“Bagaimana latihan menarimu dengan Millie?” tanya Debora tepat ketika Asia baru memasuki ruangan makan yang hanya terisi mereka berdua.
“Dia mengajariku tarian yang mengharuskanku berpasangan dengannya.”
“Tarian berpasangan yang seperti apa?” Ada banyak tarian berpasangan dan Debora penasaran dengan hal itu.
“Waltz.”
“Ah, tarian waltz. Biasanya di musim panas akan ada festival di alun-alun kerajaan. Orang-orang akan menari waltz dengan orang asing. Itu sangat menyenangkan dan tidak menutup kemungkinan kita mendapatkan jodoh di sana,” cerita Debora. Dia jadi rindu pergi keluar rumah dan ikut menari bersama penduduk kerajaan ini.
Tarian yang diajari Millie tentu tidak asing bagi Asia karena dia memiliki ingatan saat dia menonton film dan melihat adegan putri dan pangeran menari dengan sangat indahnya. Sayangnya dia malah belajar dengan Millie yang harus membuatnya menggenggam tangan Millie, Asia tidak suka itu.
“Kamu harus mencobanya nanti jika kamu keluar dari tempat ini,” sambung Debora.
“Aku pasti akan mencobanya.”
“Bagus, aku sangat yakin jika rencana kita akan berhasil.”
Mengingat tentang rencana keluar dari tempat ini, Asia jadi teringat rencana dari Debora yang baru dia dengar tadi malam saat mereka bertemu Lancelot.
“Oh ya, rencana yang kamu katakan tadi malam itu, bagaimana kita akan melakukannya?” tanya Asia dengan suaranya yang pelan. Dia tidak ingin jika sampai ada yang mendengar pembicaraan mereka ini.
“Kamar yang ada di lantai dua sebelah kanan yang dekat dengan tempat parkir kereta adalah kamar yang ada di lorong kiri dan paling pojok. Saat Aku dan Lancelot memiliki kesempatan memakai kamar itu, kamu harus masuk ke sana. Aku yakin tidak akan ada yang mencurigaimu karena kamu memiliki hak untuk berkeliling.”
“Lalu setelah aku masuk ke dalam kamar itu bagaimana? Bagaimana aku bisa turun dari lantai dua?”
“Dengan seprai dan selimut yang aku akan ikat.”
“Apa cukup?” Lantai dua yang cukup tinggi membuat Asia tidak yakin dengan hal itu.
“Mungkin kamu perlu sedikit loncat ke bawah. Tapi itu tidak akan membuatmu terluka atau mati. Aku jamin itu.”
Jika dibandingkan dengan luka yang didapatkan di tempat ini, Asia rasa dia masih bisa menahan luka jatuh yang akan dia terima nanti. Ini demi kebebasannya, jadi dia harus menahan semua luka yang akan dia terima nantinya.
“Aku akan berusaha untuk hari kebebasanku.”
“Ya, aku harap semuanya berjalan sesuai rencana kita.”
Asia dan Debora mengakhiri pembicaraan mereka dan melanjutkan pelajaran mereka. Untuk etika Asia masih mau melakukannya dengan serius walaupun dia benar-benar pusing dengan semua etika yang dia pelajari.
Begitu malam datang, Asia memutuskan kembali keluar kamar. Dia akan terus keluar hingga waktu kepergiannya dari tempat ini. Sejujurnya Asia tidak suka berada di luar karena matanya akan ternodai dengan hal-hal yang berbau sensual itu. Tapi dia harus melakukan hal ini agar tidak menimbulkan kecurigaan dari Marigold.
Karena sebelumnya Asia hanya ada di lantai satu, malam ini Asia memutuskan untuk pergi ke tangga yang ada di sebelah kanan. Lantai dua di sisi kanan dibuat berbeda karena dari lantai dua di sisi kiri. Jika di lantai dua sisi kiri tembok menutup arah pandang seseorang yang berjalan di lorong. Sedangkan di bagian kanan, hanya ada tembok sebatas pinggang yang membuat Asia teringat cerita jika ada yang jatuh dari lantai dua.
Asia berjalan menuju kamar yang disebutkan oleh Debora. Kamar itu terbuka dan tidak ada siapa-siapa di sana. Asia melirik sekilas kamar yang harus dia masuki nanti. Setelah itu, Asia kembali ke sisi tangga untuk melihat semuanya dari atas.
Terlihat Millie dan seorang pria menaiki tangga. Asia meneguk ludahnya saat melihat mata hitam pria itu yang tak sengaja menatapnya. Melihat bola mata bewarna hitam yang menatapnya dengan tajam itu, Asia jadi teringat Eugene lagi.
Asia menggeleng, dia tidak boleh mengingat-ingat Eugene lagi. Sekarang dia harus memperhatikan keadaan sekitarnya agar bisa keberadaannya terlihat biasa saja.
Seorang pria yang ada di bawah sana tampaknya tertarik saat melihat Asia. Rambut hitam lurus milik Asia benar-benar menggodanya. Pria itu pun memberi kode pada Ebe yang kebetulan ada di sana untuk mendekat. “Ebe, kenapa gadis itu tidak bergabung dengan kalian?”
“Dia tamu jadi dia tidak akan melayani siapa-siapa di sini,” jawab Ebe sopan.
“Padahal aku tertarik dengan rambut hitamnya itu.”
Mendengar penuturan itu Ebe terkekeh. “Apakah Sir sudah tidak tertarik dengan rambut merah mudaku? Bukankah Sir mengatakan jika rambutku yang paling indah di sini?”
“Kamu tetap yang nomor satu Ebe.”
Merasa diawasi, Asia pun menundukkan pandangannya dan melihat seorang pria yang bersama Ebe tengah mencuri pandang ke arahnya. Karena tidak suka, Asia memicingkan matanya tajam dan saat pria itu melirik ke arahnya lagi, Asia memberikan tatapan tidak bersahabatnya.
Beberapa kamar mulai terisi dan di bawah masih tampak ramai. Asia yang sudah cukup lama di atas akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar.
Malam ini Debora, Millie, Iris, dan Gaia tidak kembali ke kamar bersama yang lainnya. Bukan hal asing melihat ada yang tidak kembali ke kamar saat tengah malam. Mereka yang tidak kembali saat tengah malam biasanya akan kembali saat diri hari.
Asia harap dia tidak memiliki kesempatan untuk melihat Debora menari. Dia tidak akan tega melihat Debora meliukkan badannya di tengah banyaknya pria mata keranjang seperti itu.
“Banyak yang tertarik pada Asia.”
Asia tertegun mendengar namanya yang disebut itu. Dia baru saja hampir tertidur saat namanya disebut itu.
“Karena mereka penasaran dan ingin mencicipi yang baru,” jawab Casia menanggapi ucapan Ebe.
“Aku tidak sabar melihat bocah itu menjilati ludahnya sendiri,” komentar Iris. “Bayangkan jika dia akhirnya tertarik untuk menekuni dunia ini.”
“Tentu dia akan menjadi yang terkenal,” sahut Lily.
Pembicaraan tentang Asia berakhir setelah Lily berkomentar. Asia sudah biasa dengan komentar Iris yang tajam tentang dirinya. Omongan-omongan tajam itu sudah terasa biasa saja bagi Asia.
*
*
*
Asia memandangi bunga mawar yang di depannya. Asia hampir memetik bunga mawar yang ada di depannya itu saat dia melihat bunga kecil yang ada di sana. Bunga kecil berwarna biru itu pun dipetik Asia.
Dia memandangi bunga itu dengan serius. Terasa familiar, tapi dia tidak tahu apa namanya.
“Apa kamu tahu ini bunga apa?” tanya Asia pada Debora yang duduk di sampingnya.
“Aku tidak tahu, tapi bunga itu selalu tumbuh dengan sendirinya.”
“Debora!” Terlihat Millie berdecak pinggang tak jauh dari gazebo taman.
“Ini sudah sore dan jangan santai seperti itu. Sini ikut aku.”
“Iya aku akan ke sana.” Debora menoleh ke arah Asia. “Aku akan pergi, apa kamu mau ikut?” tanya Debora.
Asia menggeleng, dia tidak berniat untuk pergi dari taman.
“Oke kalau begitu, aku pergi dulu.”
Sekarang tinggallah Asia sendirian di taman. Ini tentu suatu hal yang bagus. Sendirian untuk melepas penat karena disibukkan oleh banyak kelas yang harus dia ikuti. Jika diingat, dia saja bersekolah tidak pernah nonstop seperti ini. Jika ini di dunianya, pasti angka bunuh diri semakin besar.
“Asia.”
Suara Lily, batin Asia.
Benar saja, begitu Asia menoleh, dia mendapati Lily ada di sana.
“Kenapa?”
“Ada gaun baru untukmu. Marigold ingin kamu mencobanya.”
“Sudah banyak gaun di lemariku.” Tiba-tiba saja seperti ini, tidakkah ini sangat mencurigakan?
“Ini hadiah karena kamu sudah bersikap baik. Ayo.”
Asia dibawa menuju salah satu ruangan yang ada di rumah utama. Di dalam ruangan itu Lily membantunya untuk menggunakan gaun yang memiliki warna cream. Gaun ini ini dipercantik oleh manik-manik yang ada di bagian pinggang. Terlihat sederhana, tapi sangat elegan dan mewah.
“Apa kamu tahu ini apa?” tanya Lily sambil meraba bagian perut Asia.
“Manik-manik,” jawab Asia sekenanya.
“Ini berlian bodoh.”
Asia menutup mulutnya tak percaya. Dia jelas kaget dengan apa yang baru saja dia dengar. “Ini berlian? Bukankah berlian sangat mahal?”
“Ya memang mahal.”
“Ta-tapi bagaimana bisa aku mendapatkan ini?” Ini jelas mencurigakan. Dia belum menghasilkan apa-apa, bagaimana mungkin Marigold memberikannya gaun semahal ini.
“Anggap saja ini kemurahan hati Marigold. Kamu juga bisa menjualnya nanti ketika kamu kabur.” Lily mengedipkan matanya.
Kembali Asia dikagetkan dengan ucapan Lily. Apa rencananya sudah bocor?
“Ah, aku tidak menguping atau apa. Aku tahu karena aku punya intuisi yang kuat.” Lily menepuk bahu Asia. “Kalau begitu aku keluar dulu dan aku akan memanggilkan Marigold.”
Pintu kemudian tertutup, meninggalkan Asia sendirian di kamar tanpa pemilik. Asia memandangi dirinya di cermin. Dia terlihat sangat cantik sekarang. Terlihat cantik di tempat yang tidak benar itu sangat menakutkan.
Pandangan Asia beralih ke bagian pinggangnya. Tangannya kemudian meraba berlian yang ada di bagian pinggangnya itu. Benar kata Lily, berlian ini bisa dia gunakan untuk hidup di luar sana. Tapi sangat sayang gaun yang cantik ini dia rusak begitu saja.
Cklek~
Suara pintu yang terbuka lalu tertutup itu sukses membuat Asia mengangkat pandangannya. Dari arah cermin, Asia bisa melihat tubuh yang dibalut pakaian serba hitam yang tampak sangat mewah.
Jantung Asia berdegup dengan kencangnya. Pantas saja semuanya terasa sangat mencurigakan. Ini semua karena Marigold ingin menjualnya!
Cermin itu hanya memperlihatkan sampai bagian bahu sosok pria yang ada di belakang Asia. Asia ingin berbalik tapi dia terlalu takut.
Saat sosok itu melangkah, Asia meremas gaunnya dengan erat. Dia takut, sangat takut sekarang.
“Bagaimana kabarmu?”
Suara itu menghentikan detak jantung Asia untuk sesaat. Tangan yang meremas gaun itu pun terlepas. Apa sekarang dia tidak salah dengar?
Sentuhan di bahunya membuat tubuh Asia menegang. Dari bahunya, tangan berbalut sarung tangan itu turun ke lengannya. Mengusap lengannya dengan lembut yang membuat Asia merinding.
“Kamu terlihat cantik dengan gaun ini.”
Asia masih diam tidak bergerak, tubuh dan pikirannya masih sangat kaget dengan apa yang terjadi sekarang.
“Kenapa kamu terlihat tegang sekali?”
Eugene, pria itu kemudian menundukkan wajahnya hingga bibirnya tepat di dekat telinga Asia. Apa yang dilakukan Eugene itu sukses membuat Asia bisa melihat wajah pria yang sudah sangat lama tidak dilihatnya itu.
Mata Asia berkaca-kaca dan itu bisa dilihat dengan jelas oleh Eugene.
Eugene menegakkan kembali tubuhnya. Kedua tangannya yang ada di bahu Asia kemudian dia gunakan untuk memutar tubuh Asia agar berhadapan dengannya. Saat mereka berdua saling berhadapan, air mata Asia lolos tanpa bisa dia cegah.
Kedua tangan Eugene kemudian lepas dari bahu Asia, dia kemudian terlihat hendak membuka sarung tangan yang dia gunakan.
Plak!
Belum sempat sarung tangan itu terbuka, Asia ternyata sudah lebih dulu melancarkan serangannya. Dia menampar pipi Eugene dengan sangat keras. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk melakukan itu.
“Kamu kira kamu siapa ah!” teriak Asia.
“Asia….”
“Apa karena aku tidak tahu tentang dunia ini kamu jadi bebas melakukan ini itu padaku?!” Wajah Asia merah padam karena emosinya. Napasnya bahkan terdengar memburu.
“Apa maksudmu?”
Asia hendak mendorong tubuh Eugene dengan kedua tangannya, tapi kedua tangannya itu langsung ditahan dengan sangat mudah oleh Eugene.
“Lepas!” teriak Asia.
“Kita bisa membicarakan ini baik-baik.”
“Tidak! Tidak akan pernah!” teriak Asia. Dia memberontak mencoba untuk melepaskan tangannya. Ingin menendang pun sangat susah bagi Asia karena gaun yang dia gunakan.
“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu tenang.”
“Apa maumu ah?! Sekarang kenapa kamu menemuiku lagi?! Apa karena kamu penasaran dengan berapa banyak uang yang sudah kuhasilkan di sini?!” Asia tertawa keras. Karena tawanya itu disertai dengan air mata yang keluar, dia terlihat sangat menyedihkan sekali.
“Asia, jangan seperti ini.”
Tawa Asia terhenti, matanya memandangi Eugene dengan semua emosi yang bergejolak. “Aku kira kamu pria baik-baik karena mau menolongku di dunia yang asing ini Eugene! Tapi kamu malah menjualku!” teriak Asia.