TIGA hari telah berlalu. Walau pedih mereka harus tetap melanjutkan hidup, seolah-olah Grizzly hanya sedang berlibur dalam waktu lama. Leo membuka pintu kamar asrama. Rasanya hampa. Dia terpaku di ambang pintu dengan air mata yang menetes perlahan saat melihat Grizzly sedang mengacak-acak kasurnya dan mengeluarkan semua koleksi komiknya. Kenangan itu terasa begitu nyata di depannya saat ini. Dia tak pernah mau meminjamkan satu komiknya ketika Grizzly meminta. Setitik penyesalan timbul di dasar hati Leo. Laki-laki itu mengambil satu buku komiknya dan mengusapnya. “Griz, aku bakal pinjemin komik ini kalo kamu muncul lagi di depanku.” Leo terisak. Dia kehilangan sahabat sekamarnya, selamanya. Leo berjalan ke balkon dan melihat ikatan kain itu masih ada di sana. Biasanya mereka berdua

