41. Pelarian

1904 Words
Suara bising yang terdengar membuat Asia perlahan membuka matanya. Pandangan mata Asia langsung tertuju pada langit yang di atas sana. Langit masih gelap dan orang-orang masih saja berisik di luar sana. Malam yang setahu Asia sepi dan tenang malah terdengar suara langkah kuda ataupun langkah kaki orang. Percakapan orang-orang di luar sana tidak terdengar begitu jelas, tapi Asia sadar jika tidak menutup kemungkinan orang-orang yang melewati gang tempatnya ini tengah mencarinya. Lelah tiduran dengan posisi meringkuk membuat Asia memilih untuk duduk dengan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan kain usang yang dia dapatkan di atas gentong. Dia harus membuat keberadaannya tidak terdeteksi. Jangan sampai dia ditangkap, jika sampai dia tertangkap, haruskah dia bunuh diri? Membayangkan dirinya harus mendapatkan perlakuan tidak manusiawi itu membuat Asia lebih memilih untuk mati.. Sambil memeluk kakinya Asia duduk memandangi jalan yang kotor. Udara dini hari yang dingin membuat Asia semakin mengeratkan dekapannya pada diri sendiri. Dia ingin segera pergi dari tempat ini. Tuk! Sebuah batu membentur gentong yang ada di samping Asia. Asia menutup mulutnya dan semakin menundukkan tubuhnya. “Lebih baik kita beristirahat sebentar di sini. Aku haus dan butuh mengisi tenaga untuk melakukan pencarian lagi.” Asia meneguk ludahnya, sekarang dia benar-benar takut sekarang. “Aaaah lega sekali.” “Aku masih tak habis pikir dengan semua ini.” “Memangnya kenapa?” “Bagaimana bisa seorang perempuan bisa menghilang secepat itu? Jika sampai pagi seperti ini saja perempuan itu belum ditemukan, tidakkah itu karena ada campur tangan seseorang?” Dugaan Asia benar, dua orang yang ada di gang tempatnya bersembunyi ini ternyata tengah mencari dirinya. “Aku juga berpikir seperti itu. Bisa saja yang membantunya seorang bangsawan hingga bisa menghilang tanpa jejak seperti ini.” “Dia sepertinya tidak akan punya kesempatan untuk memeriksa rumah para bangsawan.” Tawa dari dua orang itu terdengar menggelegar. Asia semakin meringkukkan tubuhnya. Dia takut dan ingin segera pergi dari tempat ini. “Ayo kita kembali mencari, jika tidak ingin dimarah oleh orang gila itu.” “Tunggu aku ingin memeriksa ini sebentar.” Jantung Asia terasa berhenti berdetak untuk sesaat. Asia meringkuk semakin dalam. Kain yang dia gunakan sebisa mungkin menutupi bagian kepalanya. Bunyi tutup gentong yang di buka membuat Asia semakin terdiam. “Tidak ada?” “Ya, sudah pasti tidak ada.” Tutup gentong itupun kembali ke posisinya dan terdengar suara langkah yang menjauh. Asia masih berada di posisinya, dia tidak berani bergerak sebelum kedua orang itu benar-benar pergi dari sana. Beberapa menit berlalu dan sepi, tidak ada lagi suara langkah kaki di sana. Kain kotor yang menutupi kepalanya itu Asia buka. Dia mendesah lega karena dia tidak tertangkap. Kaki yang Asia tekuk kemudian dia luruskan, seluruh tubuhnya terasa sakit karena dia meringkuk dalam waktu cukup lama. “Bagaimana aku bisa kabur jika mereka terus melakukan pencarian seperti ini?” Putus asa dan tidak tahu harus melakukan apalagi. Marigold pasti kehilangan banyak uang untuk membelinya dari Eugene, karena itu Marigold pasti melakukan pencarian besar-besaran. Jika keadaan seperti ini, apa sangat memungkinkan bagi dirinya untuk pergi ke kerajaan lain? Bagaimana jika di perbatasan pusat kerajaan ada bagian dari anak buah Marigold yang menjadi penjaga perbatasan? Seorang m*******i seperti Marigold pasti memiliki banyak anak buah yang tersebar di seluruh penjuru kerajaan. Matahari mulai muncul dan hiruk-pikuk orang-orang yang melakukan aktivitasnya mulai terdengar. Asia duduk diam terus mencoba menyusun rencana agar dia bisa hidup bebas di sini. Kryuuk! Asia memegangi perutnya, ini masih pagi dan dia sudah lapar. Dia harus menahan rasa laparnya untuk waktu yang tidak bisa dia tentukan. Hingga matahari benar-benar bersinar dengan terik di atas sana, Asia masih saja berada di dalam gang buntu itu dengan rasa lapar yang tidak dapat ditahan lagi. Jika dia terus-terusan berada di dalam gang ini, bisa saja dia mati kelaparan. “Aku harus keluar,” gumam Asia. Asia teringat akan warna rambut mencolok di dunia ini. Rambutnya yang hitam tentu akan sangat mudah dikenali dan bisa saja dengan cepat para bawahan Marigold menangkapnya. Untuk bisa keluar dari tempat ini dia harus menutupi bagian kepalanya. Pandangan Asia tertuju pada kain usang di bawah kakinya. Dia tidak mungkin keluar dengan kain usang itu. Dirinya pasti akan semakin menjadi pusat perhatian di sini. Untuk sesaat Asia diam mencoba mencari cara hingga kemudian dia tersadar jika dia bisa menggunakan kain bagian dalam dari gaunnya. Asia buru-buru mengangkat lapisan terluar roknya. Dengan susah payah dia harus merobek bagian dalam roknya itu dan mendapatkan robekan yang cukup untuk menutupi rambutnya. Kain itu Asia pakai sebagai tudungnya. Sebuah kantung cantik yang Asia sembunyikan di dalam roknya itupun dia keluarkan. Asia mengambil beberapa lembar uang di dalamnya lalu memasukkan kembali ke bagian dalam roknya untuk berjaga-jaga tidak ada penjahat yang berniat mengambil uangnya. Asia bangun dan melangkah dengan perasaan takut. Di ujung gang Asia menunduk dan berjalan ke arah perginya kereta kuda milik Lancelot. Asia mencoba untuk bersikap tenang dan tidak panik. Saat tak sengaja mengangkat pandangannya, Asia melihat seorang penjaga di ujung jalan sana. Mata Asia liar melihat pertokoan di sampingnya, tapi Asia baru sadar jika pertokoan di sampingnya kebanyakan menjual senjata dan barang-barang antik lainnya. Asia berjalan mendekati seorang gadis yang berdiri tak jauh darinya. “Permisi,” ucap Asia sopan. Gadis itu berbalik dan memandangi Asia dengan tatapan aneh. “Ada yang bisa kubantu?” tanya gadis itu bingung. “Apa kamu tahu tempat makan di sekitaran sini?” “Tempat makan ya.” Gadis itu memandangi Asia dari bawah hingga ke atas. “Kamu bisa belok kanan dari gang di depan sana. Lalu lurus hingga kamu menemukan jalan besar.” Perasaan lega tak terkira langsung menghampiri Asia. Dia kira dia harus berjalan melewati penjaga di depan sana dan dia kira juga setiap gang di jalan ini adalah jalan buntu, tapi ternyata tidak. “Terima kasih.” Setelah itu Asia pergi sesuai arahan gadis itu. Gang yang ditunjukkan gadis itu pun cukup besar dibandingkan gang tempatnya tidur tadi malam. Beberapa orang berlalu-lalang di sampingnya dan Asia masih saja sedikit menundukkan kepalanya. Di ujung gang terdapat jalan besar dan tercium aroma makanan. Perut Asia seketika meronta untuk segera diisi. Tapi dia harus sedikit bersabar karena dia harus mencari tempat makan yang tidak terlalu mewah. Selain mewah, dia harus mencari tempat makan di mana ada banyak gadisnya di sana agar Asia bisa terlihat berbaur dengan yang lainnya. Pandangan Asia langsung tertuju pada sebuah tempat makan di mana segerombolan gadis masuk ke dalamnya. Bangunannya yang tidak semewah tempat yang lainnya membuat Asia merasa jika itu memang tempat yang dia cari. Dengan langkah cepat Asia pergi ke toko itu. Asia baru saja hendak berbelok ke tempat makan itu saat matanya tidak sengaja melihat bagian kaca. Hanya sekilas pandang dan saat itu juga Asia memutar haluannya. Tanpa pikir panjang Asia berlari sekuat tenaganya. Walau sesaat, mata mereka bertemu dan mereka berdua sama-sama terkejut karena tatapan yang tidak sengaja itu. Jantung Asia berdetak tidak karuannya. Gaunnya yang panjang dia naikkan agar dia bisa berlari dengan lebih cepat. Asia masuk ke gang yang tadi dilewatinya dan terus berlari tanpa melihat ke belakang. Suara napas Asia terdengar memburu di setiap langkahnya. Di ujung gang Asia mendengar sesuatu yang jatuh dengan keras. Asia semakin memacu langkah kakinya agar berlari lebih cepat lagi. “Asia!” teriakan menggelegar itu terdengar sampai ke telinga Asia. Saat ingin masuk ke dalam sebuah gang, Asia melihat sebuah kereta kuda. Tanpa pikir panjang Asia segera masuk ke dalam kereta kuda itu yang kosong. Dia kemudian bersembunyi di bawah tempat duduk yang merupakan tempat menyimpan barang. Tidak cukup banyak ruang, tapi hanya ini yang bisa Asia lakukan untuk dia bisa bertahan hidup. Suara derap langkah yang terdengar membuat Asia membungkam mulutnya. Asia tidak percaya karena dia begitu sial langsung bertemu dengan Eugene. Kesialan tengah menimpanya. Bunyi pintu kereta kuda yang terbuka membuat Asia terdiam. Oh Asia harap jika kereta kuda yang dimasukinya ini dimiliki oleh seseorang yang baik. Asia bisa merasakan jika kereta kuda ini mulai berjalan. Krieet~ Bagian atas tempat itu dibuka dengan perlahan dan Asia seketika membeku. Mata hitamnya bertatapan dengan mata yang berwarna emas. “Stop!” seru pria di depan Asia yang membuat kereta kuda seketika berhenti berjalan. “Siapa kamu?” suara pria itu yang lembut terdengar penuh kewaspadaan. Asia mencoba bangun dari tempat persembunyiannya itu. “Anu… aku bisa menjelaskannya, tapi bisakah kita pergi dari sini dulu?” pinta Asia. Asia takut jika Eugene kembali lagi memeriksa sekitaran jalanan ini. Suara derap langkah kembali terdengar, Asia menutup mulutnya. Dia melirik ke arah jendela dan kembali menatap pria di depannya. “Aku mohon,” bisik Asia. Pria itu terdiam untuk sejenak sebelum dia berseru, “Jalan kembali!” perintah pria itu pada kusir kuda di depan sana. Asia keluar dari tempat persembunyian itu dan duduk berhadapan dengan pria yang jika Asia perhatikan memiliki penampilan seperti seorang pendeta. Pakaian putih panjang, rambut silver panjang dengan mata emas. Dia tampak seperti utusan dewa, batin Asia yang benar-benar awam tentang dunia ini. “Siapa kamu? Apa orang-orang di luar sana tengah mengejarmu?” Asia mengangguk. “Aku dikejar bukan karena aku memiliki kesalahan, itu semua karena mereka ingin menjualku.” “Benarkah?” Mata emas itu memicing. “Aku berani bersumpah dan aku juga tidak membawa senjata, jadi kamu tidak perlu khawatir aku akan melukaimu.” Asia harus membuat pria di depannya ini percaya. “Dari mana asalmu?” “Aku dari kerajaan Ascella, aku….” “Kamu tidak bisa membohongiku,” kata pria itu tenang namun Asia bisa merasakan ancaman dibalik suara dan ekspresi yang tenang itu. “Aku akan jujur, tapi kamu jangan menahanku.” Jujur Asia takut dengan pria di depannya ini. Tapi Asia harap jika wajahnya yang seperti utusan dewa adalah pria baik-baik. “Jelaskan.” “Aku kehilangan ingatanku dan aku dijual ke rumah bordil. Aku kemudian kabur karena tidak ingin tubuhku dinikmati oleh pria yang bukan suamiku. Lalu aku berniat kabur ke kerajaan Ascella, tapi anak buah rumah bordil itu terus saja mengejarku.” “Mungkin saja sekarang mereka sudah menunggu di pintu keluar dari pusat kerajaan,” ucap pria itu tiba-tiba yang membuat Asia mengangguk setuju. “Aku juga berpikir demikian, jadi aku tidak akan bisa pergi dari pusat kerajaan hingga pencarian tentangku berhenti dilakukan.” “Apa kamu punya tempat untuk dituju?” Asia menggeleng. “Aku tidak punya tujuan dan aku buta arah.” Kryuuuk~ Bunyi perut Asia terdengar walau tidak begitu besar. Asia tersenyum canggung, bisa-bisanya tubuhnya malah mempermalukan dirinya seperti ini. Apa dia tidak tahu situasi saat ini tengah genting? “Apa kamu mau ikut ke kuil suci?” Mendengar kata kuil suci, Asia langsung merasa jika tebakannya itu benar jika pria di depannya ini memang seorang pendeta utusan dewa. Oh, Asia merasa beruntung karena dia malah bertemu dengan orang baik dan tidak menutup kemungkinan dia memiliki cara untuk membantunya pulang. “Apa tidak apa?” “Hingga situasi memungkinkan, kamu bisa bekerja membantu pendeta di kuil suci.” Tawaran ini jelas sangat menguntungkan Asia. Tanpa pikir panjang pun dia mengangguk dengan antusias. “Baiklah kalau begitu.” “Oh ya, namaku Asia.” Asia mengulurkan tangannya. “Bagaimana kamu tahu namamu sedangkan kamu baru saja mengatakan kamu kehilangan ingatanmu?” Asia tersentak kaget, dia lupa akan hal ini. Asia berdaham pelan lalu berucap, “Ini nama yang kubuat sebelum masuk ke dalam rumah bordil.” Tidak ada reaksi dari pria di depan Asia ini lagi. Mata emas itu hanya memandangi Asia dengan intens. Saat bibir itu terbuka dan mengeluarkan suara, hanya ada stau kata yang terucap. “Jason”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD