Bab 3. Mencari Pekerjaan

1102 Words
Mentari tampak meninggi ketika sebuah ojek berhenti di depan pintu gerbang, salah satu rumah mewah di kawasan Jakarta Selatan. Seorang gadis turun dari kendaraan itu dan segera menghadap security yang sedang berjaga di pos. “Permisi, apa benar ini rumah, pak Wily?” tanya Reyna dengan serius. “Betul ada apa, Mbak?” jawab security itu sambil bertanya. “Saya mau bertemu dengan, pak Wily," jawab Reyna dengan harap-harap cemas karena takut dituduh pencopet. Security itu memperhatikan Reyna dengan saksama dan menebak, “Pasti Mbak, mau melamar pekerjaan ya? Maaf, asisten di rumah ini dari yayasan semua.” “Oh bukan, saya cuma mau mengembalikan ini," jawab Reyna sambil menunjukan sebuah dompet di tangannya. “Baiklah, tunggu sebentar!" Security itu segera menghubungi seseorang. Tidak lama kemudian ia membuka pintu gerbang sambil berseru, “Silakan masuk, Mbak!” Reyna tampak tercengang ketika memasuki halaman yang cukup luas. Rumah itu juga terlihat mewah dan megah. Ia segera mengikuti security yang membawanya menuju ke teras rumah. “Silahkan duduk, Mbak!” seru security itu yang segera kembali ke pos jaga. "Terima kasih, Pak," ucap Reyna sambil berdecak kagum. "Ya Allah, ini rumah apa istana, mewah banget, enak kali ya kalau tinggal di sini?" lirih gadis itu sambil mengkhayal. Setelah beberapa saat menunggu, seorang pria paruh baya datang menemui Reyna. Ia tersenyum dengan ramah kepada gadis itu. Sorot matanya teduh dan terlihat sangat berwibawa sekali. "Selamat pagi," sapa pria paruh baya itu dengan suara yang lemah lembut. “Pak Wily, saya mau mengembalikan dompet ini,” ujar Reyna sambil memberikan benda itu. “Terima kasih, saya sudah putus asa mencarinya,” ucap pak Wily dengan senang karena di dalam dompet itu ada sesuatu yang sangat berharga baginya. Pak Wily kemudian membuka dompet itu dan memeriksa isinya tidak ada yang berkurang. Ia kemudian mengeluarkan semua uang yang ada di dalamnya dan memberikan kepada Reyna. “Ini buat kamu, ambilah!” seru pak Wily dengan senang hati. “Tidak usah, Pak, saya juga tidak sengaja menemukannya di dekat taman mal,” tolak Reyna yang ikhlas menolong. Pak Wily baru ingat, waktu itu mengeluarkan dompet untuk memberikan tips buat cleaning servis yang sudah membawakan belanjaannya ke mobil. “Saya mohon jangan ditolak!” Pria itu memaksa Reyna untuk menerima pemberiannya. "Tidak apa-apa, Pak, maaf saya harus pergi permisi," ucap Reyna sambil berpamitan dan segera meninggalkan rumah itu karena mau walk and interview di salah satu kantor. Pak Wily tampak menggeleng dan membiarkan Reyna untuk pergi. Namun, ia melihat sebuah amplop coklat tertinggal di meja. Dengan tergesa Reyna menuju ke salah satu kantor yang sedang membuka lowongan, entah untuk bagian apa. Akhirnya ia mendapatkan nomor antrian untuk walk and interview. Namun, pada saat menunggu giliran dirinya akan dipanggil. Gadis itu tampak terkejut karena lamaran yang berada di dalam paper bag tidak ada. "Haduh, pakai hilang segala lagi," gerutu Reyna sambil mencari surat lamaran yang mungkin terjatuh di sekitarnya. "Selanjutnya!" panggil salah satu staf HRD. "Bu, surat lamaran saya hilang, boleh menyusul tidak?" sahut Reyna sambil bertanya. "Maaf, tidak bisa, Mbak, selain interview kami perlu keterangan yang relevan untuk menerima pekerja. Sebaiknya Mbak, pulang dulu dan datang lagi besok untuk melamar kembali!" jawab staf itu. Akhirnya dengan langkah gontai Reyna meninggalkan perusahaan itu. Lalu ia duduk di bangku halte bus sambil merenungi nasibnya. Kalau belum rejeki kesempatan di depan mata pun hilang dalam sekejap. "Sial banget sih gue hari ini, coba tadi nggak balikin dompet itu dulu. Pasti sekarang sudah dapat pekerjaan. Tahu begini tadi gue terima saja uang dari bapak itu," keluh Reyna menyesali apa yang telah terjadi. Mana uangnya tinggal buat ongkos pulang saja. Kesempatan mendapatkan pekerjaan pun gagal gara-gara lamarannya hilang. Tiba-tiba ponsel Reyna berdering. Dengan malas ia menerima panggilan dari nomor tidak dikenal. "Selamat siang, apakah benar ini, Mbak Reyna?" tanya seorang pria dari seberang sana. "Ya betul dengan saya sendiri, ada apa, Pak?" sahut Reyna sambil balik bertanya. "Kami mau melakukan interview kepada Anda. Apakah, Mbak, bisa datang ke Perumahan Mutiara Dua, sekarang?" sahut orang itu yang membuat Reyna tampak tercengang. Tanpa berpikir lagi Reyna langsung menjawab, "Bisa, Pak, tapi saya tidak bawa surat lamaran!" "Tidak apa-apa, saya tunggu sekarang juga ya. Nanti langsung temui security saja!" seru orang itu yang membuat Reyna antara percaya atau tidak. "Baik, Pak, saya akan ke sana sekarang juga!" sahut Reyna dengan senangnya. Seperti mendapat undian togel Reyna segera beranjak dari halte itu, tetapi langkahnya terhenti ketika mengingat sesuatu. "Sepertinya nama perumahan itu tidak asing," lirihnya sambil terus berpikir. Sementara itu di salah satu kendaraan beroda empat, Farel sedang duduk sambil bersandar di punggung kursi mobil. Meeting dengan para klien hari ini sangat melelahkan. Lagi cape-cape memberikan presentasi, eh dua wanita relasi bisnisnya memakai rok mini super ketat. Begitupun dengan belahan dadanya sangat rendah. Seperti tidak muat ditampung lagi dan mau tumpah alias luber. "Roy, tolak kerjasama dengan PT Duta dan PT RMS. Besok-besok, kalau ada relasi yang mengajak meeting seperti dua wanita tadi, suruh pak Markus untuk menggantikan saya!" pesan Farel yang tidak mau bertemu dengan wanita seperti itu lagi. Farel tahu kliennya itu ingin memikat dengan cara seksualitas. Akan tetapi, sayang ia bukan type cowok otak m***m. Mereka tidak tahu selera Farel yang sangat tinggi, seperti tower listrik di atas bukit. "Siap, Bos," sahut Roy tanpa bertanya lagi karena sudah paham pasti ada yang Farel tidak suka. Farel kemudian bertanya, "Kamu sudah atur jadwalku buat besok?" "Besok kan weekend, Bos, sore ini kita pulang ke rumah," jawab Roy sambil mengingatkan. "Sebenarnya malas pulang ke rumah. Tapi kasihan papi kalau tidak pulang. Coba gadis itu mau dijadikan pacar pura-pura, pasti sekarang saya tidak pusing seperti ini," sahut Farel yang jadi serba salah. "Bos, pasti kasar ngomongnya. Saya lihat gadis itu sangat marah," timpal Roy apa adanya. "Dia sok jual mahal sih, seharusnya kamu saja yang bicara sama gadis itu," sergah Farel yang tidak mau mengakui kesalahannya. Tanpa disengaja Farel melihat orang yang sedang dibicarakan sedang berdiri di ujung tepi jalan. Tiba-tiba sebuah ide terbesit di benaknya. "Roy, jalan ke pinggir, cepat!" Roy tampak mengernyitkan dahinya dan bertanya, "Mau ngapain, Bos?" "Jangan banyak tanya nanti juga kamu akan tahu. Pelan-pelan saja!" jawab Farel sambil meraih sebotol air mineral. Roy segera mengikuti perintah Farel. Ketika mobil yang dikemudikan tepat berada di samping Reyna, dengan spontan Farel menyiramnya. "Hei, apa-apaan ini?!" pekik Reyna yang kaget karena bajunya basah disiram air. "Tancap gas, Roy!" seru Farel dan mobil itu langsung meluncur pergi. Reyna tampak marah melihat ke arah mobil itu sambil berteriak seperti orang kesetanan. "Dasar sialan kau!" Ia tidak perduli jadi perhatian orang-orang. Dengan pakaian yang basah seperti ini, Reyna tidak mungkin datang untuk melakukan interview. Apes benar nasibnya hari ini. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD