21. Aku Mencintaimu

1867 Words
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Eugene.   Posisi Asia yang berjongkok membuat Eugene yang kebetulan baru mengambil kayu bakar di belakang menjadi penasaran.   “Menggambar.”   “Oh.”   Balasan yang terlalu singkat itu membuat Asia menekan ranting yang dia pegang. Untuk sesaat dia memandangi ranting yang dia pegang sebelum dia akhirnya menoleh ke arah Eugene.   Keringat Eugene yang tampak akan menetes dari dagu dan turun ke leher membuat Asia mendekatkan tangannya. Belum sempat Asia mengelap keringat itu, Eugene sudah menjauhkan tubuhnya.   “Apa yang kamu akan lakukan?”   Saat mengeluarkan pertanyaan itu, suara Eugene yang datar dan pelan entah kenapa terdengar menakutkan. Asia sadar jika apa yang dilakukannya pasti membuat Eugene tidak nyaman, tapi apa yang dia lakukan tadi murni karena gerak refleksnya.   “A-aku berniat mengusap keringatmu.” Asia tersenyum takut.   “Kamu tidak perlu melakukan hal seperti itu.”   “Maaf karena aku sudah bersikap lancang.” Asia menggigit bibir bawahnya, perasaan gugup sudah tidak bisa dia hindari.   “Tanganmu akan kotor.”   Mata Asia mengerjap cepat saking tidak percaya dengan apa yang dikatakan Eugene. Jadi Eugene melarangnya bukan karena merasa apa yang dilakukannya lancang, tapi karena dia memikirkan tangannya yang akan kotor?   “Aku tidak masalah. Aku sudah terbiasa dengan hal-hal yang tidak bersih.”   “Kalau begitu….”   Asia menatap Eugene penuh harap.   “Bantu aku membuat perapian. Aku akan mengurus menu makan malam kita.”   Harapan Asia untuk membantu Eugene mengelap keringat yang ada di leher itu sirna. Sambil membuat perapian, Asia memperhatikan Eugene yang tampak mahir menggunakan pisau kecil. Baginya, Eugene selalu menakjubkan.   “Aku senang kita makan banyak malam ini,” ucap Asia.   “Karena wilayah hutan ini sudah dekat dengan perbatasan dan wilayah monster sudah terlewat, akan banyak sumber makanan.”   “Sedekat apa kita dengan perbatasan?” Asia sudah tidak sabar untuk memasuki hutan wilayah kerajaan Rigel.   “Besok kita sudah bisa melihatnya.”   “Aku tidak sabar untuk besok pagi kalau begitu.”   Malam ini mereka lalui dengan lebih baik. Asia tidur nyenyak dalam keadaan kekenyangan. Makan malam yang Eugene buatkan membuatnya merasa lebih baik. Begitu pagi datang, mereka kembali bergerak untuk segera sampai di wilayah perbatasan kerajaan Rigel.   Sebuah pohon apel yang tampak menggoda menghentikan langkah Eugene.   “Ada apa dengan ekspresimu itu?” tanya Eugene saat pandangannya tak sengaja melihat Asia.   “Aku bosan makan apel,” aku Asia.   “Ini bukan untukmu.” Eugene mendengus lalu memasukkan beberapa buah apel ke dalam tasnya.   “Ini bukan karena aku manja atau apa.” Asia tampak panik begitu Eugene memberikan lirikan datarnya. “Tapi nanti aku pasti akan makan tanpa mengeluh.”   “Ayo jalan lagi,” ajak Eugene.   “Kamu tidak menganggapku gadis manja yang mengganggu bukan?” Pandangan Eugene akan dirinya terasa sangat berarti bagi Asia.   “Apa?”   Eugene yang malah balik bertanya membuat Asia tidak punya keberanian untuk kembali menanyakan hal itu. Asia ingin mengatakan sesuatu, namun dia langsung mengatupkan bibirnya. Sangat aneh jika dia menanyakan hal itu di situasi yang seperti ini.   Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan. Matahari bersinar tidak terlalu terik kali ini. Bahkan angin sepoi-sepoi menemani perjalanan mereka yang membuat suasana semakin terasa menyenangkan.   “Suasana hari ini terasa berbeda dengan hari-hari sebelumnya.” Asia meghirup udara yang terasa begitu nyaman.   “Nanti kamu juga akan tahu sendiri kenapa.”   Perbedaan suasana tentu akan jelas terasa karena dari gunung Lacaille, hingga satu kilometer ke belakang terasa lebih liar. Di tempat ini, Asia bahkan menyadari jika antara pohon satu dan yang lain tidak terlalu rapat.   “Apa yang kamu pikirkan?”   Asia tersentak kaget. “Eh? Apa?” tanya Asia bingung.   “Apa yang kamu pikirkan?”   “Tidak ada. Memangnya kenapa?” Eugene yang bertanya seperti itu jelas membuat Asia merasa kebingungan.   “Diammu itu terasa tidak biasa.”   “Apa kamu ingin aku terus berbicara?” Asia tersenyum menggoda. “Kamu kesepian ya karena aku tidak mengajakmu berbicara?” katanya lagi dengan penuh godaan.   Eugene geleng-geleng kepala mendengar ucapan penuh percaya diri dari Asia. Asia buru-buru berjalan mundur di depan Eugene. Senyumnya yang mengembang lebar membuat Eugene mengerutkan keningnya.   “Kenapa?” tanya Eugene.   “Kamu ingin mendengar cerita apalagi? Aku masih punya banyak cerita.”   Asia menatap penuh harap, dia menunggu jawaban dari Eugene. Baru saja Eugene akan menjawab, tubuh Asia terjungkal ke belakang. Eugene dengan sigap menarik Asia hingga Asia jatuh ke dalam pelukan Eugene.   Napas Asia terdengar terengah. Dia terlalu kaget dengan apa yang hampir saja menimpanya. Jika tidak ada Eugene, mungkin dia sudah terjungkal ke belakang.   Eugene menjauhkan tubuh Asia. Dia menatap Asia dengan lelah, bahkan suaranya terdengar pelan, “Kamu ini.”   “Ah, aku akan memperhatikan langkahku lagi.” Dengan gerak kaku Asia kembali ke posisinya.   “Hmmm….”   Berapa ratus meter berjalan, Asia melihat jika cahaya yang menunjukkan ujung dari pepohonan yang rimbun.   “Kita hampir sampai di perbatasan.”   “Iyakah? Apa di depan sana?” Asia benar-benar sudah tidak sabar untuk segera sampai di hutan kerajaan Rigel.   “Bisa dibilang seperti itu.”   Tepat di ujung hutan, Asia terpana melihat pemandangan yang tersaji di depannya. Sebuah hamparan padang rumput yang luas dan di beberapa titik penuh dengan berbagai macam bunga. Ini adalah pemandangan yang Asia hanya lihat di komputernya.   “Kita harus melewati sungai yang ada di bawah sana.”   “Tunggu, biarkan aku menikmati pemandangan ini,” pinta Asia. Ini pemandangan yang sangat indah sekali dan dia tidak bisa membiarkan hal ini berlalu begitu saja.   “Kita memang tidak akan langsung pergi, aku akan menunggu kuda yang mungkin saja melewati tempat ini.”   “Kita akan bermalam di sini?” tanya Asia antusias.   “Kita akan bermalam di pinggir sungai.” Eugene membenarkan.   “Ah, di bawah sanakan?” tunjuk Asia pada sungai yang terlihat kecil karena cukup jauh dari tempatnya sekarang.   Eugene mengangguk. Senyum Asia mengembang lebar. “Kalau begitu aku bisa bermain sepuasnya di sini.”   Asia berlari ke depan dan saat dia berlari, bunga dandelion yang ada di sana beterbangan akibat tersentuh ujung roknya. Tidak hanya bunga dandelion saja yang beterbangan, aroma bunga-bunga yang tersentuh pun tercium sangat harum. Setelah berhari-hari di dalam hutan yang menakutkan, melihat tempat secantik ini membuat Asia tenaganya terisi penuh.   Asia berbalik dan mendapati Eugene berjalan pelan mendekatinya. Asia diam dan berseru, “Apa kamu mencium aromanya? Ini sangat harum.”   Langkah lebar Eugene terhenti tepat di depan Asia. tubuh Eugene menjulang tinggi di depan Asia. Dia mengangkat tangannya dan menyentuh rambut Asia. Asia melotot, dia bahkan mulai memerah.   Apa Eugene akan menciumnya? Di hamparan rumput hijau yang dipadukan dengan bunga, bukankah tempat ini sangat pas untuk melakukan hal romantis? Tanpa bisa dicegah, Asia menutup matanya.   “Kenapa kamu menutup matamu?”   “Eh?” Pertanyaan Eugene sukses membuat Asia membuka matanya.   “Ada banyak bunga dandelion di kepalamu.”   Satu dandelion Eugene perlihatkan. Ah, sekarang Asia mengerti kenapa. Dia kemudian tertawa canggung.   “Ah, biarkan saja. Aku malah berniat untuk tiduran tadi.” Asia menunduk malu.   “Kita harus mencari tempat yang lebih nyaman kalau begitu.”   “Oke!”   Asia kembali berjalan mendahului Eugene. Dia berlari dan berhenti di kumpulan bunga yang berwarna biru muda.   “Aku akan memetik bunga dulu!” teriak Asia.   “Semua perempuan ternyata sama saja.”   Suara Eugene sebenarnya pelan dan jaraknya yang cukup jauh harusnya membuat Asia tidak bisa mendengar ucapannya, tapi Asia mendengar semua ucapan Eugene hingga membuatnya menoleh dengan tatapan matanya yang tajam.   “Aku tidak mau disamakan dengan perempuan yang lainnya.” Asia cemberut. Dia tidak suka Eugene menyamakannya dengan perempuan yang lainnya.   “Aku juga sering mendengar kalimat itu.” Eugene berhenti berjalan beberapa meter di belakang Asia. Dia memperhatikan sekelilingnya dengan seksama.   “Menyebalkan,” gumam Asia dan kembali memetik bunga.   Setelah selesai memetik beberapa jenis bunga yang berbeda, Asia mendekati Eugene. Dia kemudian bertanya, “Apa kita akan duduk di sini?”   “Ya, aku harus menunggu kawanan kuda yang mungkin saja datang.”   “Ah, oke. Semoga saja akan ada kawanan kuda yang datang. Jika ada kuda, kita tentu bisa ke kota dengan lebih cepat,” seru Asia senang.   “Ya, semoga saja keberuntungan menyertai kita.”   Eugene merebahkan tubuhnya dan tidur dengan berbantalkan lengannya. Matahari yang tertutup awan membuat di padang rumput ini tidak terlalu terik. Udara saat ini jelas sangat mendukung.   Asia melirik Eugene sejenak, dia kemudian kembali fokus pada bunga yang dia berniat rangkai untuk jadikan mahkota. Senyum Asia terus mengembang saat dia membuat mahkota bunga itu. Satu mahkota selesai dia buat, selanjutnya dia kembali membuat mahkota bunga yang kedua.   Mahkota bunga yang kedua memiliki lingkaran kepala jauh lebih besar daripada yang pertama. Begitu selesai membuatnya, Asia meletakkannya di atas kepala Eugene. Eugene yang merasakan sesuatu menyentuh kepalanya dan mengenai keningnya sontak saja membuka matanya.   Begitu membuka matanya, Eugene langsung melihat sosok Asia di depannya. Asia yang tersenyum lebar.   “Bagaimana? Apa mahkota bunga yang kubuat indah?”   Tidak ada jawaban dari Eugene. Pandangan matanya tampak menelisik.   “Bagaimana?” tanya Asia.   Eugene mengangguk pasrah. “Ya, cantik.”   Asia menjauhkan tubuhnya dari depan Eugene, Eugene pun langsung bangun dari tidurannya. Mahkota bunga yang jatuh dari kepala Eugene segera diambil dan diletakkan kembali ke atas kepala Eugene.   “Jangan dilepaskan.” Asia menahan tangan Eugene yang hendak mengambil mahkota bunganya.   “Ah….” Eugene tampak pasrah dan menjauhkan tangannya dari atas kepalanya.   “Aku selalu bermimpi untuk bisa menghabiskan banyak waktu di tempat seperti ini.”   “Memangnya di tempatmu tidak ada tempat yang seperti ini?”   Asia menggeleng. “Seingatku, bunga-bunga liar yang seindah ini tidak ada.”   “Akan banyak hal indah yang bisa kita lihat di sini.” Eugene memetik bunga kecil di depannya. “Aku akan mengajakmu untuk melihatnya kapan-kapan.”   “Benarkah?” tanya Asia antusias.   “Jika kita kembali dengan selamat.”   Kesenangan Asia langsung terhenti karena ucapan Eugene itu. Itu terdengar seperti mereka tidak akan selamat. Padahal Eugene sekuat itu karena berhasil membunuh semua monster yang mencoba menyerang mereka, pastilah mereka akan bisa pulang dengan selamat bukan?   Angin yang berhembus dengan kencang membuat mahkota bunga milik Asia jatuh dan rambut panjangnya menutupi wajahnya. Begitu angin berhenti berhembus, Asia seketika dikagetkan dengan mahkota bunga yang diletakkan Eugene di atas kepalanya. Tidak hanya itu, Eugene bahkan merapikan rambutnya juga.   Perlakuan Eugene itu membuat wajah Asia kembali memerah. Dengan ekor matanya Asia melihat sosok Eugene yang sekarang tampak fokus menatap jauh ke depan sana.   “Terima kasih,” bisik Asia.   “Iya.”   Asia menunduk dan tersenyum. Rasanya sangat menyenangkan saat Eugene memberikan perhatian kecil seperti itu. Jika terus-terusan seperti ini, rasa sukanya pada Eugene akan semakin besar.   Ya, Asia akhirnya menyadari jika apa yang dirasakannya pada Eugene adalah rasa suka. Debaran yang selalu dia rasakan untuk Eugene terasa sama seperti yang dia rasakan saat di dunianya dulu.   Jika bisa, ingin sekali Asia mengatakan aku mencintaimu. Tapi dia sadar jika apa yang dia lakukan itu akan membuat mereka berdua merasa canggung. Jika keadaannya lebih baik dari sekarang, Asia berjanji pada dirinya sendiri untuk berani mengungkapkan perasaannya. Dia tidak ingin kejadian lampau terulang kembali.   Lalu bagaimana dengan kehidupannya di dunianya yang dulu? Jika ditanya seperti itu, entah kenapa Asia tidak yakin jika dirinya bisa pulang. Jadi, lebih baik dia mulai terbiasa dengan kehidupan di dunia ini bukan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD