As I think about our times together that seemed too good to be true, I am shading tears because that's the only way to find you.
|I Can't Live Without You - Kim Ju Na|
.
.
NUKPANA Nero beserta dokter gadungan itu akhirnya di penjara sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum.
Kabar kemenangan jaksa sudah menyebar di seluruh Negeri. Orang-orang yang awalnya meragukan kemampuan jaksa, kini kembali menghormatinya.
Hatra mengambil selebaran koran yang dibuang sembarangan. Matanya menajam saat dia melihat salah satu foto jaksa yang terpampang di sana.
Beliau tak berubah. Masih licik seperti lima tahun yang lalu.
Hatra merobek bagian koran yang hanya terdapat foto jaksa tersebut, sisanya dibuang kembali sem-barangan. Setidaknya dengan foto itu dia bisa me-mikirkan apa yang harus dilakukan kepada jaksa tersebut.
Ponselnya berdering singkat. Pesan masuk dari Leo.
[Tau, nggak? Pacarmu sakit, lho.]
Hatra segera menelepon Leo.
“Kok bisa? Sakit apa?”
Leo mendengus. “Pacar sakit kok, nggak tau. Sana liat sendirilah.”
Setelah telepon terputus, Leo mengirimkan nomor kamarnya. Hatra segera kembali ke kampus.
Petugas keamanan lupa mengunci tangga menuju atap. Tak seorang pula yang sedang berkeliling. Nada menyembunyikan kantong cairan infus di balik bajunya. Diam-diam dia berjalan cepat menaiki tangga dan berhenti saat angin luar menerpa tubuhnya.
Gadis itu tahu tindakannya berbahaya … dan bisa-bisa mengundang sosok itu kembali berdiri di belakang Nada dan menyerangnya.
Tapi dia tak tahan lagi.
Dia butuh udara segar. Satu-satunya cara mendapatkannya adalah pergi ke atap. Masalah keselamatannya … biarlah dia pikirkan nanti.
Jalannya sudah normal walau kecepatannya sangat lambat. Perban melingkar di kepalanya pun sudah diganti dengan perban kecil. Kondisinya membaik.
“Ah....” Gadis itu memeluk railing yang membatasi pinggiran atap. Udara yang berembus kala itu menerbangkan rambutnya. Dia merasa hidup kembali.
“Nada! Jangan…!”
Gadis itu terkejut saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Nada tak segan-segan teriak dan menginjak kaki orang itu. Lalu Nada memutar badan dan menonjok perut orang itu.
Laki-laki itu merintih.
“Grizzly?”
“Ah…! Aduh!” Grizzly masih merintih. “Ah…!”
Nada segera meminta maaf dan Grizzly langsung tertawa.
“Salah, Nad,” katanya kembali bersikap normal. “Kalau ada yang meluk kamu kayak tadi, pertama kamu harus tenang. Kedua, dorong sekuat-kuatnya lutut orang itu pake kakimu. Ketiga, sikut leher atau dagu orang itu. Keempat, tendang k*********a. Terus lari, jangan lupa teriak.” Grizzly memeragakan. “Eh, tapi teriaknya di akhir, bukan di awal.”
Nada memincingkan matanya. “Ngapain di sini? Ngapain peluk-peluk?”
Grizzly memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Sori, kirain mau bunuh diri.”
Nada mendecih dan kembali memeluk railing.
Grizzly ingin sekali bertanya perihal apa yang sebenarnya terjadi. Sungguh, pikiran itu membuatnya tak bisa tidur beberapa hari. Melihat kondisi Nada sekarang, dia jadi takut kalau tiba-tiba gadis itu pingsan lagi.
“Leo juga tanding?” tanya Nada tanpa memutar kepalanya.
“Cuma buat taekwondo aja,” kata Grizzly. “Leo anak silat. Nggak tau kapan tandingnya.”
“Emang beda, ya?”
“Yah….” Grizzly ikut memeluk railing. “Sebenernya sama. Cuma beberapa tekniknya berbeda. Mau kuajarin?”
“Nggak.”
Grizzly tertawa gemas. Kemudian dia teringat sesuatu. “Hape. Mana hapemu?”
Nada tampak bingung. Dia mengeluarkan ponselnya sebelum pikirannya mulai curiga. Grizzly langsung mengambil ponsel itu dan mengetikkan sederet nomor.
“Ini nomerku. Kalau darurat, langsung aja speed dial nomer satu.” Grizzly mengembalikan ponselnya setelah saling bertukar nomor.
“Enak aja nomer satu. Emang situ siapa?” Nadanya kembali terdengar sinis. Dasar modus, pikirnya. Biarkan nanti dia menghapus nomer laki-laki itu.
Grizzly tertawa lagi. “Mau makan mi instan?”
***
Hatra kembali ke kamarnya. Wajahnya muram.
Sesaat sebelumnya dia baik-baik saja. Namun, saat di lorong klinik tadi, dia tak sengaja bertemu dengan Grizzly. Laki-laki itu juga melihat kedatangan Hatra. Tiba-tiba atmosfir di sekitar mereka membeku.
Hatra melewati Grizzly begitu saja, seolah-olah dirinya tak melihat siapa pun.
Grizzly memutar badan. “Maaf,” katanya.
Hatra berhenti berjalan.
“Maaf,” katanya lagi.
Sejenak Hatra mencerna apa maksud di balik perkataan maaf yang dia ucapkan. Grizzly menunggu reaksi yang akan diberikan oleh Hatra. Namun, laki-laki itu hanya mendesis dan memutuskan untuk pergi begitu saja.
Mood-nya seketika memburuk. Dia tak jadi menjenguk Nada dan langsung menuruni tangga.
Dia mampir di mini market di seberang kampus. Hatra duduk di balik kaca minimarket dan mengamati orang-orang yang berlalu-lalang di depannya. Jarinya terus mengusap bibir gelas plastik berisi kopi hangat dari vending machine.
Tuk tuk...!
Hatra tersadar saat seseorang di luar sana mengetuk kaca minimarket.
“Melamun?” tanya Denial. Dia duduk di kursi kosong di samping Hatra.
“Mungkin.”
Denial melepas kancing lengan kemejanya. Dia berusaha terlihat santai. “Butuh sesuatu?”
Hatra masih mengamati orang-orang di luar sana. “Entahlah. Mungkin.”
Sebenarnya Hatra tak dalam kondisi yang bagus untuk bertemu Denial. Percaya atau tidak, bertemu dengannya justru membuat kepalanya ingin meledak. Pikirannya semakin tak tenang. Dan hatinya panas.
Masalahnya, Hatra bergantung cukup banyak pada Denial. Dia sudah banyak membantu, setidaknya mengurangi beban di pundaknya.
Denial minum kaleng soda yang baru saja dibeli. “Oh, aku bertemu Ibumu.”
Mendengar hal tersebut, Hatra menoleh. Ekspresinya benar-benar khawatir. “Di mana? Beliau baik-baik aja, kan?”
“Yah, beliau cukup ceria di seberang jalan rumahmu.”
Barulah Hatra menghela napas lega. “Syukur, deh. Kali ini, apa yang kamu kasih ke Ibuku?”
Denial tertawa tiba-tiba. “Kayaknya alasan Ibumu bisa ceria karena aku, deh,” katanya. “Nggak, aku cuma bayarin tagihan listrik aja, kok.”
“Beliau tau?”
“Taulah kalo tagihan listrik udah dibayar, tapi siapa yang bayar beliau nggak tau,” kata Denial.
Terlihat jelas sekali raut kecewa di wajah Hatra. Mengetahui bukan dirinya yang membantu ibunya, membuat hatinya perih.
Denial, dia bukan siapa-siapa bagi keluarganya. Ibu, ayah, bahkan adiknya tak ada yang mengenalnya. Namun, mengapa yang tak dikenal justru yang membantu kehidupan keluarganya?
Hatra bertemu Denial saat mereka berdua mengunjungi suatu seminar. Denial duduk di sampingnya. Dia orang yang baik dan murah senyum. Setelah pertemuan itu, tanpa disengaja mereka terus bertemu di hari-hari berikutnya. Sungguh suatu kebetulan yang menarik.
Mereka semakin dekat. Denial mengetahui bagaimana kondisi keluarga Hatra, begitu pun sebaliknya. Saat itu Hatra dalam keadaan terpuruk dan Denial memutuskan untuk membantu keluarganya. Di situlah Hatra mulai berharap padanya.
Mereka menjadi semakin dekat. Saat itulah mereka menyadari mereka memiliki satu tujuan yang sama.
Hatra tersenyum tipis dan kembali mengusap bibir gelas kopinya. “I owe you much, thank you.”
Denial mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, kemudian menyodorkannya pada Hatra. “Nggak usah dipikirin. Cuma bantu ini aja, tolong ya....”
Hatra membaca tulisan di kertas itu.
“Ini yang terakhir dariku, sisanya terserah kamu. Tapi ingat, deadline-nya sebulan sejak aku SMS kamu waktu itu,” lanjut Denial sambil berdiri. “Aku pulang. Dah!”
Hatra memasukkan kertas itu ke sakunya dan kembali mengamati orang-orang di luar sana.
***
Hari ini pertandingan taekwondo.
Gedung olahraga sangat ramai. Peserta tanding taekwondo bukan hanya dari Institut Seni Van Gogh, melainkan juga banyak peserta dari institut lain. Kompetisi ini merupakan kompetisi Nasional, sehingga mereka—mahasiswa jurusan taekwondo Institut Seni Van Gogh—berlatih sangat ekstra.
Grizzly berada di ruang persiapan bersama pelatih. Bersama-sama memohon yang terbaik. Pelatih menepuk pundak Grizzly berulang kali, menenang-kannya. Menurutnya, Grizzly sudah lebih dari cukup menguasai teknik taekwondo. Pelatih tak perlu terlalu khawatir. Dia yakin, Grizzly mampu melewati semuanya dengan baik.
Begitu pula dengan kelima murid-muridnya yang lain. Pelatih keluar ruang persiapan untuk menemui panitia di arena.
Grizzly berdiri di depan lokernya saat memasukkan tas berisi baju ganti. Ini bukan kompetisinya yang pertama, tapi mengapa dia sangat gugup?
Lalu ponselnya berdering singkat.
Grizzly cukup terkejut saat melihat nama yang tertera di layarnya. Dia membacanya.
[Smngt.]
Dari Nada.
Hanya satu kata—walaupun tanpa huruf vokal yang hilang entah ke mana—bisa terasa begitu manis.
“Males ngetik banget ya,” guman Grizzly sembari tersenyum manis. Dia membalas pesan itu.
[Mksh.]
“Tsh.” Nada mendesis.
Gadis itu sudah berada di gedung olahraga sejak tadi pagi, waktu yang seharusnya dia gunakan untuk latihan.
Instruktur Anna kembali pusing dibuatnya karena harus mengejar ketertinggalan Nada. Dan saat dia kembali pulih, Nada justru meminta izin memakai waktu latihannya untuk menonton pertandingan taekwondo. Instruktur tak bisa melakukan banyak hal kecuali memberinya izin.
Grizzly akhirnya memasuki area tanding dan berdiri di tepi gelanggang dengan seragam putih. Tubuhnya terbalut body protector. Sebelum memakai pelindung kepala, pelatih berbicara sesuatu mengenai strategi penyerangan. Grizzly mengangguk.
Dia kembali ke tengah gelanggang dan menjabat tangan lawannya. Tak ada rasa gugup di wajahnya. Begitu pula dengan lawannya. Setelah itu, dia memakai pelindung kepalanya.
Wasit berada di tengah. Tangannya terangkat dan kemudian, “Mulai!”
Peluit berbunyi tanda permainan dimulai.
Grizzly tak melakukan perlawan di awal, dia hanya melompat mundur begitu lawan menendangnya. Dia memakai kesempatan untuk menangkap kaki lawan saat lawan berusaha menendang lengannya. Kemudian, dia membantingnya.
Lawan itu terjatuh dan peluit berbunyi. Grizzly menepi dan meminum botol yang disodorkan pelatih.
“Bagus, Grizzly, pertahankan,” kata pelatih. “Cari kesempatan saat lawan lengah, paham?”
Grizzly mengangguk. Permainan kembali dimulai.
Kali ini permainan tak semudah sebelumnya. Setelah lawan terjatuh, dia berniat untuk menjatuhkan Grizzly. Setidaknya membuatnya lemah.
Grizzly melayangkan tendangannya dan lawan itu berhasil menghindar. Dia kembali menyerang, tetapi kali ini lawan berhasil menghindar semua serangannya.
Grizzly memilih diam dan membiarkan lawannya menyerangnya balik. Tendangan lawan berhasil mengenai leher Grizzly. Dia terdorong keluar gelanggang.
Peluit kembali terdengar.
“Konsentrasi!” kata pelatih menepuk dadanya.
Grizzly tak membiarkannya begitu saja. Ketika lawannya kembali memberikan tendangan, Grizzly menyerang balik dengan teknik tendangan Dolke Chagi, tendangan dengan memutar badan, atau disebut juga tendangan tornado. Lawannya terdorong hingga keluar dari gelanggang dan jatuh.
Tak ada tanda-tanda bangkitnya Si Lawan, wasit pun mengakhiri pertandingan.
Peluit terdengar lagi. Panitia berdiri di tengah-tengah, kemudian mengangkat tangan kanannya untuk Grizzly.
“Yes...!” seru Grizzly melompat di udara. Permainan usai.
Penonton bersorak atas kemenangan telak oleh Grizzly. Tendangannya mengenai bagian kepala lawan. Setelah terdorong, Si Lawan langsung K.O. Permainan baru saja berlangsung selama lima menit.
Grizzly melepas gum shield dan menepi. Pelatih memeluknya.
“Dia menang?” tanya Nada di saat yang lain tengah bersorak.
Bella mengendikkan bahu. “Entah.”
Krista menggelengkan kepalanya saat Bella dan Nada menatapnya. “Jangan tanya aku. Aku aja nggak paham.”
Nada melihat ponselnya yang bergetar. Ada pesan masuk.
[Menang.]
Dari Grizzly.
Grizzly tak tahu di mana Nada duduk sekarang, tetapi yang melintas di pikirannya pertama kali saat memperoleh kemenangannya adalah memberitahu gadis itu. Laki-laki itu tentu tahu bahwa Nada melihat kemenangannya, hanya saja dia ingin melakukannya.
“Oh, dia menang,” kata Nada.
“Beneran? Ciah, sikat dompetnya habis ini!” seru Bella akhirnya berdiri dan ikut bersorak. “Grizzly...!”
Laki-laki itu menoleh dan menemukan Nada di samping Bella. Dia melambaikan tangan. Tertawa.
“Aku yang teriak, tapi dia ngeliatnya kamu,” gerutu Bella.
Nada sibuk mengetikkan pesan singkat. Sekadar mengucapkan selamat, cukup dari pikirannya saja. Tidak dalam bentuk pesan tentu saja.
[Y.]
Terkirim.