NADA terbangun.
Dia seperti merasa dalam mimpi yang panjang. Bahkan dia tak ingat kapan terakhir kali tidurnya terasa begitu nyenyak.
Nada menguap. Sial, dalam situasi kayak gini masih aja sempet-sempetnya tidur, nyenyak lagi, hatinya memberontak.
Hebatnya lagi, Nada tak sadar bagaimana dirinya bisa dengan mudahnya tertidur sambil duduk di sebuah kursi, tahu-tahu saja dirinya sudah terlelap. Bahkan obat tidur pun tak bisa membuatnya senyenyak ini.
Apa yang dia sesali adalah mengetahui dirinya masih terkunci dalam ruang kegelapan yang sama. Setidaknya biarkan lampunya menyala. Itu akan jauh lebih baik.
Samar-samar Nada mendengar percakapan di luar sana. Lama-lama suara itu semakin terdengar jelas. Nada langsung berteriak.
“Tolong! Tolong! Yang di luar!” Nada berusaha lebih keras lagi. “Toloooong…!”
Kemudian suara musik tak kalah keras menyeru di balik pintu.
Wow, fantastic baby! Dance! I wanna dance, dance, dance, dance, dance! Fantastic baby! Dance!
Nada memutar bola matanya. “Sial!”
Di sisi lainnya, musik itu terlalu keras. Percakapan akhirnya terinterupsi.
“Nggak bisa dikecilin!?” Orang itu sedikit mengeraskan suaranya.
“Sori, tiba-tiba pengin dengerin musik! Volumenya lagi rusak!” balas laki-laki itu tak kalah keras.
Orang itu terpaksa memahami, walau terdengar aneh. “Ya udah, pokoknya gitu ya! Cepet ngasih kabar! Urgent!” Dia pamit dan keluar ruangan.
Setelah rumahnya tak ada orang lagi, laki-laki itu menggeram. Dia mematikan musiknya dan membuka ruang tahanan dengan kasar.
Laki-laki itu menendang kursi Nada hingga membuatnya terjatuh. “Mau mati?!”
Nada menjerit kesakitan. Pergelangan kakinya tertiban kursi dan rasanya seperti mengulang kecelakaan itu. Mungkin dia harus benar-benar kehilangan kakinya.
Gadis itu tak kuasa menahan sakitnya dan berteriak lagi. “Aku...,” rintihnya, “nggak segan-segan tuntut kamu!”
Laki-laki itu jongkok dan tertawa. “Oh, ya? Mau nuntut apa?”
“Penculikan pasal 328, penyekapan pasal 333, penganiayaan pasal 351, dan percobaan pembunuhan pasal 338 KUHP, alias hukum pidana berlapis!”
“Wah!” Laki-laki itu sekilas tampak takjub daripada merasa takut. Dia bertepuk tangan dengan ekspresi mengejek. “Bener kata pepatah. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kenapa nggak jadi jaksa aja?”
Nada meringis. Dia berusaha menggeser kaki kanannya dari tindihan kursi. “Setelah ngeliat tingkah biadabmu, aku jadi bertekad buat jadi jaksa. Dan jangan harap kamu bisa lolos!”
“Biadab? Biadab.” Laki-laki itu berdiri dan memasukkan kedua tangannya di saku celana. “Seperti ayahmu?”
Nada terkejut. “Kamu ... kok tau?”
“Oh, jadi kamu juga ngaku juga kalo ayahmu biadab? Menarik.” Dia tertawa. “Gimana ya, perasaan ayahmu kalo tau anaknya sendiri mengakui kebiadaban ayahnya.”
Nada menggeram. Dia memang tak begitu menyukai ayahnya, tetapi dia jauh lebih tak suka jika orang lain berani menghina ayahnya begitu mudahnya.
“Asal kamu tau. Ayahku adalah jaksa paling bijak dan adil, jadi jangan pernah sekali-kali kamu hina ayahku biadab! Kamu yang biadab!” Nada berteriak lagi.
Laki-laki itu berhenti tertawa. Dia jongkok dan menggertakkan rahangnya. “Apakah menyembunyikan fakta sesungguhnya dan membebaskan pelaku itulah yang kamu sebut adil?!” Napasnya menderu. Matanya merah dan melotot. Dia berusaha menahan emosinya. “Hanya karena pelakunya anaknya sendiri, dia bisa-bisanya menghakimi seseorang mati karena bunuh diri. Itu yang kamu sebut adil?!”
“Ah!” Nada merintih saat laki-laki itu menekan kursi yang jatuh di atas kedua kakinya. Rasanya sakit! Kedua tangannya mengepal. Nada sadar ucapannya salah dan dia juga sadar bahwa laki-laki di depannya saat ini adalah korban kejahatan ayahnya lima tahun yang lalu. “To-tolong….”
Laki-laki itu seperti termakan emosi dan perasaannya, sehingga otaknya tak dapat berpikir jernih. Dia semakin menekan kursi itu hampir sekuat tenaga dan membiarkan Nada menjerit kesakitan. “Jaksa Fatistan, bukan, ayahmu yang adil dan bijak itu ... udah ngerusak keluargaku!”
Nada sudah tak dapat lagi memikirkan kata-katanya. Rasa sakit itu menjalar di tubuhnya bagai tombak yang menusuk berkali-kali. Dia hanya bisa menangis dan berharap semuanya berakhir.
“Kamu masih bisa-bisanya nge-bully sana-sini, ketawa di atas penderitaan orang lain, dan kamu tau apa yang lebih menjijikkan dari ini?” Dia menatap Nada dengan tatapan mengerikan. “Kamu nggak merasa bersalah sama sekali.”
Laki-laki itu benar-benar sudah melampaui batas. Gadis itu dapat benar-benar kehilangan kedua kakinya jika dia tak segera mengangkat tangannya. “Orang kayak kamu emang nggak pantes hidup!”
“A-ah!” Nada menjerit untuk yang kesekian kalinya. Dia menatap laki-laki itu dengan tangisan, memohon dalam tatapannya. “To-tolong….” Dia berkata sangat lirih.
Sedikit lagi, biarkan sedikit lagi, amarah laki-laki itu berkata. Dia sudah hampir buta akan gadis lemah yang sedang dia siksa saat ini.
Sedangkan Nada sudah pasrah. Mungkin kali ini dia benar-benar harus melepas kedua kakinya, melepas segala harapannya. Sepertinya memohon sudah tidak berfungsi lagi.
Kemudian, saat kedua kaki itu hampir benar-benar terluka, laki-laki itu mengangkat tangannya. Dia tersadar.
Bisa saja dia membunuh gadis itu dan kehilangan semuanya jika otaknya tak memaksanya untuk berhenti. Dia berdiri dan mengusap matanya yang merah akibat emosi. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia keluar ruangan dan membiarkan Nada merintih kesakitan.
Nada berusaha untuk berdiri, tetapi kembali terjatuh. Lengannya berusaha menopang badan, setidaknya dia harus duduk dan menenangkan dirinya sendiri. Kedua tangannya berusaha mendorong kursi itu dari kedua kakinya dan menegakkannya. Kemudian Nada menggeser kakinya satu per satu secara perlahan.
Dia duduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya di kursi kayu yang cukup berat itu. Nada mengusap air matanya. Apa pun yang terjadi, dia harus bertahan.
Perlahan walau samar, dia mengingat sesuatu.
Laki-laki itu ... dia pernah melihatnya di suatu tempat. Sudah lama sekali. Mungkinkah dia orang yang dulu sering sekali disebut-sebut oleh Insi?
Dia sepertinya juga menghadiri sidang lima tahun yang lalu. Nada berusaha mengingat nama laki-laki itu lebih keras. Siapa namanya?
Kilasan memori berputar di otaknya. Samar-samar dia mendengar suatu suara yang membisikkan sebuah nama. Nama laki-laki itu!
Hatra. Hatra Edwin.
***
Instruktur Anna benar-benar bingung. Beliau tak tahu harus bagaimana.
Bella baru saja mengatakan bahwa Nada dibawa kakaknya pergi ke Jepang karena suatu urusan mendadak sehingga dirinya tak bisa meminta izin instruktur sebelumnya. Tetapi itu tidak masuk akal. Setidaknya tinggalkan pesan atau apa pun itu yang membuat instruktur bisa hidup dengan tenang.
Instruktur Anna duduk dan menyentuh rambutnya. “Kompetisinya ... gimana ini? Apa yang harus saya lakukan?”
Bella menggigit bibirnya. “Uh, bilang seadanya aja, Coach.”
“Seadanya itu apa? Dia ikut kakaknya ke Jepang karena urusan mendadak, gitu?” Instruktur menatap Bella seram. “Nggak mungkin. Saya bisa dimarahin atasan kalau begini. Mana nggak ada buktinya lagi.”
“Mau gimana lagi, Coach?”
Instruktur Anna meyipitkan mata. “Kamu nggak bohong, kan? Jangan-jangan dia kabur karena nggak mau ikut kompetisi.”
Bella langsung menggeleng cepat. “Eng-enggak, Coach! Beneran! Su ... er?” Dia sendiri tampak agak-agak ragu.
Pasalnya, Grizzly tak mengizinkan siapa pun untuk menyebarluaskan berita ini sebelum ada bukti valid bahwa Nada diculik. Sehingga dia memberi ide Bella untuk sedikit berbohong. Katanya, white lie itu sekali-kali nggak papa, kok.
Mengingat perkataan Grizzly, Bella kelepasan mendesis.
“Kenapa?” tanya Instruktur.
“Eng-enggak, Coach. Nggak papa.” Dia menyengir.
Sedangkan di dekat danau, Grizzly terus mengotak-atik ponsel Nada, siapa tahu keajaiban berpihak kepadanya.
Setelah itu Leo datang.
“Aku udah minta bantuan sama beberapa anak yang kenal sama Nada, mereka juga bersedia tutup mulut, kok,” kata Leo.
“Terus yang hacker?”
Leo menggaruk kepalanya. “Itu agak susah, Griz. Aku udah tanya temen-temen lamaku, rata-rata mereka khilaf nggak nge-hack lagi. Selain itu, biayanya juga—“
“Itu nggak masalah,” potong Grizzly. “Isi di ponsel ini yang paling penting.”
“Gimana kalo bukan di hape itu penyebabnya? Mungkin aja ada hal lain. Masalah keluarga? Kamu udah ngecek tentang kakaknya?”
Grizzly mengangguk. “Dugaan kita bener kalo ternyata emang bukan kakaknya yang ambil dia di rumah sakit. Aku sms lewat hape Nada katanya dia masih di Jepang.”
Leo memukul pembatas danau. “Awas aja sampe ketangkep, tuh, orang!”
Grizzly mengangguk. “Apa lagi yang kamu dapet?”
Dia mengingat-ingat. “Ah, kemarin aku ke rumah Hat—“
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Itu dari Coach, katanya jika Leo tak segera kembali latihan, tak segan-segan beliau akan menendangnya keluar. Leo menyengir dan segera mematikan teleponnya.
“Aku balik dulu, pelatih lagi PMS. Dah!”
Grizzly melambaikan tangan dan kembali ke asrama. Di sana dia terus berpikir bagaimana cara menemukan Nada.
Pihak polisi meneleponnya, mereka sudah menemukan mobil yang menabrak Nada. Hanya saja sopirnya menghilang.
Grizzly menggeram. Dia juga tak bisa melaporkan hilangnya Nada selagi pihak rumah sakit tak mau bekerja sama mengenai data-data kakaknya.
Sial! Grizzly menarik rambutnya sendiri. Seharusnya dia tak meninggalkan Nada saat itu di rumah sakit, tetapi pelatih membutuhkannya untuk proyek selanjutnya. Begitu pula Leo, Bella, dan Krista.
Saat itu memang bukan saat-saat yang tepat.
Kemudian Grizzly teringat kakaknya. Benar! Mengapa tak terpikirkan sebelumnya? Dia yakin kakaknya itu punya banyak koneksi yang bisa digunakan. Setidaknya hacker! Ya, itu!
Grizzly langsung menghubungi kakaknya.
“Kak, hacker yang waktu itu ... punya nomernya?”