Basah

1044 Words
Selama 3 jam aku berada di kamar sendirian, cukup membosankan meskipun ada banyak makanan yang tersedia, televisi dan bathtub di kamar mandi untuk berendam. Belum tepat 3 jam aku keluar kamar dan menyusuri hotel ini. Mulai dari bawah, lalu lantai paling atas. Ada restoran terbuka dan sangat romantis kelihatannya. Aku duduk di bangku paling ujung. Mataku terus memandang ke area jalan besar yang aktivitasnya begitu ramai. Aku terkejut ketika seorang pelayan datang menghampiriku. "Anda mau pesan apa Nona?" Aku menggaruk kepalaku gatal karena aku tidak punya banyak uang untuk memesan makanan yang harganya cukup mahal, lagi pula aku sudah kenyang makan makanan yang tersedia di kamar. "Eum, air minum biasa saja." Dia mengangguk, untung saja boleh kalau tidak, mungkin aku harus keluar dari tempat ini. Aku masih asyik mengamati jalan di bawah sana sampai aku lupa mungkin aku telat menemui Anthony. Apa dia akan marah? Aku berdiri tergesa, tetapi aku duduk kembali karena teringat bahwa air minumku belum datang. Kasihan pelayanan itu jika aku pergi maka dia akan mengantarkannya. Padahal hanya segelas air mineral, aku sudah menunggu cukup lama. Beberapa menit kemudian ada sekitar 3 orang datang menghampiri mejaku, mereka membawa alat musik lalu mereka bernyanyi bahasa Spanyol di depanku. Aku tidak mengerti artinya, tetapi terdengar sangat bagus dan aku suka. Ketika mereka selesai bernyanyi, aku baru ingat jika aku tidak punya uang untuk membayarnya, Oh God! "Anda suka Nona?" tanya mereka menggunakan Bahasa Inggris dan aku menjawab, "Iya aku suka tetapi aku tidak punya uang untuk membayar kalian." "Kami sudah dibayar Nona, silakan menikmati makanan, selamat malam." Siapa yang membayarnya? Aneh. Setelah para penyanyi itu pergi rentetan pelayan datang menghampiri mejaku dan mengisinya dengan berbagai hidangan makan malam. Aku kaget, siapa yang memesan sebanyak ini. "Maaf, aku tidak memesan ini semua mungkin kalian salah meja," ucapku panik, bagaimana kalau ini jadi masalah dan Anthony malu karena hal ini. Para pelayan itu tidak menyahut omonganku, mereka mengerti atau tidak. Aku harus pergi dari sini karena tidak punya uang untuk membayar. Ketika aku berdiri, "Mau kemana?" Aku langsung menoleh ke sumber suara yang aku kenal dan ternyata benar, dia Anthony. Katanya dia menunggu di lobi, kenapa bisa kemari juga. "Maaf aku lupa menemuimu, kau tahu darimana aku di sini." Aku sedikit takut dan jaga-jaga jika dia marah, bukannya menjawab pertanyaanku tetapi dia malah ikut bertanya, "Kenapa tidak ganti baju?" Astaga, pria ini! Dia lupa atau melupakan kesalahannya. "Memangnya aku ada bawa baju, salahkan kau kenapa tidak memberitahu sebelumnya jika ingin mengajakku bepergian." Dia menggelengkan kepalanya pelan sembari berucap, "Leah, Leah ... selama 2 jam kau di kamar apa saja yang kau lihat di sana." "Makan dan nonton habis itu berendam. Aku bahkan tidak memakai bedak dan pewarna bibir karena aku tidak membawanya." Kembali dia terkekeh pelan dan menopang dagunya dengan kedua tangannya di atas meja sembari memperhatikanku. Astaga, dia terlihat sangat tampan, rapi dan aku jadi tersipu malu jika ingat bahwa dia adalah calon suamiku. Kenapa Tuhan begitu baik padaku. Para pelayan telah pergi setelah memenuhi meja kami dengan aneka jenis makanan lezat. Aku tidak sanggup lagi menahan gejolak rasa ingin mencicipi karena aromanya mengusik penciumanku dan sudah tersalur hingga ke dalam perut namun tanganku malah ditarik oleh Anthony dan dikecupnya perlahan. "My lady, berapa banyak peristiwa yang terjadi hari ini dan berapa banyak yang kau ketahui tentang aku, baik salah atau pun benar. Jadi aku mau tahu apa penilaianmu tentang calon suamimu ini." Aku takut menyimpulkan karena nanti dia marah lagi kalau aku salah merangkai kata. Apalagi ini di luar ruangan dan ramaikan orang disekitar kami. Kalau dia marah, aku yang malu. "Kau terlalu perfeksionis, aku jadi bingung dan aku merasa salah terus jika kau suruh memilih. Aku ragu, apakah bisa kita hidup bahagia jika selalu salah aku dimatamu." Dia terdiam sejenak dan aku butuh seseorang yang bisa membaca pikirannya. Apa yang sedang dia pikirkan tentang aku dan tentang masa depan yang ingin dia rancang denganku. "Dengan semua yang aku miliki, bagaimana menurutmu?" "Hebat," "Hanya itu, kau tidak punya kata-kata yang lebih untuk menggambarkan siapa aku." "Orang yang berkuasa dan punya segalanya." Sekali lagi aku menyanjung dirinya dan sepertinya masih kurang. "Selain itu?" Mau apalagi sih dia, kenapa matanya menyorotku tajam. Dia minta apa? "Kau menakutkan Anthony, padahal tadi kau tampan sekali." Alhasil dengan kata 'Tampan' yang aku sebut dia langsung tersenyum lebar, menyebalkan. Apa itu yang dia mau. Setelah itu dia mengajakku makan sampai aku kekenyangan. "Sebenarnya kau mau mengajakku ke mana?" Aku berjalan dengan susah payah karena kekenyangan. Sampai pada akhirnya tubuhku langsung digendongnya tanpa basa-basi. "Anthony, turunkan, aku malu," keluhku tetapi dia cuek saja tetap berjalan dengan tegap. Tidak merasa keberatan meski aku berusaha berontak. "Malu? Digendong oleh orang tampan dan kaya kau malu, serius?" Oh, Ya Tuhan! "Maaf, tetapi bukan--" Dia kembali mencuri cium bibirku lagi ketika masih ada kata yang ingin aku ucap. Aku hanya menikmati namun merasa nyaman hingga tiba-tiba dia berhenti berjalan dan melepaskan pagutannya. "Buka pintunya," serunya dengan napas terengah dan menelisik tajam mataku. Aku tidak membantah, masih dalam gendongannya, tanganku memutar kunci dan membuka kamar lalu dia masih setia menggendongku sampai dia menutup pintu dengan kakinya kemudian berjalan menuju arah sofa diujung jendela. Dia duduk sembari memangku tubuhku. Dengan sedikit terengah aku melihatnya kelelahan. Dahinya keluar bulir keringat yang tak seberapa, aku sapu dengan jari jemariku lalu dia menghentikannya dan beralih mengecupinya lalu berkata, "Azalea, semua wanita berlomba-lomba menyerahkan tubuhnya padaku tetapi kau yang sudah akan menjadi istriku malah ingin menjauh dariku. Kau sudah pasti akan dinikahi bukan omongan semata yang masih bisa gagal. Kenapa kau jual mahal." "Aku pikir kau pasti benci padaku karena menghalangi cintamu pada wanita lain." "Jangan sebut dia, ini waktu bersama kita selama seminggu jadilah kekasih yang sesungguhnya." Kembali dia memagut bibirku tetapi lebih lembut dan pelan. Kini aku merasakan sesuatu yang berbeda. Tubuhku menerima apa saja yang dia lakukan padaku. Membiarkan tangannya menyusup dan membelai kulit dalamku. Ini untuk pertama kalinya tubuhku dipegang oleh seorang pria, sedikit tersentak kaget, namun aku tahan tidak berontak. Ada rasa yang ingin meledak dalam diriku ketika dia terus mengajari aku bagaimana caranya berciuman. Dari pelan hingga memburu dan sampai kami kehabisan napas dan aku ... basah. "Ini belum apa-apa sayang, tetapi kau sudah basah," ejeknya sembari mengelus bagian bawah diriku yang sungguh memalukan, aku kelepasan. Aku malu sekali, kenapa buang air tidak sadar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD