22. Tiba di Desa

1763 Words
“Apa rasanya tidak akan aneh?” Tatapan penuh keraguan itu tergambar jelas di wajah Asia.   “Kita tidak punya pilihan lain.”   “Bagaimana jika kamu juga naik ke atasnya?” tawar Asia.   “Kuda itu tidak akan bisa sampai ke seberang sungai jika aku ikut naik ke atasnya Asia.” Sungai yang beraliran deras membuat Eugene mau tidak mau harus menuntun kuda yang akhirnya dia tangkap.   Wajah Asia tertekuk, dia takut untuk naik ke atas pundak kuda yang bahkan hanya dilapisi jubah serbaguna milik Eugene. Hanya jubah tidak akan mengubah banyak hal. Jika di atas punggung kuda itu dilapisi pelana, jauh terasa lebih baik.   “Ayo naik.” Eugene sudah menyiapkan pahanya sebagai tumpuan agar Asia bisa naik ke atas punggung kuda.   “Jaga aku.” Meski ragu, Asia perlahan mengangkat kakinya dan mendaratkannya di paha Eugene. Baru saja kakinya mendarat di paha Eugene, Asia langsung menjauhkan kakinya itu.   “Kenapa?!” tanya Eugene. Dia tidak mengerti lagi apa yang membuat Asia mengurungkan niatnya.   “Aku tidak bisa menginjakmu.” Merasakan kakinya menginjak paha Eugene membuat Asia merasa tidak enak.   “Oh Ya Tuhan,” desis Eugene sambil mengusap wajahnya frustrasi.   Eugene bangun dan tanpa bertanya dia langsung mengangkat Asia dan mendudukkannya di atas punggung kuda.     “Akh!” Asia refleks berteriak dan memegangi lengan Eugene dengan kuat. Dia tidak menyangka jika Eugene akan mengangkat tubuhnya langsung.   Senyum puas tersungging di bibir Eugene. Seharusnya dia melakukan hal ini dari tadi. Eugene memperhatikan Asia yang menutup matanya dengan erat, sangat erat malahan karena kerutan di mata dan alis itu terlihat sangat jelas.   “Takut.”   “Aku bisa saja meninggalkanmu jika kamu masih saja menutup matamu.”   Ancaman Eugene itu sukses membuat Asia membuka matanya lebar. Eugene tersenyum puas. Dia memang harus memberi ancaman agar Asia tidak menghambat waktu mereka untuk pulang.   “Sekarang benarkan posisi dudukmu. Letakkan kedua kakimu di kedua sisi kuda.”   Asia benar-benar tidak bisa melawan, dia pun mengubah posisi duduknya seperti yang disarankan Eugene. Setelah itu, barulah Eugene memberikan tali yang sudah dia pasang di kepala kuda.   “Pegang ini, tapi jangan menariknya.” Sisi yang lain dari tali itu dipegang oleh Eugene. Barulah setelah Asia memegang tali itu, dia mulai menuntun kuda ”Jangan tegang seperti itu,” tegur Eugene.   “Ini rasa aneh dan menakutkan.”   “Tidak nyaman memang, tapi tahan saja.”   Eugene akhirnya masuk menuntun kuda itu ke dalam sungai. Dari yang hanya sebatas mata kaki, perlahan menjadi sepinggang Eugene dan air sungai itu juga sudah mengenai kaki Asia juga.   “Bukankah lebih bagus jika aku turun saja?” tanya Asia.   “Jangan gila Asia. Arus sungai ini sangat deras.” Eugene bahkan sampai harus memakai mãna miliknya agar tidak terbawa arus.   Asia diam, dia menjadi bersalah. Permintaannya pasti membuat Eugene merasa kesal. Jika dia sampai turun hanya karena tidak nyaman, Eugene pasti akan lebih kerepotan.   Sungai yang luas dengan arus yang deras membuat mereka masih berada di tengah sungai. Bahkan air sungai sekarang sudah sampai di leher kuda yang ditunggangi Asia.   “Eugene, kamu tidak apa-apa?” Asia khawatir Eugene akan terbawa arus.   “Iya.”   Hanya jawaban singkat dan Asia tidak berani bertanya lebih jauh. Pandangan mata Eugene yang serius dan rahang yang terkatup rapat itu membuat Asia tidak berani bertanya lebih jauh. Eugene pasti butuh konsentrasi untuk membawanya keseberang dengan lebih aman.   Akhirnya setelah bermenit-menit terendam di dalam sungai, mereka akhirnya keluar dari dalam sungai. Kuda itu pun dituntun menuju rumput di dekat sebuah pohon. Bagian seberang dari padang rumput adalah hutan dan malam ini mereka akan kembali bermalam di dalam hutan.   “Kita hanya sebentar di sini, jadi pergunakan waktumu untuk beristirahat.”   Tangan Asia dengan perlahan melepas ikatan gaunnya. Saat dia hendak mengangkat gaunnya, Eugene yang melihat itu sontak berseru, “Apa yang akan kamu lakukan?”   Asia berbalik dan dengan wajah polosnya dia berucap, “Aku akan menjemur bajuku. Jauh lebih cepat kering jika aku melepasnya.”   “Ambil jubah ini.” Eugene melempar jubah ke arah Asia.   “Hari ini cukup panas, aku tidak ingin memakai jubah.” Memakai gaun saja Asia sudah merasa gerah, apalagi jika dia memakai jubah hitam. Mungkin dia sudah terpanggang karena kepanasan.   “Pakai Asia,” tegas Eugene. Rahangnya tampak mengeras.   “Apa kamu tidak sadar jika hari ini sangat panas?” Asia melempar kembali jubah itu.   “Ini musim semi dan ini tidak ada apa-apanya dengan musim panas yang sesungguhnya Asia. Jadi, pakai dan jangan mengeluh.” Kembali Eugene melempar jubah itu.   Jubah itu di ambil Asia, dia pun berbalik memunggungi Eugene dan melepaskan gaunnya. Gaun itu kemudian dia jemur di atas rumput yang tersinari matahari dengan terik, barulah setelah itu Asia menjadikan jubah itu sebagai tempat duduknya.   “Aku menyuruhmu untuk memakai jubah itu untuk menutup tubuhmu, Asia,” desis Eugene tak suka. Jika diperhatikan, wajah Eugene terlihat suram.   Asia bangun dari duduknya, dia mengambil jubah itu dan mengibaskannya. “Apa kamu tahu jika warna hitam itu warna yang akan menyerap cahaya?” tanyanya.   “Aku tidak peduli dengan hal itu.”   “Sayangnya aku peduli dengan hal itu. Warna hitam yang menyerap cahaya akan menyebabkan panas. Sehingga jika berada di bawah terik matahari, seseorang yang memakai pakaian hitam akan merasa jauh lebih kepanasan. Apa kamu tidak pernah diajarkan tentang hal semudah ini?”   Helaan napas Eugene terdengar begitu berat. Dia kemudian berucap, “Oke terserah.”   Setelah kalimat menyerah itu terdengar, Asia tersenyum lebar. Dia kembali menjadikan jubah itu sebagai alasnya, tapi kali ini Asia memilih untuk tiduran.   “Jangan sampai tertidur.”   Asia mengubah posisi tidurannya yang mulanya terlentang menjadi menghadap Eugene. “Aku tidak berniat untuk tidur. Aku hanya mencoba untuk menenangkan kembali perasaanku yang tidak menentu.”   “Kamu terlalu berlebihan untuk seseorang yang duduk di atas kuda.” Eugene melempar sisa apel yang dibawanya. Apel itu sukses mengenai kepala Asia yang membuat Asia mengaduh kesakitan.   “Sakiiit!” Asia mengelus kepalanya yang terkena apel itu.   “Mulai lagi,” keluh Eugene.   “Tapi ini memang benar-benar sakit.”   “Perasaanmu saja.”   Krek!   Bunyi sesuatu yang patah itu sukses membuat Asia menatap Eugene. Dia langsung menemukan sumber suara itu begitu pandangannya tertuju pada Eugene. Sebuah apel tampak hancur karena genggaman Eugene. Asia meneguk ludahnya dan kembali ke posisinya.   “Iya, hanya perasaanku saja,” kata Asia takut.   “Hmmm….”   Asia melirik Eugene sejenak dan bergumam, “Dia selalu saja mengancamku.”   Tapi aku suka, lanjut Asia dalam hatinya.   * * *   Tiga hari berlalu dan sekarang Asia sudah terbiasa duduk di atas punggung kuda. Dia terbiasa karena ada Eugene juga yang menjaganya. Jika bukan karena Eugene, Asia tidak berniat untuk menunggangi kuda secara langsung.   “Kita beruntung karena berada di wilayah yang tidak terlalu banyak monsternya.”   “Tapi, malah banyak bandit.” Dibanding monster, entah kenapa bandit terasa lebih menyeramkan bagi Asia. Tapi untungnya Eugene memilih untuk bersembunyi daripada melawan para bandit yang lewat.   “Setidaknya kita aman.”   “Iya, aku senang akhirnya kita bisa melihat desa terdekat.”   Melihat rumah-rumah yang ada di bawah sana membuat Asia merasa senang. Akhirnya dia bisa tidur dengan lebih aman dan nyenyak.   Aman dan nyenyak? Ulang Asia dalam pikirannya. Dia kemudian berucap, “Bagaimana selanjutnya?”   “Bagaimana apanya?”   “Jika kita sampai di desa, apa yang harus kita lakukan?”   Sekelumit pikiran berkecamuk di kepala Asia tentang Eugene. Apa Eugene memiliki uang untuk mereka gunakan di desa? Apa mereka bisa hidup lebih baik dibandingkan saat mereka di hutan? Bagaimana jika Eugene pergi ke hutan untuk mendapatkan barang untuk dijual, tetapi karena kehadirannya Eugene malah tidak bisa menjual apa-apa.   “Kita akan bermalam dan besok kita harus sudah berangkat menuju pusat kerajaan Rigel.”   “Ah, oke.”   Mereka akhirnya tiba di desa. Tujuan pertama Eugene adalah pasar. Dia harus mencari tempat untuk menjual kuda yang dia dapatkan ini. Eugene harus melakukan itu karena uangnya tidak akan cukup untuk menyewa kereta kuda. Dia mau tidak mau harus menyewa kereta kuda karena Asia.   Asia takjub dengan desa yang sekarang dilewatinya. Kehidupan mulai terlihat di sepanjang jalan yang dilaluinya.   Ini pertama kalinya Asia melihat seseorang selain Eugene. Perempuan-perempuan yang Asia lihat memakai gaun. Mereka tampak cantik dengan gaun yang beraneka ragam itu. Asia kira kehidupan di desa ini akan sangat menyedihkan atau cukup terbelakang seperti di serial televisi yang dia tonton. Tapi, cukup modern untuk sesuatu yang terkesan lampau.   “Mereka sangat cantik,” kata Asia takjub saat melewati gadis-gadis yang tengah mengobrol. Aroma parfum yang mereka kenakan bahkan tercium dengan jelas.   “Benarkah?”   “Iya, apalagi rambut mereka berwarna-warni. Bukannya terlihat aneh, mereka malah terlihat sangat cantik.”   “Apa yang mereka kenakan bisa dibilang masih sangat sederhana, Asia.” Eugene menghentikan laju kudanya. Dia kemudian turun dari kuda dan mendongak menatap Asia. “Jika kita tiba di pusat kerajaan Rigel, kamu bisa melihat bagaimana kehidupan para bangsawan yang sesungguhnya.”   Eugene mengulurkan tangannya. “Ayo turun,” tambahnya.   “Untuk apa kita ke sini?” tanya Asia bingung. Ada banyak pria-pria yang memandangi mereka sekarang.   “Menjual kuda ini.”   Ah, sekarang Asia mengerti darimana Eugene mendapatkan uang untuk mereka gunakan untuk hidup.   “Apa aku boleh menunggu di sana?” tanya Asia. Dia merasa tidak nyaman harus mengikuti Eugene masuk ke dalam tempat penjualan.   “Tidak.”   “Mereka terlihat mengerikan,” bisik Asia.   Eugene merendahkan pandangannya, dia menatap Asia dengan lembut. “Akan lebih berbahaya jika kamu menunggu sendirian di luar. Bisa saja kamu diculik oleh penjual budãk.”   Membayangkan dirinya dijual oleh seorang penjual budãk membuat Asia bergidik ngeri. Hidupnya sudah cukup susah dan dia tidak boleh lebih sengsara dari hari ini.   “Aku akan ikut,” putus Asia akhirnya.   “Bagus.”   Sambil menuntun kudanya, Eugene masuk ke dalam tempat di mana transaksi jual beli hewan berlangsung. Tidak butuh waktu lama bagi Eugene menjual kuda yang dia dapatkan itu. Kuda yang dia dapatkan merupakan kuda yang bagus, jadi sekali dilihat kudanya langsung laku terjual.   Setelah dari area penjualan hewan, Asia tidak tahu dibawa ke mana oleh Eugene. Dia tidak berani bertanya dan membiarkan Eugene membawanya. Tapi satu hal yang mengganggu Asia, aroma roti yang tercium lezat sepanjang jalan membuatnya merasa sangat kelaparan.   Sudah lama sekali rasanya Asia tidak makan enak dan dia ingin makan makanan yang lebih layak dan berbumbu. Membayangkan dirinya tidak pernah makan makanan berbumbu membuat ekspresi wajah Asia mendadak sedih. Dia benar-benar rindu dengan makanan yang kaya akan rasa.   Kruyuk!   Bunyi perut Asia terdengar cukup jelas. Asia menunduk malu, bisa-bisanya perutnya berbunyi hanya karena mencium aroma roti yang lezat. Bukankah ini sangat memalukan?   “Sepertinya ada yang kelaparan.” Suara Eugene terdengar geli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD