39. Kabur

1793 Words
“Menjual? Siapa bilang aku menjualmu?” Suara Eugene terdengar pelan. Sebelah tangannya kemudian menyentuh pipi Asia. Dia mengelus pipi itu hingga Asia sampai menggeleng kuat agar tangan Eugene lepas dari pipinya. “Jangan sentuh aku, b******n!” Tangan itu pun Eugene gunakan untuk memegang dagu Asia dan memaksanya saling bertatapan. “Siapa yang mengajarimu kata kotor itu? Apa ini yang kamu pelajari selama di sini?” Mata hitam nan tajam itu menyipit. Jika orang lain yang ditatap seperti ini, pasti dia sudah akan takut, tapi Asia sudah terlalu benci dengan sosok di depannya ini yang membuatnya tidak takut sedikitpun. “b******n! b******n! Kamu tidak pantas hidup! Kamu pantas mati dan membusuk di neraka! Dosamu terlalu banyak hingga b******n sepertimu tidak pantas bahagia di dunia ini!” Rahang Eugene yang terkatup rapat perlahan melemas dan terkekeh pelan. Dia kemudian menyunggingkan seringainya. “Ya, aku memang pria yang penuh dosa, Asia.” Ibu jari Eugene bergeser ke atas kemudian menyentuh bibir Asia, mengusapnya dengan perlahan yang malah membuat Asia membuka mulutnya dan menggigit ibu jari itu dengan sangat kuat. “Apa kamu serindu itu denganku hingga sampai seperti ini?” Tidak ada raut kesakitan sama sekali dari Eugene. Dia malah semakin melebarkan senyumannya. “Menggigit pria yang kamu cintai?” Seketika Asia melepaskan gigitannya dan menjauhkan tubuhnya. Karena tangannya masih dipegang oleh salah satu tangan Eugene, Asia tidak bisa lebih menjauh lagi. “Kenapa sekaget itu?” tanya Eugene. “Apa kamu ingin menggigit yang lain?” Eugene menunjukkan bagian lehernya. “Akan lebih indah jika kamu menggigit di bagian ini.” “Aku tidak sudi dan aku tidak akan pernah mencintaimu! Lebih baik kamu pergi dari hadapanku sebelum aku akan menyumpahimu dengan sumpah serapah.” “Sepertinya kamu harus belajar etika lebih banyak lagi.” “Kamu tidak akan bisa mengatur hidupku! Apa kamu mengerti?!” “Ya, aku tahu itu Asia.” Eugene menarik Asia hingga tubuh Asia menubruk tubuhnya. Eugene kemudian mengecup puncak kepala Asia. “Aku membencimu! Menjauh dariku!” raung Asia semakin keras. Dia tidak sudi tubuhnya disentuh oleh Eugene. “Tunggu aku di sini,” bisiknya lalu melepaskan Asia begitu saja. Asia terpaku memandangi kepergian Eugene. Dia tidak tahu kenapa dia tidak mengambil sesuatu lalu melemparkannya ke kepala Eugene. Tubuhnya kaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali. Tapi setelah pintu itu tertutup dan dia sendirian di kamar itu, Asia jatuh terduduk. Dia menutup wajahnya dan menangis. Dia lemah karena melihat Eugene dan dia lemah karena sentuhan itu. Ke mana perginya semangat berapi-api untuk membunuh Eugene? Kenapa dia tidak bisa melukai Eugene? Bahkan saat menggigit ibu jari Eugene tadi, dia tidak berani melakukannya dengan lebih kuat lagi. Padahal dia berharap ibu jari itu sampai putus. Perasaannya yang tidak bisa dia definisikan membuat Asia bingung dengan dirinya sendiri. Ada apa dengan dirinya saat ini? Kenapa dia seperti ini? Kenapa hidupnya menjadi seperti ini? Apa tidak ada kebahagiaan untuk dirinya? Asia menangis hingga dia tanpa sadar tertidur di lantai marmer yang dingin. Dia baru terbangun saat semuanya gelap. Hanya ada cahaya bulan yang masuk dari jendela yang tidak tertutup korden yang menerangi Asia di dalam kamar itu. Dengan lunglai Asia berjalan menuju pintu. Saat gagang pintu dia turunkan, pintu di depannya tetap tidak bisa digerakkan. “Buka pintunya!” teriak Asia keras. “Bukaa!” Tidak ada jawaban sama sekali. Asia menyerah, dia tidak akan bisa keluar dari tempat ini, apalagi ini di lantai dua. Jika dia mencoba kabur dari lantai dua, bisa-bisa semua jendela akan dikunci hingga tidak ada kesempatan untuk dirinya kabur. Asia teringat jika Eugene akan datang lagi menemuinya. Sebuah vas bunga yang ada di atas meja dekat tempat tidur menjadi pilihan Asia. Bunga yang ada di dalam vas itu dia buang beserta airnya. Sambil membawa vas bunga itu, Asia duduk di pojok kiri kamar itu. Jika Eugene membuka pintu, dia bisa langsung melempar vas ini ke kepala Eugene. Dalam diam Asia duduk hingga dia melihat gagang pintu yang bergerak. Pegangannya pada vas bunga semakin mengerat. Begitu pintu terbuka, Asia yang sudah hampir melempar vas bunga itu terdiam saat melihat sosok yang masuk. “Debora,” lirih Asia. Vas bunga yang ada di tangannya pun terlepas yang membuat vas itu jatuh ke lantai dan pecah. “Asia!” Debora buru-buru menghampiri Asia dan berjongkok di depannya. “Apa yang terjadi denganmu?” “A-aku ingin pe-pergi dari tempat ini.” “Ya, Asia.” Kesedihan yang tergambar jelas di wajah Asia membuat Debora langsung memeluk Asia. Pelukan yang diberikan Debora ternyata membuat Asia menumpahkan kembali air matanya. * * * “Apa sekarang kamu sudah mau bertingkah lagi? Ayolah Asia, aku lelah dimarahi hanya karena kamu!” pekik Millie karena Asia yang hanya menggerakkan badannya seadanya. “Jika kamu tidak melapor, kamu tentu tidak akan dimarahi Marigold.” Asia duduk, dia sudah tidak memiliki tenaga lagi setelah tadi malam. Tadi malam setelah selesai menangis di pelukan Debora, Asia langsung dibawa menuju kamar. Sejak saat itu hingga pagi ini, Asia tidak melihat sosok Eugene. Bukankah bagus jika dia tidak bertemu Eugene lagi? Mungkin saja mereka tidak akan pernah bertemu lagi selamanya. “Ini tarian yang sangat mudah. Tidak mungkin kamu tidak bisa.” “Apa seorang penghibur akan memiliki kesempatan untuk berdansa?” tanya Asia kesal. Dia di rumah bordil, lalu untuk apa dia belajar tarian waltz? “Akan ada titik di mana kamu akan dibawa pergi oleh seseorang yang menyukaimu di sini dan mungkin saja kamu akan dibawa ke sebuah pesta. Akan sangat memalukan jika kamu tidak bisa melakukan tarian waltz.” “Jika orang itu berani membayar dengan jumlah yang besar untuk kita, memangnya dia akan punya keberanian untuk membawa kita ke pesta seperti itu? Bukankah ini yang kamu pikirkan juga hingga tidak keluar dari tempat ini, Millie?” Millie langsung berbalik memunggungi Asia. Kalimat itu benar-benar menohok Millie. “Ini jelas tidak akan ada gunanya,” lanjut Asia. “Terserah kamu saja, Asia.” Millie menghela napas berat. Millie berbalik dan berucap, “Kamu bisa pergi dari sini.” Asia mengangguk, dia pun tidak ragu untuk berdiri dan pergi dari ruang latihan itu. Ini memang yang dia inginkan, pergi dari tempat ini dan menikmati waktu sendirian. Di jam makan siang, Asia seperti biasanya makan dengan Debora dan beberapa anak yang lainnya. Saat tengah memaksa dirinya untuk makan, kunyahan Asia terhenti saat dia mendengar nama Eugene disebut. “Tadi aku melihat Eugene di rumah utama, entah apa yang dia lakukan.” “Challisa,” tegur Lily. “Tidak apa-apa.” Asia malah ingin mendengar apa yang dilakukan Eugene. Setelah kemarin dia dikuncikan di kamar itu dengan dalih akan menemuinya lagi, sekarang dia datang lagi tapi tidak mencarinya. “Aku juga hanya melihatnya sekilas.” Challisa menatap Asia. “Apa yang sebenarnya terjadi kemarin? Apa kamu bertemu dengan Eugene?” tanya Challisa penasaran. “Apa yang kamu lakukan jika bertemu orang yang menjualmu?” Asia balik bertanya dan tersenyum simpul sebelum dia kembali melanjutkan makannya. Semuanya diam dan akhirnya mengerti kenapa Asia sampai seperti itu tadi malam. Mereka kira Asia bertengkar lagi dengan Marigold, tapi ternyata Asia bertemu dengan Eugene. Begitu malam tiba dan semuanya sudah keluar dari kamar, Asia bersiap untuk melakukan rencana yang sudah dia dan Debora susun. Asia memasukkan sebuah kantung ke bagian dalam roknya. Kantung itu berisikan berlian dan juga uang yang diberikan Debora. Padahal Asia sudah menolak uang itu, tapi katanya itu berguna untuknya. Asia rasa apa yang dia bawa ini lebih dari cukup sebelum dia mendapatkan pekerjaan. Asia berencana untuk pergi dari kerajaan Rigel menuju kerajaan Ascella agar tidak bertemu Eugene lagi. Selain itu, itu karena kerajaan Ascella terasa mirip dengan tempat tinggalnya dulu. Di sana Asia juga akan mencari jawabannya tentang kenapa dirinya bisa berada di tempat seperti ini. Setelah semua dirasa sudah dibawanya, Asia keluar dari kamar. Dia harus keluar dari tempat ini sekarang juga. Malam di rumah bordil masih saja terlihat sama. Para pria tampak menikmati pertunjukkan dan belaian. Seorang yang ternyata adalah seorang penjaga tersenyum ke arahnya saat Asia baru saja turun dari tangga. Asia berjalan-jalan di lantai dasar hingga matanya bertatapan dengan sosok yang terasa familiar. Lancelot, pria itu datang seperti janjinya dan sebuah anggukan yang Asia berikan cukup menjadi pertanda jika dia berniat kabur malam ini. Saat Asia hendak ke lantai dua, dia berpapasan dengan Debora. “Masuklah ke dalam kamar terlebih dulu,” bisik Debora. Asia tidak menjawab, dia lanjut berjalan hingga ke lantai dua sisi kanan. Asia memilih untuk berdiri di depan tembok pembatas. Dia harus mencari waktu yang tepat untuk berjalan masuk ke kamar. Waktu di mana orang-orang lupa akan keberadaannya. Di saat penjaga yang di bawah mulai lengah dan tidak ada mata yang melihatnya, Asia berjalan masuk ke kamar. Pintu kamar itu pun langsung ditutup dan setelah itu Asia memilih untuk duduk diam menunggu. Entah berapa lama Asia di dalam kamar dan saat dia sudah mulai bosan menunggu, pintu kamar terbuka dan sosok Lancelot yang pertama kali terlihat lalu diikuti oleh Debora. Pintu itu kemudian dikunci dan Asia keluar dari persembunyiannya. “Apa kamu sudah siap?” tanya Lancelot. “Ya aku sudah siap.” “Ingat, bawa dia ke penginapan dan tolong carikan kereta kuda yang akan membawanya ke kerajaan Ascella,” ucap Debora. “Ya.” Lancelot tersenyum. Selimut dan seprai yang ada di kamar itu mulai di ikat dengan kuat. Lancelot kemudian membuka jendela dan memperhatikan keadaan di bawah. Keadaan di bawah sangat sepi dan Asia hanya perlu berjalan beberapa puluh meter hingga sampai di parkiran kuda yang memang dibuat tersembunyi. “Ada mawar di bagian belakang kereta kudaku.” Lancelot mengingatkan. Asia mengangguk mengerti. “Hati-hati,” ucap Debora. Asia akhirnya turun, dia tentu sangat kesusahan. Asia merasa beruntung karena dia bukan seorang yang takut akan ketinggian hingga dia berani turun dengan cara seperti ini. Saat dia sudah berada di ujung, Asia mendongak ke atas dan Debora mengangguk. Aku bisa, batin Asia menyemangati dirinya. Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Asia pun loncat dan terjatuh. Beruntung gaun yang dipakainya memiliki rok berlapis hingga kakinya tidak mendapat goresan. Asia mendongak dan memberikan senyum terbaiknya ke Debora yang tampak khawatir. Asia bangun dan berbalik, tanpa melihat kebelakang dia berlari menuju parkiran kereta kuda seperti arahan Debora. Asia harus melewati lubang dari pagar semak-semak yang dibuat di sana. Setelah melewati itu, barulah Asia mendapati pepohonan yang cukup tinggi dan tak jauh dari sana terlihat jajaran kereta kuda. Dari penerangan yang seadanya, Asia melihat semua bagian belakang kereta kuda dan akhirnya menemukan bunga mawar di sebuah kereta yang letaknya di pojokan. Ini jelas keberuntungan bagi Asia. Dia kemudian masuk dari sisi paling pojok dengan sangat pelan dan hati-hati. Saat dia sudah ada di dalam kereta, Asia langsung masuk ke dalam ruang yang ada di bawah tempat duduk. Kebebasannya sudah selangkah lagi, Asia yakin dia pasti bisa kabur dari tempat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD