Chapter 15: Perhitungan yang Meleset

1145 Words
Nights we dreamed of tomorrow that will shine like the stars. |Universe - EXO| . . KEHIDUPANNYA dimulai sepagi ini. Hatra memastikan semua pintu dan jendela terkunci dan tak bisa dibobol. Biasanya tak perlu repot-repot begini, berhubung dia menyimpan tawanan di dalam, keamanannya harus benar-benar terjaga. Jadwalnya dua putaran kompleks, disusul dengan seratus push up dan seratus back up. Dia seharusnya memasang headphone agar tak terusik dengan orang lain, tetapi hari ini lebih baik tidak. Entahlah, dia ingin sedikit perubahan. Keindahan alam di pagi hari memang yang terbaik. Baginya, udara terasa begitu bersih dipadukan dengan warna langit yang masih menyisakan bekas fajar. Kemudian burung-burung yang meliuk-liuk di alam bebas benar-benar pemandangan yang luar biasa. Hatra duduk di bawah pohon dan meminum air mineralnya. Setelah menyelesaikan jadwalnya, dia memutuskan untuk istirahat dan memperhatikan aktivitas orang lain. Kegiatan ini menjadi rutinitasnya, karena dia membutuhkan energi positif untuk mengontrol emosinya. Tiba-tiba seseorang menggelar karpet dan beberapa peralatan piknik di sampingnya. Hatra menoleh dan terkejut mendapati Denial sedang menyusun peralatannya. “Kebetulan,” kata Denial. “Tadi lewat sini terus ketemu kamu lagi melamun.” Hatra menerima segelas teh hangat dan meminumnya. “Abis dari mana?” “Lari pagi.” Denial mengunyah roti isi telurnya dengan lahap. Dia turut mengamati aktivitas orang-orang di sana. Kemudian dia teringat sesuatu—tidak, sebenarnya dia betul-betul mengingatnya karena dia harus memastikan sesuatu—saat bertemu Hatra. “Cewek itu ... gimana?” “Udah mati.” Hatra benar-benar mengucapkannya dengan mudah. Beruntungnya dia terlahir dengan kompromi yang luar biasa. Matanya mampu bersandiwara, serta ekspresi wajahnya yang tak menunjukkan adanya pengkhianatan atas ucapannya. Denial mengangguk. “Makasih, ya.” “Omong-omong,” Hatra menyesap lagi tehnya, “apa masalahmu sama dia?” Denial menatap Hatra dengan tampang serius. Atmosfir kemudian berubah menjadi sesuatu yang tidak mengenakan. Denial terdiam. Kemudian dia tersenyum jahil. “Kepo!” “Sialan.” Hatra tertawa. Begitulah Denial. Dia tak pernah bisa diajak membahas sesuatu secara serius. “Tapi,” kata Denial ragu-ragu, “kok aku ngerasa ada yang janggal, ya?” “Maksudnya?” “Iya, aku ngerasa cewek itu belum mati.” Kali ini Denial benar-benar serius. Hatra bisa melihatnya. Dia belum pernah melihat ekspresi itu sebelumnya di wajah Denial. Hatra tak terlalu terkejut mendengarnya karena dia sudah bisa menebaknya. Denial bukanlah orang yang mudah tertipu, tetapi bukan berarti tak bisa ditipu sama sekali. Selagi Hatra yang bermain, dia pastikan Denial akan benar-benar menganggap gadis itu telah mati. Kecuali ... ada sesuatu terjadi di luar perhitungannya. “Dia sudah mati. Mayatnya ada di dasar sungai di pinggir kota. Kamu cek aja.” Hatra tampak tenang. Denial tertawa lagi. “Enggak, aku percaya sama kamu.” Hatra mengangguk. “Minggu depan audisi, ya. Formalitas aja, kok,” kata Denial. “Aku sudah bilang ke panitia kalo kamu dapet free pass.” “Makasih.” Hatra tersenyum. Dia merasa berutang banyak pada Denial. Di perjalanan pulang, dia sempat berhenti di persimpangan kompleks yang jauh dari tempat tinggalnya. Dia melihat rumah kecil di sana. Napasnya tersendat saat ibunya keluar dan membersihkan halaman. Hatra merindukannya. Walaupun dia diusir dari rumahnya sendiri, Hatra tetap merindukan wanita itu. Dadanya sesak. Dia ingin kembali ke rumah dan memeluk ibunya. Tapi dia tak bisa. Kematian adiknya benar-benar memukul keluarganya. Hatra masih merasa bersalah karena gagal melindunginya. Benar. Hatra memang sudah seharusnya diusir dari rumah. Hatra akhirnya pulang dengan wajah muram. Dia duduk termenung di sofa. Pintu kamar mandi tiba-tiba berbunyi. Spontan Hatra menoleh dan mendelik. “Ah!” pekik Nada saat menemukan Hatra menatapnya tajam. “A-aku nggak punya baju, jadi—” “Balikin!” seru Hatra tak suka kaosnya dipakai gadis itu. Itu kaos kesayangannya. Pemberian ibunya. Nada memeluk tubuhnya sendiri dan menggeleng. “Aku pake baju apa?” “Nggak usah pake baju!” Sial, Hatra salah ngomong. Dia menepuk bibirnya sendiri saat Nada melotot. “Maksudnya pake bajumu yang lama!” “Bau,” kata Nada. “Pinjem, ya?” Hatra mendengus dan memutar tubuhnya membelakangi Nada. Gadis itu berjalan dan menelusuri seluk-beluk rumah. Hatra diam-diam melirik untuk memastikan Nada tak membuat kekacauan. “Anu, bisa beli sikat gigi, nggak?” “Nggak.” “Ya udah aku beli sendiri.” Nada membuka pintu rumah dan Hatra langsung meloncat dari sofa. “Aku yang beli. Kamu duduk,” desisnya. Nada mengangguk. Setelah Hatra pergi, Nada langsung membongkar seisi rumah. Berusaha menemukan sesuatu seperti kunci jendela agar dia bisa kabur secepatnya. Tapi sepertinya tak ada kunci seperti itu di rumah, Hatra membawa semuanya. Dia berlari ke dapur mengambil pisau yang paling tajam dan menyongkel jendela-jendela. Dia juga mengambil tang untuk membobol kunci. Dari semua usahanya tak ada yang berhasil. Dia melirik jam dinding. Sial, dia hampir kehabisan waktu. Bodohnya, Hatra tak sengaja meninggalkan ponselnya di saku celana training yang dipakainya tadi pagi. Nada langsung mengambilnya dan menemukan kontak Leo di ponsel Hatra. Leo tak segera mengangkat teleponnya. Dia akhirnya mencari kontak Grizzly, Bella, atau pun Krista, tetapi hanya nama Leo yang terdaftar, sisanya dia tak kenal. Nada berusaha menghubungi Leo sekali lagi. “Angkat, plis, angkat.” Nada menggigit bibirnya. Lalu terdengar sambungan yang terputus. Leo tak mengangkatnya. Gadis itu langsung mengetikkan pesan singkat untuk Leo. Nada kemudian tersentak kaget saat ponsel Hatra tiba-tiba berdering. Tanpa melihat nama yang tertera, Nada langsung mengangkatnya. “Halo? Leo?” serunya cepat-cepat. “Tolong, Leo! Aku di rumah Hatra, cepetan ke sini! Aku disekap, tolong!” “Ini ... siapa?” Suara di seberang terdengar asing di telinga Nada. Barulah saat itu dia memeriksa nama yang tertera di layar. Denial. Pintu terbuka dan Hatra spontan mendorong Nada hingga terjatuh. Sambungan telepon juga sudah terputus. Hatra memeriksa catatan riwayat dan menemukan nama Leo di sana, disusul dengan nama Denial di urutan teratas. Dia langsung menggeram dan membentak Nada habis-habisan. “Kamu bodoh, ha?!” Inilah yang dimaksud dengan perhitungan yang meleset. Nada terdiam. Pergelangan kakinya kembali berdenyut-denyut. “Aish!” Hatra menyentuh dahinya seolah-olah kepalanya sedang terbakar. “Kamu ... kamu ngomong apa aja tadi sama Denial?!” Nada gelagapan. Dia memarahinya karena Denial, bukan karena Leo. “A-aku bi-bilang ada di rumahmu.” Suaranya parau. “Hell!” teriak Hatra. “Kenapa kamu lakuin itu?! Kamu kenal siapa Denial?! Kamu nggak mikir?!” Hatra benar-benar marah dan ekspresinya menakutkan. Urat-urat di sekitar lehernya mencuat seperti adegan di mana Hulk menghancurkan musuhnya. Matanya merah seperti sedang kesetanan. “So-sori,” kata Nada memelas. Dia sudah meringkik di sudut ruangan memeluk lututnya. “Telat!” Hatra memukul tembok dengan kepalan tangannya dan rumah terdengar seperti mau roboh. “Dia sudah tau kamu di sini. Dia tau kamu masih hidup. Kamu nggak mikir?!” Nada berusaha menstabilkan suaranya yang terdengar serak. Dia menatap Hatra takut-takut sambil menyentuh lehernya. Mengantisipasi dirinya tak dicekik lagi. “De-Denial itu siapa?” “Denial itu...,” Hatra membasahi bibirnya, berusaha menekan emosinya, “... orang yang berusaha ngebunuh kamu!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD