42. Masuk ke Kuil Suci

1896 Words
Dari balik tirai jendela kereta kuda yang sedikit tersingkap, Asia melihat bangunan kuil suci yang tampak sangat megah. Untuk kedua kalinya Asia kembali kagum melihat kuil suci yang tampak sangat megah dan besar. Satu keanehan kemudian terjadi, Asia buru-buru menatap Jason. Dia tampak mulai panik, dia tidak ingin hal buruk terjadi lagi pada dirinya. “Bukankah kita akan pergi ke kuil suci? Kenapa kereta ini malah terus berjalan melewatinya?” tanya Asia saat kereta kuda Jason malah melewati gerbang utama kuil suci. “Kita akan melewati pintu samping yang lebih dekat dengan bagian belakang kuil suci.” “Memangnya ada apa di bagian belakang kuil suci?” “Ada tempat tinggal untuk para pendeta dan pelayan kuil suci.” Seperti penjelasan Jason, kereta kuda pun berbelok tak jauh dari gerbang utama kuil suci. Asia lagi-lagi dibuat takjub dengan bagian dalam kuil suci yang indah. Asia sedikit tidak percaya jika semua hal indah di kuil suci ini dibangun di kehidupan yang tidak canggih. Ini bahkan berkali-kali lipat indahnya daripada di dunianya. “Apa kamu baru pertama kali masuk ke kuil suci?” Pertanyaan itu membuat Asia merasa sedikit malu karena dia tanpa sadar tampak seperti orang kampungan yang seakan baru masuk ke kota. “Se-seperti yang kukatakan sebelumnya, aku hilang ingatan dan aku dibawa ke pusat kerajaan untuk dijadikan wanita penghibur, jadi aku benar-benar tidak tahu tentang kerajaan ini, atau bisa dikatakan tidak cukup tahu tentang dunia ini.” Jason menopang dagunya. “Kasus hilang ingatan adalah kasus langka.” “Iyakah? Apa tidak bisa disembuhkan?” Asia tersenyum canggung. Dia berbohong, tapi tidak sepenuhnya berbohong pada Jason. “Kepala Pendeta Agung yang menangani kuil suci di pusat kerajaan saja tidak bisa melakukannya. Tapi dari kejadian yang sudah-sudah, suatu yang berharga bagi penderita dapat mengembalikan ingatannya secara perlahan.” “Semoga saja aku bisa secepatnya mengingat apa yang kulupakan.” Jason mengangguk dengan wajah datarnya. Asia menunduk, dia merasa tidak nyaman karena Jason yang terus menatapnya, apalagi dengan memperlihatkan wajah datarnya itu. Asia sebenarnya sadar kenapa Jason sampai seperti ini, dia yang asing memang pantas dicurigai. Ya, seperti Asia yang juga mencurigai Jason untuk saat ini. Jika boleh berharap, Asia ingin Jason sebaik Debora. “Jika kamu tinggal di sini, kamu harus mengikuti semua aturan kuil suci. Nanti aku akan menjelaskannya secara detail. Sekarang kamu hanya perlu mengikutiku dan jangan mengatakan sepatah kata. Mengerti?” “Iya.” Kereta kuda itupun berhenti bergerak. Jason keluar lebih dulu yang disusul Asia. Perasaan Asia sangat tidak menentu saat ini. Karena dia akan tinggal di tempat baru dengan orang asing lagi, Asia mau tidak mau harus kembali beradaptasi. Melelahkan memang, tapi ini demi hidupnya. Asia berjalan tepat di belakang Jason. Tubuh Jason cukup tinggi bagi Asia, tapi tidak setinggi Eugene. Rambutnya yang panjang dan berwarna silver terlihat sangat berkilau jika terkena sinar matahari. Beberapa orang yang berpakaian seperti Jason melewati mereka dan menyapa Jason dengan ramah. “Hohoho, Jason.” Langkah Jason terhenti yang membuat Asia juga menghentikan langkahnya juga. Asia sedikit mengintip rupa sosok yang menghentikan Jason. Seorang pria yang lebih tua dari Jason, memakai pakaian yang sama hanya saja ada aksesoris tambahan sebuah topi yang dia pakai. Pria tua itu tersenyum dengan ramahnya. “Hormat saya kepada Kepala Pendeta Agung.” Jason memberi hormat pada kepala pendeta agung dari kerajaan Rigel. Karena Jason menyarankan Asia untuk tidak berbicara, Asia hanya mengikuti Jason memberi hormat kepada kepala pendeta agung. “Siapa yang kamu bawa?” tanya kepala pendeta agung. “Untuk sementara waktu dia berniat untuk mengabadikan dirinya untuk kuil suci,” jawab Jason. “Untuk hal itu kamu sudah tahu harus membawanya ke mana bukan?” Jason mengangguk mengerti. “Siapa namamu?” tanya kepala pendeta agung. Haruskah dia menjawabnya? Tapi Asia ingat apa yang dikatakan Jason padanya. “Apa dia tidak bisa berbicara?” tanya kepala pendeta agung. “Ah, maaf… Sir Jason menyuruh saya untuk tidak berbicara, jadi saya tidak ingin mencoba mengikuti perintahnya.” Kepala pendeta agung seketika tertawa mendengar penuturan Asia. “Benarkah itu Jason?” “Aku menyuruh dia diam agar dia tidak terjebak pertanyaan pendeta ataupun pelayan kuil yang lainnya.” “Niat yang bagus dan gadis yang patuh.” Kepala Pendeta kemudian melirik Asia. “Jadi siapa namamu, Nak?” “Asia.” “Nama keluargamu?” “Saya kehilangan ingatan, jadi saya tidak ingat bisa mengingat apa-apa,” lirih Asia. Begitu berartinya nama keluarga di dunia ini hingga Asia selalu mendapatkan pertanyaan seperti itu. “Aku turut sedih mendengarnya. Aku harap kamu bisa mendapatkan ingatanmu kembali.” “Terima kasih Kepala Pendeta Agung.” Kepala pendeta agung kemudian pergi dari hadapan Jason dan Asia. Terdengar helaan napas Jason yang membuat Asia melirik Jason. Apa keberadaannya sudah membuat Jason merasa terbebani? “Ayo kembali berjalan.” Suasana di dalam area kuil suci yang luas tidak bisa Asia jelaskan karena sangat luas terasa sangat sejuk dan memiliki suasana yang sangat nyaman. “Kuil suci adalah tempat yang diberkahi Dewa hingga membuat siapapun yang masuk ke dalam kuil suci, dia akan merasa sangat nyaman.” “Apa Pendeta bisa membaca pikiranku?” tanya Asia. “Kamu memanggilku pendeta?” “Ya itu karena Pendeta itu seorang pendeta. Akan lebih nyaman jika aku memanggil dengan sebutan Pendeta daripada Sir atau hanya dengan nama.” “Ya sudah, panggil senyamanmu saja.” “Oh ya, apa Pendeta Jason bisa membaca pikiran?” “Aku hanya menjelaskan tentang kuil suci dan aku tidak tahu jika kamu juga memikirkan tentang keadaan kuil suci ini.” Jason sedikit melirik ke belakang di mana Asia berada. “Bagaimana pendapatmu tentang kuil suci?” “Karena ini pertama kalinya aku masuk ke dalam area kuil suci, aku merasa tempat ini memiliki suasana yang sangat nyaman.” “Baguslah jika kamu berpikir seperti itu. Sebelum kamu benar-benar diterima sebagai pembantu pendeta di sini, kamu harus melalui tes dulu.” Tes, Asia yakin ini pasti akan menjadi tes yang lama untung menguji jika dirinya bukan orang yang jahat. Mengingat tadi di kereta kuda Pendeta Jason menjanjikan akan memberikan makan, Asia merasa dia perlu menagih itu dulu karena sangat lapar sekali. Asia mencoba menahan malunya dan berucap, “Pendeta, apa aku bisa makan dulu? Aku belum makan dari tadi malam.” Jason tampak kaget dengan permintaan Asia, Asia menunduk malu karena kelancangannya ini. Ingin sekali Asia mengubur wajarnya agar tidak merasa malu lagi. “Maaf aku lupa tentang itu. Kalau begitu kita pergi ke ruang makan,” sesal Jason. Di area kuil suci bukannya masuk melihat kuil suci lebih dulu, Asia masuk ke dalam bangunan yang merupakan asrama para pendeta. Warna putih dan coklat menjadi ciri khas dari bangunan asrama ini. Asia takjub memandangi setiap hal menarik yang dia lewati untuk menuju ruang makan. Sampai di ruang makan, Asia di sambut oleh deretan meja dan kursi yang cukup banyak. Di area yang cukup luas ini, di sini hanya ada mereka berdua saja. “Duduk di sini, aku akan ke dapur dan mengambilkanmu makan.” “Maaf jika aku merepotkan Pendeta.” “Sesama manusia kita memang harus saling membantu bukan?” Senyum lembut terpatri di wajah Jason yang memang memiliki tipe wajah yang lembut. “Terima kasih Pendeta,” ucap Asia. “Kamu tidak perlu berterima kasih.” Jason kemudian pergi menuju pintu dapur yang ada di sisi yang berlawanan dengan pintu masuk ke ruang makan ini. Sepeninggal Jason, Asia membuka kain yang menutup rambutnya. Di sini tentu dia akan sangat aman bukan? “Kamu siapa?” Suara lembut itu membuat Asia terlonjak kaget. Dia menoleh ke belakang dan melihat seorang gadis cantik yang memiliki rambut dan juga mata seperti Jason. Atau bisa dikatakan ini adalah versi perempuan dari Jason. “Ah, maaf….” Asia bangun dari duduknya dan memberi salam seperti yang sudah dia pelajari di kelas etika. “Aku berencana untuk mengabdi menjadi pelayan kuil suci.” “Bukannya kuil tidak membuka pendaftaran lagi, Kakak?” Kakak? pikir Asia seketika karena Asia rasa mereka seumuran. “Memang tidak, tapi dia pengecualian.” Mendengar jawaban itu Asia seketika berbalik dan mendapati Jason yang sudah ada di dekat mereka. Jason kemudian meletakkan nampan berisi makan siang untuk Asia. “Dia adikku, Kayla.” Kayla duduk di samping Asia. “Namamu siapa? Sepertinya kita seumuran.” “Aku Asia dan sepertinya kita memang seumuran.” Jika kepalanya terlalu lemot, Asia pasti tanpa sadar akan memberitahukan usianya. Bisa-bisa mereka ragu jika dirinya hilang ingatan. “Kenapa sepertinya? Tidak mungkin kamu tidak tahu hari lahirmu bukan?” “Dia memang tidak ingat tahun lahirnya,” potong Jason cepat. “Dia hilang ingatan dan kamu bisa bertanya nanti saja. Dia bisa mati kelaparan jika kamu mengintrograsinya terus-menerus.” Kayla mengangguk, tangannya membuat gerakan seakan mengunci mulutnya. Asia tidak bisa mendefinisikan betapa malunya dia sekarang. Dia sudah memberanikan dirinya minta untuk makan, sekarang dia malah disindir dengan terang-terangan oleh Jason. “Makan saja dan jangan pedulikan kami berdua.” Asia tidak punya pilihan selain memakan makanan yang sudah disediakan oleh Jason walau dia berada di kondisi sangat malu. Asia makan dalam diam dan sedikit menunduk. Dia terlalu takut untuk mengangkat pandangannya karena Jason berada tepat di depannya. “Jika kamu masih lapar, aku bisa membawakan seporsi lagi untukmu.” “Tidak usaha, ini bahkan sudah lebih dari cukup.” Asia berani jamin jika ini bukan porsi yang biasa dimakan oleh para pendeta karena ini sangat banyak sekali. Apa ini karena dia sempat mengatakan jika tidak makan dari semalam? Setelah beberapa menit dalam keheningan, Asia akhirnya menyelesaikan makannya. Dia merasa bersyukur karena dia sudah tidak kelaparan lagi sekarang. “Kamu makan sangat cepat, apa kamu sangat lapar sekali?” “Eh?” Asia mengangkat pandangannya. Dia kemudian menggeleng tidak setuju dengan apa yang dikatakan Jason. “Aku terbiasa makan seperti itu. Aku juga tidak ingin membuat kalian berdua menunggu.” “Kakak jangan berkata seperti itu, perasaan seorang perempuan itu sangat sensitif tahu,” tegur Kayla. “Maafkan atas ucapan tidak sopan yang kulontarkan.” Jason menundukkan sedikit kepalanya. “Tidak apa-apa, aku jugakan memang sangat kelaparan.” Asia meringis. “Apa sekarang kalian akan pergi untuk tes? Apa aku boleh ikut?” tanya Kayla. “Ya, kamu ada kegiatan untuk mengajari pendeta baru bukan?” Jason memastikan. Kayla tahu jika Jason berniat untuk mengusirnya. “Sebentar lagi, aku masih punya waktu untuk istirahat.” “Aku sudah bisa dites sekarang,” ucap Asia. Asia tidak ingin membuat Jason menunggu lebih lama lagi. Jason pasti tidak ingin membawa seseorang yang jahat di area kuil suci ini. “Ayo pergi kalau begitu.” Jason bangun dari duduknya yang diikuti Asia. Melihat Jason yang berjalan hendak melewatinya, Asia tersadar akan tempat makannya yang belum dia bereskan. “Pendeta Jason,” panggil Asia. “Ya?” “Aku harus menaruh tempat makan ini di mana?” Jason melirik Kayla adiknya, dia memberikan senyumnya pada Kayla. “Kayla yang akan mengurusnya, ayo pergi,” kembali Jason mengajak Asia. “Apa tidak apa-apa?” Asia melirik Kayla. Sama seperti Jason, Kayla tersenyum dengan manisnya. “Tidak apa-apa, kamu santai saja.” Asia memberi hormat. “Maaf sudah merepotkan Pendeta Kayla.” “Tidak apa-apa dan jangan memanggilku dengan sebutan itu!” seru Kayla tidak terima. “Asia, abaikan itu dan ayo pergi.” Sekali lagi Asia memberi hormat pada Kayla lalu berjalan mengikuti Jason yang berjalan dengan langkah cepat. Asia berharap jika dia bisa lulus tes hingga bisa tinggal di kuil untuk sementara waktu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD