Kemarin adalah hari yang sungguh mencengangkan, menegangkan dan ditutup dengan sesuatu yang indah tadi malam. Aku bilang indah karena aku merasa diberi kasih sayang yang berbeda oleh orang lain. Seorang pria yang baru aku kenal namun akan menjadi teman hidupku selamanya.
"Anda cantik Nona."
Aku terkejut melihat pantulan wajahku dicermin. Ini bukan aku, melainkan boneka cantik yang bisa bicara dan bergerak.
Rambutku yang kuning emas diberi pewarna hitam sedikit agar terkesan lebih gelap dan kulitku terpancar terang. Gaya rambut di curly dan diberi tambahan poni di depan dahiku.
Begitu istimewanya orang yang akan kami kunjungi hari ini sehingga Anthony menyewa seorang perias artis.
Gaun yang indah ternyata sudah tersedia di dalam lemari kaca kamar ini. Aku tidak tahu jika Anthony sudah mempersiapkan semuanya bahkan sepatu, tas, juga topi bundar, yang katanya jika aku takut kepanasan berjalan di tengah kota bisa memakai itu untuk melindungi kepala.
Aku tidak suka sesuatu yang berlebihan, jika hari terlalu panas aku tidak ingin keluar rumah.
"Perlu saya bantu Nona."
"Oh, iya tolong."
Aku berbalik badan untuk meminta tolong si perias agar menaikkan resleting gaunku ke atas karena terlalu panjang hingga aku kesulitan untuk menaikkannya seorang diri.
Perlahan resleting itu naik dan tiba-tiba aku merasakan kecupan basah ditengkukku dan aku langsung berbalik.
"Anthony?"
Ternyata dia yang melakukannya. Dia terperangah melihatku, mulutnya terbuka lebar dan salivanya hampir keluar dari mulutnya kalau tidak segera diteguknya kasar.
"Kau sangat cantik My Lady."
Aku tersipu malu dan dia menangkup wajahku, menatapku lama lalu menyatukan kedua dahi kami. Satu kecupan aku rasakan lembut di dahiku dari bibirnya dan tangannya menggengam tanganku.
"Kita pergi sekarang."
Aura tegasnya menguar ketika para pengawalnya berada di depan pintu menunggu kami.
Memang berbeda cara bergaul antara pria dewasa dengan pria seumuran. Dengan Theo kami biasa berbincang dan tertawa sambil berjalan tetapi dengan Anthony meskipun dia menggenggam tanganku kuat namun tidak ada kemesraan yang terjalin seperti yang aku lihat dalam film. Mungkinkah ini hanya formalitas, agar dilihat mesra karena jepretan kamera telah menghujani kami saat akan memasuki mobil yang panjang.
"Kau tidak apa-apa?"
"Ah, aku ... tidak, aku hanya belum terbiasa."
Dia tersenyum, "Ya, maka dari itu aku akan membuatmu terbiasa seperti kemarin, hari ini, esok dan seterusnya."
Aku membalas senyumnya, membayangkan hari demi hari bersamanya mungkin akan indah jika dia terus bersikap manis padaku. Cara marahnya pun elegan ketika aku selalu salah mengambil sikap.
Dia tidak membiarkan aku hanya duduk diam bersamanya. Dia selalu bertanya tentang apa yang aku suka, aku ingin menjadi apa kelak dan semua tentang diriku.
"Eum, Anthony aku ingin bertanya, boleh?"
"Silakan."
Mendadak aku gugup, karena pertanyaan ini mungkin akan tidak dijawab atau dijawab asal-asalan.
"Apa kau ingin punya anak segera?"
Dia meneguk salivanya lalu menarik napas dalam dan menghembuskannya teratur.
"Aku akan menyentuhmu jika ingin, jadi kau pikir sendiri apa jawabannya."
Baiklah, setidaknya aku lega karena dia tidak memaksaku untuk punya anak. Aku bisa menikmati pendidikan dengan tenang tanpa harus menjadi Ibu Rumah Tangga yang pastinya merepotkan. Jujur aku masih belum siap.
Selama seminggu kami berada di Barcelona melakukan beberapa foto untuk dipajang saat pesta pernikahan kami nanti. Bahkan kami menggunakan latar tempat berfoto di istana kerajaan. Pantas saja aku harus dirias secantik mungkin waktu itu dan pakaian yang aku kenakan adalah gaun lebar seperti zaman Kerajaan dulu.
Kami juga berwisata ke berbagai tempat. Pulau pribadi, pantai, bangunan tua dan bersejarah. Hubungan kami semakin meningkat. Dari dia yang hanya berani mencium bibirku, kini dia mulai untuk ingin sesuatu yang lain.
Sebenarnya, aku tidak masalah jika dia menginginkan yang lebih. Aku juga siap untuk melihatkan tubuhku polos di depannya. Tetapi aneh, Anthony seperti meredam keinginannya.
Bukannya aku merasa percaya diri akan kecantikan tubuhku. Tetapi seringkali aku melihatnya terpesona melihat wajahku. Apakah ini harus dibahas atau, aku sungguh memalukan.
"Kau mau sesuatu yang lain?" tanyanya saat kami berdua sedang duduk menikmati senja di tepi pantai.
Aku langsung mendekatkan diri padanya dan duduk di atas pangkuannya. Memulai lebih dulu untuk mencium bibirnya. Dia tersenyum dan menyambut sentuhanku dengan caranya yang seperti biasa bahkan dia sesekali melesatkan lidahnya ke dalam mulutku.
Aku melepaskan penyatuan bibir kami terlebih dahulu dan saling menatap lalu aku beranikan diri untuk berkata, "Aku, siap untuk apa pun Anthony, aku--"
"Kita pulang yuk, mungkin kau lelah."
Dia mengecup bibirku sekilas dan langsung berdiri tapi tidak menyuruhku turun dari pangkuannya. Dia kuat untuk mengangkat tubuhku dan menggendongku hingga tanganku melilit erat lehernya dan kami saling memagut bibir kembali.
Dia mengabaikan ucapanku, dia pastinya paham dengan apa yang aku katakan. Ya Tuhan, ini memalukan. Secara tidak langsung aku ditolak. Dia tidak ingin menyentuhku lebih dari itu. Besok kami akan pulang dan mempersiapkan pernikahan kami. Mungkin Anthony ingin sesuatu yang sakral dan legal.
***
Belum lama aku kembali dari Barcelona, tubuh terasa masih pegal karena perjalanan yang panjang. Acara pernikahan langsung dimulai keesokan harinya.
Rasa lelah tertutupi oleh setiap menit kenangan kebersamaan antara aku dan Anthony. Setelah selesai acara mungkin kami akan pergi berbulan madu lagi. Entah apa kejutan yang dia berikan padaku nanti, aku jadi tidak sabaran.
Gaun putih yang membalut tubuhku terlihat cantik dan menawan. Dia pasti terpesona dengan penampilanku hari ini. Anthony aku akan menjadi milikmu selamanya untuk hari ini, esok dan seumur hidup bersama.
"Leah, kau sudah siap Nak?"
Ayahku datang menjemputku ke kamar rias. Beliau yang akan menyerahkan aku pada calon suamiku. Aku memeluk ayah dan menangis.
"Ayah, aku masih anak ayah kan, kalau ada apa-apa aku pulang ke rumah saja ya."
"Kalau ada masalah selesaikan dengan suamimu dan tidak boleh keluar dari rumah sebelum mereka mengusirmu."
Terdengar kejam dan menyedihkan. Semoga saja tidak akan pernah ada masalah sehingga hubungan kami selalu baik-baik saja.
Sebelum kami meninggalkan ruangan, ada dua orang pria yang masuk ke dalam ruangan. Salah satu dari pria itu membawa tas koper dan satunya lagi aku kenal karena dia pengawal pribadi Tuan Frederick yang sering ke rumah mengantarkan barang atau makanan pada kami.
"Bisa duduk dulu Nona, ada yang harus anda tanda tangani sebelum acara pernikahan ini dimulai."
Aku bingung menatap ayahku tetapi beliau tersenyum dan mengangguk seakan memberi kode bahwa aku harus melakukannya.
Terpaksa aku duduk dan melihat beberapa kertas yang mereka keluarkan dalam tas, lalu diberikannya padaku.
"Dibaca dulu Nona, setelah itu pastikan nama Anda benar lalu tanda tangani."
Aku membaca satu per satu poin yang tertera di atas kertas ini yang judulnya perjanjian Pra Nikah. Isinya adalah pembagian harta yang akan aku dapatkan jika suamiku berselingkuh dan merugikan aku dengan menceraikanku.
Aku lihat ada tanda tangan Anthony di sana dan juga tertera tanda tangan ayahnya. Dengan keteguhan hati aku akhirnya menggoreskan tinta pada bagian yang tertulis namaku.
"Satu lagi Nona."
Satu lembar lagi, tanpa aku baca karena mungkin sama isinya namun ada yang janggal. Tidak ada tanda tangan Anthony di sana melainkan hanya tanda tangan ayahnya.
"Maaf, tanda tangan Anthony kenapa tidak ada? "
"Ini berbeda Nona, karena tanpa sepengetahuan Tuan Muda Anthony."
Lagi ... aku melirik ayahku dan dia menundukkan kepala lalu mengacungkan satu jempol padaku.
Aku hanya membaca sekilas bahwa ada tanah dan bangunan yang semuanya akan dilimpahkan padaku.
Setelah selesai tanda tangan, kedua orang itu pergi lebih dulu. Tinggallah aku dan ayahku di ruangan. Ayah hanya berkata bahwa, "Seperti permainan, ikuti dan hadapi semua tantangan yang ada.Jadilah pemenang di setiap sesi. Ayah yakin kau bisa Nak!"
Aku tidak butuh harta yang berlimpah. Aku hanya ingin kebahagiaan seperti yang ada di rumahku. Keluarga yang sederhana atau pun saling mencintai, berbagi suka dan duka. Jika pernikahan ini dianggap sebuah permainan nyata maka aku siap melawan siapa saja musuhku!