I'm wondering in a dream I've never had before. In a place without you, who can wake me up.
|When Night Falls - Eddy Kim|
.
.
BUNYI pukulan terdengar hingga lobi fakultas bela diri.
Jika ditelusuri, suara itu berasal dari jurusan silat. Menurut jadwal, siang ini pelatih silat mengadakan tanding antar anggota.
Laki-laki di atas gelanggang—Hatra Edwin—mengangkat kaki kanannya sehingga membentuk sudut lurus. Tubuhnya sedikit merendah, sedangkan kedua tangannya menutupi bagian atas dan bawah.
Itu teknik tendangan jejak. Teknik yang paling sering dia gunakan pada lawan yang masih amatir.
Bunyi peluit terdengar saat lawan amatir itu jatuh terlentang. Rupanya dia langsung K.O hanya dengan satu tendangan. Pelatih silat menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Besok jam delapan sudah harus ada di sini! Nggak boleh ada yang terlambat seperti hari ini!”
“Siap, Coach!”
Setelah memberi penghormatan kepada Coach, laki-laki itu keluar dari gelanggang dan menerima lemparan handuk dari salah satu temannya.
“Coach sepertinya tertarik sama kamu,” ujar Leo.
“Kenapa?”
“Nggak sadar kalo dari tadi kamu cuma pake teknik menghindar dan bertahan? Terus di menit terakhir hanya dengan satu pukulan, bum! K.O dia!” Leo mulai terdengar heboh. Dia lagi-lagi meniru teknik tendangan Hatra di menit terakhir. Sudah menjadi kebiasaannya meniru gaya orang lain.
Hatra tertawa. “Itu strategi. Lagian bakal lebih seru begitu, kan? Daripada aku serang di menit pertama. Bakal bosenin.”
“Woah ... menyerang di menit-menit terakhir. Bagus juga.” Leo bertepuk tangan singkat.
Hatra hanya mendeham, lalu dia mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang.
Leo tak sengaja melihat satu foto kecil terselip di dompet Hatra. Secepat kilat langsung diambilnya.
“Loh? Miss Three Sec—“
Hatra segera menutup mulut Leo rapat-rapat. Dia merebut kembali dompetnya dan memasukkanya ke dalam tas.
“Kamu suka?”
“Enggak.”
“Nggak mungkin!” Leo menyandarkan tubuhnya di pilar. “Cowok nyimpen foto cewek di dompetnya, berarti dia spesial.”
Hatra hanya tersenyum tipis dan tak menggubris perkataan Leo. Dengan tenang, dia berjalan pergi melewati laki-laki berambut cokelat itu.
“Cie … Hatra…!” seru Leo sambil tertawa terpingkal-pingkal. Setelah kepergian Hatra, barulah otaknya menyadari sesuatu. “Jangan-jangan mereka pacaran?”
Hatra berjalan mengelilingi danau. Tidak banyak orang di sana. Suasana pun cukup tenang. Namun, tidak dengan suara-suara yang memenuhi kepalanya. Mereka terlalu berisik. Tak cukup hanya dengan menabrakkan kepalanya ke dinding akan membuat mereka diam.
Dia duduk di sebuah kursi menghadap pepohonan di tengah-tengah danau yang sering dihuni oleh berbagai macam burung.
Hatra menghela napas. Telapak tangannya mengusap wajahnya yang murung. Mungkin, orang hanya akan menyangka bahwa dia sedang lelah akibat latihannya. Seragam silat yang masih membalut tubuhnya, ditutup dengan jaket abu-abu fakultas bela diri Institut Seni Van Gogh, cukup berpengaruh pada spekulasi orang-orang.
Sebenarnya tidak hanya rasa lelah saja, melainkan rasa sakit dan sesak di dasar hatinya. Semuanya berbaur menjadi satu. Siapa yang tidak merasa tertekan?
Ponselnya berbunyi untuk yang kesekian kalinya. Di layar tertulis “Preman Gila”. Siapa sangka bahwa preman gila tersebut adalah ayahnya? Sudah berulangkali Hatra mengganti nomor ponselnya, tetap saja Preman Gila tersebut muncul di layarnya. Entah dari mana beliau mendapatkannya.
Hatra tak mengangkat teleponnya. Seperti hari-hari sebelumnya. Dia tahu alasan ayahnya menghubunginya, apalagi kalau bukan karena uang habis dan tidak bisa mabuk-mabukan. Hatra ingin mengakhiri segala tagihan biaya yang terus mendatangi rumahnya, tetapi uang itu selalu habis dipakai ayahnya untuk hal yang tak berguna.
Memangnya uang itu daun? Mudah dicari?
Laki-laki itu membiarkan ponselnya diam dengan sendirinya. Setelah tak terdengar nada dering lagi, dia menundukkan kepalanya.
Hatra selalu berharap pikirannya mau bekerja sama barang sehari saja untuk tidak memikirkan sesuatu yang membuatnya merasa sesak. Dia mendengus. Ini tidak akan berhasil.
Ponselnya berbunyi singkat. Tanda pesan masuk. Hatra mengambil dan membacanya.
[Bagaimana kesepakatan kita?]
Dari Denial.
Untuk beberapa lama, Hatra kembali termenung.
Di satu sisi, dia ingin segera membebaskan ibunya dari Preman Gila tersebut. Namun, di sisi lainnya ... jika Hatra tak menerima tawaran dari Denial, maka selamanya dia akan hidup dalam kesesakan.
Sial! Memikirkannya saja sudah membuat otaknya hampir meledak.
“K-Kak, jangan! Itu buku penting saya, Kak!” Seorang gadis mungil tak jauh dari tempat Hatra duduk sedang menangis.
Seseorang telah membuang buku milik gadis mungil itu ke danau.
Hatra menyipitkan matanya. Dia bertemu lagi dengan Nada.
Kedua tangannya mengepal.
Ekspresi Nada saat ini adalah ekspresi yang paling Hatra benci. Ekspresi tanpa bersalah, keji, dan menjijikkan. Tanpa sadar, Hatra menggertakkan rahangnya.
Rasa panas kembali membara di hatinya. Nada Sweizerika, gadis yang sejak dulu ingin Hatra musnahkan dari hidupnya. Mungkinkah ini waktunya?
Hatra sudah menemukan jawabannya. Dia mengetikkan balasan singkat di ponselnya, kemudian tersenyum miring.
Ponselnya berbunyi lagi. Dari Denial.
[Waktumu satu bulan dari sekarang.]
***
Nukpana Nero.
Dalam buku catatan kriminal, dia pernah setidaknya tiga kali mengalami persidangan. Pertama, kasus pencurian. Kedua, kasus kekerasan. Ketiga, kasus percobaan pembunuhan. Kali ini, dia mendapat surat panggilan lagi untuk kasus keempat, pembunuhan.
Dia pernah dipenjara dengan lama total 14 tahun. Tak heran jika Nukpana Nero termasuk narapidana teladan yang sering keluar-masuk penjara. Namun, pada kasus ketiga, Nukpana dengan mudah lolos dari tuntutan pidana 14 tahun penjara seperti yang tertera dalam KUHP, karena kesalahan jaksa dalam penyelidikan.
Saat ini, Nukpana Nero sedang dalam proses penyelidikan oleh jaksa. Pembunuhan yang mengakibatkan tewasnya sepuluh orang, membuatnya tak mungkin lolos dengan mudah. Jaksa memiliki bukti yang sangat kuat bahwa Nukpana telah terlibat dalam pasar gelap organ hati.
Di dalam ruang penyelidikan, mereka berdua berjabat tangan, seperti sesuatu berhasil disepakati. Nukpana didampingi pengawas keluar ruang penyelidikan, kemudian disusul jaksa yang bertugas setelah membereskan dokumen-dokumen pentingnya.
Saat kembali duduk di mejanya sendiri, barulah rekan jaksa yang lainnya berkomentar.
“Saya harap Anda tidak termakan bualannya,” ucap Jaksa Teguh.
Jaksa yang bertugas pada kasus Nukpana Nero kali ini adalah Jaksa Fatistan, jaksa yang paling dihormati di firma hukum Hakeem Jidan (HJ) karena kebijaksanaan dan kemampuan hebat dalam penyelidikan. Dia hanya tersenyum setelah menyesap kopi yang telah disiapkan.
“Pak Teguh.” Jaksa Fatistan membenarkan posisi duduknya. “Apakah Anda tadi datang ke ruang penyelidikan?”
“Tentu saja. Saya tidak akan melewatkan kasus ini sedikit pun. Tapi, saya melihat Anda berjabat tangan dengan terdakwa. Bukankah itu berarti Anda setuju dengan pernyataan terdakwa? Anda mengerti semua bukti di sini, kan? Semua sudah terkumpul di berkas-berkas ini.”
“Saya tidak mengatakan bahwa dia bukan pelakunya.”
Jaksa Teguh mengusap kumisnya. “Saya hanya khawatir Anda akan melakukan kesalahan seperti yang pernah saya lakukan saat saya menjadi jaksa untuk kasus ini.”
Kedua lengan Jaksa Fatistan berada di atas meja. “Apakah Anda tahu mengapa tuntutan jaksa sebelumnya gagal?”
Pria berkumis itu menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. “Hukuman diringankan karena dia mengidap gangguan jiwa sehingga tidak bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya.”
Hal itu kembali menyulut senyuman di wajah Jaksa Fatistan. “Itu yang mereka katakan. Apakah Anda sudah mendengar pernyataan dokter yang menangani kondisi psikis terdakwa?”
Jaksa Teguh mengangguk.
“Tidakkah aneh bahwa orang gila dapat mengerti apa yang kami tanyakan saat penyelidikan pertama?”
Jaksa Teguh kembali mengangguk. “Ya, itu aneh. Dia tampak baik-baik saja.”
Kemudian, pertanyaan selanjutnya dilontarkan kembali oleh Jaksa Fatistan. “Apakah Anda sudah mengonfirmasikannya dengan pihak rumah sakit?”
Jaksa Teguh terdiam. Seperti ia menyadari suatu hal fatal yang terlewatkan.
“Memang benar bahwa dokter tersebut menangani kondisi terdakwa, tetapi siapa sangka bahwa dokumen pasien dimanipulasi?”
Jaksa Teguh menegakkan kembali tubuhnya. “Apa hal semacam itu bisa terjadi? Dokumen dipalsukan oleh dokter?”
“Kemarin kami telah melakukan pemeriksaan terhadap terdakwa dengan dokter psikiatri pilihan jaksa. Dia tidak gila.” Surat keterangan hasil medis terbaru dia bandingkan dengan milik dokter gadungan tersebut.
Kemudian, Jaksa Fatistan mengeluarkan catatan komunikasi terakhir antara dokter dan terdakwa yang telah dihapus dari ponsel terdakwa. Dia menunjuk salah satu percakapan yang terjadi tak lama ini. “Di sini terdapat komunikasi antara dokter dan terdakwa untuk memanipulasi hasil medis. Alasannya, terdakwa menjanjikan organ-organ tubuh ilegal untuk dokter tersebut.
“Menurut hasil penyelidikan lainnya, dokter tersebut pernah melakukan hal yang sama terhadap pasiennya beberapa tahun yang lalu, namun karena kesalahan jaksa penuntut umum, akhirnya dia dinyatakan tidak bersalah. Tapi hal ini tidak akan terjadi kembali.”
“Kalau begitu, kita bisa menuntut keduanya, terdakwa dan dokter. Kita bisa menjatuhkan tuntutan pidana pembunuhan pasal 338 KUHP dan penjualan organ tubuh manusia sesuai UU No. 36, begitu pula dengan dokter atas keterangan palsu dan jual beli organ tubuh ilegal,” kata Jaksa Teguh.
“Benar. Kami sudah mengirim surat panggilan untuknya.” Jaksa Fatistan menyesap kembali kopinya yang telah mendingin.
Dalam hati, Jaksa Teguh benar-benar salut atas ketelitian Jaksa Fatistan yang tak bisa dia lakukan dalam kasus sebelumnya.
“Ah, soal berjabat tangan tadi, itu hanyalah sebagai ucapan selamat tinggal karena ini akan menjadi kasusnya yang terakhir,” kata Jaksa Fatistan.