Chapter 14: Hatra dan Segala Ancamannya

1581 Words
TIGA hari sudah berlalu. Nada masih meringkik di sana. Matanya terus terjaga, berharap Hatra menyembul dari pintu itu. Dia menunggu. Sejak saat itu, Hatra tak pernah kembali ke ruang tahanan, setidaknya itu nama yang Nada berikan untuk mendeskripsikan tempat ini. Kalau diingat-ingat lagi, Hatra pernah kembali, sesaat setelah dia meluapkan amarahnya saat itu. Dia kembali hanya untuk meninggalkan sebotol air mineral dan sepotong roti. Selanjutnya, dia tak tak terlihat lagi. Nada tak menangis, bukan karena dia berhasil menguatkan dirinya, hanya saja air matanya telah habis. Ketika dia ingin menangis, rasanya begitu perih. Nada yakin matanya hanya memerah. Akhirnya dia memutuskan untuk diam. Mungkin Hatra tak datang hari ini, mungkin besok. Atau mungkin lusa? Nada mendesah dan merebahkan tubuhnya di lantai yang dingin. Hibernasi. Keputusan yang tepat untuk menghemat energi dan cadangan makanan dalam tubuhnya. Agar dia bisa bertahan dan tak merasakan jalannya waktu yang sangat lambat. Suara langkah kaki samar-samar terdengar. Melalui celah pintu, Nada dapat melihat seseorang ada di sana. Itu dia. Dia kembali! Nada menegakkan tubuhnya dan menunggu pintu itu terbuka. Dia sumringah. Hatra berdiri di sana. Wajahnya dingin. Tentu saja. Nada tak mengharapkan Hatra memasang tampang ceria seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu padanya. Dia berjalan mendekat. Kemudian berjongkok. Hatra mengamati botol mineral yang sudah kosong dan roti yang tak tersisa. “Hatra,” kata Nada dengan suara lirih. Dia cukup terkejut mendengar namanya keluar dari mulut gadis itu. Dirinya yakin namanya tak akan diketahui oleh Nada. Nyatanya tak begitu. “Kamu ... siapanya Insi?” Tiba-tiba Hatra mencekik leher Nada, membuatnya tersedak dan megap-megap. “Jangan pernah sekali-kali sebut namanya,” katanya penuh penekanan. “Aku ... kakaknya!” Nada tak bisa bernapas. Cekikan itu terlalu kuat. Rasanya seperti kembali berada di ujung kehidupan. Tangannya berusaha menarik kedua tangan Hatra, tetapi tenaganya tak cukup kuat. Akhirnya dia lemas. Terserah. Nada begitu putus asa dengan sikap Hatra. Hatra memejamkan mata. Dia menarik kedua tangannya, menyisakan warna merah di leher Nada. Gadis itu terbatuk-batuk menyentuh lehernya. Seperti uratnya hampir putus. Lalu, dia menatap Hatra. Wajahnya sudah semerah tomat. Gadis itu telah memancing emosinya kembali. “Ma-af,” kata Nada terputus-putus. Hatra menatapnya tajam. “Kamu ke sini mau ngomong apa lagi?” tanya Nada setelah menetralkan napasnya. Hatra tak menjawab. Dia langsung keluar dan mengunci pintu. Nada mendecak. Padahal dia berharap Hatra datang membawa makanan, bukan membawa cekikan. Gadis itu kemudian merebahkan tubuhnya. Seharusnya dia katakan saja yang sebenarnya pada Hatra penyebab kematian Insi. Laki-laki itu salah paham—oke harus diakui bahwa Nada memang sedikit menekan Insi yang menyebabkan keinginannya bunuh diri semakin kuat—bahwa Nada-lah dalang di balik ini semua. Malam itu Nada yakin pendengaran dan penglihatannya tak salah. Sampai detik ini pun—walau sudah lima tahun berlalu—dia tetap mengingat jelas apa yang terjadi saat itu. Bukan Nada pelaku di balik kematian Insi. Ada orang lain di sana. Dia laki-laki tinggi, berpakaian rapi, dan memiliki suara yang manly. Ada sesuatu di tubuh Insi yang tak Hatra ketahui. Dan di situlah letak alasan terbesar mengapa Insi akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Nada menghela napas berat. Ketakutannya pada orang itu melebihi ketakutannya pada apa pun. Bahkan dalam kondisi terjepit seperti ini pun Nada tak mampu mengatakan yang sebenarnya. Apa yang salah pada dirinya? Mengapa rasa takut itu bisa menguasai dirinya? Perlahan Nada memejamkan mata, berharap waktu cepat berganti begitu dia kembali membuka matanya. Sudah hampir satu jam Hatra duduk di depan pintu ruang tahanan. Sebenarnya itu adalah kamar tempatnya menyimpan barang-barang yang sudah tak layak pakai, seperti gudang, tetapi bukan itu. Hatra termenung. Semalam dia bermimpi bertemu dengan adiknya. Insi tersenyum ceria. Hatra merindukannya. Tetapi saat Hatra maju satu langkah, adiknya tiba-tiba mundur dua langkah. Secara tak langsung, Insi telah menolak pelukan dari Hatra. Di balik senyuman ceria itu, Hatra melihat adiknya menangis. Insi terus menggeleng. Dia berusaha mengatakan bahwa kakaknya telah melakukan kesalahan besar. Walaupun dirinya terluka karena gadis itu, tak seharusnya kakaknya melakukan hal yang sama. Insi tak suka itu. Dia memohon kakaknya untuk membebaskan gadis itu sebelum semuanya semakin parah. Dia juga memohon kakaknya merelakan apa yang sudah terjadi. Insi ingin kakaknya hidup bahagia. “Gimana bisa hidup bahagia kalo kamu mati secara nggak adil?” Hatra menunduk. Setetes air mata membasahi pipinya. Hatra mendongak. Tepat di hadapannya tergantung sebuah foto mendiang adiknya. Hanya itu yang mampu meredam semua amarah yang dia rasakan. Senyuman dari adiknya … seolah terus berkata bahwa dia baik-baik saja di sana. Hatra berdiri. Dia membuka pintu tahanan dan melihat Nada sudah tertidur. Dia berjalan pelan dan menatap gadis itu dengan seksama. Dia sangat membencinya. Dia ingin balas dendam. Dia ingin gadis itu merasakan apa yang dia dan adiknya rasakan. Tetapi Hatra tak bisa melakukannya. Terlepas dari permohonan adiknya, dia juga menemukan dirinya tak setega itu. Dia terus melakukan perlawanan terhadap emosinya. Hatra menarik rambutnya sendiri, frustrasi. Laki-laki itu mengangkat tubuh Nada tanpa membangunkannya. Dia membawanya ke kamarnya. Tempat yang setidaknya jauh lebih layak daripada kamar tahanan itu. Hatra membaringkan gadis itu dan seketika terkejut melihat luka memar di sekujur tubuh Nada. Tangan, dahi, kaki, dan beberapa bagian tubuh lainnya. Dia tak merasa melakukan sesuatu yang membuat tubuh gadis itu memar di beberapa bagian itu. Hatra berspekulasi mungkin Nada berusaha meraih sesuatu, seperti boks-boks kosong yang bertumpukan di ruang tahanan. Kemudian boks itu jatuh dan menibaninya. Itu sebabnya ruang tahanan tampak berantakan karena boks-boks yang berserakan itu. Hatra mengepalkan tangannya. Sial, jangan lagi, cukup, geramnya dalam hati. Dia mendecak dan akhirnya mengambil kotak obat. “Ego, kamu kalah lagi!” desisnya. Hatra mengoles minyak tradisional ke bagian tubuh Nada yang memar. Dia melakukan persis seperti yang ibunya lakukan dulu saat dirinya terluka. Kemudian, Hatra mengoles obat peredam rasa perih ke leher bekas cekikan. Hatra tak menyesal. Sungguh dia tak menyesal. Tetapi jika orang lain melihat apa yang Hatra lakukan saat ini, mereka akan mengatakan bahwa Hatra sedang menyesali perbuatannya. Laki-laki itu mengambil plester dan menempelkan di dahi gadis itu. Matanya melirik ke arah kedua kaki Nada yang cukup mengerikan. Kaki kirinya penuh bekas jahitan dan memar, sedangkan pergelangan kaki kanannya terbalut perban yang sudah compang-camping. Sekilas Nada lebih mirip gelandangan daripada tawanan. Hatra memeriksa apakah jahitan dan perban itu baik-baik saja. Setelah itu dia menghela napas panjang. Ditariknya selimut hingga menutupi leher Nada. Hatra mematikan lampu dan menutup pintu kamar. Nada membuka mata. Dia terus menatap pintu. Itu tadi ... apa? ***   Setelah bersusah payah menyeimbangkan satu kakinya, Nada melompat-lompat pelan sambil menyentuh benda-benda di sekitar untuk penopangnya berdiri. Dia tak bisa membiarkan kaki kanannya semakin parah.  Dia juga tak bisa membiarkan perutnya seperti itu. Mereka terlalu berisik. Nada membuka pintu perlahan tanpa membunyikan suara. Dia melongok mencari Hatra. Rupanya laki-laki itu tertidur di atas sofa di depan televisi. Nada bersyukur. Dia harus cepat-cepat melarikan diri. Ke dapur. Menyelamatkan perutnya. Menurut pertolongan pertama versi Nada adalah selamatkan jiwamu dengan makanan. Dia berhenti melompat-lompat saat cermin memantulkan seluruh tubuhnya. Nada memekik pelan. “A ... a .... astaga!” desisnya lirih. Ini jauh lebih parah dari apa yang dibayangkan. Dirinya terus terkunci dalam kegelapan sehingga dia melupakan penampilan tubuhnya. Kini, Nada tak merasa seperti dirinya sendiri. Enggak, badanku pasti ketuker, batinnya tak bisa menerimanya. Nada melihat dirinya seperti gelandangan daripada tahanan. Ujung bibirnya terdapat bekas robekan. Kepala yang pernah terbentur saat insiden di kamar mandi kembali terluka saat tertabrak. Untungnya Hatra sudah menutupinya dengan perban sehingga Nada tak perlu tersiksa melihat kondisi lukanya. Banyak bekas jahitan di tubuhnya, terutama di kedua kakinya. Begitu pula dengan memar biru yang sungguh menakjubkan. Sekarang, cita-citanya saat masih kecil terwujud. Menjadi avatar. Nada tak ingin berlama-lama menatap dirinya di cermin. Itu mimpi buruk! Gadis itu mencari sesuatu di meja dapur. Mi instan. Setelah itu dia menyalakan kompor perlahan dan merebusnya. Dilihatnya Hatra masih tertidur. Dia kemudian membuka kulkas dan mengambil beberapa daun bawang dan sebutir telur. Nada meringis saat mendengar bunyi cipratan telur mata sapi. Dilihatnya lagi masih tak ada tanda-tanda kesadaran Hatra. Nada segera mematikan kompor dan duduk manis di meja makan. Wajahnya merah begitu memakan mi instan. Andai dirinya adalah kritikus makanan seperti Anton Ego, dia akan mengklaim mi instan khas Indonesia adalah makanan terbaik! Piringnya bersih tak tersisa. Dia benar-benar lupa bagaimana rasanya makan makanan enak setelah dirinya tersekap di ruang tahanan. Nada mendongakkan kepala dan menemukan Hatra menatap datar di depannya. “Sejak kapan—maksudnya aku tadi—“ Nada terbata-bata. Dia tak berani menatap wajah laki-laki di depannya. Nada takut tiba-tiba Hatra kembali emosi dan memperlihatkan wajahnya yang menyeramkan. “Kakimu—” “Apa?” Nada buru-buru menjawab. Hatra mengulangi. “Kakimu masih sakit?” Nada mengangguk pelan. “Rasanya nggak cuma terkilir aja.” “Iya, ligamenmu robek.” “Apa?” Nada terkejut. “Serius?” Hatra memutar bola matanya. Dia menuangkan teh hangat di cangkirnya dan duduk di depan Nada. “Aku nggak mau nahan kamu lama-lama di sini. Cukup serahin dirimu ke polisi atas kasus kematian adikku.” “Ta-tapi aku bukan pelaku—“ Hatra menatap tajam. Dia menaruh cangkir tehnya secara kasar di atas meja. Nada menelan salivanya. Gawat. Hatra emosi lagi. “Enggak, maksudku,” Nada tak bisa melakukan itu. Di samping dia bukan penyebab utama kematian adiknya, dia juga tak ingin menyeret ayahnya yang berprofesi sebagai jaksa. Akhirnya Nada memilih diam. Walaupun dia mengatakan yang sebenarnya, Nada tak yakin laki-laki itu akan percaya. Hatra berdiri. “Waktumu nggak banyak. Kalo kamu nggak cepet-cepet serahin diri, tamat riwayatmu!” Hatra menggeram. Nada mendelik. Gadis itu termenung di tempatnya. Bagaimana caranya membuktikan bahwa dia memang bukanlah penyebab utama kematian Insi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD