All gone in a matter of seconds with just two words (it's over).
|Running Into Breakup - BTOB|
.
.
NADA merasa sesuatu bergerak di atas tubuhnya. Saat ingin memastikan, tiba-tiba tubuhnya sakit, terlebih lagi kepalanya. Semuanya kaku.
Dia membuka matanya secara perlahan. Walau tak sejernih biasanya, tapi cukup untuk melihat apa yang tengah terjadi. Suara-suara mesin yang biasanya dia dengar saat berkunjung ke rumah sakit seperti sedang ada di sampingnya. Nada masih setengah sadar.
Tiba-tiba ada sesuatu yang menggenggam jemarinya. Itu Krista. Dia sempat mendengarnya memanggil nama Nada berulang kali.
“Nad? Nad? Udah sadar?” Krista seketika memenuhi penglihatannya. “Dokter! Dokter!”
Nada ingin menanyakan sebenarnya apa yang sedang terjadi pada dirinya. Mengapa Krista tampak khawatir? Mengapa tubuhnya sukar digerakkan? Dia sadar ada suatu benda cembung yang menutupi bagian hidung dan mulutnya. Setiap kali dia menghela napas, embun memenuhi permukaannya.
Seorang dokter datang dan langsung menggantikan posisi Krista di penglihatannya. Beliau menggerakkan jarinya sambil berkata, “Nak, jawab ini berapa?”
Tiga, jawab Nada dalam hati. Tenggorokannya terasa sangat perih setiap kali dia berusaha bersuara.
Dokter tak melihat reaksi Nada, kemudian beliau mengganti pertanyaannya.
“Nak, tolong kedipkan mata sesuai berapa yang saya tunjuk, ya.”
Tiga, jawabnya masih dalam hati. Walaupun lemas, Nada mengedipkan mata sebanyak tiga kali.
Dokter tersenyum dan mengucap syukur. Beliau mengusap jemarinya dan berbicara pada seseorang di sana.
Krista dan Bella langsung mendekat dan mengusap lengan Nada. Mereka khawatir. Setidaknya itu yang Nada tangkap di ekspresi wajah mereka. Krista hampir menangis.
“Nad, maaf. Aku minta maaf. Aku minta maaf.” Benar, dia menangis. “Semua gara-gara aku.”
“Aku juga minta maaf, Nad. Nggak seharusnya kami berdebat tadi pagi.” Bella menambahkan.
Tadi pagi?
Instruktur Anna mendekat dan mengusap puncak kepala Nada. “Semua baik-baik saja, kamu cuma butuh istirahat.” Beliau tersenyum.
Dalam hati Nada menggeleng. Kepalanya sakit, paru-parunya seperti penuh dengan benda-benda yang membuatnya sesak, dan tenggorokannya perih. Ini tidak baik-baik saja! Nada ingin bangun, tetapi tubuhnya menolak. Setiap kali dia melakukan pergerakan, kepalanya pusing bukan main.
Nada mengingat-ingat sekali lagi apa yang terjadi sebelumnya.
Gadis itu terkunci di dalam toilet. Seseorang ada di baliknya. Dia menggelindingkan semacam bom asap. Kemudian, gadis itu tak mengingat apa-apa lagi. Tidak! Sebelumnya pasti ada sesuatu!
Ah, sial! Kepalanya sakit.
“Jangan memikirkan sesuatu, Nada. Nanti sakit lagi,” kata Instruktur. “Saat ini kamu hanya butuh istirahat.”
Bella melepaskan genggamannya di jemari Nada. “Kamu harus istirahat. Ini sudah jam setengah dua belas malam. Aku sama Krista bakal nemenin di luar.”
Jangan! teriak Nada dalam hati.
Gadis itu menangkap kembali jemari Bella dan berusaha sekuat tenaga untuk menggeleng. Air matanya mengepul tanda dia sangat memohon.
Tolong jangan pergi! pintanya lagi.
Dokter mengatakan bahwa hanya satu orang saja yang boleh menunggu di dalam, sisanya di luar. Akhirnya Krista mengalah dan memutuskan untuk kembali lagi saat pagi hari.
Dokter dan instruktur segera pergi meninggalkan ruangan setelah menunjukkan tombol panggilan darurat. Bella mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Saat ini mereka sedang berada di lantai dua klinik Institut Van Gogh. Cukup terbilang bagus, karena fasilitasnya yang mirip dengan rumah sakit umum. Mereka memiliki setidaknya sepuluh kamar pada masing-masing lantai. Hanya sampai lantai dua.
Lantai ketiga adalah atap. Tangga menuju atap biasanya terkunci, guna untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.
Ruangannya tak terlalu besar. Hanya ada satu tempat tidur pasien, satu kursi penunggu, dan meja dinding yang menyambung dengan wastafel. Mereka tak menyediakan kamar mandi dalam. Sehingga mereka harus berjalan setidaknya ke ujung lorong, dekat dengan lift.
“Kamu tahu?” kata Bella. “Krista tadi bener-bener panik waktu nemuin kamu pingsan di kamar mandi.”
Nada mendengarkan dengan seksama, karena dia juga penasaran bagaimana caranya terselamatkan dari hari kematiannya.
“Maksudku, Krista benar-benar menyesal dan tadi dia juga minta maaf. Kamu mau maafin kami berdua, kan?”
Nada mengangguk pelan, sangat pelan. Bella mendesah lega. Dia kembali melanjutkan ceritanya. Karena menurutnya, Nada pasti penasaran dengan apa yang terjadi pada dirinya.
“Kami berdua ke kamarmu tadi malam mau minta maaf, tapi kamu nggak ada. Akhirnya kami berdua menghubungi Instruktur dan ternyata kamu sedang latihan di gedung teater. Sampai di sana, kamu juga nggak ada. Kata Instruktur, kamu ke kamar mandi sebentar.
“Kamu nggak kembali selama hampir setengah jam dari kedatangan kami, belum lagi kata Intruktur kamu pergi ke toilet dua puluh menit yang lalu. Hampir satu jam, kan?”
Bella berhenti sejenak dan menarik napas panjang. “Akhirnya aku sama Krista nyusul kamu ke toilet dan ternyata kamu pingsan di sana. Kepalamu terluka dan hidungmu berdarah. Kami berdua panik, tapi yang paling panik Krista. Kamu tau kan, dia paling syok sama darah?
“Nggak mungkin aku lari ke Instruktur dan ninggalin Krista syok di sana. Akhirnya aku telepon Instruktur dan membawamu ke sini.”
Nada mengerutkan dahi. Dia menanti kelanjut-annya, tapi sepertinya Bella sudah selesai bercerita.
Tidak! Itu belum ada apa-apanya!
Harusnya Bella bisa menemukan bom asap! Harusnya dia menemukan kertas-kertas bertuliskan darah itu! Harusnya dia bisa mencium aroma asap yang menggempul! Harusnya dia bisa menangkap pelakunya!
“Loh, kenapa, Nad?” Bella berdiri dan mengusap-usap pundak Nada.
Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan menangis.
“Nad, tenang!” Bella mulai panik.
Nada menangis terisak-isak dan tak lama kemudian dia pingsan lagi.
“Dokter…!”
***
Grizzly tak fokus pada latihannya.
Saat mencoba untuk berdiri, dia kembali jatuh tersungkur. Tak biasanya dia K.O dalam menit awal. Sejak awal dia berdiri di atas gelanggang, pikirannya sudah tak karuan.
Pelatih memberhentikan permainan yang begitu kacau. Seusai latihan, Grizzly harus menerima banyak teguran dari pelatih. Katanya, jika sekali lagi dia tak fokus, pelatih akan memberikan tinta merah di buku absen. Grizzly mengangguk.
Tak peduli luka memar di ujung bibirnya akibat tendangan lawan, dia berlari ke klinik yang cukup jauh dari fakultas bela diri.
Semalam dirinya tak sengaja melewati gedung teater saat hendak keluar mencari makan. Grizzly mendengar kepanikan orang-orang di dalam, serta mobil ambulans yang sudah siap di depan lobi.
Ada apa ini, pikirnya.
Rasa penasaran membuatnya berdiri tak jauh dari mobil ambulans dan menunggu petugas keluar dari gedung sambil mengangkat seorang gadis.
Siapa itu?
Dia melihat Bella dan Krista dalam keadaan panik dan pucat, serta pelatih mereka yang langsung menduduki kursi mobil ambulans. Grizzly hendak menyapa, tapi tiba-tiba dia tersadar. Gadis itu! Dia tak ada di antara kerumunan itu!
Apa jangan-jangan Nada-lah yang berada di ambulans?
Grizzly mengurungkan niatnya untuk mencari makan di luar, padahal perutnya sudah benar-benar kram. Laki-laki itu memutuskan menuju klinik institut dan memastikan bahwa itu bukan benar-benar Nada.
Di dalam terlalu ramai. Grizzly hanya dapat mengintip dari luar saja. Dia kemudian duduk, menunggu Nada diangkut keluar dari ruang pertolongan pertama.
Sekitar satu jam Grizzly menunggu. Kemudian pintu terbuka. Dia meremas kedua tangannya, berharap gadis itu bukanlah Nada.
Perawat memindahkan pasien tersebut ke kamar. Pelatih sedang berbicara dengan dokter. Grizzly diam-diam mengikuti mereka, dan alangkah terkejutnya saat ternyata yang terbaring di situ adalah Nada!
Grizzly tiba-tiba berhenti dan membiarkan perawat berjalan semakin jauh. Untuk beberapa saat dia terdiam, membayangkan apa yang tengah terjadi pada gadis itu.
Leo menepuk pundak Grizzly. “Nggak masuk?”
Grizzly tersadar dan mendeham. “Ini mau masuk.”
Di dalam hanya ada Bella dan Krista. Mereka terkejut saat mengetahui kedatangan Leo dan Grizzly.
Nada masih memejamkan mata. Grizzly tak banyak bicara. Sejak dia melihat kondisi gadis itu, rasa khawatir kembali melanda hatinya.
Setelah menjelaskan secara singkat apa yang terjadi pada Nada, Krista mengajak Leo keluar.
“Lukanya bisa parah gini, ya.” Grizzly cemas.
“Ya, gitu. Dokter cuma menduga kalo dia kepeleset terus kepalanya kebentur sesuatu,” jawab Bella.
“Katamu, yang nemuin pertama kali Krista. Dia nggak ngelihat apa-apa? Kayak misalnya ... apalah.”
Bella mengerutkan kening, mengingat-ingat. “Lantai sih, bersih. Maksudku, nggak ada cairan tumpah atau apa. Yang lainnya sih, keliatan normal-normal aja. Kenapa emang?”
Secara tak sadar, Grizzly menangkap sesuatu yang aneh pada baju Nada bagian bawah. Itu robek. Sepertinya bukan robekan biasa.
“Ini emang robek?” tanyanya.
Bella baru tersadar setelah Grizzly menunjuk baju Nada yang robek. “Nggak mungkin. Nada bukan orang yang bisa pake baju sembarangan. Baju yang hilang satu kancingnya aja nggak mau dipake. Apalagi yang robeknya nampak banget kayak gini,” jelasnya.
Grizzly mendekatkan wajahnya mengamati robekan yang tampak dipaksakan itu. Bella langsung menarik kerah seragam taekwondonya dan memberi tatapan tajam.
“Eits! Mau ngapain?!”
Grizzly menggeleng-geleng dan mundur. Setelah itu Krista dan Leo kembali.
“Sore ini kata perawat mau ngecek lagi kondisi paru-parunya,” kata Krista.
“Kenapa paru-parunya?” tanya Grizzly.
“Enggak, kata dokter paru-parunya sempat tersumbat. Di kerongkongannya ada bekas asap,” kata Bella.
“Dia ngerokok?” tanya Leo.
“Enggaklah!” sahut Bella dan Krista bersamaan.
Grizzly semakin curiga. Menurut apa yang ditemukannya, ini sedikit tak masuk akal. Jika hanya jatuh dan kepalanya membentur sesuatu, lantas mengapa paru-parunya bisa tersumbat sedangkan dia tak merokok?
“Terus tersumbat dari mana?”
“Aneh. Jangan-jangan dia nggak jatuh, lagi,” kata Leo.
Itu dia! Itu yang terus mengusik pikiran Grizzly sehingga dia tak merasa tenang. Terlebih lagi robekan di baju Nada sangat menganggunya.
Leo merubah ekspresinya saat melihat jari Nada bergerak pelan. “Dia sadar!”
Bella segera memencet tombol darurat. Grizzly menyentuh lengan Nada dan mendekat ke wajahnya.
Perlahan-lahan matanya terbuka. Laki-laki itu mengibaskan tangannya di depan wajah Nada untuk memastikan apakah ada respons di matanya. Nada mengedipkan mata. Dia melihat teman-temannya sedang mengelilinginya.
Rasa pusingnya sudah sedikit berkurang. Tubuhnya tak sekaku sebelumnya. Tangannya terangkat perlahan dan menyentuh masker oksigen, tetapi Grizzly segera menghalanginya.
“Jangan dilepas. Kamu butuh itu,” kata Grizzly berusaha tampak tenang.
Kenapa ini? Kenapa semua pada kumpul di sini, pikir Nada. Dia ingin bersuara, tetapi suaranya terlalu serak sehingga yang mereka dengar tak akan jelas.
Leo mendekatkan tubuhnya agar Nada bisa merasakan kehadirannya. “Gimana? Masih pusing?”
Nada menggeleng. Dia pelan-pelan berusaha tersenyum.
Mereka semua mengucapkan syukur. Kemudian, Nada tak sengaja melihat pintu kamar bergeser secara perlahan. Dia melihat bayangan itu. Walaupun tak seberapa jelas, dia yakin ada seseorang di sana.
Tangannya menyentuh tangan siapa pun untuk memberi tahu jika seseorang sedang mengamati dari luar sana. Tangan yang disentuh adalah tangan Krista. Gadis itu melongok dan menanyakan ada apa. Nada menunjuk ke arah pintu.
Bayangan itu menghilang saat mereka semua menatap ke arah pintu. Bella memeriksa dan mengatakan tak ada siapa pun di sana.
Dalam hati Nada bersumpah dia melihat seseorang di luar sana. Sosok itu tinggi dan bayangannya tampak menyeramkan. Benarkah begitu atau itu bagian dari ilusinya?