“Apa kamu tidak merasa gugup?”
“Aku sendiri tidak tahu.” Di satu sisi Asia merasa senang karena bisa keluar dari kamar saat malam hari, tapi di satu sisi dia takut jika keberadaannya di luar membuat orang-orang tertarik padanya.
“Kamu akan aman Asia, jika ada yang berani menyentuhmu, mereka sudah pasti akan diringkus oleh penjaga.”
Pria adalah makhluk yang berbahaya, apalagi pria yang sudah sering pergi ke rumah bordil. Mereka jelas tidak dapat dipercaya, bagi Asia.
“Ya semoga saja,” jawab Asia sekenanya.
“Oh ya, jika nanti Sir Lancelot ada, aku akan memperkenalkanmu dengannya.”
Nama asing yang disebutkan oleh Debora membuat Asia langsung mengerti. Sir Lancelot adalah pria yang akan bekerjasama dengan Debora untuk membawanya kabur dari tempat ini. Asia harap Sir Lancelot adalah pria yang baik seperti Debora karena Sir Lancelot menaruh hati pada Debora.
“Topeng yang akan kamu gunakan sudah kutaruh di dalam lemarimu dan apa kamu yakin tidak akan keluar bersamaan dengan yang lainnya?”
“Iya. Bukankah akan lebih bagus jika aku keluar di setelah kalian agar suasananya tidak begitu canggung?”
“Buat senyamanmu saja dan jika kamu merasa tidak nyaman dengan suasananya, langsung balik ke kamar. Mengerti?”
Asia mengangguk mengerti. Mereka pun kembali melanjutkan kegiatan mereka karena saat ini Asia tengah mengikuti kelas etika di meja makan dengan Debora.
Saat setelah makan malam, Asia memperhatikan semuanya yang tengah berdandan. Pandangan mata Asia kemudian tertuju pada Lily yang tengah memerahkan bibirnya dengan kertas tipis yang berwarna merah.
Asia tidak pernah memperhatikan gadis-gadis di kamarnya berdandan, walau ada Debora sekalipun dan baru kali ini Asia melihat model pemerah bibir yang dari kertas tipis seperti yang sekarang Lily pakai.
“Kenapa?” tanya Lily yang sadar jika dirinya diperhatikan. “Kamu mau ini juga? Bukankah kamu sudah memilikinya?”
“Kamu, cantik.” Karena tidak tahu harus mengatakan apa, Asia akhirnya mengatakan kalimat pujian itu.
“Aku tahu itu.” Lily tersenyum sopan lalu bangun dari duduknya. Dia kemudian pergi bersama yang lainnya. Debora yang juga sudah selesai dengan dandanannya berpamitan pada Asia.
“Ingat, jika merasa tidak nyaman segera kembali ke kamar,” pesan Debora sebelum pergi.
“Ya, aku tahu itu.” Asia tersenyum simpul. Debora memang yang terbaik karena selalu mengutamakan kenyamanannya.
Sepergi Debora, Asia keluar dari kamar dan pergi menuju ruang bawah. Dia membuka lemari bajunya dan mencari gaun yang tidak mencolok.
Asia menemukan satu gaun yang memiliki bagian leher yang panjang hingga membuat bagian dadanya benar-benar tertutup. Ini jelas gaun yang sangat aman untuk Asia gunakan keluar.
Sebuah topeng juga ada di dalam lemarinya. Topeng itupun Asia bawa menuju kamar. Di kamar Asia duduk di depan meja riasnya. Asia memperhatikan kosmetik yang ada di atas mejanya itu. Baru kali ini Asia mau melihat jenis kosmetik yang dia miliki dan ternyata bentuknya sangat-sangat sederhana, tidak seperti yang ada di dunianya.
Asia menutup kembali berbagai macam kosmetik yang dia buka. Dia memang tidak berniat menggunakan kosmetik di wajahnya agar tidak ada yang tertarik padanya. Sedikit menyisir rambutnya, Asia kemudian memakai topeng yang hanya menutupi sampai bagian atas hidungnya itu. Asia harap ini berjalan dengan lancar.
Tiba di pintu keluar yang akan membawa Asia menuju tempat yang sebenarnya sudah sering dia datangi ketika pagi menjelang malam, Asia menarik napas panjang. Degup jantungnya terdengar cukup kencang, bahkan ketika dia memegangi gagang pintu Asia bisa merasakan tangannya yang basah.
Pelan namun pasti Asia mulai menarik gagang pintu itu. Tepat ketika pintu itu terbuka, Asia melihat lorong yang sepi, namun terdengar sayup-sayup suara musik. Kaki Asia terasa sangat berat sekali saat melangkah di lorong yang akan membawanya menuju tangga.
Mendekati tangga, jantung Asia semakin berdegup dengan kencang karena mendengar suara-suara yang semakin jelas di bawah sana.
“Tenang, tenang, tenang, tidak ada hal buruk yang akan terjadi,” ucap Asia menenangkan dirinya.
Setiap anak tangga yang Asia turuni, wajahnya terlihat semakin tegang. Begitu bagian bawah terlihat, Asia bisa melihat dengan jelas di bawah penuh dengan pria-pria bertopeng yang duduk di meja yang sudah disiapkan di sana.
Sampai di lantai dasar, Asia bisa melihat pertunjukan tarian dan musik dengan pakaian yang sangat-sangat terbuka. Seingat Asia mereka tadi memakai pakaian yang seperti ini. Pantas saja ada banyak pria yang datang, walau mereka tidak bisa tidur dengan salah satu gadis di sini, mereka bisa memanjakan mata mereka dengan baju yang memperlihatkan semuanya itu. Untuk yang tidak menampilkan pertunjukan, mereka akan melayani minuman untuk pria-pria itu dengan pakaian yang masih seperti Asia lihat di awal.
Ini jelas tidak seperti yang Asia bayangkan. Asia kira mereka semua akan langsung menjajakan tubuh mereka, tapi sepertinya hanya pria-pria beruntung saja yang akan bisa menghabiskan malam mereka karena cukup banyak pria di tempat ini.
Pria-pria yang datang semuanya memakai topeng dan sebuah jubah hitam. Tidak banyak bagian spesifik yang bisa Asia lihat dari tamu-tamu yang datang. Asia jadi teringat tentang semua gadis di sini mengetahui tentang Eugene. Apa karena Eugene sering datang di siang hari seperti waktu pertama kali dia ke tempat ini?
Asia menggeleng, kenapa dia malah terpikir tentang sosok Eugene di saat seperti ini. Sekarang dia harus melihat situasi agar dia bisa kabur dari tempat ini. Asia mulai kembali berjalan, dia meneguk ludahnya saat dia mencoba melewati meja demi meja. Dia ingin melihat setiap ruangan yang mungkin saja membuatnya bisa melihat sesuatu yang menarik.
Di ruangan yang ada di lantai dasar yang biasanya terbuka sekarang tertutup. Jika pun terbuka, tidak ada siapa-siapa di sana.
“Lady tidak bekerja?” suara itu mengagetkan Asia yang baru saja memeriksa ruangan kedua yang ternyata kosong. Dia yang ada di ambang pintu segera bergeser ke belakang agar tidak terdorong ke dalam ruangan.
“Aku bukan pekerja di tempat ini.”
“Jadi Lady ingin mencicipi gadis di tempat ini juga?” Pria yang entah siapa itu tersenyum penuh maksud.
“Aku bukan penyuka sesama jenis. Aku datang hanya untuk melihat-lihat.”
“Apa Lady tengah mencari pasangan Lady yang tengah bermain-main di sini?”
“Maaf Sir, Anda membuat tamu kami merasa tidak nyaman.”
Suara Debora yang terdengar membuat Asia menoleh ke sampingnya. Senyum Debora yang mengembang saat mereka bertatapan membuat Asia merasa lega. Dia bersyukur karena Debora ada dan mau melindunginya, tidak seperti yang lainnya yang tampak acuh tak acuh.
“Ah, kalau begitu aku minta maaf karena membuat Lady merasa tidak nyaman.” Pria itu tersenyum.
“Ya,” ucap Asia.
“Kalau begitu saya akan kembali ke tempat saya.”
“Apa dia menyentuhmu?” tanya Debora khawatir.
“Tidak, dia hanya bertanya saja.”
“Debora!”
Panggilan itu mengintrupsi pembicaraan Asia dan Debora. Seorang pria yang duduk cukup di pojokan yang memanggil Debora.
“Aku harus ke sana dulu, dia itu Sir Lancelot,” bisik Debora.
Asia mengawasi kepergian Debora yang menuju tempat Lancelot. Lancelot terlihat sangat ingin diperhatikan oleh Debora.
Asia kembali melanjutkan langkahnya dia ingin melihat tempat lainnya yang mungkin ada orang di dalamnya. Di ruangan ketiga, Asia melihat beberapa orang pria tampak berbincang dan menikmati minuman mereka. Aksi mengintip yang Asia lakukan dari kaca yang tidak tertutup tirai itu membuat salah seorang pria yang ada di dalam ruangan itu menatapnya.
Asia menunduk dan buru-buru pergi dari sana. Asia bergegas pergi ke sisi seberang di mana di sana juga terdapat ruangan yang bisa di tempatkan sebagai tempat memadu kasih.
Banyak dari ruangan ini ternyata digunakan untuk dijadikan ruang pertemuan oleh sebagian pria-pria yang pastinya memiliki pembicaraan yang serius. Di dalam sana juga ternyata ada seseorang dan Asia tidak bisa melihatnya dengan jelas siapa yang ada di dalam sana.
“Malam ini aku akan mendapatkanmu, Haidee,” ucap salah seorang pria pada gadis yang ternyata itu Haidee. Haidee adalah teman Millie yang memegangi tangan dan kakinya bersama Iris waktu itu.
“Jika Sir sudah mendapatkan izin dari Marigold, aku tidak bisa berkata tidak.”
Suara Haidee terdengar begitu sensual saat mengatakan itu. Asia buru-buru menjauh dari ruangan itu karena Haidee terlihat akan keluar. Begitu Haidee keluar, Haidee tampak kaget karena melihat sosok Asia yang berdiri di samping tembok seperti sebuah guci.
Haidee hanya tersenyum sebelum pergi mengerjakan yang lainnya. Asia membalas senyum Haidee dan Asia sadar jika ada sepasang mata yang memandanginya. Mata dengan warna hijau yang tersembunyi dibalik topeng putih itu ternyata mengawasinya.
Asia bergidik ngeri dan kembali melangkah. Ada satu yang membuat Asia merasa tersadar akan satu pintu yang ada di antara ruang pertemuan yang biasa tertutup sekarang terbuka yang ternyata merupakan sebuah lorong. Dari ujung lorong, Asia melihat sosok Marigold.
Lilin-lilin yang menerangi membuat Asia bisa melihat dengan jelas bagaimana senyum yang Marigold perlihatkan untuknya. Asia buru-buru pergi dari sana, dia tidak ingin melihat Marigold lebih lama lagi.
Sudah cukup untuk Asia melihat-lihat, dia ingin segera kembali ke kamar dan tidur. Belum sempat Asia pergi, Asia ditarik masuk ke dalam ruangan. Hampir saja Asia berteriak jika si penarik tidak memberitahu siapa dirinya.
“Kamu membuatku takut,” ucap Asia.
“Aku ingin memperkenalkanmu dengan Sir Lancelot,” jelas Debora. Debora menggeser tubuhnya dan memperlihatkan sosok Lancelot yang duduk di atas sofa sambil menikmati wine.
Asia sedikit kaget karena dia melihat rambut dari Lancelot yang ternyata berwarna hijau.
“Jadi ini teman yang ingin kamu bantu?” tanya Lancelot.
Debora mengangguk. “Kamu sudah berjanji padaku,” ucap Debora mengingatkan.
“Bagaimana caranya?” tanya Lancelot. “Jika kita melewati jalan utama, tentu penjaga yang ada di depan pintu akan sadar. Terlebih Marigold pasti akan mengawasi.”
“Aku berniat untuk menyuruh Asia untuk turun dari lantai dua yang memiliki jendela langsung ke parkiran kereta kudamu.”
“Persiapkan saja semua rencananya dengan matang. Aku baru bisa kembali ke tempat ini tiga hari lagi dengan kereta yang memiliki kolong yang lebih besar.”
“Terima kasih,” ucap Asia dan Debora bebarengan.
Debora menoleh ke arah Asia. “Lebih baik kita keluar sekarang, aku tidak ingin kamu dicurigai oleh Marigold.”
Asia berhasil keluar dari ruangan itu, dia pun segera memutar arahnya agar bisa pergi ke tangga menuju kamarnya. Saat tiba di tangga, Asia melihat Marigold yang tampak datang dan duduk di salah satu meja bersama seorang pria.
Di lorong yang sepi dengan suara sayup-sayup kesenangan di bawah sana, Asia merasa jika terlalu banyak hal yang tidak seperti dia bayangkan. Gaun yang dia gunakan untuk belajar menari ternyata jauh lebih tertutup dibandingkan yang dia lihat tadi. Ini jelas membuat Asia kembali berpikir agar dia tidak memperlihatkan kebisaannya saat menari ataupun bermain musik. Sangat menakutkan saat melihat gaun yang hanya menutupi bagian p****g s**u itu.
Selain merasa takut, Asia jadi penasaran. Berapa bayaran yang mereka dapatkan? Apakah Marigold akan mendapatkan persenan lebih banyak daripada mereka yang lelah bekerja?
Oh, Asia ingin sekali mengajarkan banyak hal pada gadis-gadis itu agar tidak menjual tubuh mereka lagi. Dengan alam yang bagus seperti ini, Asia yakin ada banyak hal yang mereka bisa gali lebih dalam lagi. Tapi sepertinya ilmu pengetahuan di dunia ini sangat jauh tertinggal. Jika keluar dari tempat ini dan bisa hidup dengan layak, ingin rasanya dia mengajak Debora untuk pergi saja dari tempat ini.