"Lama amat turunnya, ditungguin Mas Randu tuh." Ujar mama saat aku baru turun dari lantai dua sambil menenteng tas dan sepatu milikku. Aku memindai sekeliling ruangan makan. Selain mama, di sana ada papa, Arya dan juga si sahabat surga yang terlihat lebih ganteng setelah drama lamarannya semalam.
“Mas Randu aja enggak bilang mau antar aku ke kantor, kok." kataku lalu duduk tepat di sampingnya, memakai sepatuku terlebih dahulu sebelum menyendokan nasi goreng ke atas piring.
"Loh! Kata Mas Randu kan mobil kamu ditinggalin di kantor karena kemarin nganterin si Mas ke Ciwalk, makanya si Mas berinisiatif mau anterin kamu.” Kata mama. “Udah cepetan sarapan nanti pada kesiangan, Bandung macet telat lima menit aja." Tambah mama. Aku tak menjawab apa yang dikatakan mama, hanya diam saja sambil menikmati sarapanku.
"Teh, pulang jam berapa nanti?" aku mendongak lalu menatap mama. Tanpa mendengar jawabanku terlebih dahulu mama lalu melanjutkan kata-katanya. "Kalau enggak banyak kerjaan usahain pulang cepet ya, ada yang mau kenalan." Refleks aku menoleh ke arah Randu yang ternyata juga sedang menoleh ke arahku, hingga kini kami saling bertatapan.
"Ini anaknya Umi Kalsum, guru ngaji mama. Anaknya ini dosen di UIN, Teh. Nih, fotonya," kata mama sambil menyerahkan ponselnya ke arahku. Di layar sudah terpampang foto seorang pria berkulit cokelat sedang tersenyum dengan lebar. Cakep. Indonesia banget dan keliatan ustad banget. Jenggot nya itu lo, bebs. Bikin gemes. Kalau kata aku sih dia itu Taqi Malik versi berjenggot. Tahu Taqi Malik ga? Itu loh Hafiz Quran yang pernah kawin sama anaknya pengacara kondang itu. Ih, google aja deh kalau enggak tahu.
Tapi dasarnya aku udah males dengan perkenalan semacam ini, makanya tetap pasang tampang malas meskipun si dosen UIN ini tidak terlalu jelek. Malah dia juga tidak terlalu ustad. Kalau ustad juga terlihat ustad gaul. Eh, tapi kan emang ustad jaman sekarang gaul-gaul ya.
"Mama ah kebiasaan," kataku sedikit berdecak lalu menyerahkan kembali ponsel milik mama padanya. "Kan aku udah bilang gak usah jodoh-jodohin lagi, nanti gak cocok lagi, mama kecewa lagi," kataku.
"Hih! Namanya juga usaha, ya gak Mas?" dan Randu hanya mengangguk saja sambil tersenyum. Randu ini memang dari dulu anak kesayangan mama banget. Dulu jaman papa masih harus ke luar kota, apa-apa Randu, maklum anak laki-laki mama kan tidak bisa apa-apa. Masang galon aja enggak bisa, jadi ya apa-apa Randu. Nah, pas Randu kuliah di Jakarta yang sedih itu bukan tante Indy tapi mama, karena enggak ada anak cowok yang bisa dimintai tolong kalau papa lagi enggak ada.
"Mama nih pusing-pusing nyariin Teteh jodoh, kenapa engak nikahin mereka aja coba?" aku dan Randu saling tatap lalu menoleh bersamaan ke arah Arya yang sedang menyuapkan jeruk ke mulutnya. Dan kemudian satu pukulan mampir di bahunya, hingga jeruk yang ada di mulutnya mendarat dengan sempurna. "Innalillahi!" teriaknya. "Mama ih si teteh *pikasebeleun!" katanya.
(*menyebalkan)
"Teh, heureuyna ih!" dengan cepat mama mengambil tisu lalu mengambil jeruk muntahan Arya yang jatuh tepat di hadapannya.
(*teh becandanya ih)
"Teh, becandanya jangan kelewatan ah, lamun cilaka kumaha? Papa anu pusing!" percayalah kalau tuan raja sudah membuka suara berarti aku dan Arya sudah keterlaluan.
(*kalau celaka gimana, papa yang pusing)
"Iya nih, ah!" gerutu mama. "Lagian Arya juga nih suka kemana-mana ngomongnya, masa mama nyuruh Teteh sama Mas Randu nikah, Mas Randunya yang nolak mentah-mentah pasti, kalau teteh kamu mah pasti iya-iya aja, da kapepet mah kumaha deui meureun." Duh ini mamaku kan yang ngomong? Beneran mamaku kan? maksudnya kalau bukan mau aku lempar pake apel yang sekarang aku pegang gitu, soalnya omongannya nyebelin semua. Belum tahu aja semalam, si sahabat surga malah sudah melamar anak gadisnya yang cantik ini, belum tahu aja si mama.
(*kalau kepepet ya mau gimana lagi)
"Hih! Pagi-pagi udah pada aneh, Mas ayo berangkat, aku kesiangan apel!" Kataku sambil berdiri. Kalian jangan heran ya kalau di depan keluargaku dan keluarganya Randu aku akan memanggilnya dengan 'Mas Randu' atau 'Mas' ya sopan santun kali ah. Randu itu dua tahun lebih tua di atasku jadi ya aku harus menghormatinya dong, setidaknya di depan keluarga kami. Karena kalau lagi berdua geli aja manggil dia 'Mas Randu' udah berasa mas-mas tukang sate gitu lo. Randu juga kadang suka ketawa kalau aku manggil dia 'mas' saat berdua. Geli katanya.
"Teh pokoknya jangan pulang telat ya!" teriak mama saat aku dan Randu keluar dan masuk ke dalam mobil.
"Du!" Panggilku saat kami sudah duduk dan masing-masing memakai sabuk sabuk pengaman di tubuh kami. Randu menoleh. "Kalau gue setuju soal permintaan lu kemarin geli gak kedengerannya?" Randu tertawa yang membuat aku berdecak kesal. Sialan kan? "Elu emang menyebalkan deh, Du!" gerutuku akhirnya. Tawa Randu kini terdengar kencang.
"Sopan sedikit lu sekarang sama gue, inget gue calon suami lu sekarang." Katanya jumawa. Ya, begitulah Randu Mahardika selalu menyebalkan.
"Gue secepatnya bilang sama orang tua kita kalau kita mau nikah."
Ya salam. Gercep bener dia. Gue rasa bukan gue yang hopeless sama jodoh, tapi si sahabat surga deh!
***
Berterima kasihlah pada pekerjaanku yang seorang editor di salahsatu perusahaan penerbitan. Kejaran deadline yang tak kenal henti memang selalu menyelamatkanku dari perjodohan yang terkadang membuat kepalaku mau pecah. Belum lagi aku selalu merasa rendah diri karena perjodohan ini cukup menjelaskan kepada seluruh penghuni dunia bahwa aku tidak laku, sampai-sampai mama harus turun tangan menjodohkanku.
Sejak lulus kuliah dari UPI beberapa tahun lalu aku memang melamar ke beberapa perusahaan penerbitan baik buku maupun media cetak. Sadar basic pendidikan sih sebenaranya, karena ya kalau enggak jadi editor paling jadi penerjemah, kerjaan apalagi sih yang bisa aku ambil sebagai seorang lulusan Sarjana Sastra sepertiku?
Bekerja sebagai editor membuat separuh waktuku kuhabiskan di kantor. Pekerjaan yang dikejar deadline terkadang membuatku harus berlama-lama dan betah di kantor. Malah tak jarang aku melewatkan malam minggu di kantor dan tetap harus bekerja saat weekend. Mungkin inilah salahsatu alasan hingga usia 28 tahun aku belum juga menikah.
Dulu aku selalu merasa kesal karena pekerjaanku sangat menyita waktu sampai membuat aku tak memiliki waktu untuk mecari jodoh. Jangankan cari jodoh, terkadang untuk me time saja aku tak ada waktu.
Tapi entah mengapa, saat ini aku sangat berterima kasih pada pekerjaanku ini. Saat mama mencecarku dengan puluhan pesan dan telepon karena aku masih di kantor pada jam makan malam, padahal anak Umi Kalsum sudah menungguku di rumah.
Ya, aku bisa apa selain tetap di kantor dan menunggu turun cetak dan cek finishing aja. menunggu seperti ini itu tidak tentu kapan kita akan pulang, bisa cepat bisa juga kita harus menunggu sampai tengah malam. Seenggaknya begitu sih yang aku alami setelah bertahun-tahun jadi editor dan menunggu buku turun cetak.
Ponselku kembali berdering, entah untuk keberapa kalinya dan masih dengan nama yang sama . Mama. Mau tak mau aku mengangkatnya, meskipun mataku tetap sibuk memeriksa deretan huruf pada lembaran dummy yang baru saja aku terima dari Diana, staf admin yang mengurusi keluar masuk dummy. Kalau kalian bingung dummy itu apa, dummy itu naskah yang belum jadi lo bebs, masih berupa print out yang sudah di layout. Biasanya ada beberapa dummy. Dummy 1 itu hasil printout yang baru kita edit satu kali dari naskah penulis. Dummy 2 itu, yang udah kita edit dua kali. Dan ada dummy jadi, ini biasanya naskah yang udah siap turun cetak.
"Iya, Ma!" sapaku pada mama dis eberang sana.
"Kamu mau pulang jam berapa sih, Teh?" tanya mama misuh-misuh. Duh! Mama ini suka gak tahu situasi banget sih, udah tahu anaknya cuma karyawan biasa gini. Tidak bisa seenaknya pulang .
"Ini A Gusti udah nunggu dari tadi lo!" siapa tuh A Gusti? Enggak kenal sumpah! Eh, ya ampun lupa, jadi cowok yang mama mau kenalin namanya Gusti ya? itu lo Taqi Malik versi berjenggot itu. Maafkan aku yang pelupa ini ya, bebs.
"Mama ih, udah tahu kerjaan aku mah enggak bisa diprediksi pulang cepet, ini malah janji-janji sama anak orang lagi." Gerutuku. Kudengar decakan mama di seberang sana.
"Ya bisa ijin kan? Masa atasan kamu enggak mau ngerti, ini menyangkut masa depan anak buahnya loh, The!" Kata mama akhirnya.
Ya, memang aku siapa minta dingertiin sama Bujang Lapuk macam Mas Pandi. Dia saja belum nikah di umurnya yang udah kepala empat. Makanya dia enggak pernah ngerti soal jodoh para anak buahnya. Dia saja hampir tiap hari pulang di atas jam delapan malam kok. Malah dia itu setia menunggu para anak buahnya yang lembur karena harus menunggu naskah yang turun cetak.
"Ma, malam ini ada naskah turun cetak, jadi ya aku gak bisa pulang cepet, lagian mama main janji-janji sama anak orang ih, kasian dia." Kataku sekali lagi pada mama hingga membuat mama mulai mengomel panjang lebar. Sampai-sampai aku saja enggak tahu apa yang mama bicarakan karena terlalu panjang. Hingga akhirnya setelah mengakhiri pembicaraanku dengan mama, aku memutuskan untuk menemui Mas Pandi yang masih anteng di ruangannya dengan setumpuk dummy dan entah apalagi.
Aku menarik napas panjang sebelum memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangannya yang sedikit terbuka. Mas Pandi mendongak lalu melepas kacamata bacanya.
"Kenapa, Run?" tanyanya. Aku hanya nyengir saja lalu masuk ke dalam ruangannya dan memposisikan diri duduk tepat di hadapannya. "Pasti ada maunya." Aku nyengir lagi.
"Mas, turun cetaknya mesti malam ini banget?" dia mengangkat satu alisnya. "Maksudku kerjaan aku bisa aku bawa ke rumah enggak? Ada acara keluarga nih, gak bisa ditinggal." Dia kini menatapku dengan seakan-akan dia tak mendegar jels apa yang baru saja aku katakan. "Tapi kalau enggak bisa ya gak apa-apa, Mas." Ralatku. Daripada cari ribut, lebih baik cari aman saja. Aku langsung berdiri dan berbalik badan.
"Run!" aku langsung balik badan dan kembali duduk. "Editor fiksi cuma kamu aja yang belum pulang?" aku mengangguk. "Acara apa emang?" Tumben ngomongnya lembut banget. Mood-nya lagi oke nih kayaknya.
"Ehm, acara keluarga, Mas, pokoknya gitu deh!" kataku tak menjelaskan secara detail. Ya, masa bilang 'mama aku mau jodohin aku Mas sama anak temennya, dia udah nunggu di rumah'. Jatuh dong harga diriku sebagai high quality jomblo di kantor. Meskipun tiap PDKT gagal mulu.
Mas Pandi terlihat berpikir. "Ya udah enggak apa-apa deh, kamu balik aja. Tapi nanti aku suruh Diana kirim Dummy ACC lewat email ya dan kamu harus gerak cepat!" Mumpung si bujang lapuk lagi baik banget, aku langsung mengangguk dan pamit.
Sebelum pulang aku sempatkan untuk masuk ke ruangan Diana. Dia juga terlihat sudah bersiap untuk pulang.
"Di, mau balik?" dia menoleh lalu mengangguk. "Gue udah ijin Mas Pandi buat balik, katanya nanti Dummy ACC dia suruh lu kirim lewat email ke gue!" kataku sambil duduk di kursi putar tepat di hadapannya.
"Tumben atasan lu baik banget, moodnya lagi oke?" kata Mas Yudis, staf Admin perencanaan. Jadi gini lo gengs. Di kantorku yang bergerak di bidang penerbitan dan percetakan, di bagian penerbitan mencakup dua divisi, divisi editing sama perencanaan. Divisi editing itu ya kayak aku gini kerjaannya, ngedit, nulis, menyunting naskah, dan lain-lain yang berkaitan sama isi naskah. Nah kalau divisi perencanaan mencakup layout, desain dan segala macam yang berkaitan dengan keindahan buku. Nah, kalau Diana ini Staf Admin yang tugasnya mendistribusikan pekerjaan ke bagian editor, kalau Mas Yudis ini Staf Admin yang mendistribusikan pekerjaan ke bagian perencanaan.
"Tahu!" Kataku sambil menggedikan bahuku tak acuh. "Gak tahu baru dapet cewek baru." Kataku asal.
"Najong!" kata Mas Yudis.
"Di, bisa kan?" kataku pada Diana.
"Tadi sih gue udah minta Mas Yudis kasih Dummy ACC ke elu, ya kalau mau lu gitu nanti Mas Yudis yang email, ya Mas, bisa kan?" kata Diana. Mas Yudis menganggauk mantap.
"Ya udah gak apa-apa, pada pulang deh gih sana, lama-lama di kantor lu pada gak dapet jodoh lagi." Kata Mas Yudis sambil tergelak membuat aku dan Diana sama-sama mendengus kesal.
Aku dan Diana memang punya nasib yang sama . Usia sudah matang tapi belum menikah. Tapi mungkin Diana lebih beruntung karena dia sudah memiliki calon suami, meskipun dari yang aku tahu dia juga putus nyambung, karena kadang pacarnya ini marah menganggap bahwa Diana tak punya waktu untuk sekedar makan siang bersama. Kerjaan kita memang parah, bebs. Penghasilan kita sih lumayan, selain gaji pokok akan ada uang lembur yang terkadang dalam satu bulan bisa mencapai satu bulan gaji kami. Bonus tahunan juga bisa kami kantongin setiap tahunnya, belum lagi kalau ada editor yang bersedia menulis akan ada fee tersendiri. Aku mengakui kalau bekerja di penerbitan cukup menjanjikan, tapi ya gitu resikonya kadang kita tidak punya waktu untuk diri kita sendiri, termasuk mencari jodoh.
"Kusut banget, Di?" Kataku pada Diana yang bersama-sama denganku masuk dalam lift. Dia terdengar mendesah pelan. Aku, Diana dan Cantika memang sangat dekat, dulu ada Wina juga tapi dia sudah resigne ikut suaminya ke Jakarta. Kami hampir satu angkatan masuk ke kantor ini, jadi ya sudah bisa dipastikan karena itulah kami dekat. Malah tak jarang kami menghabiskan waktu untuk makan saat istirahat atau berghibah.
"Lama-lama gue bosen deh, Run dengan ritme kerja kayak gini." katanya. "Pergi pagi, pulang malem, setiap hari malah kadang weekend juga kta masih harus kerja." Katanya. "Pantes si Wina milih resigne, kalau sambil ngurus rumah tangga kerjaan kayak gini susah." Katanya mengeluh.
"Lu mau nikah emang?" dia menggedikan bahunya. "Lu tahu gak nyokap gue aja sampe bela-belain nyariin gue jodoh saking anaknya susah banget cari cowok." aku dan diana tertawa bersamaan.
"Masih gak nyerah nyokap lu?" aku mengangguk. "Ya udah gue duluan ya, Krisna udah nunggu tuh," katanya sambil menunjuk sosok laki-laki yang ku kenal bernama Krisna yang sudah dipacari Diana hampir 9 tahun.
"Baru balik juga, Run?" aku mengangguk lalu berpamitan pada mereka dan menuju parkiran. Saat sampai di depan mobil, aku membuka tasku, mengaduk-aduk isinya dan baru sadar kalau pagi tadi aku mengganti tas dan kunci mobilku tertinggal di tas yang aku pakai kemarin.
Hidupku memang terkadang sempurna. Sempurna begonya.
***
"Bisa-bisanya sih lu lupa sama kunci mobil?" Gerutuan Randu terdengar setelah aku masuk ke dalam mobil milikku. Iya, saat tahu bahwa kunci mobilku tertinggal, siapa lagi yang aku hubungi kalau bukan si sahabat surgaku ini. Dan jahatnya lagi aku menyuruhnya mengambil kunci mobil di kamarku dan dia naik ojol ke kantor, alasannya adalah biar aku bisa bawa pulang mobil yang sudah menginep di kantor dari kemarin.
"Namanya juga lupa kali, Du. Lagian ini juga gara-gara elu kemarin ngajak gue jalan dan nyuruh ninggalin mobil di sini," kataku sedikit menggerutu. "Eh. Btw, tadi lu ke rumah gue?" Randu mengangguk. "Lu liat cowok yang dijodohin sama gue itu?" Randu menoleh sekilas.
"Dia udah balik setengah jam yang lalu." Katanya sambil tetap fokus pada kemudi. "Lu masih mau lanjut?" tanyanya. Aku menggeleng. Iya lah menggeleng kan tadi pagi udah setuju sama ide dia buat nikah. "Ya udah kalau lu gak mau lanjut, gue bilang sama orang tua kita kalau gitu." Ya ampun ya ampun! Kok malah jadi degdegan sih. Sumpah, ini najong banget.
***
"Kamu ini ya, jam segini baru pulang. Kasian A Gusti nungguin. Dia itu tinggalnya di Cibiru loh teh, kebayang gak berapa jam dari Cibiru ke Dago? Dia bela-belain macet-macetan ke sini, kamunya malah asyik kerja!" Mama mengomel panjang lebar saat aku sampai di rumah. Wajahnya kentara sekali kalau mama kesal sama aku.
"Udah, Ma! Kasian Aruna baru pulang, dia kan gak bisa seenaknya keluar kantor di saat kerjaan dia dikejar deadline. Gustinya juga gak apa-apa kok tadi." Seru papa. Inilah alasan kenapa aku cinta banget sama papa, ya karena papa itu selain ganteng, baiknya ampun-ampunan.
"Hih!" Mama berdecak. "Gak apa-apa di mulut, Pa. Kita kan gak tahu dalam hatinya gimana. Gimana coba kalau perjodohannya di batalin, mama udah cocok banget sama Gusti, baik, soleh, dewasa." Kini giliran aku yang berdecak mendegra perkataan mama. Kesal sekali rasanya pada mama, selalu saja memaksakan apa yang mama mau.
"Ya udah kali, Ma, kalau emang dia batalin, aku juga gak maksa. Lagian kemarin kan aku udah bilang kalau mama gak usah mikirin lagi perjodohan, biar aku nyari calon suami sendiri." Kataku dengan nada yang sedikit emosi. Sumpah ya, aku itu jarang banget marah sama mama sekesel apapun. Cuma emosi ini perpaduan antara capek, udah jenuh sama PMS, udah klop banget kan perpaduannya. Bikin pengen makan manusia saat ini juga.
"Kalau kamu bisa cari, kamu pasti udah nikah dari umur 25-an, nah sekarang udah 28 menuju 29 kamu masih belum nikah, mama khawatir, Teh. Kalau bukan mama yang cari kapan kamu mau nikah coba?" kata mama dan lagi-lagi aku berdecak.
"Memang tante mau Aruna nikah kapan?" Aku, mama, dan papa langsung menoleh ke arah Randu yang masih duduk anteng di sebelahku.
Mama berdehem, "Ya secepatnya lah, Mas. Orang tuanya Niken kasih waktu Arya setahun, makanya Tante sibuk jodohin biar si Teteh cepet-cepet, jadi Arya juga gak usah nunggu setahun bisa langsung lamar Niken," katanya. Tahu gak bebs? Aku degdegan loh ini, sumpah! Gini toh rasanya minta restu sama orang tua. Apalagi yang minta restu bukan pacar kita tapi sahabat kita yang dengan rela jadi tumbal.
"Kalau siapin pernikahan dalam waktu enam bulan cukup gak tante?" tanyanya. Duh, makin degdegan ini! Ya Allah lemes aku nih.
"Ya tergantung pestanya, mau biasa aja atau mau yang gede-gedean. Emang siapa yang mau nikah?" tanya mama penasaran.
"Aku sama Aruna!"
Jeng...jeng...
Lemes lo bebs kakiku ini.