Chapter 12: Bertatap Muka Dengan Cowok Misterius

1732 Words
Look at you acting like you don't know anything. But now I'm getting tired of it. |Stupid Liar - BIGBANG| . . NADA melihat kegelapan. Suatu hal yang membuatnya tidak bisa membedakan apakah ini asli atau ilusi. Gadis itu ingin berdiri, tetapi tubuhnya tak bisa bergerak. Kemudian dia menyadari. Dirinya terikat di sebuah kursi. Begitu pula dengan tangan dan  mulutnya yang disumpal. Ini asli, pikirnya saat ini. Gadis itu mencoba untuk berteriak, apakah ada yang berbeda. Untuk beberapa saat, tak ada yang berubah. Kegelapan itu masih sama. Ini mimpi, dia menenangkan dirinya sendiri. Secepat kilat kelegaannya sirna, karena setelah itu dia melihat pintu di depannya terbuka, menampilkan sosok laki-laki. Nada terkejut. Orang itu berjalan mendekat dan mencondongkan wajahnya ke hadapan gadis itu. Dia memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Matanya tajam, seperti dia pernah melihatnya di suatu tempat. Nada langsung meronta. Laki-laki itu akhirnya melepas gumpalan kain dari mulut Nada. “Siapa kamu?! Lepasin!” Dia berteriak. Laki-laki itu menegakkan tubuhnya dan melepas ikatan di tangan Nada. Setelah itu, Nada berdiri dan langsung menjerit kesakitan. Dia kembali terjatuh di kursi. Dia menyadari sesuatu. Rasa sakit di pergelangan kakinya mengingatkannya akan kejadian semalam. Gadis itu menunduk dan menemukan kaki kanannya dibalut perban. Itu sebabnya dengan mudah laki-laki itu membiarkan Nada terlepas dari ikatan, karena dia tahu gadis itu tak akan mampu berdiri. “Kamu beruntung,” kata laki-laki itu dengan suara rendah. “Kecelakaan yang kusebabkan nggak bikin kakimu diamputasi.” Kemudian dia berbicara yang mungkin ditujukan pada dirinya sendiri. “Aneh. Padahal kecepatannya sudah kuperhitungkan, setidaknya patah tulang.” “Apa?” Nada mendesis. Laki-laki itu kembali menghadap Nada. “Kok bisa kakimu cuma terkilir?” Kakinya terkilir? Nada merinding membayangkannya. Kakinya merupakan aset yang berharga untuk kemampuan menarinya. Entahlah. Mendengar kakinya terkilir membuat harapannya perlahan-lahan sirna. Sampai jumpa lagi hip-hop, bisiknya dalam hati. “Jadi kamu yang nabrak aku semalam?!” Nada berteriak lagi. “Ssst. Jangan keras-keras, kasian tetangga kita yang semuanya makhluk halus, mereka nggak suka berisik,” kata laki-laki itu. Nada menarik baju laki-laki itu. Dia menggeram. “Aku di mana?” “Entahlah.” Nada menarik baju laki-laki itu untuk semakin mendekat padanya. Dengan begitu dia bisa menarik masker di wajahnya. “Selama ini kamu yang neror aku?” Laki-laki itu menyejajarkan kepalanya dengan Nada. Matanya benar-benar tajam. Sekilas Nada lebih merasa terintimidasi daripada takut. “Hm.” “Kenapa?” Dia masih belum melepaskan tatapannya dari Nada. “Untuk membayar semua perbuatanmu lima tahun yang lalu.” Benar. Ini semua tentang lima tahun yang lalu. Sebuah kejadian yang membuat hidupnya kacau. Nada mengangkat tangannya dengan gemetar. Dia perlahan-lahan menarik masker laki-laki itu. Dahinya berkerut. Nada tidak mengenalnya. Apakah benar laki-laki inilah yang dia lihat malam itu? “Siapa....” Nada berhenti. Dia harus memeriksanya terlebih dahulu. “Apa yang kamu mau?” Kalau dia benar orang yang Nada lihat malam itu, maka seharusnya dia menjawab.... “Apa, ya? Melihatmu tersiksa?” Nada terkejut. Saat itu juga rasa takut menjalar di seluruh tubuhnya. Gadis itu kembali meronta dan berteriak. Berusaha berdiri tetapi kakinya sungguh sakit sekali. “Lepas! Lepas!” Nada menangis. Orang ini bukanlah orang yang dia lihat malam itu. Dia bukanlah orang itu! “Kan, udah lepas. Mau pergi? Ya, pergi aja,” katanya tak bergerak dari tempatnya. “Itu pun kalo bisa.” Nada menangis di pahanya. Dia kini benar-benar berharap bahwa laki-laki yang dia lihat malam itulah yang menculiknya. Sehingga dengan begitu Nada bisa mengancamnya kembali sebagai pertahanan diri. Melihat harapannya tak terkabul, Nada semakin gila dalam situasi ini. Bagaimana caranya kabur? Gadis itu tak mengenal siapa laki-laki ini. Apa yang dia mau? Mengapa dia sangat ingin melihat Nada tersiksa? Dan apa hubungannya dengan kejadian lima tahun yang lalu? Laki-laki itu mengamati Nada, kemudian bergumam, “Sebenarnya apa hubunganmu sama dia, ya?” Dia? Mungkinkah itu orangnya? “Iya, iya! Bawa dia ke sini!” Nada menarik lagi lengan baju laki-laki itu. “Suka banget narik baju orang.” Laki-laki itu mengibaskan lengannya. “Kamu kenal siapa yang kumaksud?” Nada terdiam. Dia menggeleng. “Tapi bawa aja dia ke sini! Siapa tau kenal!” Laki-laki itu menengadahkan kepala dan mendesah. Dia kembali memasang wajah yang menyeramkan. “Kamu bener-bener nggak paham keadaan, ya?” “Bawa aja dia ke sini!” teriak Nada. Dia sudah benar-benar frustrasi. Laki-laki itu mengambil sesuatu di saku celananya. Sebuah suntikan. Namun, dia terdiam sesaat sebelum mengeluarkannya dari saku celana. Itu potasium klorida. Dengan dosis tinggi, efeknya bukan main. Gadis ini bisa saja langsung mati. Dia bener-bener mau ngelakuin ini? batin laki-laki itu menolak. Walaupun laki-laki ini sangat membenci Nada, dirinya tak benar-benar ingin membunuhnya. Setelah berpikir untuk sesaat, akhirnya laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk menyuntik Nada.  “Dia nggak tau kalo kamu masih hidup. Aku bilangnya kamu udah mati.” Laki-laki itu berusaha membenarkan tindakannya. Pikirannya sebenarnya kacau. Dia meminta bantuan laki-laki ini untuk menyuntikkan cairan itu, tetapi mana bisa begitu? Tangannya tak mampu melakukannya. Dia sudah melakukan semua yang dimintanya. Jadi seharusnya urusan gadis ini selanjutnya akan menjadi urusan laki-laki ini seorang. Dia akan balas dendam pada Nada memakai caranya sendiri. Ya, itu tindakan yang paling tepat. Nada mengamati laki-laki yang sedang termenung itu. Apa dia adalah suruhannya orang itu? “Bilang aja aku masih hidup! Bawa dia ke sini!” Laki-laki itu menggeram. “Kamu mau mati?! Kalo dia ke sini kamu bakal mati!” Dia tak bisa memberitahu di mana dia menyekap Nada. Dia harus menyembunyikan gadis ini agar tak ketahuan. “Tapi aku harus tau sesuatu!” Nada tak mau mengalah. “Dia sudah nggak ada hubungannya sama kamu.” Laki-laki itu mendesah. Telinganya mendengung. “Tau gini, nggak kulepas sumpelan kain itu.” Dia berdiri dan meninggalkan Nada. Laki-laki itu tak tahan dengan teriakan gadis itu. Mendengarnya sekali lagi mungkin dia harus kehilangan pendengarannya. *** Grizzly ada di kantor polisi. Dia sedang memberikan keterangan mengenai kasus tabrak lari. Dia mengingat-ingat karakteristik mobil dan kecepatannya saat itu. Polisi mengatakan akan menemukan sopir tersebut dan langsung menghubunginya. Tapi tampaknya dia tak terlalu puas dengan hal itu. Grizzly menerima telepon dan berjalan keluar kantor polisi. “Ya, Kris?” Mendengar keadaan darurat dari Krista, dia langsung pergi ke rumah sakit. Sampai di sana, petugas rumah sakit dan beberapa perawat tampak kewalahan di meja administrasi. “Kenapa? Ada apa ini?” tanya Grizzly khawatir. “Nada hilang!” seru Bella. “Bukan hilang, Dek.” Petugas administrasi tersebut seperti berusaha menahan diri. “Kemarin ada pihak keluarga yang membawa pasien pulang.” “Boleh tahu siapa pihak keluarganya?” tanya Grizzly curiga. Petugas tersebut memaksakan senyumnya. “Maaf, pihak keluarga tidak memberikan izin untuk itu.” “Apa Mbak sudah periksa kartu identitasnya?” “Sudah.” Petugas itu tampak dongkol, seperti sedang diremehkan oleh anak-anak kecil. “Mohon maaf, tetapi pihak rumah sakit sudah tidak bertanggungjawab lagi atas permintaan pihak keluarga. Mohon adik-adik untuk keluar dan tidak membuat keributan.” Grizzly terpaksa menarik lengan Bella dan Krista untuk melanjutkan pembicaraan di luar, karena bila semakin lama di situ akan membuat keributan. “Siapa sih, pihak keluarganya? Kita aja kemarin nggak sempet telepon orangtuanya,” kata Krista menggerutu. Grizzly mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. “Telepon siapa?” tanya Bella. “Ibunya, lah.” “Jangan!” seru mereka bersamaan. “Ibunya punya penyakit jantung, bayangin kalo Beliau tau anaknya masuk rumah sakit, bisa ikutan masuk rumah sakit nanti.” Grizzly mengganti nomor tujuan. “Oke, kalo gitu ayahnya.” “Jangan!” seru mereka lagi. “Apa pun itu jangan pernah libatin ayahnya Nada. Jangan tanya kenapa.” Grizzly menggeram. “Terus gimana?” Bella merebut ponsel Grizzly dan mematikannya. “Nada punya kakak. Setahuku dia lagi ada di Jepang. Mungkin orang itu ngaku-ngaku jadi kakaknya Nada.” “Gimana caranya?” tanya Krista. “Kalo orang udah niat, semua gampang,” kata Grizzly. “Ada yang punya nomor kakaknya?” Bella dan Krista menggeleng. “Dia nggak banyak cerita tentang kakaknya.” Grizzly menghela napas dan menyentuh dahinya, berpikir. Semalam setelah Nada menerima pesan di ponselnya, gadis itu langsung berlagak aneh. Dia tampak tak baik-baik saja. Karena itulah Grizzly mengikutinya. Apa jadinya jika Nada berjalan sendirian, kemudian tertabrak lari tanpa ada orang yang melihat seperti dirinya semalam? Grizzly mendesah khawatir. Firasatnya tak enak. Apa benar Nada diculik? “Nada pernah cerita punya masalah?” tanya Grizzly. “Enggak,” kata Bella. Nada memang orang yang sedikit tertutup. Kemudian Bella teringat sesuatu. “Oh, tapi ... ini dari pandanganku ya. Kayaknya ada sesuatu di hapenya. Tiap kali dia dapet SMS, mukanya langsung pucet, terus ketakutan gitu.” “Iya, bener!” Krista menambahkan. “Dia suka ngilang abis liat hapenya. Kalo malem, dia juga minum obat tidur. Pernah beberapa kali minum obat penenang juga.” “Obat penenang?” tanya Grizzly. “Dia punya penyakit apa?” Tak ada yang menjawab. Grizzly berpikir. Mungkinkah ada sesuatu di ponselnya? Dia tak yakin. Semalam dirinya sudah mencoba menggeledah isi ponsel Nada, tetapi tak ada apa pun. Apakah dia melewatkan sesuatu? Grizzly harus segera mencari tahu sebelum semuanya terlambat. Akhirnya laki-laki itu segera pamit dan langsung menuju tempat servis data. Di sana dia menyerahkan ponsel Nada dan meminta mereka untuk mengembalikan apa saja yang telah dihapus. Mulai dari galeri, media sosial, dan yang paling penting fitur pesan. Dia tahu ini sedikit lancang, tetapi ini mendesak. “Dua minggu lagi bisa diambil,” kata tukang servis. Aduh, itu terlalu lama. “Nggak bisa dipercepat?” “Nggak bisa, itu udah paling cepat,” katanya lagi. Akhirnya Grizzly setuju. Dia tak bisa mencari tempat lain karena tempat inilah yang paling banyak rekomendasi dan keselamatan data terjamin. “Ini mohon diisi sesuai data-data di hapenya.” Grizzly mengerutkan dahi. “Uh, ini harus? Soalnya ini hape teman, dia lagi darurat.” “Iya, kalo nggak gitu, nggak bisa.” Aish, sial. Yang paling tahu datanya adalah pemilik ponselnya sendiri. Grizzly melupakan hal itu. Dia menggaruk kepalanya. “Kalo dibobol aja bisa? Mendesak banget.” Tukang servis menolak. “Maaf, itu riskan sekali.” Sekali lagi, sial. Grizzly harus mencari tempat lain. Ataukah dia harus mencari hacker saja? Dia mengambil ponsel itu kembali dan mengucapkan terima kasih. Dia memukul setir mobil. Kemudian menunduk. Pikirannya semakin kacau. Dia bingung harus bagaimana. Mencari hacker khusus tentu tak mudah. Sedangkan kondisinya mendesak. Grizzly segera menelepon Leo. “Tolong cariin hacker yang bisa bobol data hape. Penting!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD