamat sekolah.
Tentu saja aku bilang jika aku masih ingin belajar ke Perguruan Tinggi agar aku bisa menjadi seseorang yang berpendidikan luas dan mendapatkan pekerjaan yang layak agar bisa membantu keuangan keluarga kecil kami. Aku tahu Ayah pasti mengizinkan, tetapi sepertinya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
"Leah, kau sudah mengenal baik Tuan Frederick Kickers bukan?"
Aku menganggukkan kepala cepat. Pria itu adalah Bos ayahku. Anaknya semua lelaki dan dia sangat menyukai anak perempuan. Dia dan istrinya sangat baik padaku, semua pakaian dan perlengkapan sekolah aku dan adikku dari beliau, aku tidak mungkin melupakan kebaikannya.
"Dia mempunyai seorang anak lelaki yang sudah siap menikah."
"Lalu?"
"Maukah kau dijodohkan dengannya?"
Aku mengerjapkan mata berulang kali, dia pria kaya raya dan mapan, dengan arti kata dia dewasa sedangkan aku merasa masih anak-anak. Apa dia mau dengan perempuan sepertiku?
"Ayah, aku masih ingin sekolah."
"Ayah tahu Nak, tetapi kau bisa bersekolah setelah menikah. Anthony sudah setuju ingin bertemu denganmu."
"A-apa?"
Kenapa aku tidak ada kesempatan untuk menolak. Padahal aku belum siap untuk menikah. Sekolah tetapi sudah menikah tentu tidak mengasyikkan. Aku tidak bisa lagi bebas menyukai pria yang mungkin seumuran denganku.
"Ayah, berapa umur pria itu?"
Ayah tersenyum lalu menjawab, "Lebih tua lebih baik Nak, pria dewasa akan memberikan pelajaran yang terbaik dalam hidupmu. Kau sudah mengenal ayahnya, ibunya dan mereka menyayangimu seperti anaknya sendiri. Dia juga begitu, baik seperti kedua orang tuanya."
Benar juga, mereka baik padaku pastinya aku tidak mungkin diabaikan oleh mereka.
"Baiklah Ayah, aku ingin bertemu dengannya. Kapan kami bisa bertemu dan di mana?"
Lagi, Ayah mengulas senyum terbaiknya, "Malam minggu Nak, berhiaslah yang cantik. Undang teman dekatmu agar kau tidak grogi menghadapi pertunangan itu."
Mataku membesar dan mulutku terbuka lebar sedangkan Ayah tersenyum melihatkan deretan giginya yang rapi, "Pertunangan Ayah?" tanyaku serasa tak percaya.
Untuk perjodohan saja aku kaget bukan main, lalu sekarang ayah bilang bahwa kami akan bertunangan, secepat itu.
"Iya sayang, dia sudah tidak sabar ingin menikah."
Tetapi aku belum siap!
***
Aku duduk di depan cermin sembari menyisir rambutku yang panjang sampai ke punggung. Hari ini aku akan bertemu teman-teman di tempat biasa kami kumpul, sekaligus memberi tahu mereka tentang berita pertunanganku.
"Sampai kapan rambutmu terus disisir, ini sudah rapi dan kau sangat cantik sayang."
Entah sejak kapan Ibu sudah berada di sampingku. Aku terlalu banyak pikiran tentang perjodohan dan pertunangan ini.
Aku berbalik badan dan langsung memeluk perut ibuku, tempat yang paling nyaman untukku berkeluh kesah jika dirundung masalah.
"Ibu, apa dia mau tinggal bersama kita di sini. Kamarku saja kecil dan pastinya jauh berbeda dengan kamarnya."
Ibu tertawa sembari mengelus rambutku yang lurus dan memberikan beberapa hal yang harus aku ketahui.
"Anak perempuan harus ikut suaminya ketika sudah menikah dan jika menginap kemari hanya sesekali saja."
Aku mendongakkan wajah menatapnya dari bawah, terlihat matanya berkaca-kaca menatapku, Ya Tuhan ... kenapa hatiku terasa perih.
"Jadi aku harus tinggal bersamanya dan meninggalkan kalian?"
"Iya Nak, jaga dirimu baik-baik. Turuti apa semua permintaan suamimu jika itu adalah kebaikkan. Dan jaga tingkah lakumu di sana meski mungkin mereka banyak pelayan yang mengurusi kebutuhan mereka. Ibu yakin, kau mudah menyesuaikan diri."
Aku tidak bisa membayangkan jika aku tinggal di rumah yang besar dengan pelayanan yang super mewah dan aturan-aturan orang kaya pada umumnya. Tata cara makan yang baik dan bersikap formal di meja makan. Ya Tuhan, apakah ini baik untukku?
Aku tertawa menikmati candaan teman-temanku sembari menunggu seseorang yang sangat terkenal diantara kami. Seseorang yang keahliannya melebihi kami berempat. Seseorang yang penampilannya begitu menawan diantara kami.
Ketika pintu kafe ini terbuka, mata kami serempak menoleh ke arahnya lalu berteriak, "Hei, di sini!"
Helaan napas kasarnya terdengar, berarti dia lagi tidak dalam mood yang baik. Semua mata lelaki yang ada di sini melirik ke arahnya. Perut ramping yang terlihat setengah dan betis jenjang yang terekspos sempurna karena sepatu high heels, sangat menarik perhatian.
Ditambah lagi bibir yang berwarna ceria menampilkan kesan segar di wajah. Pantas bukan jika dia diidolakan oleh banyak orang.
"Maaf telat!"
Dia menghempaskan tubuhnya kasar di atas kursi lalu menarik minumanku dan diteguknya tuntas dalam berapa detik.
"Kau haus?" tanyaku dan dia mengangguk cepat lalu berkata,
"Jadi, apa yang membuat kalian menyuruhku datang kemari. Aku tidak punya waktu banyak karena lelah."
Kami berempat saling melempar pandangan dan dia memperhatikan kami satu per satu dengan waspada lalu berkata lagi, "Jangan bertanya apa pun, karena aku tidak ingin mengulasnya."
Aku memulai lebih dulu, "Oke, maaf mengganggu waktumu, aku meminta kalian datang kemari karena ingin mengundang untuk hadir di hari istimewaku besok malam aku harap kalian hadir."
"Hari istimewa, setahuku kau sudah berulang tahun."
"Iya, jangan bilang kau meminta kado lagi."
"Oh, Leah ... hanya mengundang datang ke rumahmu, kau harus mengumpulkan kami di sini padahal telepon saja, bisa bukan."
Satu per satu temanku mulai mengeluh, hanya si cantik ini yang sepertinya mengerti apa maksudku.
"Aku tahu bagaimana kau Leah, kau tidak mungkin hanya mengundang makan atau acara biasa. Ayo katakan dan jangan bertele-tele, kau ingin minta bantuan apa?"
"Tolong rias wajahku secantik mungkin agar tunanganku terpesona denganku."
"Apa, tunangan?!"
Kompak semuanya menjerit lalu menutup mulut mereka dengan telapak tangan. Begitu histeris mereka mendengarnya. Aku yang tidak pernah dekat dengan siapa pun, berpacaran saja belum pernah, dan sekarang mengatakan tunangan.
"Siapa pria itu, siapa pria yang beruntung itu, ayo katakan. Kami akan mencari tahu tentangnya, apakah dia layak untukmu karena kau perempuan yang spesial diantara kami."
"Ya benar, katakan Leah ...."
Mereka begitu antusias untuk mencari tahu siapa pria itu dan terpaksa aku sebutkan namanya, "Anthony, "
Aku sengaja menjeda untuk melihat ekspresi rasa penasaran mereka di wajah. Ada yang menunggu tak sabaran, ada yang tersenyum dan ada yang tegang.
"Kickers."
Saat nama belakang itu aku sebut, reaksi mereka semuanya tegang, entah kenapa? Apa pria itu buruk atau mereka kenal karena memang pria itu terkenal karena harta kekayaannya yang melimpah juga brand terkenal milik Kickers yang mendunia. Siapa sangka jika aku akan masuk ke dalam keluarga mereka.
"Sudah kan, aku pergi dulu dan ya Leah ... selamat dan aku usahakan datang."
Si cantik ini berdiri dan meninggalkan kami semua di meja yang tiba-tiba jadi seperti orang asing. Wajah mereka terlihat bingung namun bungkam, tidak langsung memberikan pendapat.
"Apa kalian mengenal calon tunanganku?"
Mereka saling pandang lalu berkata secara bergantian,
"Tampan."
"Kaya,"
"Terkenal,"
Aku melirik Kristal yang mengangkat kedua tangannya ke atas. "Maaf, kalau boleh saran, lebih baik kau batalkan saja karena orang kaya, tampan, terkenal pasti kekasihnya banyak. Ini demi kebaikanmu Leah, pikirkan."
Apa aku harus menolak sebelum menyesal?