23. Kecupan

1900 Words
“Apa aku boleh nambah lagi?” Mangkuk sup milik Asia sudah habis untuk yang kedua kalinya dan dia masih merasa lapar.   “Makan sepuasmu.” Melihat Asia yang makan dengan lahap sudah lebih dari cukup bagi Eugene.   “Terima kasih.”   Barulah setelah mangkuk ketiga habis di makan Asia, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini Eugene kemudian mengajak Asia ke salah satu toko yang memiliki bangunan yang cukup bagus.   “Apa kamu yakin akan masuk ke dalam toko ini?”   “Memangnya kenapa?”   “Lihat pakaian kita, sangat tidak cocok untuk masuk ke dalam. Bisa saja kita diusir.”   Eugene menghela napas, dia menarik tudung jubah yang Asia gunakan hingga membuat Asia mengaduh.   “Kita punya uang, tidak akan ada yang berani mengusir kita.”   Asia hanya melihat Eugene mendapatkan satu kantung koin, tapi Asia tidak tahu itu seberapa banyak karena kekurangtahuannya akan sistem uang di dunia ini. Karena tidak bisa menolak Asia akhirnya pasrah dibawa masuk ke dalam toko.   Beberapa pengunjung di sana melihat kedatangan mereka. Asia menunduk, dia terlalu malu untuk menatap gadis-gadis yang ada di sana. Tidak banyak memang, tapi cukup membuatnya malu karena penampilannya.   Sebuah sepatu terlihat berhenti di depan mereka. Asia yakin jika mereka pasti akan diusir dari toko ini. Asia sering melihat adegan-adegan ini di televisi. Sangat klise dan berakhir dengan Eugene yang pasti akan membeli banyak karena kesal.   “Ada yang bisa kubantu?” tanya si pramuniaga itu.   “Aku butuh gaun dan juga sepatu.”   “Mari ikuti saya.”   Mereka kemudian diperlihatkan berbagai macam gaun yang berbagai macam warna dan bentuk.   Asia memberi kode agar Eugene menundukkan kepalanya.   “Aku tidak ingin ke pesta,” bisik Asia.   “Aku memang tidak berniat membelikanmu gaun pesta.”   Asia menahan tangan Eugene akan tetap pada posisinya. “Apa aku tidak bisa mendapatkan celana?” tanyanya.   “Perempuan sepertimu tidak cocok menggunakan celana.”   “Kenapa?” tanya Asia sedih.   “Perempuan menggunakan celana hanya dalam keadaan tertentu dan kamu tidak termasuk ke dalam perempuan yang bisa menggunakan celana.”   Asia cemberut mendengarnya, dia mengangguk pasrah dengan keadaan yang mengharuskannya menggunakan gaun. “Ya sudah kalau begitu.”   Asia berjalan mendekati gaun-gaun yang diperlihatkan padanya. Beberapa gaun tampak berlebihan dan Asia memutuskan untuk memilih satu gaun yang tampak sederhana. Rok yang tidak begitu mengembang dengan warna yang tidak terlalu mencolok.   “Aku pilih ini saja.”   “Kenapa hanya satu?” tanya Eugene.   “Lalu aku harus mengambil berapa?”   “Tiga, itu cukup untuk kamu berganti pakaian sebelum kita sampai di pusat kerajaan. Nanti kita bisa membeli gaun yang lain di pusat kerajaan.”   Asia berjalan mendekati Eugene dia menarik tubuh Eugene agar lebih mendekat dengan dirinya. Dia pun kemudian berbisik, “Memangnya uang yang kamu bawa cukup? Aku rasa gaun ini tidak murah.”   “Cukup. Bahkan untuk menyewa kereta kuda juga cukup.”   “Kamu yakin?” tanya Asia memastikan. Asia tidak ingin terus-terusan menjadi beban. Rasanya menyesakkan jika setiap harinya dia terus-terusan membuat Eugene kelelahan.   “Iya, Asia. Kamu ikuti saja ucapanku.”   “Ya sudah.”   Asia kembali mencari gaun yang akan dia pakai. Semua gaun yang dipilih Asia adalah gaun santai. Sepatu pun dipilih sepatu yang senada dengan gaunnya. Setelah selesai memilih gaun dan sepatu, Asia dibantu oleh pramuniaga yang melayaninya untuk mengganti pakaiannya.   Rambut panjang Asia yang biasanya dicepol atau diikat dengan rambutnya itu sekarang ditata dengan rapi. Asia akhirnya bisa melihat dirinya dengan lebih layak.   “Terima kasih,” ucap Asia begitu selesai.   “Ini memang sudah tugas saya.” Sang Pramuniaga tersenyum sopan. “Mari saya antar kembali ke partner Lady.”   “Iya.”   Asia mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia sudah tidak sabar melihat wajah kaget dari Eugene. Eugene pasti sadar jika dia tidak seburuk yang dia lihat sehari-hari.   “Eugene,” panggil Asia begitu tiba di tempat Eugene menunggu.   “Sudah selesai? Tidak ada yang kamu butuhkan lagi?”   Bukannya mendapat tatapan takjub, Asia malah tidak melihat perubahan ekspresi dari Eugene. Apa penampilannya sangat biasa sekali? Tidakkah dia terlihat jauh lebih menawan dari gadis-gadis yang ada di sini?     “Tidak ada.”   “Ya sudah kalau begitu, ayo.”   Asia berjalan di samping Eugene, kepalanya tengadah menatap Eugene. “Apa kamu sudah membayarnya?”   “Sudah.”   “Lalu sekarang kita akan ke mana? Apa kita akan langsung pergi ke pusat kota?”   “Penginapan.”   “Oh, oke.”   Asia tidak bertanya lagi. Dia pun mengikuti Eugene menuju penginapan. Sepanjang jalan menuju penginapan, Asia masih saja menatap dengan takjub kehidupan di desa yang bisa dibilang tidak seburuk yang dia pikirkan.   Bunyi pintu yang dibuka membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan itu menatap kedatangan Eugene dan Asia. Asia tersenyum sopan begitu menyadari orang-orang menatapnya.   “Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” tanya si resepsionis dengan sopan.   “Aku butuh satu kamar dengan tempat tidur yang besar.”   Pandangan mata resepsionis itu langsung tertuju pada Asia. Asia yang kebetulan berdiri di samping Eugene seketika menunduk.   “Apa hanya itu saja?” tanya resepsionis itu.   “Ya.”   Resepsionis itu tersenyum singkat lalu memberikan kunci kamar. “Ardian, antar tamu kita ke kamarnya yang ada di nomor 7.”   Seorang bocah laki-laki datang menghampiri Eugene dan Asia. Di wajah anak kecil itu tersungging sebuah senyum simpul. Asia tertegun, desa yang ada di perbatasan saja setentram ini, apalagi jika di pusat kerajaan. Tidakkah ini artinya jika dunia ini memang baik-baik saja walau ada monster? Apa yang dikatakan Eugene jika dunia ini baik-baik saja dan tidak butuh sosok yang akan membebaskan dunia ini dari rangkuhan kejahatan memang benar adanya.   “Selamat menikmati waktu kalian.” Bocah itu berucap sambil tersenyum malu-malu setelah mengantar Asia dan Eugene ke kamar yang akan mereka tempati.   Sekeping koin perak kemudian Eugene berikan. Barulah setelah mendapatkan kepingan koin itu, si bocah laki-laki itu pergi. Eugene membuka pintu kamar yang akan dia dan Asia tempati untuk bermalam.   “Besok pagi-pagi kita akan kembali melanjutkan perjalanan kita.” Eugene berjalan menuju jendela dan membuka jendela kamar. Sinar jingga langsung masuk ke dalam kamar yang awalnya gelap. Eugene berbalik dan menyandarkan tubuhnya di kusen jendela.   Asia yang ada di tengah-tengah ruangan tertegun melihat ketampanan Eugene. Walau masih dengan penampilan awalnya yang tampak seperti pengembara, Eugene selalu terlihat tampan. Bahkan setelah melihat pria-pria yang ada di desa ini, Asia bisa menyimpulkan jika tidak semua orang di dunia ini terlahir dengan wajah setampan Eugene.   “Jika kamu lelah, kamu bisa tidur.”   “Ini masih sore,” cicit Asia.   Eugene berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan Asia. “Ya sudah kalau begitu, aku yang akan tidur.”   Eugene menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur yang ada di sampingnya. “Kamu bisa tidur di sisi satunya lagi. Aku tidak bisa menyewa dua kamar, jadi terima saja.”   “Iya, kita memang harus menghemat uang kita bukan.”   Asia duduk di sisi lain dari tempat tidur. Dia memperhatikan wajah tidur Eugene. Eugene pasti sangat tertekan karena tidak bisa tidur dengan nyenyak karena menjaganya.   Asia merebahkan kepalanya di atas bantal. Tubuhnya yang miring ke arah Eugene membuatnya bisa melihat wajah samping Eugene. Hidung mancung itu terlihat begitu jelas dari arah sini. Asia tersenyum simpul, ini pemandangan yang tidak boleh dia abaikan.   * * *   “Perjalanan akan memakan waktu empat hari, jadi aku harap kamu tahan selama berada di dalam kereta kuda.”   “Pasti aku akan tahan. Berjalan selama berhari-hari saja aku tahan, apalagi di dalam kereta kuda.”   “Aku sudah menduga kamu akan menjawab itu.”   “Ya, siapa juga yang akan menjawab lebih senang berjalan kaki daripada naik kereta kuda.”   Eugene tertawa. “Aku lebih suka berjalan kaki,” tuturnya.   “Pantas saja kakimu sampai-sampai berotot.” Pandangan mata Asia jatuh ke kaki Eugene dan tersenyum malu. “Kalau kakiku berotot, bisa-bisa pria yang mendekatiku akan takut.”   “Memangnya ada pria yang mendekatimu?”   Saat Eugene mengatakan itu, Asia sontak mengangkat pandangannya. Sayangnya apa yang dia lakukan itu tidak membuat dia bisa melihat ekspresi Eugene ketika mengatakan itu. Dia jelas telat.   “Tidak ada.” Tawa sumbang keluar dari mulut Asia.   “Kenapa tertawa?” tanya Eugene kebingungan.   “Aku ingat jika di duniaku, tidak ada yang berani mendekatiku.”   “Kenapa?”   “Karena katanya aku terlalu sempurna dan aku terlalu tidak peduli dengan mereka.” Kembali Asia tertawa. “Ya saat itu memang aku tidak pernah peduli dengan pria yang mencoba mendekatiku. Itu karena aku terlalu bodoh karena mengejar pria yang tidak menyukaiku. Tapi sekarang aku tidak akan seperti itu. Aku yakin jika aku pasti bisa menikah dengan pria yang kucintai dan juga mencintaiku.”   Ekspresi dan suara yang penuh tekad itu membuat Eugene mengelum senyum simpulnya. Tangannya kemudia dia letakkan di atas kepala Asia dan mengusapnya  dengan lembut. Sambil terus mengusap, Eugene pun berucap, “Terdampar di dunia yang asing ternyata membuat pikiranmu semakin terbuka.”   Usapan lembut itu membuat Asia menutup matanya, rasanya sangat nyaman saat tangan besar Eugene mengusapnya seperti ini. Asia ingin merasakannya terus-menerus.   “Itu kereta kita.”   Sebuah kereta kuda akhirnya berhenti tepat di depan mereka. Kusir kuda yang ada di bagian depan segera turun untuk menyapa Eugene. Mereka sedikit berbincang sebelum Eugene memberikan setengah bayaran dari yang sudah dia janjikan.   “Ayo masuk.” Eugene mengulurkan tangannya agar Asia bisa berpegangan saat akan masuk ke dalam kereta kuda.   “Terima kasih.”   Barulah setelah Asia masuk, Eugene masuk ke dalam. Kereta kuda yang cukup besar tentu sudah lebih dari nyaman untuk Asia tempati, tapi tidak untuk Eugene. Kakinya yang panjang akan tersiksa jika terus berada di dalam kereta.   Asia menyodorkan tangannya dan Eugene memberikan kantung kertas yang berisi chestnut. Asia segera membuka satu chestnut dan menyodorkannya ke Eugene.   “Tidak.”   “Padahal ini enak loh,” ucap Asia lalu memasukkan chestnut itu ke dalam mulutnya.   “Kita bahkan baru berangkat dan kamu sudah mulai makan.”   Asia hanya menjawab ucapan Eugene dengan senyumannya. Dia memakan chestnut itu tanpa mempedulikan ucapan Eugene.   “Eugene, minum.”   Eugene membuka tasnya dan memberikan kantung minum. Eugene memperhatikan Asia yang tengah menenggak minumannya. Air tampak mengalir dari sudut bibir Asia dan jatuh mengenai gaun.   Begitu mulut itu lepas dari mulut kantung, Asia mendesah lega. Eugene buru-buru mengalihkan pandangannya ke jendela.   “Apa pemandangan di luar indah?” Asia menyingkap korden yang menutupi jendela kereta.   “Kita masih ada di dalam desa,” keluh Asia. Dia kira dia sudah keluar dari desa yang disinggahinya ini. Kembali Asia menutup korden dan duduk seperti semula.   Eugene juga melakukan hal yang sama dan berucap, “Sebentar lagi kita akan keluar dari desa.”   Seperti apa yang dikatakan Eugene, sang kusir pun berseru dengan kencang, “Kita sudah keluar dari desa dan jalan di depan sedikit tidak mulus, jadi kencangkan pegangan Anda!”   Bukannya mengencangkan pegangannya, Asia malah membuka chestnutnya. Baru saja dia hendak memakan chestnutnya, guncangan yang cukup keras itu membuat Asia terlempar ke depan dan berakhir menabrak Eugene.   Suasana di dalam kereta mendadak sunyi. Baik Eugene maupun Asia sama-sama terdiam di posisi mereka. Bibir Asia yang sukses mendarat di bibir Eugene membuat mereka berdua tidak bisa bergerak satu sama lain. Mata mereka malah saling bertaut tanpa bisa mengalihkan.   Guncangan kembali terjadi dan kali ini Asia terlempar ke belakang. Tapi dengan sigap Eugene menahan tubuh Asia.   “Itu guncangan yang terakhir!” seru sang kusir.    Perlahan namun pasti Eugene melepaskan tubuh Asia di kursi depannya. Suasana canggung tidak bisa terelakkan karena kejadian kecupan tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD