Chapter 1: Permainan Nada

1317 Words
In the sadness that I can't ever see again. Tears fall again. |Hallucination - Jang Jae In ft NaShow| . . Semester Satu Institut Seni Van Gogh   Nada tak terbiasa mengenakan heels. Padahal ibunya telah memilihkan heels dengan ukuran yang tak terlalu tinggi. Itu hadiah ulang tahun. Dia terpaksa mengenakannya karena ibunya mengantar sampai ke gerbang kampus. Hingga memasuki gedung, ibunya masih setia mengawasi dari luar untuk yang terakhir kalinya. It’s time to leave the nest. Sampai di kamar mandi, Nada segera mengganti heels-nya dengan converse hitam-putih kesayangan. Rambut yang dikuncir kuda ia gerai hingga tampak bergelombang di sisi-sisinya. Poni yang disembunyikan, muncul menghiasi dahinya. Dia memiringkan kepalanya. Ada yang kurang. Tak ada yang menyangka bahwa tas mungil yang dia bawa mampu menyimpan banyak benda-benda yang tak seharusnya dibawa oleh mahasiswa baru semester satu. Nada mengeluarkan sekotak makeup komplit beraneka ragam. Cukup dibuka tutupnya sekali ... dan voila! Semua alat yang dibutuhkan pun terpenuhi. Setelah memakai eyeliner secukupnya, dia membuka bungkus permen karet. Sambil mengunyah, gadis itu tersenyum miring. Kemudian ponselnya berdenting karena pesan masuk.   [Atap.]   Sampai di atas sana, Nada menyipitkan mata mendapati cahaya matahari terlalu terik. Dia tak suka itu. Gadis itu melipat kedua lengannya di depan d**a dan berjalan lurus menuju kedua sahabatnya. Nada tersenyum. Dia mengulurkan satu tangannya ke arah seorang gadis cupu yang tampak lemah dengan wajah yang memerah karena tangis. “Panas.” Gadis cupu itu memasang ekspresi bingung. “A-apa?” Kedua sahabat Nada tertawa sinis. “Itu maksudnya, lepas jaketmu, bodoh!” “Ta-tapi saya cuma punya ini aja, Kak….” Nada berjalan mendekat, membuat Si Cupu berjalan mundur perlahan. Mata yang tajam itu seolah benar-benar mencekik. Gadis cupu itu terus berjalan mundur hingga dia berhenti tepat di pinggir atap. Satu langkah lagi, tamat sudah. “Satu.” Gadis cupu itu masih enggan melepaskan jaketnya. Dia menoleh ke kanan-kiri mencari bantuan. Sayang, sepertinya ini memang hari kematiannya. “Dua.” Dia mulai menangis. Ini hari pertamanya memulai pelajaran baru. Namun, dia harus berurusan dengan musuh sepantaran yang memaksa dipanggil “Kak” itu. Dalam hati dia benar-benar mengutuknya. “Ti—“ “I-iya, Kak. I-ini.” Gadis cupu itu akhirnya melepas jaketnya, menyisakan tubuhnya yang hanya terbalut tank top. Terpaksa dia menyerah, karena kalau tidak begitu, orang-orang tak berhati ini akan mendorongnya hingga jatuh dari lantai lima. Nada tersenyum miring. Dia mengambil jaket itu untuk menutupi kepalanya. Tanpa kata-kata lagi, dia meninggalkan gadis cupu itu seorang diri di sana. Jam latihan hampir usai. Pelatih sedang merapikan perlengkapannya. Semua sedang dalam ketenangan. Lalu kemudian ketenangan itu berakhir saat gadis cupu itu masuk. Wajah yang memerah, rambut panjang tergerai menutupi sebagian wajahnya, dan kedua lengan yang berusaha menutupi bagian badannya yang terbuka itu membuat seisi kelas terkejut. Sebelum para lelaki bersiul-siul menikmati pemandangan indah itu, pelatih sudah dulu menegur. “Mbak, mohon waktu dan busana dikondisikan ya. Terima kasih.” Dingin dan menohok. Pelatih itu akhirnya keluar ruangan. Air mata sudah mengepul di mata gadis cupu itu. Dia duduk di kursi paling belakang dan menunduk. Tak berani menatap kawan-kawan barunya, terlebih lagi para lelaki yang sibuk menggodanya dengan sebutan yang menjijikkan. Sakit sekali hatinya. Amarah dan kutukan terus mengendap di dasar hatinya. Demi apa pun itu, dia takkan memaafkan mereka, terutama Nada dan kawan-kawannya! ***   Meja di lantai dua dekat jendela adalah yang terbaik di kantin Van Gogh. Selain dekat dengan pendingin ruangan, pemandangan danau yang dikelilingi pohon-pohon rindang tampak menyegarkan. Maka dari itu, orang-orang berebutan untuk menduduki meja-meja di dekat jendela. Setelah mengantre makanan, Nada dan kedua sahabatnya mencari tempat duduk di dekat jendela yang masih kosong. “Sial. Penuh semua.” Bella mendecih. Nada tersenyum miring. Dia berjalan angkuh ke sebuah meja yang diduduki oleh sekumpulan cewek-cewek ingusan berkacamata. “Kosong, nih.” “Minggir, dong!” Gadis berambut pirang, Krista, menaruh nampannya begitu saja di atas meja. “I-ini te-tempat kami,” kata salah satu gadis ingusan itu. Krista ingin menyahut lagi, namun Nada menggeleng. Dia memasang senyuman manis penuh kelicikan. Setelah tarikan napas panjang, Nada berkata lembut, “Satu.” Bella terkekeh. Mulai sudah ciri khas seorang Nada. “Dua.” Krista melipat kedua lengannya sambil menge-dipkan sebelah matanya pada Bella. Sepertinya anak-anak ingusan ini masih belum mengenal permainan Nada. Menuju hitungan ketiga ternyata masih tak ada respons dari anak-anak ingusan itu. Akhirnya Bella memberikan segelas sambal kecap pada Nada. “Tiga.” Sorakan riuh menggema di kantin tatkala Nada menuangkan segelas sambal kecap di masing-masing kepala anak ingusan itu. Tak ada rasa bersalah dan penyesalan di wajahnya. Hanyalah rasa puas. Setelah tetesan terakhir, Nada menaruh nampan-nya di atas meja seraya berbisik, “You’re dead in three seconds.” Melihat kejadian itu, kantin menjadi lebih ramai. Ada seorang laki-laki di ujung sana, menatap dingin aksi pem-bully-an Nada. Napasnya tenang, namun hatinya bergejolak. Kaleng kosong di tangannya hendak dia layangkan ke arah kepala gadis sombong itu. Namun otaknya terus mengatakan, tahan … belum waktunya. Setelah sekian lama mencari, akhirnya waktu mempertemukannya dengan gadis itu. Dia masih sama seperti iblis lima tahun yang lalu. Iblis yang tak segan-segan merenggut nyawa manusia tak berdosa tanpa penyesalan. Mengingat hal itu, rahang laki-laki itu mengeras. You'll die in a second! Laki-laki itu menggeram dalam hati. ***   “Karaoke malam ini. Setuju?” Krista mengayun-ayunkan slayer merah muda ke udara, tanda tak boleh ada penolakan. “Hei, Kris! Singkirin slayer itu sebelum kubakar.” Bella mengancam. Dia bukanlah penyuka warna merah muda. “Setuju dulu!” Bella mendecih. “Masih butuh jawaban?” Gadis berambut pirang itu tertawa. “Tapi, malam ini yang jaga Bu Silvi. Gimana caranya keluar dari asrama?” “Jendela?” “Ide bagus! Kita bisa turun dari jendela dan berakhir dengan patah tulang. Bukannya ke karaoke tapi malah ke UGD!” Krista menjitak kepala Bella yang terkadang konyol itu. Keduanya tertawa. Hanya Nada yang terlihat murung sambil menatap layar ponselnya. Jari-jarinya terdiam. Layar ponselnya menggelap tak menunjukkan apa-apa. Tatapan matanya kosong. “Nad?” Bella menyentuh pundak Nada hingga menyadarkannya. “Apa?” “Kamu nggak papa?” Nada menggeleng. Dia menonaktifkan ponselnya dan langsung tidur di balik selimut. Matanya terpejam rapat, seolah-olah terserang ngantuk akut. Padahal otaknya berpikir keras … dan jantungnya tak bisa berhenti berdetak kencang. “Kamu sakit? Ya ampun, kamu keringetan begini. Mau kupanggilkan dokter klinik?” Nada menggeleng. Dalam hati dia berharap kedua temannya ini segera keluar dari kamarnya sehingga Nada bisa bertindak bebas. “Lagi nggak enak badan aja. Kalian karaokean berdua, nggak papa.” Bella dan Krista saling pandang. “Beneran?” Nada mengangguk lagi. “Ya udah kamu istirahat aja. Besok kelas kita padat buat tes pengelompokkan dance. Jadi kamu harus sudah sembuh besok. Oke?” tanya Bella penuh perhatian. Nada mengiakan. “Cepet sembuh, Nada-ku tercinta! Muah!” Krista mengusap-usap rambut Nada, kemudian menyusul Bella keluar kamar. Kamarnya kemudian hening. Nada mengibaskan selimutnya dan mendesah keras. “Bullshit!” Dia menatap tajam ke arah pintu. Sejak awal dia mengetahui semuanya. Alasan mengapa kedua sahabatnya itu mau berteman dengan gadis kasar, sombong, dan licik seperti Nada. Untuk ukuran seseorang yang ayahnya dipenjara karena kasus kekerasan dalam rumah tangga, tak mungkin dia menolak anak seorang jaksa. Hanya itu satu-satunya cara tersisa untuk membebaskan ayahnya. Apalagi untuk ukuran seorang gadis yang ayahnya tersandung kasus penyalahgunaan wewenang. Bisa dibilang, lingkaran pertemanan mereka dilandasi oleh satu tujuan; peluang. Mengingat motif pertemanan itu membuat Nada tertawa. Bagaimana mungkin anak penjahat meminta bantuan anak penjahat lainnya? Dia tertawa lagi. Meminta bantuan ayahnya? Yang benar saja. Beliau tak lebih dari penjahat berseragam yang menyandang status jaksa. Tiba-tiba air matanya terjatuh. Entah itu karena terlalu banyak tertawa … atau karena ketakutan. Nada mencengkeram kuat selimutnya. Gadis itu lelah. Dia ingin menyalahkan! Dia ingin berlari! Dia ingin berteriak! Dia ingin mengakhiri semuanya! Semua mimpi buruk yang membunuhnya secara perlahan. Kemudian mengakhiri rasa takut yang hadir ketika malam tiba ... karena bisa-bisa ... sosok itu berdiri di sana dan membunuhnya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD