It might be easier to die, than to receive your forgiveness.
|Untitled - G Dragon|
.
.
Sore itu langit kembali terlihat mendung.
Grizzly mengenakan hoodie merahnya dan berjalan keluar dari asrama. Sampai di depan pintu keluar, dia berhenti. Menengadahkan kepala, laki-laki itu menatap langit. Rambut cokelatnya mengayun-ayun sesuai irama angin kala itu.
Kemenangannya hari ini cukup membuat perasaannya senang. Walau kemenangan ini bukan satu-satunya kemenangan yang diraihnya, dia tetap bahagia. Kalaupun tak menang pun Grizzly tetap bahagia. Taekwondo sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Dia berharap sampai suatu saat nanti, dalam waktu yang sangat lama, dia masih bisa memegang erat bela diri kebanggaannya itu. Tak akan pernah dia lepas.
Laki-laki itu memasukkan kedua tangannya ke saku hoodie. Dia akan jalan-jalan sebentar sambil menikmati suasana mendung sore itu.
Earphone di telinganya sibuk memutar lagu Sweet Night milik V untuk menemani setiap langkah kakinya menyusuri danau Institut Van Gogh. Sampai di tengah-tengah, Grizzly menghentikan langkahnya tatkala melihat kehadiran seseorang yang telah lama dirindukannya.
Hatra Edwin.
Sama seperti Grizzly, Hatra tengah menikmati suasana mendung sore itu. Dengan burung-burung yang beterbangan di langit, dia duduk menghadap danau. Masih tak menyadari kehadiran Grizzly.
Dengan langkah pendek dan penuh keraguan, Grizzly berjalan dua langkah mendekat. Lalu berhenti lagi. Apakah dia sanggup untuk mendekatinya?
Pertemuan mereka di rumah sakit kala itu juga tak berujung baik. Tentu, Grizzly tak mengharapkan permintaan maafnya diterima dengan mudahnya oleh Hatra. Bahkan Grizzly telah bersumpah untuk bersedia menerima hukuman atas pengkhianatannya kepada sahabatnya sendiri.
Setelah berpisah selama tujuh tahun lamanya, mereka berdua kembali bertemu di bawah atap Institut Seni Van Gogh, di dalam gedung fakultas yang sama; bela diri. Sungguh luar biasa rencana Semesta. Satu kejadian dengan dua rasa yang berbeda.
Bagi Grizzly sungguh sebuah kebahagiaan bisa bertemu lagi dengan sahabat lamanya. Namun hal itu justru kembali membuka luka lama untuk Hatra.
Dengan perasaan yang berat, Grizzly memutuskan untuk duduk di atas rerumputan, beberapa langkah di samping Hatra. Sore itu, mereka berdua menghabiskan waktu bersama di bawah langit mendung dan pemandangan danau yang indah dalam diam.
Hatra menunduk, kemudian menghela napas panjang. Langit mendung kali ini benar-benar mengimbangi perasaannya yang sedang kalut. Di tangan, ponselnya masih menyala dan menampilkan sebuah foto. Kenangan yang tersisa bersama seseorang yang paling disayanginya.
Aku nggak bisa melindungi dia….
Rahangnya mengeras. Matanya terpejam rapat. Rasa sakit itu kembali hadir menyerang hatinya. Hatra mengusap rambutnya, lalu menengadahkan kepalanya.
Memang benar bahwa Semesta-lah yang paling berbakat dalam menghancurkan hidupnya.
Hatra mengeluarkan dompetnya. Di salah satu sisi terdapat sebuah foto yang dia temukan terjatuh di lorong saat penyambutan mahasiswa baru. Laki-laki itu sangat menyadari semua kekacauan yang terjadi di hidupnya berawal dari sosok di foto itu.
Apa pun caranya … dia akan menghancurkannya! Dia harus membayar apa yang telah diperbuatnya kepada keluarga dan kehidupan Hatra.
Hatra meremas foto itu dan dilemparkannya ke danau. Dengan hati sesak, dia berjalan meninggalkan tempat duduknya.
Melihat Hatra berlalu pergi, Grizzly terdiam sembari menatap tubuh sahabatnya menghilang di sudut mata.
“Oi!” sapa seseorang tiba-tiba. “Bengong aja.”
Grizzly menoleh dan melihat Leo duduk di sebelahnya sambil menyodorkan sekotak kue. “Kok tau aku di sini?”
“Kebetulan aja,” jawab Leo. “Tadi abis rapat sama Bella dan Krista. Terus pas mau balik ke kamar, nggak sengaja ngelihat kamu di sini.”
“Rapat apa?”
“Rapat enaknya kamu traktiran kami di mana.” Leo menyengir lebar.
“Heh!” Grizzly langsung menjitak kepala kawan sekamarnya itu. “Mana ada rapat nggak ngundang bintang tamunya?”
Leo menepuk-nepuk dompet Grizzly. “Ah, anak orang tajir mah nggak perlu peduliin hal-hal kecil begini. Di mana pun tempatnya pasti nggak masalah.”
“Aku jadi curiga alasan kamu mau jadi teman sekamarku,” desis Grizzly sebal.
Leo mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Grizzly. “Saat itu kan aku belum tahu kamu anak orang kaya. Anak pemilik perusahaan SV Corp, tiga perusaahan terbesar, coy! Woah!”
Inilah yang menjadi alasan mengapa Grizzly enggan menceritakan atau memperkenalkan keluarganya pada teman-temannya. Namun menyembunyikan rahasia sebesar ini pada teman sekamarnya rasanya berat. Apalagi Leo orangnya peka banget.
Saat itu setelah beberapa jam usainya kemenangan Grizzly pada perlombaan nasional, dia mendapatkan sekotak cokelat berisi ucapan selamat dan semangat dari SV Corp yang diantarkan oleh sekretaris ayahnya. Karena Grizzly tak ada di asrama saat itu, Leo-lah yang sebagai teman sekamarnya menerima cokelat pemberian ayahnya itu.
Waktu tiba di kamar, Grizzly langsung dihujani berbagai pertanyaan dari Leo menyangkut keluarganya. Dari situlah hidupnya mulai melelahkan lantaran Leo yang terus-terusan menggodanya.
“Kalo mau ngasih pujian, ke orangtuaku sana. Kan yang punya perusahaan bukan aku,” ucap Grizzly sambil melahap kue cokelat milik Leo.
“Ya…,” Leo menatap danau sambil menikmati semilir angin, “aku masih nggak nyangka bakal punya temen sekaya itu. Untuk ukuran anak-anak keluarga tajir, kamu itu beda loh.”
“Beda gimana?” tanya Grizzly penasaran.
“Coba deh liat itu,” tunjuk Grizzly pada sekumpulan orang-orang di parkiran mobil sport berwarna merah. “Dia anak dari aktor paling top, yang filmnya berhasil juara se-Asia itu. Tuh liat, tuh. Yang terkenal ayahnya, tapi anaknya ikut eksis. Berasa dia juga terkenal sampai dimintain foto sama cewek-cewek. Apaan sore-sore gini pake kacamata hitam? Sok keren banget.”
Grizzly manggut-manggut.
“Terus itu tuh,” Leo masih saja menargetkan orang-orang di sekitar untuk menjadi pembanding Grizzly, “Ibunya termasuk donatur besar di kampus kita. Pas awal ospek mahasiswa, inget nggak dia bangga-banggain keluarganya di atas panggung?”
“Hm, terus? Hubungannya sama aku apa?”
Leo menyentuh pundak Grizzly. “Kalo dilihat-lihat, keluargamu jauh lebih kaya daripada mereka semua. Orangtuamu pemilik SV Corp, Kakakmu CEO dari SV Entertainment … astaga kamu bisa banggain itu semua!”
Grizzly hendak menyahut karena merasa tak nyaman dengan obrolan ini, tapi Leo langsung menyambung perkataanya, “tapi seperti yang kubilang. Kamu beda. Di saat mereka sibuk memamerkan harta keluarga, kamu justru fokus pada dirimu sendiri. Mencetak prestasi atas dirimu sendiri. Aku suka itu, hehe.”
Grizzly tak bisa menahan senyumnya. “Makasih ya. Tapi kamu pasti ada maunya kan? Makanya ngomongnya manis banget.”
Leo langsung bergelanyut di lengan Grizzly. “Iyalah! Mana ada yang gratis. Maka dari itu, malam ini traktir kami semua makan ya!”
“Iya, iya, lepasin. Bikin merinding aja.” Grizzly menjauhkan kawan sekamarnya dari lengannya. Lalu mengambil ponsel, dia mengetik pesan singkat untuk Nada.
[Malam ini free, kan?]
Tak membutuhkan waktu lama, pesan balasan langsung muncul di ponsel Grizzly.
[Y. Knp?]
Laki-laki itu tersenyum.
[Aku traktir makan.]
Nada membalas lagi.
[OK.]