Sedikit Menjelaskan Buku Ini
Aneh ya dengar judul Ratapan Pacar Tiri? Hehehe. Yupz, judul ini memang khusus diambil dari inspirasi penulis yang berkaitan dengan film berjudul Ratapan Anak Tiri, yang mengisahkan bagaimana seorang Ibu tiri memperlakukan anak-anak tirinya dengan sangat kejam bin sadis.
Lha jadi apa hubungannya dengan judul kita diatas? pertanyaan yang bagus. Judul ini diangkat dari apa yang penulis lihat dan dapatkan di kehidupan kita sehari-hari, dimana aktivitas maksiat bernama pacaran, telah menjamur dimana-mana. Gak di sekolahan, di kampus bahkan di lingkungan kita sendiri, aktivitas ini seolah gak pernah habis sepanjang penglihatan kita. Yang berdua-duaan di halte bis lah, yang lagi boncengan berdua, mojok berdua, makan di resto berdua, hingga 1 kamar berdua. Astagfirullah..
Nah, cewek selaku aktivis pacaran ini, emang selalu jadi korban. Awal mulanya aja, pake kamus seakan hidup milik berdua, akhirnya 1 bulan bahkan 1 tahun setelahnya, kamusnya udah ganti, dengan kalimat “Sunyinya malam ini!” hehehe.
Kenapa? Karena ternyata, si cowok udah punya gandengan lain cin. Yang pastinya lebih cakep, lebih mulus, lebih aduhai dan lebih fresh ketimbang yang lama.
Bukan hanya itu, sms mesra dari sang pujaan hati juga udah berganti dengan sms nada marah dengan beribu alasan. Gak mau di ganggu karena lagi ngerjain tugas lah, lagi banyak masalah lah, yang lagi gak punya pulsa lah, dan modus-modus lainnya! Padahal, sebenarnya tuh cowok lagi pedekate dengan cewek barunya.
Alhasil, seharian penuh sang cewek yang yang lama, bakalan galau tingkat benua, uring-uringan gak jelas di kamar, makan gak mau, tidur gelisah, air mata membentuk dua samudera, hingga di hidung keluar cairan yang aneh, asin-asin gitu!
Yupz, semua cewek para aktivis pacaran, pasti pernah ngerasain hal beginian. Cewek begini lah yang disebut dengan korban Ratapan Pacar Tiri, karena kini telah diduain ama sang cowok. Berharap cinta suci, malah dapat cinta ilusi. Itulah pacaran, emang bukan jalan menempuh cinta sejati.