Anthony kurang ajar, setelah melakukan penindasan pada bibirku dia malah pergi dari rumah bibinya lalu pengawalnya datang menjemputku setelah matahari telah menerik. Saat aku tanya kemana Si Bos Anthony nomor 5 di Forbes itu berada. Supirnya berkata, "Beliau sedang menunggu Anda di Barcelona Nona."
Aku menyengir, "Dia di sana dan aku tidak perlu ikut juga, bukan. Aku tidak punya passport dan aku juga--"
Mataku tak berkedip ketika mobil ini masuk ke dalam area bandara. "Maaf, kenapa kemari Pak."
"Anda disuruh menyusul beliau ke Barcelona sekarang."
Kenapa dia seenak hati menyuruhku. Tanpa pesan dan bertanya apakah aku mau atau tidak. Lagi pula aku tidak pernah naik pesawat. Oh Ya Tuhan!
"Tuan, apakah aku bisa meminta tolong agar bisa menelepon kedua orang tuaku karena mereka pasti cemas jika aku pergi tidak pamit."
"Tuan Anthony sudah mengizinkannya Nona, Anda tenang saja."
Dengan berat hati aku harus mengikuti pria ini dan masuk ke dalam pesawat. Hanya ada aku dan seorang wanita cantik yang menawariku makan dan minum.
"Anda mau apalagi Nona?"
"Bisakah kau menemaniku di sini karena aku belum pernah, aaaaaaa--"Aku berteriak kencang ketika tubuhku merasa melayang dan aku tidak ingat apa-apa lagi.
Saat aku membuka mata, "Aaaa-kauuu!"
Aku terkejut melihat wajah Anthony tepat berada di depan mataku, dia memandangku remeh dengan ujung bibirnya yang naik sedikit ke atas.
"Ckkk, calon Nyonya Anthony Kickers pingsan saat naik pesawat, apa-apaan kau Leah."
Sudah cukup aku diaturnya dan aku benci wajahnya yang meremehkan aku. Aku sadar siapa aku. Orang miskin yang tidak pernah bepergian yang jauh, apalagi naik pesawat.
"Ya sudah kau cari saja calon Nyonya yang bisa naik pesawat mendampingimu!"
Aku mendorong tubuhnya menjauh dan berusaha turun dari ranjang. Ada sedikit aneh saat kakiku berpijak di lantai karena, dimana aku?
Aku melihat sekelilingku, normal ... ini kamar hotel bukan. Apa aku masih merasa mabuk dan belum benar-benar pulih, hingga merasa pijakkan kakiku terombang-ambing.
"Kau mau kemana?" tanyanya.
Di berdiri di sampingku dengan kedua tangan berkacak di pinggang. Kemejanya terbuka 2 kancing, melihatkan d**a bidangnya yang sedikit berambut. Lengan kemejanya digulung setengah dan dia menggunakan celana pendek. Dia mau liburan?
Mulutku menganga ketika mataku tertuju pada jendela yang melihatkan air yang luas dan jangan bilang kalau kami sekarang berada di kapal pesiar.
"Kita dimana?"
"Laut."
"Kenapa?"
"Hanya bersenang-senang, ayo kita keluar."
Dia menarik tanganku dan berjalan keluar kamar, tubuhku mengikuti saja kemana dia membawaku dan aku mendengar suara teriakan wanita juga pria yang sedang bersenda gurau.
"Sebenarnya apa yang ingin kau tunjukkan padaku?"
"Semuanya, agar kau tahu siapa aku sebenarnya."
Kami berhenti di depan kolam renang yang telah diramaikan oleh beberapa wanita yang menggunakan bikini seksi. Mereka bahkan tidak menyadari kehadiran kami. Aku tidak suka hal ini.
Mereka terlihat murahan karena menunjukkan bentuk tubuhnya di depan semua pria, juga calon suamiku.
Aku meliriknya dan kami saling menatap berapa detik hingga aku bisa berkata, "Kau, ingin melihatkan seberapa bejatnya dirimu padaku? Kau yang bilang bahwa aku tidak bisa membatalkan pertunangan kita lalu untuk apa semua ini. Aku mau pulang!" bentakku dan ingin berbalik meninggalkan dia namun lenganku dicekal lalu dia berteriak,
"Hello, girls kalian ingin mengenal siapa Nyonya Anthony bukan."
Apa maksudnya ini?
"Oh, Hai Leah ... Ayo bergabung bersama kami," teriak mereka menyapaku ramah. Aku hanya bisa berbalik badan dan tersenyum membalas mereka.
"Ayo buka bajumu kita berenang bersama."
"Maaf, tidak bisa karena Nyonya Anthony tidak akan aku biarkan bergabung dengan kalian. Nikmati liburan kalian, bye."
"Huh kau payah Anthony."
Tanganku langsung ditarik Anthony, dia berjalan cepat menuju ke atas tangga. Di sana sudah ada helikopter yang pintunya terbuka dan seseorang datang menyambut kami.
"Silakan Tuan dan Nyonya."
Oh, Tuhan apalagi ini. Aku terpaksa masuk dan merengut menatapnya.
"Kau harus bisa menikmati segala fasilitas ini semua, Nyonya Anthony."
Lagi-lagi dia meremehkan aku dan sepertinya selalu mengingatkan bahwa aku adalah calon istrinya yang akan dikelilingi oleh kemewahan.
"Mereka teman-temanku, awalnya mereka mengajak untuk liburan bersama tetapi aku sudah menyuruh orang untuk membawamu kemari dan terpaksa aku harus memperkenalkan kau pada mereka tetapi otakmu terlalu kotor menilaiku, apa yang Bibi Martha katakan padamu?"
Ternyata aku salah paham. Itu teman-temannya bukan wanita penghibur untuk dirinya. Aku jadi merasa bersalah.
"Mungkin dan pasti dia berkata aku selalu berganti pasangan bukan?"
Aku tidak menjawab, aku takut jika mereka malah bertengkar dan Anthony tidak terima dikatakan seperti itu.
"Itu terserah padamu Leah, mau percaya atau tidak."
Terpaksa aku mengatakan sesuai yang dikatakan oleh Bibi Martha, "Dia bilang, kau menghamburkan uang untuk seseorang yang berpura-pura butuh bantuan. Seorang gadis, apakah dia yang kau cintai."
"Dia tidak pura-pura tetapi memang butuh."
"Butuh cinta darimu atau butuh uang darimu?"
Helikopter ini sudah jauh bergerak, tetapi dia tidak menjawab pertanyaanku itu. Aku juga tidak banyak bertanya tentang apa pun hingga akhirnya Helikopter ini berhenti di sebuah gedung tinggi lalu kami turun dan berjalan beriringan.
Aku belum bisa mengetahui bagaimana dirinya. Semua masih acak dalam benakku. Dia bisa menjadi pribadi yang menyenangkan tetapi dia bisa menjadi orang yang menyeramkan jika aku salah menilainya. Aku jadi bingung untuk memulai.
Ini mungkin hotel, kami berjalan di lorong sempit lalu dia berhenti di depan dua pintu, berbalik badan berhadapan denganku. Dia mengeluarkan dua buah kunci lalu berkata, "Pilih salah satu atau tidak."
Yang benar saja, dia yang mengajakku tetapi dia yang menyuruhku memilih.
"Maksudnya?"
"Jika kau memilih berarti kau ingin sendiri tetapi jika kau tidak memilih berarti kau akan bersamaku."
Aku tidak perlu berpikir lama, tentu saja aku pilih salah satu dan dia tersenyum rendah.
"Baik, kau sudah memilih Leah, jangan pernah salahkan aku."
Kenapa dia penuh dengan teka-teki, aku tidak tahu apa yang dia mau dalam benaknya. Aku masih terpaku di depan pintu yang kunci kamarnya sudah dalam genggamanku sedangkan dia sudah memulai membuka pintu yang satunya.
"Anthony, jika aku tidak memilih."
"Aku sudah bilang kemarin Leah, ibarat bermain catur, kau sudah memilih dan tidak bisa mundur. Aku tunggu di lobi 3 jam lagi. Kau bebas mau apa saja."
Dia masuk ke dalam kamar lebih dulu dan memasang label 'Tidak Ingin Diganggu' di depan pintu. Ini terlalu rumit bagiku. Beginikah cara orang dewasa bersikap.
Dia seperti Guru di Sekolah yang memberikan soal cerita dan harus dijawab sesuai dengan penalaran. Jika tidak sesuai maka nilai yang di dapat juga rendah, sedangkan dia ... jika aku salah memilih apakah juga akan dinilai rendah atau fatal.