26. Apa Tidak Puas?

1878 Words
Asia tidak bisa tidur, tidak seperti Eugene yang sudah memejamkan matanya sejak beberapa puluh menit yang lalu. Tidur dengan posisi terlentang sebenarnya paling tidak bisa Asia lakukan, tapi dia terlalu takut untuk mengubah posisinya. Penyebabnya, tidak lain dan tidak bukan karena Eugene.   Selain karena tidak bisa tidur terlentang, Asia sebenarnya ingin melihat wajah Eugene juga. Malam ini Eugene tidur dengan posisi memiringkan tubuhnya. Eugene yang tidur menghadapnya, bukankah itu suatu keuntungan? Tapi sayangnya Asia terlalu takut untuk mengubah posisi tidurnya. Dia takut Eugene menyadari jika dirinya tengah diperhatikan.   Melalui ekor matanya, Asia melirik Eugene. Pria itu tampak selalu tenang dalam tidurnya. Kejadian kemarin membuat Asia sadar jika Eugene selalu tenang dalam tidurnya. Eugene tidak melakukan banyak gerakan saat tidur, bahkan sampai pagi Eugene bisa kembali tetap seperti posisi awalnya.   Wajah tenang dari Eugene benar-benar menggodanya, Asia ingin melihat dengan jelas wajah itu.   Ayo tunggu sepuluh menit lagi, batin Asia.   Mungkin jika dia menunggu lebih lama lagi, Eugene tidak akan sadar jika dirinya mengubah posisi tidur dan memandanginya.   Lebih dari sepuluh menit berlalu dan Asia akhirnya memberanikan diri mengubah posisi tidurnya dengan menghadap Eugene. Hembusan napas Eugene kemudian terasa membelainya. Tempat tidur yang kecil membuat mereka bisa merasakan hembusan napas masing-masing.   Menggelitik dan menyenangkan, dua hal yang saat ini Asia rasakan. Dia bahkan sampai harus menggigit bibir bawahnya agar senyumnya tidak mengembang dengan lebarnya. Sangat memalukan jika Eugene menyadari jika dirinya tengah tersenyum bukan?   Kembali Asia memusatkan pusat perhatiannya pada wajah Eugene. Bulu mata yang cukup panjang, alis yang tebal, hidung yang mancung, bibir yang profesional. Sampai saat ini, Asia baru melihat pria dewasa setampan Eugene. Untuk seukuran pria yang bebas pergi ke sana kemari, kulit wajah yang berwarna tan itu sangat bersih dan tanpa noda. Bahkan diwajah itu tidak ada jerawat atau komedo di hidung mancungnya itu.   Asia terus memandangi wajah Eugene hingga dia jatuh tertidur. Dengkuran halus yang dikeluarkan Asia membuat Eugene membuka matanya. Wajah itu tampak tanpa ekspresi dan mata hitamnya memandang dengan sangat lekat.   Selama beberapa saat Eugene memandangi Asia dengan lekat, pria itu akhirnya kembali menutup mata hitamnya itu. Pergi menyambut mimpinya karena besok akan menjadi hari yang melelahkan.   Pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari muncul, Eugene sudah lebih dulu membangunkan Asia.   “Bagaimana tidurmu tadi malam?” Eugene meletakkan sup dan juga roti di atas meja sarapan mereka.   “Nyenyak.”   “Apa kamu yakin tidurmu nyenyak?”   “Kenapa kamu tidak yakin? Aku yang tidur dan merasakannya.” Asia mengambil roti yang masih hangat itu, menggigitnya kecil dan tertegun. “Rotinya enak,” lanjutnya lalu menggigit lebih besar lagi.   “Karena tempat tidurnya jauh lebih kecil.”   Kunyahan Asia terhenti. Dia kemudian menggeleng singkat, lalu terdengar kalimat oh dari Eugene. Asia yang menunduk perlahan mengangkat pandangannya dan memperhatikan Eugene yang makan dengan lahap.   “Kenapa?” tanya Eugene.   “Bagaimana denganmu? Apa kamu tidak risih harus tidur satu tempat tidur denganku?”   “Tidak.”   “Kenapa?”   Sendok yang dipegangnya itu segera dilepas. Eugene balas menatap Asia. “Aku sudah terbiasa.”   “Terbiasa satu tempat tidur dengan perempuan?”   Ekspresi kaget itu terlihat untuk sesaat di wajah Eugene sebelum pria itu tertawa.   “Kenapa tertawa?”   “Kamu selalu mengatakan apa yang langsung terbersit dipikiranmu ya.” Eugene geleng-geleng kepala.   “Ya itu kemungkinan yang paling jelas bukan?”   “Ya… dan aku suka hal itu,” sambung Eugene.   “Jadi?” Asia masih penasaran dengan jawaban Eugene.   “Aku terbiasa dengan sosokmu,” jawab Eugene singkat sebelum dia melanjutkan makannya. Ada senyum samar yang terlihat di bibir Eugene.   “Begitukah.” Jawaban Eugene bagus, tapi Asia belum menemukan jawaban yang dia inginkan. Eugene memang belum memiliki istri atau kekasih, tapi bukan berarti Eugene tidak memiliki teman tidur.   Sebebas apa kehidupan di dunia ini, Asia ingin tahu. Apakah berhubungan badan sebelum menikah di sini adalah hal tãbu?   Selesai sarapan, mereka akhirnya kembali melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan Asia sibuk memandangi luar jendela kereta kuda. Beberapa kali Asia melihat rumah yang besar dan memiliki jarak yang berjauhan dengan rumah lainnya, tapi semakin lama, rumah-rumah besar semakin banyak terlihat. Asia tidak bisa menyembunyikan ketertakjubannya itu.   “Pantas saja kamu mengatakan rumahku cukup kecil.” Asia terkekeh, masih dengan posisi memandangi luar jendela. “Di sini rumahku tak ubah rumah rakyat miskin.”   “Tidak semiskin itu. Rakyat miskin mana yang memiliki rumah dua lantai?”   “Ya dibandingkan orang-orang kaya di sini, rumahku tidak ada apa-apanya. Kira-kira, berapa lama mereka membangun rumah sebesar itu?”   “Entahlah, aku tidak tahu.”   “Orang-orang kaya itu pasti menghabiskan banyak uang untuk membuat rumah semegah itu. Jika rumah bisa semegah itu, bagaimana dengan kastil kerajaan?”   “Kamu bisa melihatnya nanti.” Eugene melirik ke luar jendela. “Kita memang sudah berada di pusat kerajaan, tapi masih butuh beberapa saat lagi untuk kita bisa melihat kehidupannya yang sesungguhnya.”   Perkataan Eugene membuat Asia terus-terusan menatap keluar jendela. Dia memperhatikan setiap kereta kuda yang melewati mereka. Setiap kereta kuda yang melewati mereka, semuanya tampak indah dan bersinar. Bahkan beberapa penduduk yang lewat memperlihatkan keindahan mereka. Ini tidak ubah seperti pusat kota di tempatnya, di mana orang-orang kaya hidup.   “Kita mulai memasuki pusat perbelanjaan.”   Jalan yang terbuat dari bata mulai mereka lewati. Asia takjub melihat arsitektur klasik dari setiap bangunan dari tempat yang Eugene sebutkan sebagai pusat perbelanjaan. Tempat-tempat makan tampak penuh dengan gadis-gadis cantik.   Saat kereta kuda mereka berhenti, Asia segera bertanya, “Apa kita harus turun?” Asia ingin melihat semuanya dari dekat, dia sudah sangat penasaran dengan kehidupan di pusat kerajaan.   “Apa kamu ingin?”   Tawaran Eugene tentu membuat Asia mengangguk dengan semangat, dia tidak ingin melewati kesempatan untuk menjelajahi pusat perdagangan dari kerajaan Rigel ini.   “Tunggu.”   “Rudolf!” teriak Eugene.   Kereta kuda yang akan berjalan itu terpaksa harus terhenti. “Ya Sir?”   “Aku akan berjalan-jalan sebentar, jemput aku 30 menit lagi di sini.”   “Siap!”   Asia tidak bisa berkata-kata. Kehidupan di dunia ini benar-benar jauh dari perkiraan awalnya. Bangunan yang megah, pakaian yang mewah, semuanya tampak jauh dari harapannya. Ini benar-benar indah dan memanjakan matanya.   “Pakaian mereka sangat berkelas.”   “Begitulah, tapi tidak semua memakai pakaian yang mewah. Tidak semua orang kaya di sini, tapi hidup mereka lebih tertata karena kerajaan membangun pusat kerajaan dengan sangat baik.”   Asia mengangguk mengerti, pantas saja dia melihat keindahan arsitektur dan pertokoan yang tertata dengan rapi.   “Pusat kerajaan memang dirancang untuk membuat para bangsawan merasa betah.”   “Apa di semua kerajaan seperti ini?”   Eugene mengangguk membenarkan.   “Ingin mampir ke toko itu?” tunjuk Eugene pada toko yang ada di ujung jalan. Sebuah toko buku yang mungkin Asia sukai.   “Apa tidak apa-apa jika kita melihat-lihat saja?”   “Tentu kita tidak akan melihat-lihat saja, Asia.”   “Apa uangmu tidak habis?” Ayolah, Asia jadi tidak enak hati karena Eugene terus-terusan mengeluarkan uangnya. Harusnya uang yang didapatkan Eugene dari menjual kudanya sudah habis.   “Aku masih punya cukup banyak uang. Bahkan aku bisa mengajakmu makan di salah satu toko kue terenak di sini.”   “Tidak, aku akan menolak untuk hal itu.” Walau menggoda, Asia tidak ingin membuat Eugene kehabisan uangnya. Eugene yang sampai pergi ke hutan belantara, itu pasti karena dia butuh uang.   “Kamu tidak bisa menolak.”   Tangan Asia digenggam dengan cukup kuat oleh Eugene. Eugene menarik Asia untuk pergi menuju toko buku. Toko buku yang mereka masuki tidak terlalu ramai. Buku-buku tertata dengan rapi di atas rak. Rata-rata buku yang terpajang memiliki halaman yang banyak hingga tampak tebal.   “Buku-buku ini bisa membantumu mengenali dunia ini.”   Tangan panjang Eugene mengambil satu buku yang ada di bagian paling atas rak. Dia sedikit membacanya lalu memberikannya pada Asia. Tidak hanya satu buku yang Eugene ambil, dua buku lainnya kemudian tersusun di tangan Asia.   “Aku suka membaca, tapi aku rasa semua ini sudah lebih dari cukup.” Tiga buku itu bahkan membuat Asia mengeluarkan banyak tenaga untuk membawanya. “Dan apa kamu tidak berniat untuk mengambil ini dari tanganku?”   “Putri seorang Duke pun tidak selemah kamu.” Buku itu diambil alih Eugene.   Tiga buku itu kemudian dibayar dan setelah keluar dari toko buku, Eugene mengajak Asia untuk makan di salah satu toko kue. Sebenarnya Eugene tidak pernah makan di toko kue yang dia masuki, tapi dia pernah mendengar jika toko kue itu sangat terkenal.   “Sudah kubilang untuk tidak usah ke sini.” Asia merasa tidak nyaman melihat gadis-gadis cantik yang duduk di dalam toko kue ini.   “Aku punya uang.”   “Awalnya masalah itu, tapi sekarang tidak lagi.” Asia bergerak tidak nyaman di tempat duduknya. “Aku merasa tidak pantas masuk tempat ini, apalagi mereka menatap kita.”   “Mereka menatap kita karena penampilanku, Asia. Apalagi aku membawa pedang.”   Tidak ada larangan memang membawa pedang di muka umum, tapi penampilan Eugene yang tak ubah seperti orang pemburu yang masuk ke tempat yang penuh dengan hal berbau manis, sangat aneh dan pantas sebagai bahan gosipan.   Asia mempertajam telinganya dan benar saja, rata-rata mereka membicarakan penampilan Eugene. Memakai jubah hitam dengan tudung yang terpasang hingga menyembunyikan bagian matanya.   “Apa kamu tidak apa-apa dengan hal ini?”   “Aku sudah terbiasa.”   Asia yakin, jika Eugene mau saja memperlihatkan wajahnya, gadis-gadis yang tengah cekikikan itu pasti akan terpesona dengan ketampanan Eugene.   Bunyi kerincing lonceng yang ada di atas pintu berbunyi dan dua orang pria masuk ke dalamnya. Asia terpaku menatap dua pria yang tampak bersinar itu. Asia bahkan tanpa sadar meneguk ludahnya. Dua pria itu tampan dan sangat rapi dengan jas yang tampak mewah.   Kue pesanan mereka yang datang mengalihkan perhatian Asia. Untuk sesaat Asia memang terfokus pada kue yang dipesan Eugene untuknya, tapi matanya terus-terus saja memandangi dua pria yang tadi masuk. Jika dibandingkan Eugene yang tampan dan terlihat kuat, dua pria terlihat tampan dan indah.   “Apa tidak puas?”   Ucapan Eugene sukses membuat membuat Asia tersentak kaget. Sendok yang ada di bibirnya itu pun bahkan tergigit olehnya.   “Maksudnya?”   “Memandangi dua pria yang ada belakang sana. Apa kamu tidak puas?”   Bagaimana Eugene bisa tahu jika ada dua pria di belakang sana? Itulah yang langsung terbersit di benak Asia.   “Bu-bukan….”   “Apa kamu punya hobi memandangi seseorang?” potong Eugene. Dia sedikit menarik tudung jubahnya ke belakang hingga memperlihatkan wajahnya secara jelas. “Aku bahkan sampai tidak bisa tidur karena kamu terus memandangiku.”   Asia seketika tidak bisa bergerak setelah mendengarkan ucapan Eugene. Jadi Eugene sadar dengan apa yang dia lakukan tadi malam!   “Aku tidak marah jika kamu memandangiku.” Ada jeda, Eugene tersenyum miring. “Tapi aku akan marah jika kamu melihat pria lain dengan tatapan seperti itu.”   Bruk!   Belum sempat Asia bereaksi, kaca jendela di samping mereka berbunyi keras. Seorang pria tampak menempelkan wajahnya di kaca itu. Eugene saat itu juga berdiri, kemudian berucap, “Tunggu sebentar di sini.”   Eugene keluar dari toko kue itu. Pria yang tadi menempelkan wajahnya di kaca jendela tadi pun tampak pergi. Asia yang duduk sendirian mulai curiga jika orang yang tadi adalah kenalan Eugene.   Tidak aneh jika pria itu mengenali Eugene. Eugene tinggal di pusat kerajaan, sudah sewajarnya ada yang mengenalnya. Dibanding memikirkan pria asing itu, ucapan Eugene yang tadi terasa mengganggunya.   Apa Eugene secara tidak langsung mengatakan jika dia cemburu dan suka padanya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD