Lemes! Sumpah lemes!
Apalagi pas liat muka Mama dan Papa yang saling berpandangan memandang ke arahku lalu kepada Randu hingga akhirnya mama terbahak.
"Kamu kalau becanda suka gak tanggung-tanggung, Mas." Seru mama masih dalam tawanya. Ibu jarinya kemudian mengusap sudut matanya yang basah karena air mata. Hal ini persis seperti apa yang aku lakukan kemarin ketika mendengar ide gila Randu. Iya, tertawa karena tak percaya dengan kata-katanya.
"Saya serius tante, gak becanda!" Kata Randu. Mama langsung menghentikan tawanya lalu kembali menatap aku dan Randu bergantian. "Aku dan Aruna udah kenal lama banget, keluarga kita juga udah saling kenal, tante sama Om juga udah tahu aku lebih dari apapun. Aku nyaman sama Aruna, jadi ya daripada Aruna di jodohkan sama laki-laki yang belum tante sama om kenal, lebih baik aku yang nikahin Aruna." Aku menatap Randu. Wajah sahabtku ini terlihat sangat serius dan baru kali ini aku melihat wajah Randu seserius ini. Sementara itu Mama dan Papa malah terdiam sambil berpandangan satu sama lain.
"Ya Allah Mama kaget, beneran deh!" Seru Mama kemudian berdiri dan berjalan ke arah depan. Lah! kemana tuh? Aku, Randu, dan Papa refleks ikut berdiri lalu mengikuti Mama yang berjalan, malah sedikit berlari.
"Ma, mau kemana?" Teriak papa.
"Ke tempat Indy, dia harus tahu!" seru Mama. Aku dan Randu bertatapan. Wajah Randu terlihat kaget. Sepertinya Randu belum mengatakan apa-apa pada orang tuanya, karena itulah aku bergegas mengejar Mama. Randu dan Papa mengikutiku dari belakang.
Saat aku sampai di luar rumah, mama sudah membuka gerbang rumah Randu, berjalan cepat masuk ke dalam rumah Randu. Mama aku ya begini. Apa yang dilakukannya selalu diluar ekspektasi.
Dari dalam aku mendengar teriakan Tante Indy—Mamanya Randu--. Saat aku, Randu dan Papa sampai di ruang keluarga rumah Randu, Tante Indy menghampiri Randu, lalu memukul kepala anaknya. Hingga anaknya berteriak, dan aku hanya bisa meringis saja.
"Bilang sama Mama, kamu apain Aruna? Bilang sama Mama!" Randu menoleh ke arahku hingga aku dan Randu saling tatap merasa tak mengerti dengan apa yang dtanyakan oleh mamanya Randu. "Apa pernah mama sama papa ajarin kamu buat ngelakuin hal-hal yang di luar norma, Mas? Enggak kan?! Ya Allah, Pa. Anak kamu tuh!" katanya sambil berjalan mendekati Om Dony yang terlihat sama kagetnya dengan Tante Indy dan Mama. Tante Indy kini duduk, dia terlihat sangat lemas.
"Sini duduk!" bentaknya sambil menunjuk sofa di ruang keluarga. Seperti kerbau di cocok hidung, aku dan Randu duduk di tempat yang ditunjuk Tante Indy. Sementara Papa berdiri di samping sofa.
"Aruna, bilang sama tante kamu diapain sama si Mas?" Aku tak menjawab hanya bergelelng sajaaku karena memang tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh Tante Indy.
"Jujur sama tante sayang kamu diapain?" Sekali lagi Tante Indy bertanya dan aku pun tetap menjawabnya dengan gelengan. "Kenapa sih enggak mau jujur heran deh tante!" gerutu tante Indy. "Kalian gak mungkin tiba-tiba mutusin untuk nikah kalau enggak terjadi apa-apa." Katanya.
Akhirnya aku mengerti sekarang mengapa Tante Indy bertanya seperti tadi, jadi ternyata Tante Indy mengira bahwa aku dan Randu memutuskan untuk menikah karena terjadi sesuatu padaku. Ya, ampun!
Dasar emak-emak! Selalu sehiperbolis itu.
"Ya ampun Mama!" Kata Randu kesal. "Main pukul aja ih, nanya dulu kenapa sih?!" Kata Randu masih kesal. Sementara Tante Indy malah diam saja. "Mama, Papa, Om, sama Tante, aku melamar Aruna, bukan karena terjadi apa-apa sama aku, tapi memang aku serius mau melamar Aruna." Kini Mama sekali lagi terlihat kaget. Sementara tante Indy malah bertepuk tangan tanpa suara.
"Mungkin ini terdengar gila, malah kemarin rekasi Aruna juga sama kagetnya dengan kalian. Tapi aku serius__ aku serius melamar Aruna untuk jadi istriku." Randu berkata. Kali ini dia terlihat benar-benar serius dengan apa yang dikatakannya.
Lemes banget ya ampun!
***
"Teh, Mas Randu udah di bawah!" teriak mama dari bawah. Sumpah! Aku malas bertemu dengan Randu pagi ini. Setelah drama lamaran Randu semalam, aku lemas dan akhirnya aku tak ingat apa-apa. Aku pingsan dong, bebs. Malu-maluin banget. Mama bilang Randu terlihat sangat khawatir, sampai rela menggendongku ke kamar dan menungguiku sampai sadar. Dan setelah sadar aku malah tidur sampai pagi ini.
Pagi ini terasa begitu aneh. Setelah drama lamaran kemarin hatiku malah berdebar tak karuan ketika mendengar nama Randu, padahal dulu biasa-biasa saja. Aku sekan tak mengenal diriku sendiri. Malah hidupku kini seakan cerita di dalam novel-novel percintaan. Penuh drama.
"The!" Mama langsung menyeruak masuk ke dalam kamarku dan melihat diriku yang sedang melihat diriku sendiri di cermin. "Lama banget, itu Mas Randu udah nungguin." katanya. Aku melirik mama yang senyum-senyum kayak orang jatuh cinta.
"Ya ampun! Mama masih berasa mimpi kalau anak gadis mama bentar lagi mau nikah, gak nyangka juga nikahnya sama sahabatnya sendiri. Kenapa coba gak dari dulu? Jadi kan mama enggak usah repot-repot kenalin kamu sama anak temen-temen Mama." Ujarnya membuat aku tidak tahan untuk tidak memutar bola mata. Maunya sih bilang 'ya mana gue tahu Ma, kalau tahu dia jodoh gue mah, udah dari dulu minta di lamar' dan itu hanya bisa aku ucapkan dalam hati saja tak berani aku ungkapkan.
"Tante Indy bilang, hari Minggu ini mau ngelamar secara resmi. Kamu mau cari kebaya sendiri apa Mama yang cariin?" Aku menoleh ke arah Mama. Masa minggu ini sih? Cepet banget.
"Ma, kok cepet banget sih?" Kataku akhirnya.
"Ya habis Mas Randu juga maunya 6 bulan lagi kalian nikahnya, jadi ya harus cepet-cepet dong. Ini pernikahan pertama di kelurga kita, gitu juga sama keluarga Randu, jadi ya harus disiapkan dengan matang. Mama gak mau setengah-setengah.” Katanya. “Ya ampun mama sama tante Indy udah gak sabar.” Seru Mama terdengar sangat senang.
Ya ampun mama gak tahu aja, anak gadisnya ini sekarang lagi jedak jeduk, jedak jeduk inget kalau aku dilamar sahabatku sendiri. Tanpa cinta kami akan nikah. Tanpa cinta bebs, bayangin?! Yang nikah karena cinta aja banyak yang cerai apalagi yang tanpa cinta kayak aku sama Randu gini, ya ampun. Amit-amit deh ah!
***
"Diem aja, kenapa sih?" Tanyan Randu saat mobilnya sudah mulai meninggalkan komplek perumahan tempat kami tinggal. Aku menoleh sekilas lalu membuka tupperware berisi salad buah yang dibuatkan mama untukku. Pagi ini saking kebanyakan melamun di kamar, aku malah tidak sempet sarapan. Belum lagi tadi subuh Mas Pandi sudah menelepon, mewanti-wanti supaya datang agak pagi karena naskah turun cetak pagi ini udah siap ACC. Dia bilang dummy-nya pagi ini saja aku ACC karena kemarin naskah baru selesai dini hari.
"Du, elu yakin mau nikah sama gue?" Randu menoleh. Menatapku sambil mengangkat sebelah alisnya, seakan bilang 'ngapain nanya lagi' gitu loh, bebs. "Ya maksud gue, lu yakin mau nikah sama gue padahal lu gak cinta sama sekali sama gue," kataku. Kudengar Randu mendengus kesal.
"Emang nikah harus selalu pake cinta?" katanya. Aku menoleh sambil mengunyah salad buah. Lalu menggedikan bahuku.
"Ya setahu gue kan gitu. Yang mutusin buat nikah yah pasti karena mereka saling cinta, nah kita?" kataku sambil tetap berusaha menghabiskan sarapanku.
"Selama hampir 25 tahun lebih lu kenal gue, emang lu gak sayang sama gue?" kini malah aku yang berdecak.
"Ya bedalah bambang!" lah dia malah ketawa. Dan sumpah ya, selama puluhan tahun aku kenal dan bersahabat sama Randu, baru kali ini ngerasa seneng banget denger ketawanya dia. Aneh kan?
"Bedanya sebelah mana? Gue sayang sama elu jelas itu fakta, terlepas elu jadi sahabat ataupun sekarang lu udah berganti status jadi calon istri gue," dan sialannya dia menekankan kata 'calon istri' sialan kan. Randu memang sebangsat itu, bebs.
"Atau lu takut kalau gue Cuma sekedar coba-coba dengan rencana pernikahan kita, cocok lanjut kalau gak cocok bubar gitu?" aku menoleh ke arahnya, eh dia malah ketawa. "Kalau lu mikir kayak gitu berarti lu gak kenal gue bener-bener," katanya. Mobil Randu tiba-tiba berhenti aku menoleh ke sekeliling dan baru sadar kalau ternyata aku sudah sampai di parkiran kantor tempatku bekerja. "Selama ini gue jagain lu dan lu tahu gue gak pernah sedikit pun nyakitin elu. Selama ini kalau gue janji gue selalu berusaha untuk menepatinya, dan lu tahu itu dengan pasti. Jadi gue harap lu percaya bahwa buat gue lamaran kemarin bukan main-main, dan lu harus percaya kalau buat gue pernikahan bukan sebuah mainan," aku mengerjapkan mata beberapa kali lalu entah ada kekuatan dari mana aku malah mengangguk, mungkin karena aku tahu bahwa apa yang dikatakan Randu barusan semuanya benar dan tak ada yang salah.
Oke sahabat surga untuk kesekian kalinya aku akan tetap mempercayai kamu dan untuk kali ini dan seterusnya aku akan mempercayakan hidup dan matiku di tangan kamu. Awas kalu ketahuan bohong, piaraan lu jadi taruhannya.
Aku tersadar dari monologku saat Randu tiba-tiba saja mengarahkan punggung tangannya. Aku menatapnya tak mengerti.
"Biasain cium tangan gue mulai sekarang," aku meringis.
"Ogah!" kataku yang direspon dengan tawa Randu yang menyembur dengan keras.
Si Sahabat b*****t memang sialan!
***
"Hah? Becanda pasti," teriak Cantika tak percaya, sementara Diana sedang menahan tawanya begitu aku cerita mengenai lamaran Randu semalam dan lamaran resminya akan dilakukan minggu malam.
"Lu semua kenapa sih malah ketawa, bukan seneng gue mau kawin," oke mereka berhenti ketawa, eh bukan berhenti tapi berusaha menghentikan tawa mereka tapi badannya masih bergetar saking ketawanya di tahan. Kan sialan!
"Gue itu Cuma lagi berusaha mikir aja, lo. Randu gitu lo, sahabat surga elu yang udah kenal elu dari kapan tahu tiba-tiba ngelamar elu, najong abis!" kata Diana sambil tetap menahan tawanya. Kan, kan, teman tapi menyebalkan itu yang gini. Vangsat abis.
"Beneran, Run?" sekali lagi aku mengangguk menanggapi pertanyaan cantika yang entah untuk keberapa kali. Aku berdecak lalu kembali mengangguk dan terdengarlah kembali tawa kedua sahabatku ini. Kesal aku berdiri dan langsung meninggalkan kantin kantor tanpa memperdulikan panggilan mereka.
"Run, tunggu dong, elu mah ambekan ah. Mentang-mentang calon manten!" sialan kan omongannya bikin pengen nendang aja b****g seksi milik Cantika yang sialannya emang seksi abis.
Tanpa memperdulikan panggilan mereka, aku langsung masuk ke dalam lift dan dengan cepat menutupnya padahal aku tahu ada Cantika dan Diana yang berusaha untuk naik menggunakan lift yang sama denganku. Begitu lift sampai di lantai tiga di mana ruangan tempat kerjaku berada, aku langsung masuk ke dalam ruang editor. Ruangan masih sepi, karena memang jam makan siang masih belum selesai. Cuma ada Miftah. Miftah ini staf admin juga tapi dia bagian perpustakaan dan fotokopi naskah. Nah, kita nih mau edito, setter, atau pun para designer kalau perlu buku rferensi nyarinya Miftah, karena Cuma dia yang tahu di mana nyimpen buku referensi. Dia ini masih muda, baru lulus SMA. Sekarang lagi ambil kuliah jurusan designe grafis. Anak Garut asli dan kalau ngomong sama lembut banget. Jangankan sama orang, sama kucing aja gitu saking lembutnya.
"Eh, ada Teh Runa ternyata, kirain ada penampakan abis tadi kan ruangan editor gak ada orang eh malah kedengeran suara kursi diputer," katanya. Aku tertawa mendengar omongan Miftah. Sudah jadi rahasia umum kalau ruangan penerbitan, baik ruangan divisi editing atau pun perencanaan memang serem meskipun penghuninya selalu ada sampai tengah malam. Ada aja ceritanya. Pernah nih, Candra office boy kita liat cewek lagi duduk di meja setter lah, cewek rambut panjang, padahal itu hari Jumat dan biasanya hari Jumat gak akan ada yang lembur, semua karyawan divisi editing mau pun perencanaan semua pulang jam 16.30. Pokonya sih ya gitu, Miftah nih salah satu yang sering banget liat penampakan di ruangan divisi kita, maklum staf admin kan biasanya memang pulangnya lebih malam dibanding kita para editor, kita mah sesekali pernah lah pulang siang.
"Run, ih kita kejar juga. Lu mah ambekan ah," aku dan Miftah refleks melirik ke arah suara. Ternyata Cantika dan Diana sudah berjalan ke arah kami, lalu duduk di meja editor yang kosong. Aku dan Cantika memang duduk bersebelah, dia sama-sama editor fiksi. Jadi gengs, di divisi editing ini ada beberapa editor ada editor Fiksi, ini khusus editing naskah-naskah fiksi seperti novel, dongeng, buku kumpulan cerpen, pokonya buku-buku Non-Teks. Terus ada juga editor Non-Teks, nah tadi yang aku bilang mereka-mereka ini tugasnya editing buku-buku pelajaran. Ada juga editor Eksak, ini nih kumpulan para editor dengan otak-otak cerdas, maklum mereka-mereka nih tukang editing buku-buku kayak matematika, IPA, Biologi, Fisika dan sebagainya, pokonya pusing deh.
"Iya yah, elu mah gak asyik," kata Diana menimpali. Kulihat Miftah menyingkir. Dia mah suka gitu, ngerti aja kalau orang dewasa mau ngobrol serius.
"Gue sama Cantika Cuma geli aja kalau inget elu sama dia sedeket apa tapi sekarang malah rencanain pernikahan. Tapi over all kita dukung lah apa pun yang jadi keputusan elu," kini Diana yang bicara. "Lagian gue setuju kok sama apa yang dikatakan Randu, daripada nyokap lu sibuk jodohin elu sama cowok-cowok yang belum mereka kenal ya mending sama Randu dong. Nyokap bokap lu kenal banget sama dia, tahu banget gimana si sahabat surga elu itu jagain elu selama ini, jadi ya udah sih gak apa-apa," tambahnya.
"Elu berdua aja geli apalagi gue, geli banget, ya ampun!" kataku sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku membuat kedua sahabatku itu tertawa. Gue nih ya, dulu gak masalah dia mau leyeh-leyeh di kamar gue kapan pun, ya karena gue tahu dia gak akan ngapa-ngapain, lah sekarang gue malah geli sendiri kalau beberapa bulan lagi, dia nih emang bakalan jadi penghuni tetap kamar gue, dan ___" ya ampun aku keburu geli ngomongnya makanya gak dilanjut dan membuat kedua sahabatku itu langsung terbahak.
"Ya elu mah bayanginnya yang iya-iya, pasti geli lah," celetuk Diana. "Lagian emang kenapa sih, entar juga terbiasa, itu kan kewajiban elu sebagai istri dan itu udah jadi hak Randu juga kalau kalian udah sah, gak lu kasih lu malah dosa," katanya. Ya ampun aku kok malah geli lagi sih. Bayangin kalau Randu bakalan tahu semua hal yang aku sembunyikan selama ini. Ya Allah, hih masa sih harus gitu! Frustasi ih!
"Randu itu oke lo, Run. Dia gantengnya ampun-ampunan banget. Sampai-sampai dulu pas lu pertama kali ngenalin dia sama gue, gue sempet mau flirting sama dia, tapi gak jadi ah, karena takut gak nyaman sama elu. Kerjaan dia juga keren, arsitek apalagi jabatannya sebagai manajer proyek di salahsatu perusahaan konstruksi terkenal itu kan gajinya lumayan gede, Run. Mustahil kalau elu gak ngiler sama gajinya. Setelah nikah terus lu resigne juga gak masalah, dia pasti masih bisa ngasih duit jajan buat elu dengan nominal yang sama kayak pas lu kerja di sini," Diana dan hedonisnya. Selalu gitu. Gak heran kalau calon suami dia nih ya, kerjaannya oke banget.
"Gue setuju tuh apa yang diomongin Diana. Pokonya lu syukuri aja apa yang lu dapat sekarang. Cinta mah urusan kesekian, banyak kok yang nikah tanpa cinta tapi masih bisa jalan sampai mereka tua, gue sama Diana bakalan selalu dukung elu," aku menatap mereka bergantian.
Iya sih ya, harusnya aku bersyukur memiliki Randu yang memang baik banget. Dari dulu sejak aku masih kecil sampai sekarang. Cinta mah urusan kesekian, yang harus aku sadari adalah dia sayang kok sama aku, meskipun aku gak mengerti porsi rasa sayang dia itu untuk apa. Apakah sayang selayaknya pada pasangan atau sekedar sahabat. Yah, aku syukuri saja. Setidaknya kalau nikah sama dia aku tak perlu was-was kalau akan terjadi sesuatu di masa depan, karena aku sudah tahu bagaimana cara dia menjaga aku selama puluhan tahun kami bersahabat.