Hanya Diam

1037 Words
Cicin putih bermata hijau berkilau telah mengikat jari manisku. Jantung ini tak henti-hentinya berdetak kencang kala dia duduk dekat denganku. Sesekali dia melirikku dan melempar senyumnya yang manis. Ya Tuhan, kenapa ada pria yang ramah seperti ini. Mengingat dia berasal dari keluarga kaya raya yang mungkin susah bergaul dengan orang seperti kami yang berbeda derajat dengannya. "Kalian berdua, silakan berkenalan. Masih ada waktu satu bulan sebelum pernikahan. Ada baiknya kalian bisa mengetahui apa yang disuka dan apa yang tidak." Aku tersipu malu ketika Tuan Frederick menyuruh kami untuk saling mengenal. Anthony mengulurkan tangan dan aku menyambutnya. Hangat dan lembut aku rasakan dalam genggamannya. Kami berjalan menjauh dari keramaian. Aku membawanya ke ujung taman di bawah pohon. Di sana ada bangku dan meja yang terbuat dari batu. Tempat aku dan adikku bermain saat kami masih kecil dulu. "Rumahmu unik dan asri," ucapnya memperhatikan sekeliling taman. "Eum, iya ini tempat kenanganku bersama adikku." "Siapa yang membuat meja dan kursi ini?" tanyanya. "Ini pamanku yang membuatnya, dia seorang tukang batu yang pandai memahat jenis batu apa pun." "Oh ya, menarik." "Iya, dia pintar." "Bukan Dia tetapi Kau." Obrolan yang ringan tadi sempat membuatku nyaman tetapi dia malah mengacaukan kenyamananku dan aku kembali merasa malu berduaan dengannya. "Kenapa aku?" "Kau gadis polos yang mau menikah dengan pria dewasa seperti aku. Apa kau tidak takut membina keluarga sejak usia dini?" Aku tersenyum dan berkata jujur, "Apa kau ingin membatalkan, jika ya ... maka belum terlambat." Dia tertawa keras hingga wajahnya memerah. Aku berkata serius, kenapa dianggapnya lucu. "Itu sebenarnya dialogku, kenapa kau yang mengatakan." "Oh begitu?" Tiba-tiba saja dia menarik pipiku, "Kau lucu juga, seperti adik bagiku." Adik, jadi dia menganggap aku hanya adik? Sedikit ragu ingin berkata, akhirnya aku beranikan diri untuk membuka obrolan. "Eum, aku boleh bertanya?" Dia mengangguk. "Apa kau punya wanita yang kau cintai." "Punya." "Lalu kenapa mau menikah denganku?" "Karena disuruh." Aku terdiam, memperhatikan keseluruhan wajahnya yang terlihat tenang setelah berkata seperti itu bahkan bibirnya pun mengulas senyum. Aku curiga, apa dia bercanda. "Kalau begitu, apa kau bisa mencintaiku ... nanti." Aku tidak percaya jika mulutku seberani ini untuk bertanya lebih ke masalah pribadi. Dia menggeleng pelan dan menjawab, "Tidak tahu." Apakah ini pertanda bahwa pria ini tidak layak untukku. Dia punya seseorang yang dicintai dan pastinya tidak mudah untuk menyingkirkan wanita itu di dalam hatinya. Ah, Leah. Mana ada pria yang bisa melupakan kekasih hati jika masih cinta. Aku menundukkan kepala sembari memainkan daun yang berguguran jatuh di atas meja. Bingung, mau bicara apalagi karena mungkin kehidupanku tidak akan bahagia. bersamanya. Sekian detik berlalu, suasana mulai tidak nyaman. Aku ingin menghentikan percakapan ini lalu kembali ke kamar dan berpikir, bisakah ini dibatalkan. "Kau," "Kau," Serempak kami berkata dan dia mempersilakan aku lebih dulu bertanya. "Kalau tadi yang aku sebut adalah dialogmu. Bisakah kau katakan hal seperti itu untukku." "Tidak, karena kau harus tetap menikah denganku, Azalea Himawari. Namamu sudah diukir dalam lembar tebal undangan resmi. Jika kau membatalkan maka Ayahmu pasti akan dipecat." Tidak selamanya senyum dan bersikap ramah itu adalah salah satu peringai orang yang baik. Aku baru mengetahui, jika sosok seperti itu akan menjadi suamiku. Ucapan demi ucapan yang dia keluarkan sangat beresiko dalam pernikahan kami nanti. Tetapi kenapa dia menggenggam tanganku jika dia mencintai wanita lain. Melemparkan senyum yang teramat manis, apakah dia tidak semanis ini aslinya. "Kau menyetujuinya berarti sudah siap untuk segala konsekuensi yang akan terjadi. Jika kita bermain catur meskipun salah langkah, pion yang sudah maju tidak bisa ditukar ataupun dikembalikan, benar bukan?" Aku diam tak menjawab lalu dia terkekeh pelan dan berbisik ditelingaku."Tidak susah kok jadi istriku, hanya diam dan ikuti caraku maka semuanya aman," ucapnya setelah itu wajahnya mendekati wajahku. Aku yang merasa semakin takut, kedua tanganku menggenggam erat gaunku di atas paha. Ya Tuhan, apakah aku salah langkah. Ingin rasanya aku menangis, namun tiba-tiba saja dia membungkam bibirku dengan bibirnya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Bagaikan patung, aku diam diperdayanya. Meski dia melakukannya sangat lembut dan hati-hati. Tetapi tetap saja sifat dan perkataannya sangat bertolak belakang. "Sepertinya sandiwaraku berhasil, kau sangat manis Leah." Aku mendadak bingung sekaligus shock. Wajahnya yang ceria tetap saja membuat aku terpukau meski sekarang aku harus sangat hati-hati untuk bersikap. Karena dia orang yang sulit untuk ditebak. "Leah, kau perempuan yang unik. Dan aku menginginkanmu. Jangan tegang seperti itu. Apa aku terlihat seperti orang jahat. Ayo kita kembali, sepertinya mereka curiga dengan apa yang kita perbuat di sini." Dia berdiri dan mengulurkan tangannya padaku lalu aku berdiri tidak ingin menyambut tangannya itu seperti diawal tadi. Wajahnya sedikit berubah melihatku, tetapi aku berusaha tersenyum padanya. "Ayo--" ajakku padanya dan dengan mudah tangannya tiba-tiba melingkari pinggangku. Aku meliriknya dan dia tersenyum lalu berkata, "Kita akan seperti ini terus Leah, kau harus terbiasa. Sikapmu tadi itu tidak sopan dan lain kali jangan diulang ya, karena aku juga bisa marah." Kami berjalan bersama dan sesekali dia melempar candaan hingga membuat aku tersenyum. Astaga, siapakah pria ini. Dalam satu waktu dia bisa membuatku kagum, terpana sekaligus takut. "Kalian sudah saling mengenal, bagaimana rasanya berbincang dengan putraku Leah." Aku tersenyum dan terpaksa menjawab, "Dia baik dan ramah." Tetapi sangat membingungkan, lanjutku dalam hati. Dia, Si Anthony ini terkekeh pelan lalu melepaskan tangannya dari pinggangku sembari berkata. "Ayah benar, dia gadis yang lugu. Sangat sempurna untukku." "Bagus, kalau begitu besok kau harus membawanya berkenalan dengan para bibi dan pamanmu agar mereka mengenal siapa istri dari calon pewaris tahta Kickers." Wajah Tuan Frederick sepertinya serius berkata seperti itu. Dan Anthony tetap menyunggingkan senyumnya yang ramah pada Ayahnya. Aku merasa ada aura tidak baik diantara keduanya. Satu per satu aku rangkai perkataan dari Anthony tadi bahwa aku tidak bisa mundur karena sudah melangkah. Yang artinya percuma aku membatalkan namun pasti akan ditolak. Sibuk dengan pemikiranku ini dan itu, aku jadi lupa dengan teman-temanku yang aku abaikan. Mereka asyik makan dan bergurau, dimana Natalie. "Leah, aku ingin ke toilet bisa kau tunjukkan dimana? " "Oh, baiklah ayo." Aku mengantar Anthony ke dalam dan berpapasan dengan Natalie yang tiba-tiba keluar dari toilet dengan wajah sembab dan mata yang memerah. Dia menatapku dan langsung tertunduk. "Kau menangis Natalie, ada apa?" "Aku pulang saja, bye," katanya dan saat aku ingin mengejarnya Anthony malah menahanku. "Dimana toiletnya My Lady, kenapa kau mengacuhkan calon suamimu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD