Chapter 11: Mimpi Buruk Kedua

1423 Words
I knew it was a difficult path but I just walked anyway. I fly for you, I couldn't see my heart even when I close my eyes. |I Love You Boy - Bae Suzy| . . MEREKA harus beraksi lagi. Kali ini blok terbagi atas dua, blok timur yang terdiri dari Leo dan Grizzly, sedangkan blok barat terdiri dari Nada, Bella, dan Krista. Malam ini banyak petugas jaga yang berkeliling, sehingga siasat mereka harus diperbarui. Seperti sebelumnya, para lelaki lebih memilih untuk terjun dari jendela. Sedangkan para perempuan lebih memilih cara terhormat, yaitu keluar melalui pintu, seperti orang normal lainnya. Mereka bertiga mengendap-endap di sisi tembok hingga sampai di meja pengawas ruangan. Penjaga asrama kali ini Bu Rita dan Bu Nilam. Sampai saat ini belum ada yang lolos dari pantauan Beliau, sehingga momen ini akan menjadi momen berharga bagi mereka bertiga kalau sampai berhasil kabur dari asrama. Nada mengedipkan mata berulang kali untuk memberi isyarat kepada Krista. Gadis itu membalas juga dengan kedipan mata. Krista menekan tombol di ponselnya, dan tiba-tiba terdengar bunyi sirene. Bella menempel lebih dalam pada tembok saat kedua penjaga tersebut berdiri dan menengok ke arah jendela. Krista langsung berlari keluar asrama saat petugas lengah oleh bunyi sirene. Namun sayang bagi Nada dan Bella. Mereka tertinggal di belakang karena petugas buru-buru membalikkan badan dan saling bercakap. Sirene itu berhenti berbunyi. Nada mendesis. “Kita gimana?” Bella menggigit bibirnya. “Ketahuan bisa gawat.” Di luar, Krista menepuk jidatnya. Dia berpikir bagaimana cara mengalihkan kedua perhatian petugas itu. Tiba-tiba terbesit sesuatu di otaknya. Kali ini membutuhkan radar ikatan batin yang sangat kuat. Semoga Bella dan Nada menyadari sinyal dari Krista. Telepon asrama berbunyi. Nada terkejut dan matanya langsung menangkap sesuatu. Alarm kebakaran! Nada melepas heels dan menancapkannya pada tombol alarm. Bella berteriak, “Kebakaran!!!” Hal ini menguntungkan pertarungan bagian blok timur. Leo dan Grizzly terus terkunci di semak-semak tanpa bisa bergerak. Sejak kejadian tempo lalu, petugas menjadi lebih ekstra dalam berjaga. Leo tak bisa membunyikan sirene karena mobil-mobilan yang dia letakkan di suatu tempat sudah menghilang. Sepertinya petugas sudah mengetahui hal itu. “Sialan. Mereka nggak pergi-pergi,” desis Grizzly. “Si Gendut sebelah sana tajem bener matanya,” kata Leo. “Kita butuh plan B!” Alarm kebakaran dari asrama perempuan terdengar hingga asrama laki-laki. Petugas langsung berlari dan membuka kesempatan bagi Leo dan Grizzly untuk bergerak. Saat Leo berusaha keluar dari semak-semak, petugas gendut berhenti dan mengarahkan senternya ke semak-semak. Grizzly sudah aman, tetapi ternyata tidak begitu. Leo bukanlah orang yang rela berkorban demi temannya, melainkan cenderung berkhianat. Jika sampai Leo tertangkap, sudah dipastikan dia juga akan menggeret Grizzly untuk menikmati hukuman bersama-sama. Leo menunduk lebih dalam saat petugas menyibakkan semak-semak. Petugas gendut itu bersiap untuk melompat ke baliknya. Leo memejamkan mata. Mati, deh, pikirnya. “Hei, Tong! Ayo!” seru petugas lainnya. Si Gendut itu tak jadi melompat. Dia langsung menyusul petugas lainnya ke asrama perempuan. “Ah, nyaris,” kata Grizzly saat mereka berdua berhasil keluar kawasan asrama. “Si Gendut itu kayaknya emang punya dendam ke aku deh,” kata Leo membereskan tatanan rambut cokelatnya. “Tenang aja. Setiap orang yang liat kamu pasti langsung punya dendam pribadilah.” Leo menatap sahabatnya dengan tatapan memati-kan. Sampai di warung kepiting rebus, kaum blok barat sudah bersantai-ria di meja paling belakang. Kaum blok timur hanya dapat menganga takjub. Mereka pikir mereka sudah memecahkan rekor tercepat kabur dari asrama, kali ini reputasi itu berpindah ke kaum perempuan. “Bibi, soda gembira dua!” seru Leo sambil duduk. “Udah berapa lama?” “Sepuluh menit yang lalu?” kata Bella. Grizzly mengusap wajahnya. Dia melirik Leo di sela-sela jarinya sambil melotot malu. “Alarm itu dari kalian, kan?” Nada mengangkat telapak tangannya—tanda bahwa ide membunyikan alarm adalah idenya—tanpa perlu memandang Grizzly. Dia sibuk memakan kepitingnya. Jarinya terlihat tak nyaman karena berusaha melindungi cat kuku yang baru saja kemarin dioles. Grizzly mengambil piring dan mengumpulkan daging-daging kepiting dengan mudah. Dia menukarnya dengan piring milik Nada. “Terus ketahuan, nggak?” tanya Grizzly pada Bella. Nada menatap laki-laki di depannya. “Enggak, dong. Eh, nggak tau lagi, ya. Kita langsung lari begitu asrama rame,” kata Bella. Malam ini adalah malam perayaan kemenangan Grizzly. Dia berhasil menduduki posisi ketiga dalam kejuaraan Nasional. Rekor waktunya beda tipis dengan juara di atasnya, tapi Grizzly sudah cukup bersyukur. Dia telah melakukan yang terbaik. “Tinggal Nada, nih. Minggu depan dateng ya. Support Nada!” kata Krista, semangat. Grizzly menatap gadis di depannya. Semangat, katanya dalam hati. Nada menggeleng. “Jangan, deh. Takutnya kalian malah ngerusak acara.” Leo menyengir lebar. “Aku bisa jadi back dancer!” Dia berdiri dan bersiap untuk menari. Kemudian, tangan Grizzly menarik baju Leo dan memaksanya duduk. “Udah, nggak usah.” Leo mendecih dan menekuk wajahnya. Malam semakin gelap. Tenda warung mengeluarkan suara “pok ... pok” akibat terpaan angin malam yang semakin kencang. Mereka sudah menyelesaikan semua makanan, kini hanyalah mengobrol santai.. Nada tertawa kecil saat Leo menceritakan masa kecilnya. Setelah itu, ponselnya berbunyi singkat. [Menikmati makan malamnya?] Ekspresi Nada berubah. Sejak kejadian di toilet waktu itu, dia tak lagi mendapatkan pesan teror. Gadis itu mengira semua telah berakhir, nyatanya tidak begitu. Sepertinya kehidupan mencekamnya kembali dimulai. [Coming right to you.] Nada memucat. Dia ada di sini. Gadis itu harus segera pergi. “Aku ... keluar sebentar.” “Oke,” sahut Bella melanjutkan percakapan. Nada menyingkap hoodie-nya dan segera memakai masker. Dia harus segera kembali ke asrama agar orang itu tak dapat menemukannya. Ponselnya kembali bergetar. [Ke asrama? Ok.] Sialan! Nada mempercepat jalannya walau kakinya seperti kesemutan. Gadis itu tak jadi ke asrama. Dia harus mencari tempat lain. Namun akhirnya Nada malah tersesat. Dia kini ada di sebuah jalan sepi yang ditemani remang-remang lampu jalan yang mungkin akan segera mati bila tertiup angin. Nada menghela napas. Dia mengedarkan pandangan ke sekililing dan memaki dirinya sendiri. Gadis itu tadi tak fokus ke mana harus pergi. Dirinya percaya ke mana kakiknya melangkah dan malah berakhir tersesat. Nada duduk di tepi jalan. Tenggorokannya kering. Dia memejamkan mata sejenak. Menetralkan degup jantung yang tak karuan. Setelah cukup beristirahat, dia kembali berdiri saat tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dari belakangnya. “Awas, Nad…!” Nada tak sempat menghindar dan bunyi tabrakan terdengar setelahnya. Nada terlempar ke samping jalan dan mobil itu tak mengurangi kecepatan. Bunyi decitan terdengar keras saat mobil itu berbelok dan menghilang dimakan gelapnya malam. Grizzly berlari panik dan mengangkat kepala Nada ke pangkuannya. “Nad?! Nad?!” Gadis itu merintih kesakitan. Grizzly melihat kepala dan kedua kaki Nada terluka. Laki-laki itu segera menelepon bantuan. “Nad, tahan, Nad!” bentak Grizzly agar Nada tak hilang kesadaran. “Nad, jangan merem! Liat aku!” Nada tak tahan merasakan tulangnya seperti terlepas dari tubuhnya. Dia berusaha menatap Grizzly. Grizzly terus menelepon bantuan. Dia semakin panik. Darah keluar cukup banyak dari kepala dan kedua kaki Nada. Gadis itu menangis dan merintih kesakitan. Dia mencengkeram kemeja Grizzly berharap rasa sakit itu berkurang. “Tahan, Nad. Bentar lagi!” kata Grizzly mencoba untuk tenang. “Jangan merem!” Grizzly melepas kemejanya dan merobeknya menjadi dua. Dia menempelkannya di kepala dan kaki Nada. Setelah itu ambulans datang. Nada masih berusaha mempertahankan kesadaran-nya saat ambulans melaju kencang. Grizzly terus menggenggam tangan Nada, membiarkan gadis itu mencengkeramnya kuat agar rasa sakit itu menghilang. Petugas medis segera memeriksa seluruh tubuhnya. “Ah!” Nada menjerit saat kakinya diperiksa oleh petugas. Wajahnya sudah basah oleh air mata. Grizzly memperkuat genggamannya. “Nad, liat aku. Tahan bentar lagi.” Mereka sudah sampai di rumah sakit. Grizzly tak diperbolehkan masuk ke ruang penanganan darurat. Dia mengepalkan tangannya dan menyandarkan kepalanya ke dinding. “Griz! Mana Nada?!” tanya Bella setelah sampai di rumah sakit. “Di dalem,” kata Grizzly lemas. “Ada apa?” Leo langsung melesat ke rumah sakit saat menerima telepon dari Grizzly. Grizzly mencoba untuk bernapas karena beberapa saat yang lalu tenggorokannya seperti tersumbat. “Ditabrak lari sama mobil.” “Dicatet plat nomernya?” Grizzly menggeleng. “Aku panik, nggak sempet.” “Aduh, Nada. Kok bisa, sih?” Krista tak bisa tenang. “Bukannya tadi dia ke toilet? Kenapa bisa sampe ketabrak?” Malam itu, Nada kembali ke rumah sakit. Tak ada yang tahu siapa pelaku tabrak lari tersebut. Namun, Grizzly menemukan sesuatu. Dengan itu, dia berharap bisa mengupas siapa pelaku yang menyebabkan Nada berakhir di rumah sakit. Tentu, begitu menemukan pelakunya, dia tak akan segan-segan membalas perbuatannya. Seperti kata pepatah, mata untuk mata, gigi untuk gigi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD