Chapter 2: Ketakutan di Baliknya

1633 Words
Please don't come to me. Because your warmth will surely shake me up. |Don't Do That - Accoustic Collabo| . . TAK ada yang lebih baik dari Nada dalam menari hip-hop. Dia benar-benar luar biasa. Lekuk tubuh, perputaran, pergerakan kaki, dan pinggulnya, semua benar-benar sempurna. Tak ada yang menyangka bahwa dia akan mengombinasikan bervariasi gaya, seperti electric boogaloo, poppin, locking, dan house and samba. Bukan itu saja. Dia mampu menyalurkan getaran menakutkan melalui musik dan gerakannya. Gedung teater itu hening untuk beberapa detik setelah musik berhenti. Instruktur masih diam di posisinya. Lalu mulai terdengar suara tepuk tangan dari penonton yang berada di pinggir podium. Saat itulah suasana mencair. Nada membungkuk dan mengucapkan terima kasih. Dia segera menuju instruktur untuk mengetahui di mana dia akan dikelompokkan. “Semuanya cukup untuk hari ini. Saya akan mengumumkan hasil pengelompokkan dalam dua hari ke depan. Terima kasih.” Instruktur Anna berjalan keluar teater. Tidak, beliau berhenti sebelum melangkah melewati pintu gedung teater. Beliau menatap Nada yang masih ada di belakangnya. Kemudian berjalan mendekat. Instruktur menyentuh pundak gadis itu dengan lembut. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya lirih. Nada curiga. Dia selalu mencurigai semua orang. “Ada apa, Instruktur?” Instruktur Anna menggeleng. “Menarimu berbicara. Kamu sedang ketakutan.” Tak diberi kesempatan membalas, instruktur sudah berbalik dan meninggalkannya. Nada mengatup kedua telapak tangannya yang keringatan. Dia masih menatap pintu teater. “Heol, daebak!” Bella langsung merangkul pundak Nada. “Kalau gini sih ... aku nggak ada apa-apanya,” sahut Krista sambil menirukan beberapa gaya yang dipakai oleh Nada tadi. “Apa menu hari ini?” “Rendang, opor, dan iga. Kayaknya menu hari ini enak-enak, deh!” Bella meloncat kegirangan. Krista mendecak lidahnya. “Nggak bisa. Terlalu banyak kalori. Ingat kata Instruktur kemarin. Jaga pola makan.” “Cih, sial!” Nada melepas rangkulan Bella. “Aku mau ke asrama dulu, ambil barang. Kalian ke kantin aja.” Nada berlari kecil meninggalkan gedung teater. Sampai di kamar, dia segera membuka loker di meja belajarnya dan mengambil sekotak obat. Itu obat penenang. Sejak teror menghantui hidupnya, dia hanya bisa mengandalkan obat tidur dan obat penenang. Tak ada yang tahu. Nada tak ingin orang lain mengetahui permasalahan di hidupnya. Gadis itu tak mudah percaya, sekalipun itu ayah, ibu, dan teman-temannya. Baginya, semua orang hidup dalam kepalsuan. Kamu baik-baik saja? Ada masalah? Butuh bantuan? Tenang, kamu akan baik-baik saja. Aku ada untukmu. Cih, omong kosong. Itu yang selalu mereka katakan sejak dulu. Buktinya? Nada tetap tak baik-baik saja. Dalam keadaan terpuruk, mereka semua menghilang satu per satu. Ketika dia butuh kebenaran dan keadilan, ayahnya justru membuatnya seolah-olah menjadi penjahat tak termaafkan. Ketika dia butuh pelindung, ibunya justru sibuk membersihkan namanya sendiri. Ketika dia butuh bantuan, semua orang pergi seolah tak pernah mendengar apa pun. Hidup itu memang luar biasa. Salah dan benar bisa dengan mudah terbalik. Korban dan pelaku bisa dengan mudah tertukar. Nada membasuh wajahnya. Ia menatap dirinya sendiri di cermin. Kemudian ponselnya bergetar.   [Dnt b 2 sad, will b borng.]   “Oh, God!” ***   Amplop putih berstempel hukum menumpuk di atas meja. Dibiarkan terlihat jelas agar pria pengangguran itu berhenti mabuk dan segera mencari pekerjaan. Siang ini bertambah lagi satu amplop. Kali ini tagihan biaya sewa rumah. Sudah menunggak empat bulan lamanya. Biasanya, wanita paruh baya dengan rambut yang digulung tak rapi berteriak di ambang pintu. Menggedor-gedor dengan amarah yang nyaris membuat urat-urat lehernya putus. Mereka menyebutnya Mak Lambe. Dia pemilik rumah sewa itu. Hari ini, dia tak datang. Katanya sedang berlibur di luar kota. Baguslah. Ini akan menjadi hari yang tenang. Nyatanya tidak seperti itu. Pria pengangguran itu pulang dalam keadaan mabuk. Tidak malam, tidak siang. Selalu mabuk. Uang yang dapat digunakan untuk membayar tagihan, habis untuk mabuk-mabukan. Dia masuk ke rumah, lalu duduk di sofa. Matanya merah dan kian merah saat dia menatap tumpukan amplop di meja. “Apa ini?” Suaranya tak terdengar enak. Istrinya masih mengenakan celemek di dapur. “Biaya tagihan.” “Bayar!” Istrinya berhenti mengaduk makanan. Di taruhnya centong sayur ke atas meja. “Bayar pakai apa?” Mendengar perkataan itu, pria tersebut bangkit dan menghadap istrinya. “Jual perhiasanmu!” “Sudah habis.” Pria itu semakin emosi dan membanting gelas hias yang ada di atas meja. Suara nyaringnya membuat wanita itu memekik. Kemudian istrinya menangis. Walaupun sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini, rasanya masih menyakitkan. Segala sesuatu yang tak benar, selalu istrinya yang disalahkan. Selalu dia yang berkorban. “Suruh anak sialan itu yang bayar!” Kata-kata itu terucap lagi. Tak habis pikir ayah mana yang tega mengatakan anaknya sendiri seperti itu. “Anak sialan itu anak kamu.” Wanita itu berusaha menahan diri, bersabar. “Anak nggak berguna! Bisa-bisanya meninggalkan rumah dalam kondisi seperti ini!” “Kenapa bawa-bawa dia? Dia salah apa?” Wajah pria itu semakin merah karena emosi dan mabuk. Dia berjalan mendekat dan menampar istrinya. “Kalau kamu ngelahirin anak yang bisa menghasilkan uang, nggak akan jadi kayak gini! Kalau kamu nggak sembunyikan dia, tagihan kita nggak akan menumpuk!” Wanita itu tak sanggup lagi mendengar lebih jauh. Sebagai seorang ibu hatinya sakit tatkala mendengar anaknya dicaci-maki oleh ayahnya sendiri. “Nggak adakah rasa cinta dan penyesalan di hatimu?” Wanita itu menangis tersedu-sedu dan berlari ke kamar. Di sana dia masih bisa mendengar teriakan suaminya yang terus bertanya di mana dia menyembunyikan anaknya. Wanita itu menyentuh dadanya. Ini benar-benar sakit. Gara-gara suaminya, dia harus mengorbankan anak satu-satunya pergi dengan berpikiran bahwa tak ada yang mencintainya. Dia kemudian meraih satu foto tersisa saat keluarga itu masih utuh, hangat, dan harmonis. Dua anak yang penuh cinta. Tawa mereka dahulu menyinari rumah kecil itu. Tak peduli seberapa banyak tagihan yang datang, asalkan kedua cahaya itu masih menyinari. Namun, semua berubah saat dia mulai kehilangan putri bungsunya. Lima tahun yang lalu. ***   Salah satu jendela lantai dua terbuka. Itu asrama laki-laki. Dari bawah jika jeli, terlihat banyak kain hitam yang diikat menjadi sebuah tali panjang yang menggantung. Satu per satu keluar dari jendela dan turun perlahan melalui kain tersebut. Sampai di bawah, dua mahasiswa itu mengendap-endap di balik semak-semak saat penjaga asrama sedang berkeliling. Bodohnya, salah satu dari mahasiswa itu tak sengaja menginjak botol plastik, membuat penjaga asrama tersebut langsung menoleh ke arah semak-semak. Lampu senter menyoroti sekeliling secara perlahan. Penjaga tersebut mengeratkan topinya dan berjalan mendekat. Dirabanya semak-semak tersebut, berharap dia bisa menemukan sumber suara itu. Mahasiswa berambut cokelat mengintip penjaga tersebut dari celah-celah semak. Aksinya tersebut hampir terpergok, tetapi dia sudah menyiapkan senjata. Saat penjaga itu hendak melompati semak-semak, laki-laki berambut cokelat itu menekan tombol di ponselnya dan tiba-tiba terdengar bunyi sirene mobil polisi. “Astaga!” pekik penjaga itu terkejut. Dia menoleh ke belakang mencari suara sirene itu. Saat fokus penjaga berpusat pada bunyi tersebut, kedua mahasiswa itu berlari tanpa suara dari semak-semak dan keluar dari kawasan Institut Van Gogh. Suara sirene itu adalah jebakan yang disiapkan oleh mereka berdua. Bunyi sirene mobil-mobilan polisi yang disembunyikan di balik tong sampah. “Ah! Kepiting rebus enak kayaknya,” ucap laki-laki berambut cokelat sambil mengusap-usap perutnya. “Pasangin inframerah di hapeku juga, dong.” Laki-laki berambut cokelat itu menjitak kepala teman sekamarnya. “Itu bawaan dari hape. Kalau sudah ada, tinggal diatur aja. Kalau nggak ada, ya nasib.” “Cih.” Sampai di warung kepiting rebus di samping taman kota, matanya menangkap salah satu dari tiga gadis cantik di sana. Laki-laki berambut cokelat memiringkan kepalanya agar lebih leluasa mengamati gadis itu. Sepertinya dia pernah melihatnya di suatu tempat. “Oh! Miss Three Seconds!” Suaranya terlalu keras, sehingga orang-orang menoleh. Nada menyipitkan mata saat melihat laki-laki tak dikenalnya sedang mengarahkan jari telunjuk padanya. “Iya, kamu, kan, yang di kantin kayak gini,” laki-laki tersebut menirukan gaya Nada saat di kantin beberapa hari yang lalu, pura-pura membawa nampan, tersenyum, sambil maju perlahan-lahan, “satu ... dua … tiga! Currr…!” Dia memeragakan cara Nada menuangkan sambal kecap di atas kepala cewek-cewek ingusan tempo lalu. Bella memincingkan mata. “Kamu siapa, ya?” Laki-laki tersebut segera menghentikan tingkahnya. “Aku Leo, dia Grizzly, kami dari fakultas bela diri.” Grizzly menyikut lengan Leo. “Biarin aku kenalan sendiri, dong!” Nada hanya menatap kedua laki-laki itu sekilas, kemudian melanjutkan makannya. Dia merasa buang-buang waktu untuk menanggapi tingkah konyol dari para cowok nggak jelas. Tak perlu permisi, kedua laki-laki tersebut langsung menduduki bangku kosong di samping ketiga gadis tersebut. Krista menarik rambutnya ke belakang telinga. Dia segera memperbaiki cara makannya yang terkesan mirip babi beberapa menit sebelumnya. “Gimana cara kalian keluar dari asrama?” tanya gadis itu. Grizzly mengambil ponsel Leo dan menunjukkan sebuah aplikasi. “Bantuan inframerah.” Krista dan Bella berdecak kagum. “Itu yang bisa buat nyalain elektronik tanpa remotnya, kan?” “Bingo!” Leo menjentikkan jarinya. “Woah! Pasangin di hapeku, dong,” pinta Krista yang langsung ditanggapi oleh Leo. “Boleh.” Grizzly mendengus. Sialan! Tadi katanya nggak bisa! Kemudian dia membuang tatapan ke gadis di depannya. Nada tampak tenang, cuek, dan terkesan dingin. Sejak kerusuhan ospek akibat ulahnya, namanya mulai dikenal penghuni Institut Seni Van Gogh. Lebih banyak dari mereka yang tidak menyukai Nada. Menurut Grizzly, sebagai kakak tingkat, tingkah Nada memang benar-benar kelewatan. Namun, Grizzly tak banyak melakukan apa pun, karena sebenarnya dia pun menikmati semua ulah Nada. “Apa?” Mendengar suara dingin itu, Grizzly mengerjapkan mata. “Apa?” Nada menaruh alat pemotong kepiting di atas meja. Dia berdiri dan membayar semuanya. Kemudian keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. “Nad! Ke mana? Tungguin!” seru Bella. Nada merasa tak nyaman di warung tadi, seperti seseorang sedang mencoba untuk mengikutinya. Apakah Grizzly? Leo? Tidak, sepertinya bukan mereka. Firasatnya mengatakan bahwa bukan kedua laki-laki dari fakultas bela diri tersebut yang mengintainya. Lalu, siapa? Atau sebenarnya mereka datang bertiga? Siapa yang berdiri di belakang mereka berdua sebelum memasuki warung tadi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD