44. Kehilangan Arah

1849 Words
Asia hilang seperti ditelan bumi, walau sudah bersusah payah mengejar Asia dengan sekuat tenaga, dia tidak dapat menggapainya. Bagaimana bisa Asia menghilang secepat itu? Di mana dia bersembunyi? Sampai sekarang Eugene tidak menemukan jawabannya. Hayalannya saja? Eugene jelas sadar seratus persen jika itu adalah kenyataan. Bahkan anak buahnya yang kebetulan bersamanya melihat Asia juga. “Oh Tuhan!” Eugene rasa kepalanya mau pecah jika memikirkan bagaimana Asia sedekat itu dengannya tapi dia malah kehilangan sosoknya lagi. Ada dua hal yang Eugene sesalkan saat dia melihat Asia kemarin. Dia yang tidak memperhatikan jendela kaca itu dan memilih keluar melalui pintu. Jika dia memperhatikan jendela dari awal, Asia pasti tidak punya kesempatan untuk kabur. Saat itu mereka berdua sama-sama kaget dengan keberadaan satu sama lain. Lalu, jika saja dia langsung memecahkan kaca jendela itu lalu keluar dari sana, dia pasti tidak akan tertahan di pintu karena para gadis yang baru saja masuk dan mencoba untuk mendekatinya. “Eugene.” Panggilan itu mengembalikan Eugene ke kenyataan. Eugene mengangkat pandangannya dan mendapati Arquimedes. “Ada beberapa gadis dengan ciri-ciri yang kamu sebutkan ada di sini.” Eugene bangun dari duduknya, dia menghampiri Arquimedes. Ekspresi wajah Eugene tidak pernah terlihat tenang, selalu saja tampak seperti seseorang yang akan membunuh apa saja yang menghalangi jalannya. “Kamu ingat bukan jika aku menyuruhmu untuk tidak pernah melukainya?” Membayangkan Asia terluka dengan tubuhnya yang lemah seperti itu, Eugene tidak tega dan tidak akan memaafkan siapa saja yang melukai Asia. “Aku sudah menyuruh mereka untuk memperlakukan orang yang diduga sebagai Asia dengan baik,” jawab Arquimedes. Dia tampak biasa saja saat melihat bagaimana marahnya Eugene. “Kalau begitu, ayo pergi menemui mereka.” Langkah Eugene lebar dan cepat. Dia harap ada Asia di antara gadis-gadis yang ditangkap. Sayang sekali dia tidak memiliki lukisan Asia yang bisa dia sebarkan agar orang-orang bisa membantunya menemui Asia. Tentu akan ada imbalan bagi orang yang bisa membantunya itu. “Sebelum masuk, lebih baik kamu menggunakan topeng,” saran Arquimedes menyodorkan topeng. Dia tidak ingin jika salah satu dari gadis ini akan melaporkan mereka ke keamanan kerajaan yang bisa saja membuat mereka harus berhubungan dengan pengadilan. Eugene memakai topeng itu dan masuk ke dalam ruangan. Mata Eugene memicing tajam saat melihat gadis yang sekarang duduk di sudut ruangan. Eugene melangkah cepat dan saat sudah bisa melihat gadis yang meringkuk itu, dia langsung berbalik dan keluar dari dalam ruangan. “Bukan?” tanya Arquimedes begitu melihat Eugene keluar dari ruangan itu. “Aku bahkan tidak perlu repot-repot membuka penutup matanya. Itu bukan Asia.” “Masih ada tiga gadis lagi. Semoga Lady Asia ada di sana.” Arquimedes membuka pintu kedua di mana dia menaruh gadis yang diduga sebagai Asia. Di pintu kedua, Eugene melihat ada kemiripan. Namun saat dia membuka penutup mata itu, jelas itu bukan Asia walau memiliki mata dan rambut yang sama hitam. Di pintu ketiga dan keempat juga sama saja, mereka semua adalah orang yang salah, mereka bukan Asia. Rasa kesal yang menyeruak ke permukaan membuat Eugene ingin sekali membunuh, jika bisa dia sudah keluar dari pusat kerajaan dan pergi menuju hutan belantara untuk membunuh monster yang dia temui. “Maaf aku belum bisa membawa Lady Asia.” Kepala Arquimedes tertunduk dalam. Helaan napas Eugene terdengar berat sekali. Dia mendongak menatap langit-langit. Pikirannya melayang lalu menggeleng. “Bawa gadis itu jauh-jauh dari sini dan berikan mereka kompensasi atas apa yang kita perlakukan.” “Baik, aku akan mengurusnya dan kamu tidak usah khawatir, pintu keluar dari pusat kerajaan akan selalu diawasi oleh anak buah kita yang sudah ditempatkan di sana. Gadis-gadis dengan ciri-ciri yang kamu sebutkan tentu akan langsung diamankan, jadi kamu jangan khawatir.” Eugene baru saja hendak kembali ke ruangannya saat dia ingat sesuatu. Dia kemudian berbalik memandangi Arquimedes. “Aku ingin bertemu Marigold, bawa sialan itu ke sini.” “Baik.” Eugene kembali ke ruangannya, dia mengambil buku gambar milik Asia yang dia simpan. Kertas-kertas yang berisi coretan Asia dipandanginya satu-satu hingga dia berhenti di gambar dirinya sendiri. Gambaran itu dibuat oleh Asia dan ada beberapa kalimat yang Asia tulis di sana. “Aku tidak tahu harus mencarimu ke mana lagi.” Kepala Eugene jatuh ke atas buku gambar itu. Dia menghirup lama-lama aroma buku yang sering Asia pegang itu. “Ayo keluar dari persembunyianmu, Asia,” lirih Eugene. * * * Setelah melewati hari-hari yang berat dan menyakitkan di rumah bordil Marigold, Asia akhirnya mendapatkan ketenangannya. Tempat dia mendapatkan ketenangan ini pun sangat mendukung. Asia rasa dia bisa betah jika berada di dalam kuil suci. Tidak peduli banyak yang harus dia kerjakan, Asia senang-senang saja melakukannya. Ini sudah hari keempat Asia di kuil suci. Sebelum memulai kegiatannya, Asia pergi menuju danau kuil. Rasanya sangat menyenangkan pergi ke sana di saat hari masih cukup gelap. Dengan bermodalkan lentera Asia akan pergi ke sana dan dia akan menunggu duduk diam di gazebo hingga matahari mulai terlihat samar dari kejauhan. Asia merebahkan kepalanya di tembok pembatas gazebo dengan danau. Jika terkena matahari siang, air danau ini terlihat sangat berkilau. Bunga wisteria yang jatuh di atas danau membuat danau tampak sangat cantik. Tempat yang indah dengan orang-orang yang baik padanya, ini jelas penyembuhan untuk dirinya. “Apa yang kamu lakukan sepagi ini?” Suara itu sukses membuat Asia terlonjak kaget. Asia memutar tubuhnya dan mendapati Jason yang berada di ambang pintu masuk gazebo. “Aku menunggu pagi di sini.” “Apa kamu tidak takut?” Asia menggeleng, tempat ini terlalu aman untuk dia takuti. “Keberadaan danau ini yang ada di bagian ujung membuat orang yang datang ke kuil kadang tidak tahu tempat ini.” Jason berjalan dan berdiri di sisi yang tidak memiliki pembatas. “Apa ini tempat kesukaanmu?” tanya Asia penasaran. Jason mengangguk membenarkan. Danau ini membuat perasaan siapa saja yang datang menjadi tenteram. Apalagi jika angin berhembus, aroma bunga yang bercampur membuat suasana semakin nyaman. “Ah begitu….” Asia mengangguk, dia kembali ke posisinya memandangi danau juga. Entah kenapa dia merasa sangat canggung jika berdekatan dengan Jason. Apa ini efek karena mereka jarang bertemu? “Apa kamu tidak mengalami kendala selama di sini? Aku dengar kamu sangat bersemangat menjalani semua kegiatanmu di sini.” “Tidak sama sekali, aku malah merasa sangat senang karena aku memiliki banyak teman di sini. Mereka mengajariku dengan penuh semangat, bagaimana mungkin aku bisa bersikap sebaliknya?” Di akhir kalimatnya itu Asia refleks menoleh ke Jason dan hal itu sukses membuat Asia bertatapan dengan mata emas Jason. Untuk sesaat Asia terpukau sebelum dia akhirnya tersenyum lebar. Asia baru pertama kali melihat mata yang bewarna emas dan terlihat sangat cantik. “Apa kamu tidak lelah? Kamu bisa mengatakan jika pekerjaan yang diberikan padamu terlalu berat.” Cepat-cepat Asia menggeleng dan berseru, “Tidak sama sekali! Aku memang suka melakukannya.” “Jangan terlalu memaksakan dirimu, apalagi tubuhmu sangat kurus.” “Eh….” Untuk sesaat Asia tersentak kaget sebelum dia kemudian berucap, “Aku tidak memaksakan diriku.” “Tapi apa aku sekurus itu?” tanya Asia pada dirinya sendiri. Suaranya bahkan terdengar sangat pelan sekali. “Apa kamu tidak sadar jika kamu sangat kurus?” Asia merasa tubuhnya baik-baik saja. Dia bahkan tidak pernah melewatkan sarapan, makan siang, cemilan sore dan makan malam. Tidak ada diet di kamusnya, jadi bagaimana mungkin dia bisa terlihat kurus. “Apa selama di sana kamu tidak diberikan makan?” tanya Jason karena Asia hanya diam saja. “Mereka memberiku makan setiap harinya.” “Jika mereka memberimu makan, kamu tidak mungkin sekurus ini.” Jason menghela napas lelah. “Aku harap kamu makan lebih banyak untuk mengembalikan berat badanmu.” Tubuh Asia sedikit condong ke depan, dia melihat pantulan dirinya di air. Wajahnya tidak berubah banyak, apa dia memang terlihat sangat kurus? “Hati-hati, Asia. Jangan sampai kamu tercebur ke dalam danau.” Teguran itu membuat Asia memundurkan tubuhnya. Tercebur, kata itu sangat akrab dengannya. Saking akrabnya membuat Asia merasa merinding saat itu juga. “Matahari akan bersinar, lebih baik kamu kembali ke asrama dan bersiap untuk doa pagi sebelum sarapan.” “Pendeta Jason,” panggil Asia. Kesempatan duduk berdua ini sudah Asia tunggu-tunggu, jadi dia tidak ingin pergi begitu saja dari tempat ini. “Ya?” “Apa Pendeta percaya jika ada dunia lain selain dunia ini?” Asia penasaran dengan pandangan Jason tentang dunia ini. Siapa tahu Jason mengetahui sesuatu yang bisa membawanya pulang. “Apa maksudmu kehidupan setelah kematian?” Apakah dirinya sudah mati? Apa ini adalah kehidupan setelah kematian? Asia tidak tahu harus menjawab apa. Dia bingung dengan keadaannya ini. “Dewa tidak pernah menjelaskan tentang kehidupan setelah kematian. Semua yang mati akan hilang dalam ketenangan. Hanya nama mereka yang bisa dikenang oleh orang seperti kita.” “Bagaimana dengan dunia lain? Sebuah kehidupan yang jauh berbeda dari tempat ini? Apa itu ada?” “Tidak ada. Di setiap pesan yang diturunkan dewa atau literatur lainnya, tidak ada yang pernah membahas tentang dunia selain di tempat ini.” Seperti palu yang dihantam ke kepalanya, Asia merasa sangat pusing. Seorang pendeta seperti Jason saja sudah mengatakan demikian, apalagi orang lain. Apa tidak ada kesempatan untuknya bisa kembali ke kehidupannya. Langkah Jason begitu pelan hingga Asia tidak sadar jika Jason sudah ada di sampingnya. Jason memperhatikan ekspresi wajah Asia. “Kamu tidak berniat untuk bunuh diri bukan?” Refleks Asia menoleh dan berseru, “Eh?” “Jangan berpikir untuk mengakhiri hidupmu hanya karena kamu frustrasi karena tidak mengingat keluargamu dan menjadi buronan dari rumah bordil. Hidup tidak selamanya suram, apa kamu mengerti maksudku kan?” Asia tertegun mendengar ucapan itu. Dari ucapan itu Jason jelas sangat peduli padanya. Asia kemudian mengangguk, dia sangat mengerti maksud dari ucapan Jason itu. “Tidak, aku tidak ingin mati. Aku ingin hidup dengan bahagia hingga aku bisa mengingat semuanya dan bisa pergi dengan aman dari kuil suci.” “Jika kamu merasa ada sesuatu yang membebanimu, kamu bisa bercerita padaku. Aku akan membantumu mencari jalan keluarnya.” Jason menepuk pundak Asia. “Kalau aku boleh tahu, berapa usia Pendeta?” Asia tidak tahu kenapa dia mendadak penasaran dengan usia dari Jason. “28 tahun, sudah sangat tua bukan?” Jason terkekeh. “Tidak, Pendeta terlihat masih sangat muda.” “Kamu membuatku tersanjung mendengarnya.” “Tapi aku serius! Pendeta masih sangat muda.” Jason kembali terkekeh dengan reaksi Asia yang menurutnya lucu. “Iya Asia, iya.” Sinar matahari yang terlihat samar-samar membuat Jason kemudian berucap, “Bagaimana jika kita kembali ke asrama? Sepertinya yang lainnya sudah bangun untuk melakukan doa pagi.” “Apa Pendeta Jason yang akan memimpin doa pagi kali ini?” Suara Jason saat membacakan doa itu sangat indah dan Asia senang mendengarnya. “Tidak, kali ini Kepala Pendeta Agung yang akan memimpin.” Jason berbalik, dia sedikit menoleh ke arah Asia. “Ayo jalan.” Asia mengangguk, dia pun berjalan beriringan dengan Jason. Perjalanan ke asrama yang sepi membuat Asia kembali mengingat pembicaraannya dengan Jason tadi. Tidak ada literatur yang membahas tentang dunia lain. Jika tidak ada yang berpikir akan keberadaan dunia lain, apa dia harus benar-benar pasrah untuk selamanya hidup di tempat ini? Kepalanya benar-benar pusing, Asia tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD