Tradisi Turunan

1072 Words
Sesuai dengan apa yang Tuan Frederick katakan, hari ini aku dijemput oleh Anthony untuk berkunjung ke rumah Paman dan Bibinya. Ada sedikit rasa takut untuk berjumpa sekelompok orang kaya lainnya. Entah kenapa, aku tidak percaya diri. Jika mereka bukan orang kaya, mungkin aku lebih santai. "Kau gugup?" tanyanya dibalik kemudi. Dia dan aku pergi tanpa pengawalan. Biasanya dia selalu menggunakan supir jika pergi kemana-mana kata Ayahku tetapi kali ini dia yang menyupir sendiri. "Ya, aku tidak pernah mengunjungi keluarga orang lain yang belum aku kenal, apalagi akan menjadi keluarga." "Anggap saja mengunjungi keluarga jauh." "Iya, itu keluargamu bukan keluargaku yang orang biasa." Dia tertawa dan mengejekku, "Maksudmu keluargaku orang luar biasa, berarti bukan warga bumi. Wah ... Aku akan bilang pada Bibi jika calon menantu keponakannya ini mengatai dia Alien." "Hei, kau!" Dia tertawa lagi dengan riang. Aku merasa tidak tegang lagi dan tak terasa kami telah sampai di depan rumah yang berpagar tinggi. Rumah yang seperti kastil kerajaan. Halamannya sangat luas dan lebar. Sudah tidak perlu diragukan lagi, mereka sekeluarga orang kaya. Kami turun bersamaan dan berjalan masuk ke dalam rumah. Dia menggandeng tanganku erat sampai ke dalam, tidak peduli dilihat oleh pelayanan rumah ini. Aku semakin merasa kecil ketika berada di dalam ruangan yang seluas gedung perkantoran ini. "Ini masih kecil dibanding rumahku," ucapnya sedikit membuatku menatapnya heran. "Kenapa, kau tidak tahu atau belum pernah kesana?" Aku menggeleng, karena memang aku belum pernah kesana. Untuk apa juga aku ke sana, tidak punya alasan bukan. "Ayahku bilang jika kau adalah Putri Angkatnya maka aku pikir kau pasti pernah ke rumahku saat aku tidak ada." Meskipun aku adalah Putri Angkatnya tetapi aku tidak pernah mau jika diajak istrinya untuk main ke rumahnya. "Tidak, bahkan melihatmu saja baru kemarin," jawabku jujur dan tiba-tiba saja tubuhku melayang ditariknya cepat menuju lorong kecil lalu menyudutkan tubuhku ke dinding. Kedua lengannya yang berisi mengurung tubuhku, wajahnya dan wajahku berjarak sangat dekat hingga deru napas kami saling menyapa. "Ada apa Anthony?" "Kau baru melihatku kemarin, selama ini apa saja yang kau kerjakan Leah?" Aku heran, kenapa dia merasa tidak terima jika aku baru pertama kali melihatnya. Sepopuler apa dia, hingga aku harus mengenalnya lebih lama. "Aku belajar Tuan Anthony, aku tidak punya waktu untuk--" Dia berlaku tidak sopan lagi padaku, tanpa pemirsi dia melumat bibirku secara tergesa. Tidak memberiku jeda untuk bernapas, terlebih lidahnya yang menerobos masuk ke dalam mulutku hingga membuatku ingin muntah. Aku mencekram pinggangnya, agar dia berhenti melakukan ini padaku, aku tidak sanggup lagi dan-- "Astaga Anthony!" Dia melepaskan kasar pagutan bibirnya segera dan aku meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Sebelum dia melepaskan lengannya dari dinding, dia berbisik. "Anthony Kickers nomor 5 di Forbes dan selalu dicari orang, ingat itu, tunanganku!" Aku merinding saat dia berkata seperti itu. Jelas sekali bahwa aku tidak menganggap dia orang penting karena memang aku tidak mengerti hal seperti itu. "Oh ya Tuhan calon menantuku sayang, kemari nak. Dasar Anthony kurang ajar, beraninya kau melakukan itu pada gadis baik-baik seperti dia, ayo kita tinggalkan dia sayang ikut aku ke belakang." Aku menjauhinya dan berjalan mengikuti wanita cantik bertubuh besar ini. Dia sangat ramah dan baik. Aku mengulum bibirku ke dalam karena merasa kebas gara-gara ulah Anthony tadi. "Maafkan keponakan itu, pasti kau telah menyinggung harga dirinya hingga dia berlaku seperti itu." Aku terkekeh pelan, "Ya, aku tidak mengenalnya sebagai orang nomor 5 di Fores eh, apa tadi aku lupa." "Hahahaha, Fores pasti dia menyombongkan peringkatnya di Forbes dan kau pasti tidak tahu apa-apa bukan. Siapa namamu sayang, kau lucu sekali." Tawanya mengelegar seperti petir disiang hari, ruangan ini sampai bergema akan tawanya yang besar. Aku sampai lupa mengenalkan diriku padanya. "Aku Azalea, panggil saja Leah Nyonya, sedang berkenalan dengan Anda." "Oh, ya Tuhan selain manis dan cantik kau terlalu polos Leah, kau pasti menjadi santapan keisengan Anthony." Kami duduk di depan kolam renang yang besar dan luas hampir menyerupai danau buatan. Rumah ini benar-benar besar dan luas. Dia membunyikan lonceng yang berada di atas meja dan tak lama kemudian pelayan datang membawakan makanan dan minuman untuk kami. "Diminum sayang, jangan sungkan dan jangan panggil aku Nyonya karena kau bukan pelayanku, panggil aku Bibi Martha karena sebentar lagi kau akan masuk keluarga kami." Dia terus menjelaskan ini dan itu lalu bertanya tentang diriku juga keluargaku. Dia ternyata orang yang ramah dan baik. Dia juga memberitahuku bahwa, "Anthony itu kekasihnya banyak dan dia selalu menghamburkan uangnya pada mereka. Maka dari itu Ayahnya ingin dia cepat menikah dan berhenti untuk tidak memanjakan wanita muda yang selalu memanfaatkannya." Kesempatan, aku ingin mencari tahu siapa kekasihnya. "Eum, berarti Bibi tahu siapa wanita yang spesial bagi Anthony." Bibi Martha tersenyum remeh dan berkata, "Kau, jangan mau kalah dengan gadis itu. Dia mungkin seumur denganmu tetapi dia pura-pura lemah dan Anthony kasihan padanya. Aku benci wanita penipu seperti itu, Leah bantu kami pisahkan dia dari Anthony selamanya." Aku jadi bingung, bagaimana aku bisa mencari tahu siapa orangnya jika Bibi Martha tidak tahu siapa nama gadis itu yang seumur denganku. "Dan satu lagi Leah, aku punya obat ampuh agar kau begitu nikmat 'dimasuki' oleh Anthony nanti dan kalian akan segera punya anak." Aku menutup mulutku agar tidak tertawa lepas. Wanita ini membicarakan hal yang masih asing bagiku. Aku belum memikirkan ke arah sana. Untuk ciuman saja aku belum tahu bagaimana memulainya. Anthony tidak mengajariku malah menindasku. "Tetapi aku masih masih mau kuliah Bi, bagaimana jika aku punya anak?" "Ohh, mereka belum ... oh, tidak Leah, kau harus tahu hal ini karena ini penting." Dia mendadak serius lalu aku juga sedikit panik. Bukannya ayah berkata aku masih bisa kuliah jika sudah menikah. "Di dalam keluarga Kickers, pasangan yang menikah harus segera punya anak agar mereka cepat mendapatkan hak sebagai pewaris jika tidak maka kau bisa diceraikan dengan alasan tidak mampu memberikan mereka pewaris bisnis keluarga." Sekejam itu mereka? "Tetapi jika memang susah untuk punya anak, bukankah itu kehendak Tuhan." "Iya kau benar sayang, tetapi ini sudah tradisi turun temurun. Begitulah aturan yang ada dalam keluarga ini. Aku saja menikah dengan Pamannya setelah hamil 3 bulan karena dia tidak mau cerai denganku jika aku tidak bisa memberinya anak dalam jangka waktu 1 tahun, rasanya tidak masuk akal membuat aturan yang kejam seperti itu. Tetapi ya, mau bagaimana lagi. Seharusnya kalian juga harus program mulai dari sekarang, mengingat kalian dijodohkan dan pastinya agak sulit menjalin rasa menjadi kecanduan." Yang aku pikirkan, apakah dia mau punya anak dariku? Karena bisa saja dia tidak mau dan tidak akan menyentuhku karena dia mencintai wanita lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD