Biar aku yang memperjuangkanmu kali ini. . Setelah memastikan Tiara benar-benar keluar dari gerbang rumahku, aku memilih masuk ke kamar, kamarku dan Luna. Tak banyak yang bisa kulakukan, selain berbaring di atas ranjang sembari terus memandang foto pernikahan kami yang tergantung di dinding. Istriku begitu anggun dalam balutan gaun pengantin, sangat serasi dan pantas untuk mendampingi seorang Dipta Aditama. Sayang seribu sayang, aku telah menelantarkannya di usia pernikahan yang baru beberapa bulan, ya menelantarkan perasaannya. Mengabaikan setiap keluh kesah, padahal, akulah satu-satunya tempat Luna berbagi di rumah ini. Tapi, aku malah sibuk menjaga perasaan orang lain, hingga Luna memilih Mbok Asih sebagai tempatnya bercerita, yang notabenenya hanya orang luar. Aku terlalu tah

