Sepertinya Dia Baik

1114 Words
"Leah, ada telepon untukmu." Aku cepat berlari keluar kamar untuk menyambut panggilan yang entah dari siapa. Segera aku tarik gagang telepon yang telungkup lalu menjawab, "Selamat pagi, siapa ini?" Hening, tidak ada jawaban dari siapa pun. "Hello, apa kau mendengarku?" Terdengar helaan napas pelan dan teratur lalu, "Eum, ya aku--" Theodore, ini pasti dia. "Theo, kau di sana?" "Apa kau akan tunangan?" Dia tahu darimana? Aku jadi tidak nyaman dengannya karena berapa hari yang lalu dia menyatakan cintanya padaku dan belum aku jawab. "I-iya aku dijodohkan, maaf." Aku tidak tahu bagaimana rasanya ditolak cinta. Bukan maksudku untuk mempermainkan dia tetapi keadaan yang menjawab semuanya. "Kau suka padanya?" "Aku tidak kenal dia." "Mustahil, orang terkenal tetapi kau tidak tahu." "Maaf, maksudku ... Aku tidak pernah bertemu dengannya, jadi aku anggap aku tidak mengenalnya." Kami mulai bicara dari hati ke hati. Dia ingin aku mempertimbangkan lagi keputusan yang akan aku buat untuk kehidupanku kelak. Kenapa semua temanku terlalu mengkhawatirkan aku. Apa karena aku terlalu pendiam dan tidak mudah terpengaruh lalu dianggap anak kecil yang tidak tahu apa-apa, lebih baik menghindar dari masalah yang akan datang. "Aku terima saranmu Theo dan aku harap perjodohan ini tidak pernah terwujud!" "Semoga saja, aku tunggu kabar baik darimu." Ya Tuhan, mana mungkin aku akan menghubunginya lalu berkata maaf lagi kalau itu mengecewakan untuknya. Di rumahku sudah ramai orang yang datang untuk mendekorasi taman. Pesta taman yang sesuai dengan permintaanku. Karena taman kami luas maka lebih baik pesta kecil nanti diadakan di sana. Suasana malam pasti akan menciptakan sesuatu yang berbeda untuk menerima orang asing yang berusaha saling mengenal agar tidak canggung. Aku kembali masuk ke dalam kamar memperhatikan gaun yang Ibu jahit spesial untukku. Ibuku adalah seorang penjahit. Banyak orang yang memakai jasanya karena jahitannya sangat bagus dan rapi. Tuan Frederick sekeluarga juga menggunakan pakaian yang dijahit oleh ibuku dan ini pun bahan kainnya diberikan oleh istri Tuan itu. *** Temanku akan datang setelah makan siang, katanya tetapi sekarang sudah sore lalu siapa yang akan memoles wajahku, aku tidak bisa merias diri. Tidak mungkin aku meminta tolong ibu karena dia pun sibuk mengurus makanan yang akan disajikan untuk para tamu. Langit semakin gelap, warna jingga itu perlahan menghilang tergantikan awan abu-abu lalu perlahan sinar matahari meredup dan tenggelam ditelan malam. Tidak ada waktu lagi untuk menunggu temanku. Aku berusaha memoles wajahku sendiri perlahan. Sampai selesai dan memakai pewarna bibir yang tidak begitu terang. Aku berdiri memantaskan diri di depan cermin. Yah, aku sudah cantik dan siap untuk bertemu siapa pun dia. "Leah ... Leah--" Pintu kamarku diketuk keras berkali-kali dan mereka pasti teman-temanku yang katanya ingin datang siang tetapi malah datang saat malam telah tiba, mengesalkan! "Hai maaf, wahhhh kau cantik Leah, seperti cinderella. Apa kau ada sepatu kaca." Aku rasa ucapan mereka hanya basa-basi. Mereka masuk satu per satu dan memberikan pendapat tentang penampilanku yang harus ditambah. Aku dipaksa duduk kembali di depan cermin lalu mereka mengeluarkan berbagai macam peralatan di dalam tas mereka. Menambahkan sesuatu di kelopak mataku dan bulu mataku yang dibuat lentik ke atas. Yang lainnya kini menata rambutku yang lurus dibuat bergelombang lalu menyemprotkan sesuatu di rambutku, sangat wangi. Dengan sekejap penampilanku berubah total hanya karena rambut dan riasan mata yang sedikit menggelap. "Sempurna." "Belum! " Kedua temanku saling adu pendapat, salah satu dari mereka mengeluarkan pewarna bibir dari tasnya lalu ingin memakaikannya padaku, namun dicegah oleh si pendebat yang menginginkan aku, "Biarkan dia menjadi dirinya sendiri." "Tetapi pria dewasa lebih suka dengan wanita yang terlihat segar menantang." "Itu dirimu, bukan Leah!" Keduanya saling menatap tajam di depan wajahku. Aku sedikit mendengar erangan kesal disisi kananku yang akan mengoles bibirku dengan miliknya yang berwarna merah terang. "Ya sudah, aku hanya ingin dia tampil menarik. Kau ingin menarik perhatian dia bukan, Leah--" Dia bertanya dan menatapku serius. Aku bingung, apa yang harus aku jawab, sedangkan temanku yang satu lagi di sisi kiri.mencekram bahuku kuat dan berkata. "Jadilah dirimu, bukan diri orang lain ... jika dia tidak suka kau tidak harus menjadi orang lain yang dia suka, karena itu artinya peniru!" Aku tidak mau dibilang peniru. Aku adalah aku yang apa adanya. Benar juga kata Kristal, jika dia tidak suka ya sudah kenapa aku harus memaksanya. "Jadi bagaimana Leah, kau yang punya tubuh. Aku hanya memberi saran bahwa pria dewasa tidak terlalu suka yang terlalu polos." "Tidak apa Natalie, jika dia tidak suka maka kami tidak akan menikah." "Setuju!" Teriak ke empat temanku yang berada di belakangku sedangkan Natalie yang bersandar di dinding hanya tersenyum acuh padaku. Apakah mood-nya belum kembali baik. Karena biasanya dia lebih ceria dan mengasyikkan. Sekarang dia terlihat sedikit menyebalkan dan aneh. Tak lama kemudian, suara deru mobil masuk ke pekarangan rumahku sangat ramai. Ada sekitar 10 mobil. Kami semua mengintip dari balik gorden jendela kamarku. "Wah, dia tampan Leah." "Yang mana, aku belum pernah melihatnya secara langsung." "Itu yang mengenakan kemeja biru dengan rambut belah samping yang lagi trend, dia sangat menawan. Jantungku berdegup kencang ketika melihat pria itu. Tidak menyangka, jika dia memang tampan seperti yang ada di majalah bisnis itu. Pewaris tahta Perusahaan Kickers yang seperti seorang Pangeran Kerajaan. Semua temanku terlihat heboh kecuali Natalie yang sibuk memainkan kukunya. Apakah masalahnya sangat berat. Lalu aku mendekati dia. "Kau ada masalah, maaf ya jika acaraku ini membuatmu tidak nyaman tetapi kau adalah temanku dan aku harus berbagi kebahagiaan denganmu." "Kebahagiaan, eum ... selamat dan semoga dia menyukaimu," ucapnya datar dan aku maklumi. Tidak ada orang yang bisa pura-pura bahagia jika suasana hatinya tidak mendukung. Aku kenal Natalie saat kami masih sekolah dasar. Dia sangat menonjol dari semua murid karena dia sangat aktif dan pintar bergaul. Bersamanya aku jadi punya banyak teman hingga saat ini kami masih kekal bersama, dan mungkin sampai tua nanti. "Leah, ayo keluar Nak. Mereka ingin mengenalmu." Ya Tuhan bagaimana ini. Aku gemetar dan sedikit gugup. "Tarik napas dan hembuskan Leah, kami mendukungmu, ayo." Mereka sangat berguna sekarang karena dengan adanya semangat dari mereka, aku mulai berani untuk menunjukkan diri. Ini aku Anthony, salam kenal. Ah ... Aku bingung bagaimana cara menyapa yang lebih baik dan tidak kaku. Kami berjalan menuju taman secara perlahan. Aku seperti pengantin yang digiring untuk dipertemukan oleh calon suamiku. Sesampainya di sana, aku berhenti berjalan dan berdiri tepat di belakang pria ini. Waktu seakan berjalan lambat. Kepala dan tubuh pria ini memutar perlahan dan akhirnya berhadapan denganku. Ya Tuhan, kakiku terasa lemah dan ingin jatuh. Debar jantung ini semakin dipacu kuat tak berhenti terlebih saat bibirnya mengulas senyuman yang luar biasa manisnya. "Anthony." "Leah." Punggung tanganku ditarik dan dikecupnya lembut diiringi dengan tatapan teduhnya. Ayahku benar, dia orang yang baik seperti Ayahnya. "Senang mengenalmu cantik, tunanganku." Tanpa basa-basi lagi dia langsung memanggilku tunangan meski acara ini belum dimulai. Ya Tuhan aku ingin pingsan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD