Bab. 4 Semakin Dekat

1424 Words
Hari ini cuaca tampak cerah. Seperti semangat Reyna yang membara. Untung ia diperbolehkan datang pagi ini untuk melakukan interview. Dengan naik ojek gadis itu berangkat ke alamat yang dituju. Reyna tampak terkejut ketika sampai di rumah yang kemarin pagi dia datangi untuk mengembalikan dompet Pak Wily. "Jangan-jangan lamaran aku ketinggalan di dalam rumah itu. Pasti Pak Wily mau memberikan aku pekerjaan sebagai balas budi. Sebaiknya aku pergi saja dari rumah ini," pikir Reyna yang jadi takut sendiri. Namun, baru saja Reyna hendak pergi. Tiba-tiba seseorang memanggilnya, "Mbak Reyna tunggu!" Ia segera berbalik lagi dan melihat seorang pria berbadan tinggi besar menghampirinya. "Kenalkan nama sama Toni yang kemarin menghubungi Mbak. Ayo masuk Pak Wily sudah menunggu di dalam !" ajak Toni yang membuat Reyna tidak bisa mengelak lagi. "Gawat ni, jangan-jangan aku mau dijadikan sugar baby dengan berkedok pekerjaan. Bukankah kata security yang kerja di sini dari yayasan semua," batin Reyna jadi ragu. Melihat Reyna tampak bergeming membuat Toni tampak mengernyitkan dahinya. "Jangan takut Mbak kami bukan orang jahat kok. Pak Wily cuma mau memberi sesuatu sebagai tanda terima kasih karena Mbak sudah mengembalikan dompet beliau!" jelas pria itu kemudian. "Ya Allah, maafkan aku yang telah berburuk sangka," gumam Reyna yang akhirnya mau tidak mau mengikuti Pak Toni yang mengajaknya ke salah satu ruangan. Reyna segera masuk ke ruang kerja dan melihat Pak Wily sedang duduk sambil tersenyum ke arahnya. Tatapan pria paruh baya itu sangat teduh dan menyejukkan hati. Seolah mencerminkan jika dia orang baik dan bijak. "Pak Wily," panggil Reyna yang tidak percaya akan bertemu lagi. "Silahkan duduk Mbak Reyna!" ujar Pak Wily dengan ramah dan berucap, " Maaf sudah buat Mbak Rey jadi bolak-balik. Jadi begini kebetulan saya sedang butuh sekretaris pribadi. Saya harap Mbak Reyna mau menerima pekerjaan ini!" bebernya kemudian. "Jadi surat lamaran pekerjaan saya jatuh di rumah Bapak?" tebak Reyna yang tepat sekali. Sambil mengangguk Pak Wily pun menjawab, "Iya, dan kamu tidak boleh menolak pekerjaan ini. Tidak baik loh sering menolak rezeki. Anggap kesempatan ini diberikan Allah kepada Mbak Reyna melalui saya!" Mendengar itu Reyna tidak punya alasan menolak pekerjaan yang diberikan oleh Pak Wily. Akan tetapi, ia masih merasa tidak enak. "Tapi Pak, saya cuma lulusan SMK. Rasanya tidak pantas untuk menjadi sekretaris Bapak," ujar Reyna merendah. "Saya sudah baca lamaran itu, nilai-nilai Mbak Reyna cukup bagus. Terutama di mata pelajaran bahasa inggris dan komputer. Saya rasa itu sudah cukup, yang penting mengerti apa saja pekerjaan seorang sekretaris," sahut Pak Wily yang melihat seseorang dari kompetensinya bukan ijazah semata. Reyna memang cuma lulusan SMK, tetapi dia juara di bidangnya. Bahkan dirinya pernah menang lomba bahasa Inggris tingkat sekolah menengah kejuruan se-provinsi. "Terima kasih atas kepercayaan dan kesempatan yang bapak berikan kepada saya. Maaf Pak, tolong jangan panggil saya Mbak, cukup Reyna saja!" pinta gadis itu kemudian. Pak Wily tampak mengangguk seraya bertanya, "Oh ya Rey, kamu tinggal di Jakarta Timur?" "Iya Pak, deket TMII," jawab Reyna membenarkan. "Lumayan jauh ya, nanti kamu akan kena macet. Bagaimana kalau kamu tinggal di rumah ini saja!" saran Pak Wily menawarkan tempat tinggal. "Maaf sebelumnya, tapi terima kasih banyak Pak tidak usah. Saya sudah biasa kerja jauh dan tidak pernah telat!" Reyna menolak tawaran Pak Wily secara halus. "Saya itu jarang jarang ke kantor. Selain menjadi sekretaris tugas kamu merangkap sebagai asisten pribadi saya yang harus siap kapan pun dibutuhkan. Jadi lebih baik kamu tinggal di rumah ini saja!" saran Pak Wily yang membuat Reyna kembali berpikir. Pak Wily orang baik dan Reyna tidak mau aji mumpung. Dengan memanfaatkan orang yang telah memberinya pekerjaan. "Nanti saya pikirkan Pak, untuk sementara saya pulang pergi saja dulu. Nggak tega kalau mendadak ninggalin teman dikostan sendirian," ujar Reyna memberikan alasan yang logis. "Oh ya sudah, nanti kalau berubah pikiran langsung saja pindah ke sini ya!" sahut Pak Wily yang tidak mau memaksa Reyna. Sambil mengangguk Reyna kembali bertanya, "Iya Pak, jadi kapan saya sudah mulai kerja?” “Dari sekarang juga boleh, itu ada tumpukan berkas dan undangan. Kamu susun dan rapikan ya!" jawab Pak Willy yan segera membiarkan Reyna untuk memulai pekerjaannya. ** Mentari tampak meninggi ketika Farel baru saja bangun tidur di apartemennya. Ia segera membasuh diri dan menuju ke meja makan. Di mana sudah tersedia segelas s**u dan roti bakar yang telah dingin. Farel kemudian menambahkan es batu dan meneguknya dengan perlahan. Farel tampak mengulum senyum sambil membayangkan wajah Reyna yang basah kuyup kemarin. Persis seperti tikus kecebur got. Tidak lama kemudian Roy datang sambil membawa makan siang. Ia tampak heran melihat Farel yang senyum-senyum seperti orang tidak waras. "Nggak salah minum obat Bos?" tanya Roy yang membuat Farel terperangah. Darel balik bertanya dengan sengit, "Kamu pikir aku gila?" "Ya habis senyum-senyum sendiri nggak jelas begitu," sahut Roy kemudian. "Aku lagi ngebayangin wajah si gadis sok jual mahal itu. Senang banget aku berhasil ngerjain dia," ujar Farel menjelaskan. Roy tampak menggeleng dan menimpali, "Kasihan tahu Bos. Pasti gadis itu kamrin sedang cari pekerjaan. "Masa bodoh yang penting aku puas sudah bikin dia malu kemarin. Pasti gadis itu menjadi bahan tertawaan orang-orang di sana. Sama seperti ketika dia mengatai aku pada malam itu," sahut Farel yang senang bisa membalas sakit hatinya. "Kalau papi tahu bisa habis, Bos akan dimarahi dan dimasukin ke pesantren," ujar Roy kembali. "Kamu orang pertama yang aku ajak. Ngomong-ngomong kenapa perasaanku kok jadi tidak enak ya. Cepat cari tahu kabar papi!" seru Farel dengan cemas karena tidak pulang weekend ini. "Siap Bos," sahut Roy yang segera menghubungi penjaga rumah untuk mencari tahu. Tidak lama kemudian pria itu sudah mendapatkan informasi yang diinginkan. "Papi baik-baik saja, bahkan tadi pagi sempat menerima seorang gadis untuk menjadi sekretaris baru." "Kok bisa, memang Pak Suryo sudah tidak kerja lagi?" tanya Farel dengan heran. "Mungkin untuk sementara waktu. Tapi kata Toni, gadis itu diberikan pekerjaan untuk balas budi karena telah mengembalikan dompet papi yang hilang," jawab Roy yang membuat Farel tampak mengernyitkan dahi. Farel tahu betul yang bekerja di rumahnya semua dari yayasan. Ia curiga ayahnya punya niat terselubung. "Pasti ada sesuatu, coba kamu cari tahu siapa gadis itu!" seru Farel yang jadi penasaran. Jangan-jangan ayahnya mencarikan jodoh. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi. "Kenapa Bos tidak tanya sendiri sama papi? Kalau penasaran sebaiknya kita pulang saja ke rumah!" saran Roy yang malas harus menelepon penjaga rumah lagi. Farel langsung menggeleng kecil dan berseru, "Aku lagi nggak mood pulang ke rumah, pasti ditanya kapan nikah!" "Ya sudah terserah Bos, kira-kira pakai alasan apa lagi kita tidak pulang hari ini?" Roy bertanya sambil berpikir sejenak. "Bilang saja sibuk cari calon istri," jawab Farel dengan asal. Roy pun mengangguk kecil karena setiap alasan pasti Farel yang penggagasnya. Ia tidak menyangka bosnya mulai jadi pembohong ulung. "Kamu pikir aku berbohong lagi?" tebak Farel seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Roy. "Berikan aku semua foto wanita yang sudah kamu seleksi!" serunya kemudian. Roy segera memberikan beberapa daftar nama dan foto wanita yang telah seleksinya. Namun, tidak ada satu pun yang memikat hati Farel. Sehingga membuat asisten pribadi itu tampak pusing karena semua kandidat yang diajukannya ditolak oleh Farel. Padahal mereka adalah wanita cantik, seksi dan terpelajar. Dengan berbagai profesi mulai dari model, artis dan wanita karir. "Bos pilih saja deh sendiri!" saran Roy yang sudah mulai kesal. "Aku belum siap menikah, Roy," sahut Farel tanpa dosa. Roy tampak menggeleng dan menggerutu, "Kemarin minta dicarikan calon istri, sekarang bilang belum siap menikah. Bikin cape orang saja." Farel tidak mengambil hati apa yang dikatakan oleh Roy karena takut asistennya itu sampai risign. Selama ini hanya Roy yang paling kuat mental dan sabar memahami sifat Farel yang bawel dan kadang makan hati. "Kamu jangan ngomel saja Roy, cepat bantu cari solusi!" ujar Farel yang sudah pusing juga memikirkan jalan ke luarnya. "Saya juga bingung," sahut Roy sambil menopang dagunya. "Bagaimana kalau kita tekan gadis yang menghina Bos kemarin jadi istri sementara?" Tanpa berpikir lagi Farel segera menolaknya, "No, kamu pikir papi bisa ditipu? Pasti papi akan menyuruh orang untuk mengecek kebenarannya dan kalau sampai ketahuan aku bisa dipaksa nikah sama Lusi." Farel sangat selektif dalam memilih teman kencannya. Jadi tidak sembarangan wanita bisa dekat dengannya. Dia sangat menyukai tantangan dan berambisi untuk memiliki sesuatu, meskipun sulit didapatkannya. Akan tetapi, kalau ada cewek cantik sesuai kriterianya yang menyodorkan diri untuk kencan kenapa tidak. Bolehlah sekali-kali diterima. Kucing garong saja suka sama ikan cue apalagi ayam goreng. "Kita pulang deh hari ini, tapi sore karena aku mau main golf dulu," ujar Farel penasaran dengan sekretaris baru ayahnya. "Terserah mau pulang apa nggak yang panting saya kenyang," sahut Roy sambil menyantap makan siangnya. Lama-lama meladeni Darel yang tidak jelas membuatnya jadi lapar. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD