“Bagaimana rasanya?” tanya Leocadia yang merupakan penanggung jawab perekrutan pembantu pendeta suci.
“Manis.”
“Oh ya?” Sebelah alis Leocadia tertarik ke atas, terlihat senyum samar dari perempuan paruh baya itu.
“Ya, rasanya manis tapi ada sesuatu yang unik di dalamnya, saya tidak bisa mendefinisikannya. Lalu aromanya seperti aroma bunga. Apa ini teh bunga?” tanya Asia penasaran. Dia sudah belajar cukup banyak tentang teh dari Challisa, tapi Asia baru merasakan teh yang seunik ini.
“Ya.” Leocadia terkekeh. “Habiskan,” perintahnya.
Asia mengangguk dan menyesap tehnya hingga tidak bersisa. Asia menurunkan cangkir tehnya. Dia tersenyum canggung karena Leocadia terus-terusan tersenyum ke arahnya.
“Maaf sebelumnya, saya sudah siap untuk melakukan tesnya,” ucap Asia pelan.
“Kamu sudah melakukan tesnya dan kamu sudah lolos.”
Asia mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya. Dia sudah melakukan tesnya? Yang dia lakukan dari tadi hanya minum teh. Tidak mungkin itu tesnya bukan?
“Sekarang kamu sudah bisa keluar. Pendeta Jason pasti sudah menunggumu untuk diperkenalkan tentang kuil suci ini.”
Seperti robot yang kaku Asia mengangguk. Dia kemudian berjalan keluar masih dengan perasaan tak menyangka. Tes yang dilakukan hanya dengan mengomentari teh? Yang benar saja.
“Sepertinya kamu lolos.”
Asia menoleh ke kirinya dan mendapati Jason bersandar pada tembok di samping pintu.
“Apa tesnya hanya seperti itu?” tanya Asia tidak percaya.
“Ya, sangat sederhana bukan?”
“Aku masih tidak percaya.” Membandingkan tes dengan yang sering dilakukan di dunianya dulu dengan ini membuat Asia masih takjub dengan apa yang baru saja terjadi.
“Apa kamu tidak senang?”
Asia menggeleng. “Tentu aku senang,” serunya cepat.
“Bagus kalau begitu.” Jason menegakkan tubuhnya. “Karena kamu sudah selesai melakukan tes….”
Tubuh Asia tertarik ke samping kanannya dan membentur tubuh seseorang. Asia hampir menjerit karena takut itu Eugene jika bukan karena suara yang kemudian terdengar.
“Aku akan menemanimu mengambil baju dan mengajakmu berkeliling.”
Kayla, pendeta muda itu sukses menakuti Asia. Jason terlihat memberikan tatapan tajam pada adik perempuannya itu.
“Apa kamu tahu jika Asia tampak sangat kaget karena ulahmu, Kayla?” tegur Jason kemudian.
“Benarkah itu Asia?” Kayla memutar tubuh Asia dan melihat ekspresi wajah Asia yang malah tersenyum canggung. Kayla memberikan tatapan penuh penyesalannya. “Maaf membuatmu kaget, aku hanya terlalu senang karena kamu diterima sebagai pelayan di kuil suci.”
“Tidak masalah, aku hanya sedikit kaget dan itu tidak akan membuatku mati tentu saja,” balas Asia.
Kayla terlihat senang mendengarnya, dia bahkan langsung memeluk Asia begitu saja. “Kamu memang baik sekali, Asia. Tidak seperti Kakakku.” Kayla memberikan lidah menjulurnya ke Jason.
“Hahaha… aku tidak lebih baik dari Pendeta Jason.” Asia jadi tidak enak karena kakak beradik malah ribut karena dirinya.
“Apa kamu tidak jadi mengurus pendeta baru?” tanya Jason.
“Cornelius sudah mengambil alih tugasnya lagi.”
“Apa dia tidak jadi pergi?”
Kayla mengendikkan bahunya, dia sendiri tidak tahu menahu tentang hal itu. Dia bahkan terlalu malas untuk bertanya.
“Ya sudah kalau begitu, urus Asia.” Jason menurunkan sedikit pandangannya ke arah Asia. “Kalau begitu aku permisi, semoga kamu nyaman di kuil suci.”
“Ya, sekali lagi terima kasih.”
Sekarang tinggallah Asia dengan Kayla, mereka berdua berjalan menyusuri lorong yang sepi. Jika Jason tenang, Kayla tampak sangat aktif. Mereka mirip dari segi wajah, tapi dari segi sikap mereka yang jelas berbeda.
“Aku akan menjelaskan dengan detail setiap bagian dari kuil suci.” Kayla merangkul Asia. “Apa kamu pernah masuk ke dalam kuil suci?” tanya Kayla.
Asia menggeleng. “Tidak pernah.”
“Kamu harus menjelajahi bagian utama dari kuil suci karena itu sangat indah sekali, sangat berbeda dengan kuil suci yang lainnya!” seru Kayla.
“Aku sama sekali tidak pernah masuk ke kuil suci manapun.”
“Kamu beruntung karena ini kuil suci utama di kerajaan ini. Di sini kekuatan suci dari dewa terasa sangat murni hingga saat kamu berada di dalamnya kamu akan merasa nyaman.”
Lorong demi lorong di lantai satu mereka lewati hingga tiba di sebuah ruangan. Di ruangan itu ada tiga pendeta perempuan yang duduk mengobrol.
“Kayla, siapa yang kamu bawa?” tanya salah seorang di sana.
“Perkenalkan ini Asia, dia pelayan kuil suci yang baru.”
“Salam kenal Asia,” ucap ketiga pendeta itu.
“Terima kasih.” Keramahan ini jelas berbeda dengan yang Asia dapatkan di rumah bordil, berbeda 180 derajat.
Salah seorang pendeta perempuan menghampiri Kayla dan Asia, mereka kemudian berdiri berhadapan. “Ingin mengambil baju dan perlengkapan?” tanya pendeta itu.
Tubuh Asia ditarik Kayla ke depan hingga Asia berhadapan langsung dengan pendeta perempuan yang berdiri tadi. “Iya, tolong carikan baju yang pas dengan tubuhnya, Kak Suli.”
“Kamu mengatakan hal yang sudah pasti Kayla.” Suli geleng-geleng kepala dengan tingkah Kayla, begitu juga pendeta yang lainnya yang tampak melakukan hal yang sama.
“Mari ikut denganku.”
Asia mengangguk, dia pun mengikuti Suli dari belakang.
“Di area kuil suci, kamu harus selalu memakai pakaian yang ini.” Empat pakaian didapatkan bewarna putih yang dibordir dengan sulaman emas.
“Pakaian ini berbeda dengan milik pendeta. Lambang dari kuil suci di baju milik pelayan lebih kecil dari milik para pendeta dan ornamen baju milik pendeta dibuat lebih rumit. Jadi kamu bisa langsung mengetahui orang yang bertemu denganmu, apakah dia pendeta atau bukan.”
Penjelasan ini membuat Asia mengingat perbedaan yang dia temui. Pantas saja dia merasa aneh dengan hal itu.
“Saya akan mengingatnya,” ucap Asia.
“Aku lupa memberikanmu ini.” Sebuah buku yang tidak terlalu tebal Asia dapatkan. “Semua tata tertib selama berada di kuil terdapat di buku ini. Selain itu, apa yang akan dilakukan para pendeta atau pelayan ada di sini. Pelajari saja semuanya agar kamu mengerti.”
Tiada hari tanpa belajar, Asia ingin tertawa mengingat hari-harinya penuh dengan belajar. Seperti kata yang ada di dunianya, belajar itu sepanjang hayat.
Asia kemudian diarahkan untuk mengganti pakaiannya. Ukuran pakaian yang diberikan Suli ternyata pas, padahal Suli tidak melakukan pengukuran pada tubuh Asia.
Asia kira hanya ada baju di sana, ternyata ikat rambut juga disediakan. Selesai mengikat rambutnya, Asia tak lupa melipat gaun miliknya, lalu memasukkan kantung uang dan berliannya yang dia bawa ke dalam kantung yang ada di pakaian yang sekarang dikenakannya. Dia tidak boleh sampai kehilangan uang dan berliannya ini.
Saat keluar dari ruang ganti, Asia tidak menemukan Suli, Suli ternyata sudah kembali ke ruangan di mana Kayla duduk menunggunya. Mereka berempat tampak heboh bercerita. Asia kira di kuil ini akan sangat sepi dan penuh dengan orang-orang yang serius, tapi ternyata tidak.
“Wah… cantik!” seru Kayla riang. Dia kemudian menghampiri Asia lalu merangkulnya. Mata emasnya memandangi Asia dengan takjub. “Tidakkah kalian bisa melihat kecantikannya?” tanya Kayla.
“Jangan berkata seperti itu,” bisik Asia, dia jadi malu karena diperhatikan oleh tiga pendeta lainnya.
Ketiga pendeta itu tampak terkekeh yang diikuti anggukan setuju.
“Kalau begitu aku akan mengajak Asia berkeliling dulu. Permisi semuanya,” pamit Kayla.
“Aku juga permisi dan terima kasih atas semuanya,” ucap Asia sopan.
Kayla mulai mengajak Asia berkeliling asrama dengan menjelaskan setiap sudut tempat yang mereka lewati. Di saat mereka berada di tempat yang sepi, Kayla akan bercerita dengan riang. Tapi saat mereka melewati pendeta atau pelayan lainnya, Kayla akan tampak sangat beribawa.
Bagi Asia, tidak hanya tempat ini yang memiliki aura positif, tapi orang-orang yang berada di sini juga sama. Tidak ada rasa was-was yang Asia rasakan saat melihat wajah-wajah yang memandanginya. Mereka semua tampak ramah walau mungkin sedikit kaku.
Keluar dari asrama, Kayla mengajak Asia pergi menuju belakang di mana terdapat kebun. Untuk beberapa bahan makanan, pihak kuil suci mengambilnya dari hasil kebun sendiri.
“Siapa yang mengurus kebun?” tanya Asia. Semua sayur yang ada di kebun ini tampak tumbuh dengan subur.
“Kebun ini diketuai Pendeta Lizbeth dan pelayan kuil suci yang akan membantu mengurusnya. Kamu juga nanti pasti kebagian untuk mengurusnya, apa kamu suka berkebun?” Baru saja Kayla bertanya seperti itu, dia kemudian tersadar dan buru-buru menggeleng. “Maaf, aku lupa jika kamu kehilangan ingatanmu,” katanya penuh sesal.
“Tidak apa-apa, aku tidak akan marah.”
“Pasti berat bagimu karena kamu kehilangan setiap momen di hidupmu.”
“Aku akan membuat momen baru dan mengingat kembali apa yang sudah kulupakan.”
Apa yang dialaminya sekarang terasa sama saja dengan alasan lupa ingatan yang diberikannya. Tidak mengingat wajah dan nama orang-orang terdekatnya membuat Asia merasa percuma. Kenangan itu malah menyakitinya karena dia tidak bisa melakukan apa-apa dengan kenangan itu.
“Taman di sini sangat indah, bagaimana jika kita ke sana?!” Kayla mencoba mengalihkan pembicaraan setelah melihat ekspresi Asia yang tampak murung.
Mereka akhirnya pergi menuju taman yang ada di sisi kanan dari bangunan kuil. Tamannya sangat luas, berbeda dengan rumah Marigold. Hamparan rumput hijau, bunga-bunga yang bermekaran dan juga pohon wisteria yang mekar menutupi bagian atap dari gazebo sehingga apabila berada di dalam gazebo, bunga wisteria itu seakan tirai.
Asia ingin melihat dari dalam gazebo, tapi rata-rata gazebo yang ada di taman ini sudah diisi oleh orang-orang yang kebetulan datang ke kuil suci untuk berdoa. Semua orang sepertinya sangat menikmati tempat ini. Sangat indah dan tenang, Asia rasa taman ini akan menjadi tempat yang akan sering dia datangi.
“Di sini sangat indah.”
“Ada bagian taman yang lebih indah dari ini juga. Apa kamu ingin melihatnya?” tawar Kayla lagi.
“Boleh.”
Semakin berjalan ke kanan melewati jalan berbata, taman kuil suci ini semakin terasa lebih dingin. Jauh di depan sana Asia melihat pohon wisteria besar dengan dahan lebar. Asia baru pertama kali melihat bunga wisteria sebesar dan seindah ini. Asia jadi ingin melihatnya dari dekat.
“Nah danau ada di bawah sana,” tunjuk Kayla ke bawah sana.
Setelah sedikit lebih dekat, Asia akhirnya melihat tangga yang mengarah ke bawah yang di sisi kiri dan kanannya terdapat pagar bunga mawar yang cukup tinggi.
“Semoga saja gazebo di depan danau sepi,” ucap Kayla.
“Ada gazebonya juga?” tanya Asia takjub. Ini pasti akan menjadi tempat yang indah, apalagi di bawah sana ada pohon wisteria.
“Iya, ayo turun.”
Mereka turun dari sana dan saat akan ke gazebo yang ada di ujung. Sosok yang berdiam diri di gazebo itu dengan membelakangi mereka membuat langkah Asia dan Kayla terhenti.
“Bisa-bisanya pria menyebalkan itu di sini,” desis Kayla.
“Itu Jason?” tanya Asia.
Pertanyaan Asia untuk Kayla terjawab langsung oleh sosok yang berdiri di gazebo itu. Sosok itu berbalik dan melihat sosok Asia dan Kayla yang berdiri mematung.
“Ya, selalu muncul di mana-mana.”
Jason tersenyum samar, dia pun berjalan mendekati Asia dan Kayla. Bunga wisteria yang menimpa kepalanya membuat Jason mendongak ke atas dan mendapati banyak bunga wisteria yang berjatuhan.
Asia yang melihat itu takjub, Jason dan orang-orang yang ada di kuil suci ini terlalu banyak mendapatkan berkah dari dewa. Mereka adalah gambaran dewa yang turun ke bumi.